Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Ambisi Mertua


__ADS_3

Mereka sekeluarga sedang menikmati makan malam keluarga ketika orang tua Dean membahas mengenai Sinta.


"Kita berada dalam masalah kalau sampai ada yang tahu masa lalu Sinta."


"Kau jangan selalu memarahi anakmu. Dia sudah memilih Sinta."


"Kau terlalu memanjakannya!"


"Kau terlalu keras padanya!"


"Aku tidak mau berdebat denganmu. Menurutku, Sinta harus memperbaiki performance dan kualitas dirinya."


"Untuk apa? Dia kan hanya mengurus Dean."


"Aku ingin dia sekolah untuk menambah kualitas intelektualnya. Kau juga harus menjadi artis karena aku ingin kau mendukung pekerjaan suamimu sebagai pengusaha."


"Aku tidak mengerti. Kalau untuk membantu Dean tidak perlu jadi artis. Cukup sekolah sebagai sekretaris atau memasak atau kerumahtanggaan."


"Aku ingin dia memiliki jabatan sehingga bisa melindungi keluarga kita dan tak satupun orang mengulik masa lalunya."


"Kau? Apa?"


"Bisnis keluarga kita butuh dukungan."


"Kau ingin dia terjun ke politik tetapi itu terlalu berbahaya."


"Bahaya apa? Kau tidak mengerti apapun, berbicara. Bagaimana Sinta? Mau kah kau melanjutkan sekolahmu? Kuliah dan terjun sebagai artis untuk mendukung karir politikmu?"


"Aku masih belum mengerti."


"Bisnis keluarga akan lebih mudah bertahan kalau ada dukungan secara politik."


"Apa aku punya pilihan lain?"


"Tentu saja, tidak."


Sinta terdiam. 


Satu sisi, dia gembira bisa melanjutkan sekolahnya lagi. Tapi menjadi artis apalagi terjun ke politik tidak pernah terlintas dalam benaknya sama sekali.


"Hanya itu yang bisa kau lakukan untuk menebus dan mengalihkan perhatian orang dari masa lalumu sekaligus melindungi keluarga kita."

__ADS_1


Sinta tidak dapat menolak keinginan kedua mertuanya. Hanya itu yang bisa menaikkan derajat dan harkat hidupnya serta membuatnya dapat membayar semua hal yang membuatnya selalu direndahkan dan diremehkan.


Tidak sulit bagi Sinta untuk meneruskan sekolahnya. Dia mengambil jurusan politik.


Terjun ke dunia hiburan sebagai artis juga tidak sulit dengan menggunakan koneksi kedua mertuanya.


Dean sendiri menekuni usaha keluarganya. Ayahnya mempersiapkannya sebagai penerus pemegang bisnis keluarganya.


Sinta memulai rutinitas barunya selain sebagai isteri Dean, menyiapkan keperluan Dean. Sinta juga kuliah. Di sela waktu luangnya menekuni dunia artis.


Mengikuti serangkaian kursus untuk menunjang pekerjaannya tersebut.


Rumors berkembang. Sinta menggunakan koneksi mertua dan suaminya untuk melancarkan karirnya sebagai artis.


"Apa tidak puas ya menjadi isteri orang kaya? Tidak perlu kekurangan uang? Menjadi artis? Katanya mengincar jabatan politik?"


Desas desus berkembang deras.


"Mungkin dia justru diumpan mertuanya? Kayak gak tau aja! Orang makin kaya mana ada puasnya? Masih kekurangan."


"Itu manusia. Dikasih satu lembah gunung emas minta dua. Dikasih dua, minta tiga. Sampai mulutnya tertimbun tanah baru selesai."


"Nyonya Dean Dirgantara?" Orang tersebut memandanginya dari atas ke bawah.


Sinta merasa jengah dengan perlakuan yang diterimanya.


"Anda yakin bisa melalui casting ini? Seandainya, anda tidak menggunakan koneksi mertua dan suami anda?"


Dada Sinta terasa sesak. Orang di hadapannya tidak mengenalnya tetapi sorot matanya menggambarkan kebencian dan kemarahan.


"Apakah saya bisa pergi sekarang?"


"Apa anda tau? Anda mengambil peluang mereka yang lebih berhak dari anda. Bahkan mungkin lebih mampu dari anda. Sedangkan anda hanya memikirkan bagaimana usaha keluarga anda bisa bertahan dan langgeng? Betapa egoisnya anda?"


"Saya benar-benar harus pergi."


"Silahkan! Pintu ada di sebelah sana!"


Airmata Sinta tumpah ruah.


Penghinaan ini belum seberapa. 

__ADS_1


"Lihat bagaimana gayanya? Kampungan!"


"Dia seperti wanita murahan!"


"Sangat tidak berkelas."


"Memalukan!"


"Tukang pamer!"


"Pelit!"


"Boros!"


"Cengeng!"


"Pemarah!"


"Sok kaya!"


"Sok sederhana!"


"Mesum!"


"Sok suci!"


Dean menelpon Sinta yang sedang menangis.


"Kau kenapa lagi sih?"


"Aku…."


"Harusnya aku yang menangis! Kau yang selalu melemparku keluar kamar dan membuatku tidur di sofa."


"Aku tidak ingin menjadi artis apalagi mengejae jabatan politis."


"Memang kau pikir, uang turun dari langit? Kau mau kukembalikan pada madam Nirwana?"


Tubuh Sinta mengigil ketakutan.


"Kau hanya mau enaknya saja!"

__ADS_1


__ADS_2