
Pertunangan Dylan dan Haliza. Membawa banyak kebaikan. Hubungan Dean dan Sinta dengan Dylan dan anak-anaknya membaik dan menunjukkan kemajuan positif.
Haliza juga bisa memaafkan dan menerima pernikahan mantan suami dengan istri mudanya. Karena dia sendiri berbahagia.
Dylan lebih baik daripada mantan suaminya. Walaupun dipenuhi kenangan dengan Sinta. Tetapi sikapnya pada Haliza membuatnya merasa disayangi, dicintai dan dihargai.
Isi hati setiap orang tidak bisa dirasakan oleh setiap orang. Tetapi ketika seseorang selalu bersikap baik dan menghargai. Apa yang ada di dalam hati dan pikirannya menjadi tidak penting.
Dylan sangat memperhatikan dan menyayangi mereka semua. Kesetiaannya membuatnya bisa berkonsentrasi penuh pada mereka semua.
Kupikir, berakhirnya pernikahanku dengan Ahkam. Memiliki hikmah tersendiri. Aku tidak harus selalu menerima sikap palsu Ahkam. Bagaimana kalau dia meninggalkanku di saat aku tua renta atau sakit berat?
Aku harus bersyukur semua terjadi di saat aku masih baik-baik saja. Bisa menerima dan menjalani semua dengan baik. Bahkan bisa menemukan pengganti dirinya.
Kebenciannya pada Ahkam dan Hana perlahan menguap. Semakin dia berbahagia. Kebencian tersebut semakin menghilang.
Berdamai dengan masa lalu yang sangat menyakitinya. Membuatnya terbebas dari hal-hal yang membelenggu jiwanya.
Pikirannya hanya dipenuhi oleh Dylan dan anak-anak mereka semua. Tidak ada ruang tersisa untuk Ahkam dan Hana
Waktu dan kebahagiaan adalah obat yang ampuh untuk menyembuhkan luka. Mereka semua akan menjadi keluarga baru. Menyongsong kebahagiaan baru.
Dia juga tidak keberatan sama sekali dengan ruang yang Dylan buat khusus untuk Sinta. Karena dia memahami. Sinta hanyalah masa lalu bagi Dylan. Tidak ada goresan takdir yang tersisa mengijinkan mereka untuk tetap bersama.
Kenangan tersebut bukan berarti Dylan ingin kembali. Tetapi sebatas mengenang masa-masa indah yang pernah mereka lalui sebagai keluarga.
***
“Aku senang mendengar pertunanganmu.” Sahut Dean di seberang telepon.
“Yeah! Thanks.”
“Seharusnya kau menikah sejak dulu.”
“Kupikir, aku bisa menjadi ibu dan ayah bagi anak-anakku. Ternyata tidak bisa.”
“Pria tidak bisa seperti wanita. Multitask.”
__ADS_1
“Mereka sangat menyukainya. Haliza benar-benar menggantikan Sinta. Haliza mengurus mereka seperti mengurus anak-anaknya sendiri. Tidak hanya mengantar dan memasak. Juga menjadi teman curhat.”
“Sepertinya dia wanita yang sangat baik dan nyaman.”
“Yeah! Begitulah. Kami semua beruntung bisa memilikinya.”
“Aku senang kau menemukan pengganti Sinta.”
“Yeah! Kau bisa mempercayaiku kembali."
“Yeah!”
“Aku minta maaf atas semua yang pernah terjadi. Semua terjadi di luar kendaliku. Aku pikir saat itu, memang seperti itu jalan terbaik yang harus kulakukan.”
“Sudahlah! Semua sudah berlalu. Aku juga kurang memperhatikan dan melindungi istriku sendiri. Mempercayakan semua padamu. Kau mengatasinya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Aku bahkan tidak tahu kalau Sinta diincar pembunuh bayaran di dalam penjara. Kau mengatasi semua masalahnya. Aku membebaskanmu dengan pertimbangan anak-anakmu dan niatmu melindungi Sinta dari semua hal yang mengancam keselamatan jiwanya.”
“Kau tahu semuanya.”
“Yeah! Tapi aku juga ingin kau menjauh dari kehidupan rumah tanggaku.”
“Yeah! Aku tahu.”
“Yeah! Aku tahu. Kau tidak usah khawatir. Aku tidak akan mengganggu kalian semua. Kuharap, pernikahanku akan memperbaiki hubungan di antara kita semua.”
“Yeah!”
Dean mrengakhiri teleponnya dengan Dylan. Sejujurnya, berita pertunangan Dylan membuatnya mempercayai Dylan kembali.
Meneliti semua berkas dan kasus Dylan membuatnya memahami apa yang terjadi. Membuatnya memikirkan ulang. Bagaimana pun, Dylan berusaha melindungi Sinta. Tugas yang seharusnya dia jalankan. Tapi dia serahkan sepenuhnya pada Dylan dan kekacauan yang dia dapatkan pada akhirnya.
Dia sendiri pernah mengkhianati pernikahannya dengan Helena. Mengkhianati dengan sengaja. Sedangkan Sinta?
Mungkin seperti yang kerap mereka berdua katakan. Keadaan memaksa mereka melakukannya. Setidaknya saat itu. Hanya itu jalan keluar yang bisa mereka pikirkan saat itu.
Dia sendiri pada saat itu berpikir. Dylan bisa mengatasi semuanya. Dia sudah membayar Dylan dengan sangat mahal. Tentu Dylan bisa melakukan apa pun tanpa bantuannya. Ternyata dia salah.
Tidak seharusnya dia melepaskan dan menyerahkan semuanya pada Dylan. Seharusnya, dia tahu apa yang menimpa Sinta saat itu. Bagaimana mereka semua bisa mengatasi kasus hukum yang memang sangat pelik menimpa Sinta saat itu.
__ADS_1
Siapa yang menyangka semua menjadi berbalik pada saat terakhir? Dia memang harus mengakui. Dengan kematian palsu Sinta. Semua memang bisa berakhir begitu saja.
Keterbatasan membuat seseorang menjadi tidak memiliki pilihan. Apakah yang bisa dipikirkan selain melarikan diri dari kekacauan yang tidak bisa diatasi?
Aku harus mengakui bahwa ide kematian palsu tersebut sangat brilian. Tetapi mengapa kalian harus menikah? Itu yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan di dalam pikiranku. It’s in force or choice or love?
Aku tidak ingin mempermasalahkan hal-hal yang hanya menambah kerumitan. Merekonsiliasi adalah hal yang harus mereka fokuskan. Apalagi ada anak-anak di antara mereka semua. Hubungan baik lebih dibutuhkan daripada kecemburan yang tidak ada gunanya.
Aku tidak memiliki pilihan selain mempercayai mereka berdua. Apalagi Dylan akan segera menikah. Apalagi yang harus dikhawatirkan?
Emier akan tersambung dengan saudara-saudara seibunya. Sinta juga akan lebih leluasa bertemu dengan anak-anaknya. Jika hubungan mereka semakin baik. Mungkin saja, mereka akan memiliki seorang anak lagi.
Melihat Emier seorang diri. Membuat hatinya iba. Tapi melihat perlakuan Sinta terhadap putra semata wayangnya. Membuat niatnya memiliki anak lagi menjadi menguap dan ragu.
Jika Sinta bisa berbahagia kembali dan menjadi ibu yang baik untuk semua anaknya termasuk Emier. Mungkin dia akan merubah pikirannya. Meminta Sinta untuk memberikannya seorang anak lagi untuk menemani Emier.
Akan menjadi hadiah yang sangat dinantikan Emier. Memiliki seorang adik. Emier akan menjadi kakak yang baik dan sangat menyayangi adiknya.
Kekerasan Sinta dalam mendidiknya menumbuhkan sifat yang lembut dan baik dalam diri Emier. Dia tidak tumbuh menjadi anak yang manja. Bahkan sangat menyayangi kedua orang tuanya. Selalu membela ibunya walaupun ibunya kerap berlaku keras kepadanya.
Bahkan terhadap saudara-saudara seibunya. Emier tetap berusaha bersikap baik dan hormat. Walaupun Callista kerap membencinya. Keanu mencemburuinya. Sapphire kerap tidak menyukainya. Mungkin karena mereka bukan saudara kandung. Sehingga tumbuh kebencian, ketidaksukaan dan kecemburuan di antara mereka.
Emier karena tumbuh seorang diri. Tidak memiliki saudara. Tidak mampu membenci mereka semua.
Jika terhadap saudara-saudara seibunya yang kerap tidak menyukainya bisa seperti itu. Bagaimanakah terhadap saudara kandungnya sendiri?
Kecerdasan, kelembutan serta kebaikan hatinya membuat Emier sangat istimewa dan berbeda dari kebanyakan anak lainnya.
Mata Dean mengaca. Mengingat putra semata wayangnya. I love you so much, my dearest son....
Dean tidak ingin mengotori pikirannya dengan hal yang bisa mengacaukan semua rekonsiliasi yang sedang berlangsung.
In force, choice or love. Everything is and must be over. It didn’t have any difference. Peace and trust issue matters.
__ADS_1