Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Helena


__ADS_3

Dylan mengatur penyadapan melalui Helena. Tentu saja, dia meminta surat ijin pengadilan terlebih dahulu. Dia ingin semua temuan yang dia dapatkan menjadi bukti persidangan serta mempercepat proses persidangan.


"Aku tidak ingin melawan mereka. Kau tidak tahu betapa kejamnya mereka." Tolak Helena.


"Aku akan membongkar perselingkuhanmu bagaimana?"


"Mereka akan membunuhku. Kalau sampai perselingkuhan tersebut tersingkap."


"Artinya kau tetap akan terbunuh. Tetapi jika kau bersamaku. Kujamin keselamatanmu dengan program perlindungan saksi. Kalau mereka berani mendekati apalagi menyentuhmu, akan kubunuh di tempat. Bagaimana?"


"Bisakah kau melindungiku?"


"Kau bisa mengandalkanku."


"Kalau mereka mengetahui penyadapan itu. Mereka akan membunuhku."


"Kau harus sangat berhati-hati. Jangan sampai ketahuan. Kau juga akan terbunuh kalau aku singkap perselingkuhanmu dengan keduanya."


"Aku tidak ingin dilibatkan. Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku tidak pernah punya masalah dengan Sinta. Masalahku dengan Dean juga hanya kesalahpahaman. Aku telat haid. Kupikir kami melakukannya. Aku dan pacar-pacarku berhubungan seminggu sebelum kejadian naas aku dan Dean. Mana aku tahu kalau kami tidak berhubungan intim? Kami telanjang dan ada ****** Dean di sprei. Kami terlalu mabuk untuk berhubungan intim tapi sepertinya kami memang berniat melakukannya."


"Masalahmu dan Dean sudah selesai. Kau juga sudah mengetahui, ayah dari janin di dalam kandunganmu, politikus tersebut. Kau berhubungan intim dengan kakak dari anakmu dan juga ayah mereka serta sahabat juga penyokong karir politiknya."


"Awalnya, aku hanyalah kekasih gelap pengusaha yang menjadi kompetitor perusahaan mertua Sinta. Aku dan Sean, menjalin hubungan tanpa status. Atas dasar suka sama suka. Sean sudah memiliki isteri sehingga tidak mungkin kami bisa menikah. Dia menjadikan aku umpan untuk mendekati Brian. Politikus yang akan digunakannya sebagai pelindung semua usahanya. Aku dan Brian juga tidak mungkin menikah karena Brian sudah memiliki isteri. Hubungan kami juga hanya berdasarkan kepentingan usaha Sean. Anak Brian mengetahui perselingkuhanku dengan ayahnya. Mengancam akan membocorkan pada ibunya kecuali aku mau melayaninya."


"Wow! What a story!"


"Sebaiknya kau tidak usah ikut campur masalah ini. Sinta dan perusahaan mertuanya memang sudah menjadi target mereka. Mereka tidak akan segan membunuhmu dan Sinta."


"Oh ya? Kau tidak usah mengajariku. Apa yang harus aku lakukan dan tidak. Kau bersamaku atau Sean?"


"Aku tidak ingin terlibat. Aku tidak ada urusannya dengan semua ini."


"Kau mengetahui banyak hal. Memang semua ini tidak ada hubungannya denganmu. Tapi kesaksianmu bisa memenjarakan mereka berdua. Selamanya."


"Aku sangat takut pada mereka berdua. Keduanya sangat kejam."


"Kalau kau sudah tahu mereka sekejam itu. Kau masih menunggu mereka memancungmu? Perlawanan terbaik adalah menyerang. Jangan menunggu mereka menghabisimu. Kau mengetahui semua rahasia mereka. Mengandung anak politikus tersebut. Bercinta dengan anaknya. Menjadi selingkuhan pengusaha. Kau pikir hidupmu aman damai sejahtera?"


"Apa maksudmu?"


"Pikirkan semua dengan baik. Kau bersamaku atau Sean?"


Helena akhirnya menyetujui tawaran Dylan.


"Kau memutuskan yang terbaik bagi dirimu dan janin yang kau kandung."


"Aku tidak punya pilihan lain. Kau benar. Cepat atau lambat mereka akan membunuhku."


"Kau bom molotov bagi mereka."


"Apa yang harus kulakukan?"


"Memberikan kesaksian tertulis dan  lisan, yang akan direkam. Melakukan penyadapan dan jangan sampai mereka tahu atau kau akan dihabisi."

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan sangat berhati-hati."


"Yang kubutuhkan adalah pernyataan langsung dari mereka berdua kalau mereka memang ada dibalik kekacauan proyek dan juga kebangkrutan perusahaan ayah mertua, Sinta."


"Pillow talks?"


"Detailnya kuserahkan padamu."


"Baiklah! Aku akan mengusahakannya untukmu."


"Bukan untukku. Tapi untukmu dan janin di dalam kandunganmu."


"Yeah."


Mereka memasang alat penyadap di dalam lipatan pakaian Helena. Wireless.


"Kita harus benar-benar hati-hati."


Mereka juga menaruh penyadap dibalik batu cincin yang dikenakan Helena. Didesign sedemikian rupa. Juga di kalung liontin Helena.


"Banyak sekali?" Protes Helena.


"Aku harus memastikan kau selalu bersama alat itu. Kalau kalian sedang bercinta. Kemungkinan tidak mengenakan pakaian. Masih ada penyadap di kalung dan cincin."


"OMG!"


Dylan tertawa renyah.


"Kau fokus pada tugasmu. Ingat! Kau harus mendapatkan bukti yang kuhendaki. Aku juga sudah memasang penyadap pada gadget, lap top, kantor, rumah dan mobil mereka."


"Kasus ini sangat krusial. Aku harus sangat berhati-hati dan tepat dalam mengumpulkan bukti dan saksi. Aku tidak mau mereka lepas."


"Apakah kita akan berhasil?"


"Kita harus berhasil!"


Helena begitu gugup. Dia sangat takut jika penyadapannya ketahuan.


Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Sangat nervous. Bolak balik ke kamar mandi karena tidak bisa menahan pipis. 


"Kau bisa tenang tidak?" Brian yang merasa terganggu dengan semua polah Helena, "Dari tadi bolak balik ke kamar mandi. Diare?"


"Beser."Sahut Helena mengusap peluhnya yang terus menetes.


"Acnya berapa derajat? Kau keringatan terus. Aku ingin kau mandi. Gerah dan lengket melihat keringatmu mengucur seperti itu."


"Baiklah, aku akan mandi."


Helena bergegas ke kamar mandi. Dia sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi untuk menenangkan pikirannya.


Musik lembut mengalun. Aroma terapi juga membuatnya lebih rileks. Berendam air hangat, bermain busa. Merendam tubuhnya. Mengeramas rambutnya. Dia mencuci bersih semuanya. Menghilangkan bau keringat yang lengket di tubuh dan rambutnya.


Ya, Tuhan…Seandainya, Brian tahu kalau aku memata-matainya.Dia tidak akan melepaskanku atau berbelas kasihan padaku. Dia akan membunuhku dan janin di dalam kandunganku.

__ADS_1


Helena belum mengatakan apapun tentang kandungannya. Dia tidak yakin akan merasa bahagia. Kemungkinan, Brian akan memaksanya untuk mengugurkan kandungannya.


Helena mengelus perutnya dengan lembut.


"Mama, akan melindungimu. Kau akan lahir dengan selamat."


Perlahan dia mulai merasa rileks. Perasaan takut semakin berkurang.


"Mengapa aku harus takut kepada Brian? Kalau aku tidak bisa mengendalikan ketakutanku justru akan mengundang kecurigaannya."


Setelah merasa nyaman dan rileks. Helena memutuskan keluar dari bath up. Memakai kamar jasnya dan membungkus rambutnya dengan handuk.


"Kau sudah mandi?"


Helena menganggukkan kepalanya.


"Kau tampak segar. Baumu sangat harum."


"Terima kasih."


Helena menyunggingkan senyumnya yang paling manis.


"Kau mau kupijat?"


Brian mengembangkan senyumnya sambil menganggukkan kepalanya.


Brian menelengkupkan tubuhnya.


Helena mengambil minyak zaitun. Menuangnya ke tangan dan mengolesnya.


Mengusapkannya ke tubuh Brian.


"Hmm, ini sangat enak."


Helena mulai melakukan pijatan dengan lembut.


"Kudengar Sinta mengajukan banding."


"Pengacara bodoh itu mana bisa melawanku dan Sean?"


"Kau memang sangat pintar. Bagaimana kau membuatnya mendekam di penjara?"


"Aku tidak membuatnya mendekam di penjara. Kebodohannya bukan aku."


"Kau bilang kau dan Sean mengacaukan proyek-proyek mertuanya."


"Yeah. Sinta dan mertuanya tidak mau mundur dan melepaskan jabatan serta proyek-proyek tersebut."


"Mengapa dia harus mundur?"


"Bagaimana aku bisa menjadi kepala daerah kalau dia tidak mau mundur?"


"Kau sangat berambisi menjadi kepala daerah. Untuk apa?"

__ADS_1


"Kau pikir kekayaan turun dari langit? Tanpa kekuasaan. Kau bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa. Hanya debu yang tertiup angin. Aku tidak ingin menjadi debu!"


__ADS_2