Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Evolusi


__ADS_3

Wanita selalu jatuh pada sikap pria yang lembut, perhatian dan gentleman selain setia tentunya.


Sedikit banyak penilaian Sinta mulai berubah kepada Dean. Terutama saat Dean lepas dari tuntutan pelecehan seksual. Karena memang tidak ada perbuatan tersebut.


Kejadian tersebut membuat Sinta berpikir bahwa dirinya turut memiliki kontribusi karena kerap menolak Dean.


Dia memiliki alasan. Tidak ingin mengalami eksploitasi seksual seperti yang terjadi di dalam novel.


Di dalam novel, Dean adalah seorang hipersex dengan libido yang sangat tinggi. Buku novel tersebut mirip pornografi dibandingkan cerita romantis yang menyentuh perasaan.


Walaupun Sinta juga menyadari dalam hubungan suami isteri, tidak ada hipersex. Seorang suami yang memiliki libido tinggi, bukan alasan isteri menolak melayaninya.  Kalau tidak sanggup, suami memiliki hak untuk berpoligami.


Tapi isteri mana yang rela suaminya berpoligami? Dilematis.


Jalan cerita sudah banyak yang diubahnya. Dia berusaha melawan takdir buruk di novelnya. 


Perlawanannya terhadap Dean agar tidak mengeksploitasinya secara seksual walaupun mereka suami isteri. Tetapi masalahnya,  dia sendiri bertransmigrasi. Tidak benar-benar merasakan evolusi hubungan mereka.


Melepaskan kenyataan bahwa dirinya bukan pelacur dan isteri di dunia nyata. Melainkan hanya seorang gadis belia yang ingin sekolah setinggi mungkin. Memiliki karir yang cemerlang agar dapat membahagiakan ibunya. 


Satu-satunya orang yang paling berharga dan dicintainya di dunia ini. 


Kesuksesannya menjadi artis dan kepala daerah membuat harkat dan martabatnya berubah sebagai wanita. Terutama di hadapan mertua dan suaminya.


Dean sendiri sebenarnya sudah putus asa untuk mendapatkan haknya sebagai suami. 


Sikap dingin Sinta hanya membuatnya menjadi sangat terobsesi akan pemenuhan haknya tersebut.


Peristiwa yang hampir menimpanya. Membuatnya tersadar bahwa memaksakan sesuatu. Hanya mendorongnya masuk ke dalam keadaan yang lebih buruk.


Dia sangat bersyukur saat itu, mereka berdua mabuk berat. Jika tidak, mungkin dia sudah mengkhianati dan menyakiti Sinta.


Walaupun dia tidak mencintai Sinta. Hanya menginginkan tubuhnya saja. Tetapi juga tak ingin menyakitinya. 


Melihat Sinta masuk penjara. Membuatnya iba, hatinya tersentuh untuk memperhatikan Sinte dengan sepenuh hati.


Apalagi Sinta dan pengacaranya sudah berbuat yang terbaik untuk kasusnya. Tanpa campur tangan keduanya. Mungkin dia sudah mendekam di penjara. Untuk perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Bertanggung jawab terhadap janin yang bukan berasal darinya. 


Dean membawakan makanan kesukaan Sinta. Bunga dan coklat kesukaannya. Mendengarkan semua keluh kesah dan curhatannya.


Walaupun Sinta tampak kuat dan menikmati kesehariannya. Bukan berarti tidak memiliki beban pikiran.


Apalagi sebagai kepala daerah yang sedang menghadapi tuntutan hukum serta ancaman pembunuhan. Sebagai wanita, hatinya melemah melihat korban jatuh. Semua hal yang mempengaruhi emosi dan perasaannya sebagai wanita.


Pembunuhan kembali terjadi di lapas. Dua orang berkelahi dan saling bunuh. 


"Kau ingin meracuniku, seperti Pian?"


Pian adalah narapidana yang tewas karena keracunan.


"Bukannya kau yang ingin membunuhku seperti Dion? Untuk apa belati ini? Di bawah tempat tidurku?"

__ADS_1


Keduanya saling baku hantam. Yang satu memegang belati sedangkan yang satu memegang pisau.


Jantung Sinta nyaris berhenti mengenali pisau yang digunakan untuk membunuhnya.


Wajahnya pusat pasi. Para narapidana berusaha memanggil kepala sipir dan petugas sipir tetapi kekacauan terjadi. Sirine yang menjadi tanda, terjadi kebakaran membuat semua panik kecuali mereka yang saling berselisih.


Keadaan lapas menjadi sangat kacau. Ketika keadaan sudah tenang. Keduanya sudah bersimbah darah, saling membunuh satu sama lain.


Sinta menjadi sangat shock. Jiwanya terguncang. Dean mendatanginya di lapas dan berusaha menenangkannya tetapi tidak berhasil.


Dean meminta ijin kepada kepala sipir untuk membawanya berobat ke psikiater mengobati keguncangan jiwanya.


"Ibu Sinta tidak diperbolehkan keluar lapas. Kami akan mengusahakan psikiater untuknya."


"Sinta terguncang dengan pembunuhan-pembunuhan yang ada di lapas. Terjadi beruntun. Tetap berada di sini, akan menambah guncangan pada jiwanya. Aku akan mengembalikan. Begitu dia pulih dari trauma dan keguncangannya "


"Harus dengan pengawalan ketat."


"Baik, aku tidak keberatan ikut menanggung biaya pengawalannya. Selama Sinta bisa mendapatkan pengobatan yang terbaik dan segera pulih dari keguncangannya."


"Ini hanya kebijakan. Karena, bu Sinta seharusnya mendapatkan penanganan psikiater di dalam lapas. Tapi kalau memang itu hanya menambah parah kondisi psikologisnya. Selama bapak mau menanggung biaya pengawalannya dan bertanggung jawab. Saya akan memberikan kebijaksanaan. Agar bisa mempercepat kesembuhan bu Sinta.


"Tidak masalah. Terpenting, isteri saya bisa pulih."


"Baiklah. Akan saya urus proses surat menyuratnya. Saya juga akan menyiapkan pengawalannya."


Dean membawa Sinta ke perawatan klinik psikiatri. Sinta dirawat inap.


Pengawalan ketat dilakukan. Dean ikut mendampingi dan menemani.


"Bagaimana sebenarnya? Bu Sinta bisa sangat terguncang?" Psikiaternya meneliti lembaran kertas yang ada di tangannya.


"Pembunuhan beruntun di lapas. Membuatnya sangat terguncang."


"Sebelumnya?"


"Kasus hukum yang menimpa saya dan isteri saya."


"Wajar sih. Kasusnya merebak seantreo penjuru. Memang kasus hukum tersebut sangat memicu beban pikirannya."


"Bagaimana penanganannya, dok?"


"Sementara saya berikan terapi obat dan elektrolit. Untuk mengembalikan keseimbangan emosinya. Obat penenang, tidur, penambah nafsu makan dan elektrolit."


"Saya percayakan semua ke dokter."


"Kalau sudah tenang. Saya akan jadwalkan sesi konseling dan hypnoterapi. Jika sudah pulih bisa dilanjutkan dengan penanganan psikiatri di dalam penjara."


"Baik, dok. Terima kasih."


Hubungan Dean dan Sinta terjalin semakin erat. Dean menemani Sinta selama rawat inap.

__ADS_1


Dean kerap menunggui Sinta. Tertidur sambil menggenggam tangan isterinya.


Dean terbangun karena usapan di kepalanya. 


"Sedang apa kau disini? Kau tidak kerja?" Tanya Sinta.


"Kau sudah bangun?"


"Aku bermimpi buruk."


"Mimpi apa?"


"Mereka semua menjadi monster dan setan."


"Mereka memang monster dan setan." 


"Aku telah membunuh mereka semua." Air mata Sinta kembali turun.


"Mereka yang ingin membunuhmu. Kau ingin mereka hidup sedangkan mereka ingin kau mati. Kau memikirkan mereka sedangkan mereka membencimu."


"Mengapa mereka membenciku?"


"Aku tidak tahu. Tetapi mereka tidak menyukaimu. Tidak bisa berada di dalam dunia yang sama. Sehingga pengacaramu memilih agar mereka saja yang pindah alam. Kau tidak tau, orang macam apa yang kau kasihani."


"Mereka memiliki keluarga. Bagaimana rasanya kalau orang tuamu kehilanganmu?"


"Memang apa yang kulakukan?"


"Misal?"


"Jika aku suka merugikan orang. Dengki. Menyakiti orang. Orang tuaku tidak bisa berbuat apapun selain menerima."


Air mata Sinta kembali turun dengan deras.


"Jangan terus menangis. Aku bukan melarangmu mengeluarkan emosimu. Tapi kau tidak boleh terlalu menuruti perasaanmu. Kau boleh bersedih tetapi kau juga harus tahu bahwa tidak ada cara lain. Mereka tidak bisa dihentikan. Kau tidak bisa membiarkan mereka. Keadaan akan semakin tidak terkendali."


"Aku tidak bisa berpikir. Kau jangan memaksaku."


Dean merengkuh Sinta dalam pelukannya. Air matanya menetes mengenai ubun-ubun kepala Sinta.


Sinta menjauhkan kepalanya. Menatap suaminya.


"Mengapa kau menangis?"


"Aku tidak tega melihatmu dan tidak tau bagaimana bisa membebaskanmu. Aku lelaki yang tak berguna!"


"Kau jangan seperti itu! Kasusku memang berat. Semua bukti memang mengarah padaku. Aku yang memerintahkan untuk mengeluarkan sejumlah uang tersebut."


"Kau berusaha melakukan yang terbaik. Kau tidak bisa membiarkan semua hancur di depan matamu. Tapi kau mengorbankan dirimu sendiri."


"Apalah artinya aku? Banyak yang bisa menggantikanku. Lebih baik. Kau tau pepatah minang berkata,'jadilah seperti pohon pisang,minimal berbuah satu kali sebelum mati.' Kau sendiri bilang, jangan banyak berpikir."

__ADS_1


"Aku dan pengacaramu tidak bisa menerimanya. Begitu semua bukti terkumpul dan lengkap. Kita akan melakukan perlawanan."


__ADS_2