
Tidak butuh waktu lama untuk nyonya Haliza untuk move on. Apalagi sejak memperhatikan Dylan, ayah sahabat putrinya.
Dia sudah mengenal Dylan. Sudah merasa kagum sejak pertama kali mengenal dan mengetahui kepribadian Dylan.
Sebagai seorang wanita, dia sangat terkesan dengan kesetiaan yang dimiliki Dylan. Bagaimana dedikasinya dalam mengurus anak-anak serta kedai makanannya. Serta sikap acuhnya dengan lawan jenis.
Dylan sosok yang ramah, perhatian dan hangat tetapi kalau sudah menyangkut lawan jenis. Apalagi kalau mereka sudah mulai mengarah ke ketertarikan antar lawan jenis. Dylan bisa berubah sangat dingin dan jauh.
Sikap Dylan membuat penasaran banyak wanita termasuk dirinya.
Dirinya bukan tidak setia. Buat apa mengingat orang yang tidak pernah menghargai hubungan pernikahan yang sudah sekian lama dijalani? Mengkhianatinya? Mungkin tidak pernah mencintainya? Hanya memanfaatkannya karena tidak ada wanita yang mau diajak susah payah dari bawah.
Bukankah dari nol cuma ada di SPBU Pertamina?
Mungkin sejak awal mereka tidak harus bersama. Karena dia menyadari bahwa mantan suaminya memang seperti kebanyakan lelaki yang menyukai wanita cantik, muda dan seksi.
Mungkin karena keadaannya waktu itu. Membuatnya mau tidak mau meminang dirinya menjadi istrinya. Tidak ada pilihan lain. Gadis tolol yang percaya bahwa lelaki yang nyaris tidak memiliki apa pun kecuali beban hidup, pemuja keindahan. Mau mencintai dan menerima dirinya apa adanya.
Bertahun dia tidak pernah mengeluh atas beban yang diberikan dan dibagi mantan suaminya.
Karena percaya bahwa dia adalah satu-satunya di hati dan pikiran mantan suaminya. Tapi begitu mantan suaminya terbebas dari semua keterbatasan. Barulah diketahui selera wanita yang selalu menjadi dambaan dirinya.
Dia tidak menyalahkan mantan suaminya apalagi wanita gila yang tolol itu. Dia menyalahkan dirinya yang terlalu naif, debil dan mungkin lebih gila karena mau menjalani hidup dan setia untuk lelaki yang hanya memanfaatkan dirinya di saat tidak memiliki apa pun.
Air matanya menetes. Hatinya sakit. Jiwanya meronta. Tidak menerima takdir yang kejam menggores dirinya begitu rupa.
Ya Allah, takdirmu begitu pahit. Sepahit empedu bagaikan tersayat sembilu. Jiwaku pilu, tubuhku luluh lantak. Semua terasa sendu membiru. Hatiku remuk redam. Gundah gulana.
Mengapa dia bisa mempercayai perasaan cinta mantan suaminya dulu?
Wanita adalah makhluk yang mudah diperdaya. Dengan kata-kata cinta. Ungkapan perasaan cinta yang menyentuh perasaan mereka.
Mengapa dia tidak menggunakan logikanya saat itu? Bagi laki-laki ketika mereka tidak memiliki apa-apa. Mereka kerap tidak memiliki pilihan. Siapa pun yang mau menemani mereka bersusah payah dalam menggapai kehidupan. Akan mereka pilih menjadi pendampingnya.
Bagi wanita yang tersakiti dan terluka hatinya. Kesetiaan pria adalah segalanya. Melihat keseharian Dylan dan kabar yang beredar seputar Dylan. Membuatnya terenyuh dan tersentuh.
Callista kerap menceritakan tentang ayah ibunya. Bagaimana harmonisnya keluarga mereka. Bagaimana kedua pasangan tersebut saling mencintai satu sama lain. Bagaimana ayahnya tidak bisa melupakan ibunya walaupun hanya sedetik. Bagaimana ayahnya memasang semua foto-foto ibunya di kamarnya. Seluruh flat mereka berisi foto-foto ibunya dan keluarga mereka. Bagaimana mereka semua sangat merindukan dan kehilangan ibunya.
"Ayahmu sangat mencintai ibumu?"
Callista menganggukkan kepalanya, "Papa tidak pernah sedetikpun melupakan mama. Ketika kami masih di Swiss, papa tidak pernah lupa memberikan mama sekuntum bunga dari kebun. Jika keluar negeri. Selalu membawakan mama, hadiah untuk aku dan adiku, coklat dan kue kesukaan mama."
"So sweet…" Haliza sangat tersentuh mendengar cerita Callista.
Dylan benar-benar sangat berbeda dengan Ahkam. Impian para wanita tentang bayangan suami dan kekasih.
Jika Ahkam begitu saja tergoda pada Hana. Dan Ahkam bukan satu-satunya. Hampir setiap mata jika Hana lewat atau berbicara dengan mereka. Membuat mereka menjadi grogi dan salah tingkah. Tapi Dylan tetap acuh.
__ADS_1
Apakah dia normal? Haliza membatin, atau rasa cintanya pada ibunya Callista demikian besar?
Setidaknya dia merasa berhutang budi kepada Dylan. Karena tanpa disadarinya. Sudah menghibur hatinya menolak pesona istri muda suaminya. Yang kerap membuatnya merasa terintimidasi.
Haliza mendekati Dylan dan memulai percakapan,"Apa menurutmu, Hana menarik?"
"Hana siapa?" Tanya Dylan balik.
"Astaga! Kau tidak mengenalnya. Di sekolah dasar ini, semua mengenalnya terutama kebanyakan pria. Apa kau pura-pura acuh?"
"Kau bicara apa?" Tanya Dylan bingung.
"Kenalkan aku, Haliza. Ibunya Syarifah sahabat putrimu, Callista."
"Kau ibunya Syarifah?"
"Yeah!"
"Callista dan Syarifah bersahabat erat. Mereka sering saling menginap. Dan ternyata kau ibunya. Maaf."
"Tidak apa-apa. Kita kan gak pernah saling mampir atau mengobrol. Gimana mau kenal kan?"
"Yeah! Senang berkenalan denganmu." Ujar Dylan berbasa basi.
"Ya, aku juga. Kupikir ada baiknya sesekali kita saling berkunjung."
"Agar saling mengenal. Anak-anak kita bersahabat."
"Bukan berarti kita harus bersahabat juga kan?" Ujar Dylan tertawa.
"Kau satu-satunya lelaki di sekolah ini yang bersikap acuh pada Hana."
Dylan tertawa,"Kau berlebihan. Hana mana?"
"Mungkin setiap wanita kecuali istrimu."
Wajah Dylan mendadak mendung. Hatinya begitu pilu dan nyeri mengingat Sinta.
"Kau teringat istrimu?"
"Mengapa kau membicarakan istriku?"
"Hampir semua tahu kalau istrimu meninggalkanmu begitu saja dan menikah dengan orang lain. Walaupun kabar burung. Karena kau dan anak-anakmu selalu bilang istrimu merawat ibunya. Tidak ada yang percaya cerita tersebut."
"Istriku tidak meninggalkan kami untuk menikahi orang lain. Dia juga tidak merawat ibunya. Jangan kau sebarkan hal ini. Aku tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya pada anak-anakku atau siapa pun."
"Kau sangat jujur. Kau tidak perlu mengatakan apa pun padaku."
__ADS_1
"Aku menyimpan hal ini sendirian. Setidaknya hal ini membuatku sedikit lega."
"Kau sangat mencintai istrimu?"
"Lebih dari nyawa dan jiwaku sendiri."
"Dia wanita yang sangat beruntung dicintai lelaki baik, setia dan tampan sepertimu."
"Aku yang beruntung dicintai olehnya."
"Kalian berdua sangat beruntung memiliki cinta sejati satu sama lain."
"Yeah!"
"Seandainya mantan suamiku sepertimu. Aku dan anak-anakku akan menjadi keluarga yang sangat bahagia."
"Cinta tidak bisa dipaksakan. Jika seseorang mencintai dua orang dalam waktu yang bersamaan. Maka pilihlah yang kedua. Karena jika kamu mencintai yang pertama, kamu tidak akan jatuh cinta pada yang kedua."
"Wow! Bijak sekali."
Dylan tertawa,"Itu kan pepatah yang umum."
"Kau tahu siapa Hana?"
"Tidak. Dan kenapa aku harus tahu dia?"
"Dia adalah mama muda di sekolah ini. Adiknya bersekolah disini karena dia menikah dengan pria kaya yang berusia hampir dua kali umurnya."
"Kupikir banyak yang seperti itu. Aku tidak melihat istimewanya."
"Kau rajin mengantar jemput anak-anakmu tapi kau tidak tahu Hana sama sekali?"
"Selebritis aja aku belum tentu tahu apalagi bukan siapa-siapa."
"Bukan siapa-siapa? Dia orang yang paling memiliki dampak dalam hidupku."
"Oh ya? Kenapa bisa begitu?"
"Dia menikahi suamiku. Hana istri muda suamiku. Kami bercerai karena kehadirannya di pernikahan kami."
"Astaga! Pantas kau begitu terobsesi dengannya. Maafkan aku!"
"Tidak apa-apa. Kau tidak salah apa-apa. Mengapa harus meminta maaf?"
"Ikhlaskan suamimu. Seperti yang kukatakan. Jika suamimu mencintaimu maka tidak akan ada orang lain bisa hadir dalam hidupnya."
"Yeah!"
__ADS_1