
Hari itu adalah hari yang sangat tidak diharapkan oleh siapapun terutama Callista.
Hari yang seharusnya menjadi kegembiraan bagi mereka bertiga berubah menjadi hari yang paling menyedihkan.
Dylan tidak pernah mengijinkan Callista untuk pergi ke Indonesia. Alasan keadaan tidak aman. Tingkat kriminalitas yang tinggi. Beragam alasan lainnya membuat mereka sekeluarga menggambarkan Indonesia sebagai negara yang sangat berbahaya.
"Tingkat terorisme yang tinggi. Selain kriminalitas. Sangat tidak aman." Ujar Dylan menasihati putrinya.
Callista, Syarifah dan Azizah sepakat menghabiskan liburan mereka ke Singapore.
Orang tua mereka membekali mereka sejumlah uang tunai, debit dan credit card serta asuransi perjalanan.
"Aku tidak akan tenang kalau tidak membekalimu asuransi perjalanan."Ujar Haliza.
"Yeah!" Dylan menyetujui,"Jika kalian menolak. Maka silahkan berlibur di rumah."
"Pa!" Protest Callista.
"Lebih baik uangnya buat beli oleh-oleh atau menambah bugdet liburan."
"Kami yang membayar asuransinya. Tidak memotong budget liburan kalian." Ujar ibunya Azizah tegas.
"Maksudnya tante. Mentahnya buat kami gunakan untuk yang lebih kami butuhkan saja."
"Asuransi itu akan berguna saat kalian sangat membutuhkannya." Sahut Dylan, "Jangan mendebat kami. Kalian mau berlibur atau tidak?"
Ketiganya menganggukkan kepalanya.
Liburan yang sangat menyenangkan. Mereka menghabiskan waktu mencicipi aneka makanan. Disneyland. Tempat hiburan dan rekreasi. Tidak lupa mereka berfoto. Menonton konser.
"Di Malaysia juga ada konser." Ujar Syarifah.
"Tapi beda kalau kita nonton disini." Sahut Callista.
"Apa salahnya menonton konser disini? Mumpung kita ada disini?" Timpal Azizah.
Akhirnya mereka sepakat untuk menonton konser penyanyi idola mereka Troye Sivan. Angel Baby lagu favorite mereka bertiga.
Keesokan harinya, setelah mereka menonton konser. Syarifah memberikan ide kepada mereka bertiga.
"Aku bosan di Singapore. Bagaimana kalau kita ke Indonesia?"
"Ayahku melarangku ke sana. Tidak aman."
"Kita tinggal menyebrang saja. Kabarnya makanan aceh sangat lezat. Belum lagi panoramanya yang indah. Aku ingin mengambil beberapa gambar disana. Bagaimana?"
"Tapi ayahku bilang…."
"Ayahmu tidak ada disini. Kita hanya sebentar saja. Sebelum malam kita sudah berada di hotel. Bagaimana?"
"Kalian harus janji merahasiakan hal ini dari ayahku."
"Tenang saja. That what friends are for."
Mereka menyebrang menggunakan pesawat untuk menghemat waktu.
Sesampainya di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda. Mereka turun dan mampir untuk makan siang di Bandara.
__ADS_1
Mereka memesan aneka makanan Aceh. Mie goreng aceh, Kuah Beulangong, makanan yang terbuat dari gulai kambing dan nangka muda Keumamah, ikan tongkol dan cangkalang bisa disimpan tahan lama. Ikan direbus dan dikeringkan selama tiga hari di bawah terik matahari. Ditumis dengan bumbu yang kaya rempah. Sie Reuboh, gumpalan daging beserta lemak yang diberi bumbu garam, cabai kering, cabai merah, cabai dan kunyit. Kuah Sie Itiek merah, berasal dari itik yang dimasak bersama rempah-rempah. Tumis kangkung. Nasi putih di dalam bakul yang masih mengepul panas. Tiga gelas Le Boh Timun, es serut mentimun yang sangat segar.
"Kau tidak memesan terlalu banyak?" Ujar Callista.
"Kita bawa ke hotel aja sisanya. Bagaimana?" Sahut Syarifah.
"Ide yang bagus!" Timpal Azizah.
Mereka berjalan-jalan di sekitar Banda Aceh sesudah makan. Membungkus sisa makanan untuk dimakan di hotel. Semua makanan yang mereka pesan sangat lezat.
Mereka meneruskan perjalanan mereka ke Pulau Tailana. Bermain seharian di sana.
"Kupikir kita harus ke sini lagi. Aku ingin mencoba diving disini. Sesampainya di Malaysia. Kita kursus diving bagaimana?" Usul Syarifah yang disetujui kedua sahabat baiknya tersebut.
"Kita juga harus ke Taman Putroe Phang. Taj mahal Aceh, dibuat oleh Sultan Iskandar Muda untuk istri tercintanya, Putri Kamaliah, dari negeri Pahang, Malaysia."
"Pantai Ulee Lheue juga terkenal sangat indah. Disini seperti pecahan surga. Begitu indah."Ujar Callista mengagumi pemandangan di hadapannya.
"Kupikir ayahmu paranoid. Daerah ini terlihat aman."
"Mungkin maksudnya daerah lain bagian Indonesia?" Tanya Azizah.
"Entahlah! Ayahku melarangku ke Indonesia. Tapi tempat ini sangat indah. Aku jatuh cinta pada Indonesia."
"Kupikir kita harus keliling Indonesia tanpa sepengetahuan orang tua kita. Bagaimana?"
"Yeah! Aku setuju. Apa gunanya asuransi travelling kalau kita tidak berani mengambil resiko apa pun kan?"
"Rahasia kita!" Seru Callista bersemangat. Kedua temannya menyambut uluran tangannya dan mereka saling menautkan tangan mereka dan menghentakkannya.
Pesawat akan berangkat sejam lagi. Mereka tergesa menuju bandara. Bersiap untuk menaiki penerbangan mereka ke Singapore.
Jantung Callista nyaris berhenti. Melihat sesosok wanita yang sangat dikenalnya di televisi.
Wanita tersebut tampak sedang menjawab pertanyaan seputar reporter. Memberikan pendapatnya.
"Kupikir, kita jangan kembali ke Singapore dulu." Tukas Callista.
"Tapi kenapa?"
"Wanita itu ibuku."
Kedua temannya menyimak acara yang ditayangkan televisi tersebut.
"Tidak mungkin. Dia gubernur Aceh. Tidak mungkin ibumu seorang gubernur."
"Aku sangat mengenalinya. Walaupun dia sudah lama pergi meninggalkan kami semua."
"Kau jangan gila! Kita bisa dituduh memfitnah. Kita bisa masuk penjara!"
"Aku tidak peduli! Aku ingin bertemu dengan ibuku!" Mata Callista memanas. Air matanya berderai.
"Kau serius dan tidak berbohong?"
"Untuk apa aku berbohong?"
"Baiklah! Kita akan cari tahu. Tapi kita harus hati-hati."
__ADS_1
"Aku akan bertanya dimana tempat tinggal gubernur. Bagaimana?"
"Ide yang bagus."
Azizah membantu Callista yang sangat shock melihat ibunya di televisi.
Mereka mendapatkan alamatnya. Mereka merubah rencana mereka. Memutuskan untuk tinggal di sekitar bandara. Mendatangi ibu Callista walaupun tidak mudah melihat protokol yang mengelilinginya.
Keesokan harinya, mereka mengamati kediaman di seputar rumah gubernur.
Seorang anak lelaki kecil dan seorang lelaki yang dipanggilnya Baba. Memasuki mobil yang berbeda.
Callista berlari mendatangi ibunya saat ibunya akan memasuki mobilnya.
"Mama!" Teriaknya histeris. Airmata berderai di kedua pipinya.
Para pengawal ibunya bergerak untuk mengamankannya.
"Tahan!" Seru ibunya, "Lepaskan dia!"
Callista berlari ke arah ibunya. Memeluknya dengan erat. Menangis dalam pelukan ibunya. Anak dan ibu saling bertangisan.
"Kau sudah dewasa." Sahut ibunya dengan suara serak.
"Bagaimana nenek?"
"Nenek?"
"Papa bilang mama mengurus nenek dan akan kembali kalau nenek sudah sembuh."
"Papamu mengatakan seperti itu?"
Callista menganggukkan kepalanya.
"Dia tidak mengatakan apa pun kepadamu?"
Callista menggelengkan kepalanya.
"Maafkan aku, terpaksa meninggalkan kalian semua. Pernikahanku dan ayahmu dibatalkan oleh ayah sambungmu."
"Apa maksud mama?"
"Ayahmu menyelamatkan aku dari kasus hukum. Melarikanku dan menikahiku. Kalian lahir di tempat pelarianku. Ayah sambungmu menemukanku. Membatalkan pernikahan kami. Karena hal tersebut aku meninggalkan kalian semua."
Tangis Callista meledak. Jiwanya terguncang, "Aku tidak mengerti!"
"Maafkan mama!"
"Semua cerita kalau mama merawat nenek tidak benar?"
Ibunya menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak pernah mempercayai berita yang beredar bahwa kau meninggalkan papa, aku dan adik-adikku! Ternyata semua benar! Aku tidak percaya ini! Kau sangat kejam!"
Ibunya menangis. Tidak membalas perkataan Callista.
"Aku sangat membencimu!" Callista membentak ibunya dengan nada marah, "Aaghhh!!!" Tubuhnya limbung dan rubuh
__ADS_1
"Callista!" Teriak ibunya panik.
Para pengawalnya berlarian berusaha menahan jatuhnya Callista. Membopongnya masuk ke dalam rumah.