
Penyadapan yang dilakukan Helena mulai menunjukkan hasil.
Dylan mendengar percakapan antara Helena dengan Brian.
"Apa yang kau lakukan pada Sinta sebenarnya?"
"Aku menjegal proyek-proyeknya."
"Tapi kenapa?"
"Life is hard. Tidak cukup tempat untuk kami berdua."
"Apa yang kau lakukan?"
"Menyusupkan orang ke dalam proyeknya untuk melakukan sabotase."
"Kau membuat pekerjaannya berantakan?"
"Ya. Aku harus melakukannya."
"Kau tahu untuk mengatasi kerugian tersebut. Dia menutupnya dari uang kas."
"Memang itu tujuanku."
"Kau sengaja menjebaknya?"
"Ya. Apakah Sean ikut bekerja sama denganmu?"
"Sean yang menyusupkan orang-orang ke dalam proyeknya."
"Aku tidak mengerti. Siapa sebenarnya yang menjebak Sinta? Kau atau Sean?"
"Kami berdua."
"Kalian berdua bekerja sama?"
"Ya."
"Bisakah kau menceritakannya secara detail?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin tahu semuanya. Kau pernah menyinggungnya tapi saat itu aku belum mengenalnya. Saat aku mengajukan tuntutan hukum kepada suaminya. Aku baru mengenalnya."
Brian menceritakan kronologisnya dengan detail.
"Binggo!" Dylan tersenyum senang.
Mendengarkan seluruh penyadapan yang berisi cerita Brian secara detail. Bagaimana dia dan Sean mensabotase Sinta.
"Terima kasih, Helena."
Dylan menyalami Helena.
"Aku yang berterima kasih kepadamu. Kau benar. Aku harus memasukkan mereka berdua ke penjara kalau ingin membebaskan diriku dari cengkraman mereka berdua."
"Aku akan memasukkanmu ke program perlindungan saksi."
"Terima kasih."
"Aku ingin kau menyadap Sean. Aku ingin lebih banyak bukti agar mereka berdua tidak bisa lolos dari jeratan hukum."
"Baiklah."
Helena membantu Dylan mengumpulkan bukti lebih banyak.
Helena mencuri gadget Sean dan juga Brian. Gadget-gadget tersebut diserahkan pada Dylan.
Dylan mengumpulkan bukti dari whasapp yang mereka berdua lakukan.
Semua saksi, bukti whasapp dan hasil penyadapan membuat peluang Sinta untuk bebas semakin besar.
Dylan bekerja keras untuk mengumpulkan semua bukti juga saksi serta hasil penyadapan.
"Apakah aku akan bebas?"
__ADS_1
Dylan menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, bro!" Sahut Dean tulus.
"Sudah tugasku sebagai pengacara."
"Kau yang terbaik!"
Sinta menangis.
"Kau jangan menangis!" Bujuk Dean.
"Aku tidak percaya semua ini terjadi."
"Semua bukti yang kudapatkan menunjukkan kau tidak bersalah. Kau sengaja dijebak. Ada penyadapan Sean yang menyatakan bahwa memang dia sengaja ingin membuat perusahaan mertuamu hancur."
"Apakah pernyataan mereka berdua saja cukup?"
"Aku memiliki kesaksian mereka yang melakukan sabotase tersebut. Diperintahkan oleh Sean. Brian juga ikut serta dalam konspirasi tersebut. Mereka berdua ada dibalik semua ini."
"Apakah mereka tahu Helena ada dibalik semua penyadapan tersebut?"
"Belum. Jangan sampai mereka tahu. Mereka akan membunuhnya."
"Tapi Helena harus bersaksi."
"Setelah status mereka berdua menjadi tersangka."
"Maksudmu mereka akan berada di penjara sepertiku dan baru Helena dan para saksi memberikan kesaksian mereka?"
"Ya, seperti itu. Aku tidak ingin sesuatu menimpa para saksi."
"Kapan kau akan melakukan penahanan terhadap mereka?"
"Secepatnya."
Dylan menepati perkataannya. Dia mengajukan status tersangka pada keduanya dan meminta penahanan terhadap keduanya.
Proses peradilan dilakukan. Para saksi dan Helena memberikan kesaksian terhadap kejahatan keduanya.
Bukti-bukti diajukan. Begitu juga dengan hasil penyadapan.
"Akan kubunuh kau ****** sialan!" Umpat Brian kepada Helena.
"Mengapa kau lakukan ini padaku?"
"Kau ingin tahu?" Sahut Helena dingin.
"Katakan padaku! Aku akan membunuhmu dan mencincangmu!"
"Aku terlalu banyak tahu tentang kau dan Sean. Kalian berdua tidak akan melepaskanku. Cepat atau lambat kalian akan membunuhku."
"Apakah pengacara sialan itu yang mengatakan padamu? Kau mau saja diadu domba olehnya!"
"Kau wanita tolol!" Umpat Sean.
"Aku tidak tolol! Justru aku melindungi diriku dari kekejaman dan kejahatan kalian berdua!"
"Kau membuat perusahaanku bangkrut!"
"Kau sendiri menginginkan usaha mertua Sinta bangkrut. Bagaimana rasanya?"
"Apa urusanmu? Kau pelacur tolol! Apa urusanmu dengan semua ini?"
"Ada satu hal lagi yang harus kusampaikan padamu, Brian!"
"Apa itu?"
"Aku mengandung anakmu."
"Kau pikir aku percaya?"
"Aku memiliki bukti test dna."
"Aku tidak sudi mengakui anak haram itu sebagai anakku. Apalagi dari wanita rendah sepertimu!"
__ADS_1
Wajah Helena merah padam.
"Kau benar-benar tidak memiliki hati!"
"Gugurkan! Aku tidak sudi mengakuinya sebagai anakku."
Sean dan Brian berteriak-teriak ketika digiring ke dalam penjara.
Mereka juga melakukan contempt of court. Hakim menjadi sangat gusar melihat keduanya.
Fakta persidangan menunjukkan bahwa Sinta terbebas dari tuduhan.
Hakim menetapkan sejumlah ganti rugi dan penyitaan terhadap perusahaan Sean.
Membebaskan Sinta dari segala tuduhan juga ganti rugi.
Brian juga mendapatkan hukuman seumur hidup atas perbuatannya.
Begitu juga Sean dihukum seumur hidup. Keduanya mendekam di dalam penjara.
Sinta tengah mempersiapkan kebebasannya ketika terjadi kebakaran hebat di penjara.
Sesosok mayat terbakar dan diautopsi dan dikeluarkan surat bahwa mayat tersebut adalah mayat Sinta.
Dean sangat terpukul mengetahui isterinya meninggal karena kebakaran.
Begitu juga dengan manager politik dan keartisannya. Harapan mereka untuk mendapatkan sejumlah kontrak padam selamanya karena Sinta dinyatakan sudah meninggal dunia.
"Isteriku tidak bisa menikmati kebebasannya. Dia sudah dinyatakan tidak bersalah. Apakah masih perlu dilakukan rehabilitasi?"
"Tentu! Untuk nama baiknya aku akan mengajukan rehabilitasi. Walaupun dia sudah meninggal dunia tetapi dia berhak mendapatkan pemulihan nama baik."
"Baiklah terserah kau saja!"
Selang beberapa lama. Helena ditemukan tewas. Bunuh diri. Gantung diri dan meninggalkan sepucuk surat bahwa dia tidak sanggup membesarkan anaknya seorang diri.
Berita menyebar luas mengenai kematian Helena. Koran-koran meliputnya. Semua orang membicarakannya.
"Ternyata wanita yang bersaksi itu mengandung bayi dari politikus yang dipenjara?"
"Dia bunuh diri karena tidak bisa menahan malu?"
"Tidak mampu merawat bayinya?"
"Masih muda dan cantik. Tapi bunuh diri?"
Berbagai pendapat dan opini berseliweran. Semua bersimpati terhadap kematian Helena.
Sean dan Brian menjalani hukuman mereka di dalam penjara. Mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka.
Di siang yang terik. Seorang narapidana memancing amarah Brian. Tidak terhindarkan mereka terlibat perkelahian.
"Kau politikus busuk!"
"Apa kau bilang?"
Mereka saling dorong dan baku hantam. Saling pukul hingga masing-masing terluka dan mengucurkan darah di hidung dan mulut mereka.
Brian bermaksud membalas dan melayangkan pukulannya ketika lawannya mengeluarkan pisau dan menusuk perutnya.
Brian tewas bersimbah darah.
Sean sendiri berusaha membebaskan dirinya dengan menyewa pengacara.
"Aku tidak ingin mendekam di tempat ini. Aku tidak peduli harus membayar berapapun untuk keluar dari sini!"
"Kau tenang saja! Aku akan menyogok hakimnya. Semua bukti akan dimusnahkan. Aku akan mengajukan banding untuk kasusmu dan membebaskanmu."
"Kau tahu! Brian tewas ditangan narapidana gila! Kau harus keluarkan aku secepatnya dari sini!"
"Kalau sekarang tidak bisa karena kau sedang dalam penahanan untuk pemeriksaan penyidikan. Setelah itu penuntut umum dan hakim."
"Aku sudah tidak tahan disini."
"Tapi kau tidak bisa keluar dari sini. Ancaman kasusmu sangat berat."
__ADS_1
"Tapi kau bisa kan mengeluarkanku dari sini?"
"Tenang saja!"