Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
New Comer


__ADS_3

Dylan berusaha secepat mungkin tiba ke Swiss. Begitu mengetahui Sinta melahirkan. Langsung memesan tiket dan menuju bandara Soekarno Hatta.


Perjalanan selama 29 jam , 8 menit ke Bandara Internasional Zurich. Terasa sangat lambat. Setiap menitnya terasa sangat menyiksa.


Putri keduanya lahir dan dia tidak bisa menemani isterinya melahirkan.


Dia bisa sedikit tenang karena isterinya melahirkan dengan layanan home care. Dia juga sudah menyewa perawat selama seminggu membantu isterinya yang masih lemah sehabis melahirkan.


Hatinya sangat merindukan isteri dan kedua buah hatinya.  Putri pertamanya diberi nama Callista yang artinya tercantik sedangkan yang kedua diberi nama Sapphire. Batu nilam yang sangat indah.


Cintanya kepada isterinya semakin bertambah dengan kehadiran buah hati mereka.


Melihat Callista tumbuh sehat, cerdas dan bahagia membuatnya tidak salah memilih Sinta sebagai isterinya.


Walaupun rasa bersalah kerap menyelimuti dirinya yang membohongi Dean dengan merekayasa kematian Sinta.


Seandainya mereka bisa bercerai dengan cara yang normal. Sinta dan anak-anaknya tidak perlu bersembunyi sampai ke pegunungan Alpen, Swiss.


Mereka bisa berkumpul sebagai keluarga di Indonesia. Setiap hari sepulang bekerja, Sinta dan anak-anaknya menyambutnya pulang. 


Tidak perlu mereka terpisah dua minggu sampai sebulan sekali kadang lebih jika dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.


Hatinya teriris dan terenyuh setiap Callista menangisi kepergiannya kembali ke Indonesia meninggalkan mereka berdua.


Selama terpisah dari keluarganya. Dylan merasakan kesepian dan kehilangan. Celoteh dan keceriaan Callitas. Pelukan hangat, kebersamaan dengan anak isterinya  sebagai keluarga. 


Serta romansa percintaannya bersama isterinya  mewarnai hubungan mereka yang manis sebagai suami isteri.


Sinta dan Callista tidak sendirian. Ada James yang membantu mengurus hewan ternak dan peliharaan mereka juga kebun.


Christina, housemaid yang bekerja membersihkan rumah dan mengurus laundry. Setiap dua hari sekali. Termasuk memasak.


Kehidupan pernikahan mereka yang harus disembunyikan karena kematian palsu yang mereka karang.


Membuat mereka mau tidak mau memilih hidup menjauh ke tempat yang sepi.


Biaya hidup jelas lebih mahal dari pada di kota yang serba praktis. Tinggal di apartement yang jauh  lebih murah. Tidak harus dibeli dan cukup dengan menyewa.


Tetapi keuntungan lain tinggal di tempat yang lebih sepi. Mereka bisa memiliki ternak dan peliharaan serta bisa merasakan kehidupan pedesaan yang tenang dan indah.


Dekat dengan alam. Kehidupan yang menyerupai liburan. Terutama untuk mereka yang bekerja seperti dirinya. Tinggal di kaki pegunungan Alpen merupakan healing dan keseimbangan hidup.


Sesampainya di rumah. Dylan menyempatkan diri memetik bunga di kebunnya.


Dylan membuka pintu rumahnya. Callista yang sedang bermain sendiri dengan boneka serta mainan peralatan memadak serta lainnya. Langsung menghambur ke arahnya dan memeluk kakinya sangat erat.


"Papa!" Nada rindu terdengar jelas dalam suara putrinya.


Dylan meletakkan tas ranselnya dan bunga yang baru dipetiknya. Menggendong putrinya dan menciuminya.


"Mana mamamu?"


"Di kamar bersama adik dan Bernadette."


"Perawat?"


Callista menganggukkan kepalanya.


"Kita lihat adik dan mama, yuk!"


Dylan menurunkan Callista dan membawa bunga yang digeletakkan di lantai rumah mereka.


Callista mengikuti ayahnya. Dylan membuka pintu kamarnya. Melihat Sinta sedang menyusui bayi mereka.


Sementara perawat tampak sedang menyiapkan persiapan mandi untuk putri mereka.


"Hai!" 

__ADS_1


"Hai juga!" Sinta menyunggingkan senyumnya. Wajahnya masih tampak pucat. Sepertinya dia kehilangan cukup banyak darah.


"Ini untukmu. Maaf, aku tidak membawa apa pun. Begitu mendengar kau melahirkan, aku langsung memesan tiket dan ke sini."


"Tidak apa-apa. Bunganya sangat cantik dan segar. Terima kasih."


"Bunganya dari kebun kita."


"Pantas saja. Terlihat sangat familiar. Bernadette, tolong pindahkan ke dalam vas. Taruh di dekat jendela kamar. Aku ingin Sapphire besok melihatnya ketika kau menjemurnya."


"Baik, mam."


"Terima kasih."


"Don't mention, it."


"Bolehkah aku menggendongnya?" Tanya Dylan kepada Sinta yang sedang menepuk-nepuk punggung Sapphire.


"Tentu. Aku akan memberikannya padamu setelah dia selesai menyusu."


"Tentu." Dylan memperhatikan bagaimana Callista lahap menyusu pada ibunya.


"Sepertinya dia kehausan."


"Dia baru selesai dijemur. Aku belum menyusuinya sejak dia bangun."


"Pantas." Dylan tersenyum bahagia melihat bayi mungilnya yang sedang menyusu dengan ibunya.


Setelah kenyang. Sapphire melepaskan ****** susu ibunya. Sinta menepuk punggung bayinya. Agar bayinya tidak tersedak dan bisa mengeluarkan gumoh. Sisa susu yang ada di sekitar mulut dan kerongkongannya.


"May I?" Tanya Dylan tidak sabar ingin menggendong bayinya.


Sinta tertawa melihat raut wajah suaminya yang tampak tidak sabar ingin memeluk bayinya.


Sinta bermaksud menggoda suaminya dengan sengaja berlama-lama menepuk punggung bayinya.


Kontan tawa Sinta pecah mendengar jawaban suaminya.


"Mupeng ya?"Goda Sinta.


"Berempatilah padaku. Perjalanan 29 jam ke sini?"


"Kau sendiri tidak berempati padaku? Melahirkan tanpa suami?"


"Aku kan bukan sengaja tidak menemanimu."


"Bukan masalah sengaja atau tidak."


"Baiklah! Aku minta maaf! Berikan Sapphire padaku!"


"Aku takut masih ada sisa susu di lambungnya. Sebentar lagi."


"Kenapa gak sekalian di usus besarnya?"


Kontan Sinta tertawa melihat ekspresi suaminya yang mulai kesal.


"Begitu saja marah!"


"Kau becanda tidak lihat sikon. Berikan dia padaku!"


"Kau belum menciumku dan Callista."


"Astaga!" Dylan mencium Callista dan Sinta,"Berikan dia padaku."


"Basa basi nyiumnya. Ya kan Cal?"


Callista mengangguk. 

__ADS_1


"Kau ingin kupermalukan di depan perawat?"


Gantian Sinta yang air mukanya berubah dan giliran Dylan yang tertawa lepas.


"Tidak lucu!" Sahutnya sambil menyerahkan Sapphire ke suaminya.


"Begitu saja marah!" Balas Dylan balas menggoda Sinta.


"Halo baby!" Sapa Dylan pada bayi mungilnya. Menciumi bayinya.


"Selamat datang! Kuharap kau senang bergabung bersama kami."


"Pa! Aku juga mau digendong."Callista cemburu melihat Sapphire yang berada di gendongan ayahnya.


"Gantian ya, sayang. Tadi kan papa sudah menggendongmu. Sekarang, adik ya?"


"Aku juga mau digendong!" Suaranya memekik.


Sinta tertawa melihat keduanya.


"Drama queen dimulai!"


"Kau berjanji akan bersikap manis begitu, adikmu lahir. Kau seorang kakak. Ingat itu!" Dylan mengingatkan putri kecilnya.


"Tapi aku mau digendong seperti adik!"


Kontan Sinta tertawa mendengar permintaan putrinya.


"Kau sudah besar. Mana bisa digendong seperti adik?" Sahut ibunya.


"Bisa!"


"Digendong seperti biasa aja ya?" Tawar ayahnya.


"Gak mau!"


"Berikan Sapphire padaku atau Bernadette. Aku mau makan dulu." Sahut Sinta bangkit dari tempat tidurnya bermaksud keluar kamar menuju dapur.


"Berikan padaku, sir. Aku sudah menyiapkan perlengkapan mandinya." Bernadette mengangsurkan tangannya mengambil Sapphire dari tangan Dylan.


"Kau jadi kugendong?" Dylan menghampiri Callista.


"Seperti adik!"


Dylan menggendong Callista seperti Sapphire. Callista tertawa senang.


"Kau berat sekali, sayang! Kupikir aku akan pingsan." Sahut Dylan berpura-pura lemas.


"Kau tidak apa-apa kan, pa?"


"Tidak apa-apa! Hanya keberatan saja. Mengapa kau jadi dua?" Dylan menjerengkan matanya dan Callista terpingkal.


Callista turun dari gendongan ayahnya.


"Apakah aku masih terlihat jadi dua?"


"Sudah tidak."


"Mengapa kau tidak membawa boneka atau mainan untukku?"


"Aku terburu-buru, sayang. Mendengar adik lahir. Aku langsung beli tiket dan ke sini."


"Kita beli mainan ya?"


"Besok ya kita beli mainan?"


Callista menganggukkan kepalanya dengan riang.

__ADS_1


__ADS_2