Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Heart Ache


__ADS_3

Callista sangat sakit hati. Mengetahui bahwa ibunya memiliki keluarga lagi dan seorang anak lelaki yang sangat tampan.


Dean menatap dengan wajah kesal. Tingkah laku Callista sangat menguji kesabarannya.


"Kau tidak boleh seperti itu pada ibumu. Kau tidak tahu apa pun."


"Apa maksudmu tidak tahu apa pun? Dia meninggalkan aku, ayah dan adik-adikku. Untuk bersamamu dan setan cilik tersebut!" Callista menatap tajam ke arah Emier.


"Biarkan aku menjelaskan semuanya padanya!" Ujar Dean marah.


"Jangan mengatakan apa pun!" Cegah Sinta,"Jangan menambah rumit masalah."


"Kalian main gila!" Teriak Callista histeris," Apakah kau tidak tahu. Setiap hari kami sangat merindukanmu? Keanu jatuh sakit dan nyaris tewas ketika kau pergi."


Air mata Sinta mengucur deras.


"Aku harus bersikap sopan dengan seseorang yang nyaris menghancurkan keluargaku? Adikku nyaris mati karena wanita ****** ini! Ayahku tidak mau menikah lagi karena trauma. Kau sudah merusak kepercayaannya akan cinta. Dia menolak seorang wanita yang kebaikannya sejuta kali lebih baik darimu! Pelacur!"


Dean tidak bisa menahan amarahnya. Bermaksud menampar Callista tetapi dicegah oleh Sinta.


"Biarkan dia meluapkan kemarahannya. Kumohon! Semua salahku. Dia anak yang baik. Aku yang mengubahnya menjadi monster yang mengerikan."


"Aku tidak bisa menerima dia bersikap seperti itu terhadap kau dan Emier."


"Biarkan dia! Kumohon! Aku pantas mendapatkannya. Dia pasti sangat sakit hati. Aku meninggalkannya, Dylan, Sapphire dan Keanu."


"Tapi bagaimana pun. Kau ibunya. Dia harus menghormatimu."


"Dia belum dewasa. Mengertilah!"


"Kau tidak bisa mencontoh adikmu, Emier?" Tukas ayah sambungnya dengan nada keras. Mengabaikan perkataan istrinya,"Mamamu sangat keras dan kejam pada anakku. Tapi dia tidak pernah membalas ibunya dengan perlakuan tidak hormat apalagi kasar. Usianya juga belum genap lima tahun. Kau tidak malu!"


Callista menantang wajah ayah sambungnya,"Ibuku tidak pernah berlaku kasar pada anak-anaknya. Kau mau menipuku? Tidak mungkin ibuku mengasari anakmu. Dia pasti memperlakukannya seperti pangeran cilik! Kalian semua penipu!"


"Buat apa aku menipumu? Dia tidak berlaku kasar padamu dan adik-adikmu. Tapi pada anakku? Berbeda seratus delapan puluh derajat."


"Aku tidak percaya! Kau tidak usah membujukku untuk bersikap baik padanya. Aku sudah menganggapnya mati. Semenjak tahu apa yang dia lakukan kepada kami semua."


"Kau sama keras kepalanya seperti ibumu." Ujar Dean sebal.


"Aku sangat membencimu dan tidak akan memaafkanmu sampai kapan pun!" Wajah  Callista dipenuhi amarah.


"Minta maaf pada ibumu!" Bentak Dean.


"Tidak akan!"

__ADS_1


"Kau akan menyesal jika tidak melakukannya!"


"Jangan paksa dia meminta maaf!" Teriak Sinta.


"Kau pikir aku akan memaafkanmu. Kalau kau berpura-pura baik? Munafik!" Bentak Callista.


"Aku tidak mengharapkan kau akan memaafkanku. Aku bersalah padamu, ayahmu dan adik-adikmu. Jangan memancing amarah ayah sambungmu. Aku tidak ingin dia menyakitimu. Kumohon!" 


"Kakak!" Panggil Emier.


"Jangan panggil aku kakak. Aku bukan kakakmu! Aku sangat membencimu! Kau merebut ibuku."


"Kak!" Sahut Emier berkeras, "Jangan membentak bunda! Bunda selalu memikirkan kakak setiap hari. Tidak pernah lupa menyiapkan hadiah ulang tahun untuk kakak setiap tahunnya. Bunda tidak pernah melupakan kakak dan yang lainnya."


"Apa maksudmu hadiah ulang tahun? Setiap tahun, hadiah ulang tahun yang kami terima dari ayahku berasal dari wanita ****** ini? Cih!" Callista meludah ke lantai.


"Kau benar-benar sangat keterlaluan!" Dean meradang.


Sinta memasang badan untuk putrinya.


"Kalau kau berani menyakitinya. Aku akan melawanmu!"


"Kau selalu melawanku! Biarkan kuberi pelajaran. Agar dia tahu bagaimana bersopan santun."


"Kumohon pergilah! Tinggalkan kami. Aku bisa mengurusnya tanpa bantuanmu. Kau akan mengacaukan semuanya."


"Baiklah! Aku mempercayaimu. Jaga ibumu baik-baik."


Emier memeluk ayahnya dan mencium kedua pipinya, "Aku akan menjaga bunda. Baba  tidak usah khawatir."


Dean mencium putranya dengan penuh kasih sayang. Berjalan menjauh. 


"Aku akan menginap di rumah mama." Sahut Dean kepada Sinta.


Emier mendekati Callista yang sedang marah pada ibunya. Kedua teman kakaknya menghabiskan waktu mereka di paviliun dan berjalan-jalan di sekitar Aceh.


Sedangkan mood Callista rusak. Dirinya dipenuhi kemarahan, kekecewaan dan kesedihan.


Sinta sendiri tidak dapat meninggalkan Callista yang sedang kacau emosinya.


Meminta asistennya menggantikan pekerjaannya. Sambil memantau dari rumah.


Pintu kamar Callista terbuka lebar. Berbolak-balik antara kamarnya dan ruang keluarga.


"Aku ingin pulang!" Teriaknya pada ibunya.

__ADS_1


"Tenangkan dulu dirimu. Ayahmu dan saudara-saudaramu pasti kaget melihatmu sekacau ini."


"Kau yang menyebabkannya. Aku sangat membencimu!"


Sinta hanya diam. Tidak menanggapi kemarahan putrinya.


Emier berdiri di samping bundanya. Sesekali mengambilkan tissue untuk bundanya. Segelas air hangat yang diambil dari dispenser.


"Kakak, kasihan bunda. Setiap hari bunda bersedih mengingat kakak. Tapi kakak bersikap jahat kepada bunda." Emier menyodorkan mug berisi air hangat yang dia ambil untuk bundanya.


"Kau tahu apa anak kecil! Dia sudah berlaku kejam pada keluarga kami. Adik bungsuku nyaris tewas karena sikap kejamnya. Ayahku tidak mau menikah lagi karena trauma. Sedangkan dia enak-enak disini!" 


"Kakak!"


"Berhenti memanggilku kakak! Kau bukan adikku! Tidak akan pernah menjadi adikku! Kau anak haram!"


Sinta hanya diam. Tidak menjawab perkataan putrinya. Apalagi membela diri.


"Kita satu ibu. Walaupun berbeda ayah. Tentu saja kau kakakku."


"Tidak sekali pun kau mengunjungi kami semua. Kau meninggalkan kami begitu saja. Kalau aku tidak sengaja menemukanmu. Mungkin selamanya kita tidak akan bertemu." Suara Callista pilu menahan tangis. Hatinya sangat sakit.


Emier menuju ke kamarnya membuka kulkas miliknya. Mengeluarkan aneka coklat, permen dan bonbon. Memasukkannya ke dalam paper bag berwarna broken white. Dengan gambar kucing hitam.


Menyerahkan paper bag tersebut pada Callista yang ditepis dengan kasar. Paper bag tersebut jatuh dan menumpahkan isinya ke lantai.


"Coklat, permen dan bon-bon. Kau akan menyukainya. Jika perasaanku sedang tidak enak. Aku kerap memakannya. Membuat mood menjadi baik. Makanlah!" Emier memunguti isinya kembali memasukkannya ke dalam paper bag dan menyodorkannya kepada kakaknya.


"Tidak usah sok baik! Kau menuruni darah wanita ****** ini. Bersikap baik untuk menutupi kejelekanmu! Tidak usah berpura-pura baik. Kau pasti membenciku. Seperti halnya aku membencimu."


"Aku tidak membenci kakak. Aku senang memiliki kakak. Aku sayang pada kakak. Walaupun ayah kita tidak sama. Tapi kau tetap kakakku. Kita keluarga. Tidak enak sendirian dan tidak memiliki saudara. Kakak mungkin tidak akan memahamiku karena kakak punya dua saudara kandung yang selalu bersama kakak."


"Jangan bermimpi, aku akan menyukaimu. Apalagi mengakuimu sebagai adikku. Kau dan ayahmu telah menghancurkan kebahagiaan keluarga kami. Kalian telah merengut ibuku. Aku tidak akan memaafkan kalian semua. Termasuk wanita ****** ini!"


Callista melemparkan kembali paper bag yang disodorkan Emier. Isinya tumpah ruah.


Sinta tidak mengatakan sepatah kata pun. Menyuruh Emier meninggalkannya dan Callista.


"Anak nakal! Jangan kau ganggu kakakmu! Masuk ke kamarmu!"


"Aku sudah berjanji pada ayah akan menjaga bunda!"


"Aku tidak apa-apa! Kau membuat kakakmu semakin marah. Masuk ke kamarmu! Sekarang!" Bentak Sinta.


Emier menuruti perintah ibunya.

__ADS_1


"Kau jangan bersandiwara! Aku tidak akan memaafkan kalian semua. Kau dengar itu!" Teriak Callista histeris sambil menangis pilu.


__ADS_2