
Emier memeluk ibu dan kakak sambungnya yang sedang bertangis-tangisan.
Pintu apartement terbuka. Dylan membawa bahan makanan. Sebelum ke apartementnya. Mampir berbelanja bahan makanan. Membuat makanan untuk anak-anaknya. Sepulang berkerja dari kedainya.
“Kau?” Ujarnya kaget melihat kehadiran Sinta.
“Aku dan Emier mampir ingin memberikan hadiah pertunangan untuk kalian berdua.” Sahut Sinta melepaskan pelukannya dari Callista.
“Tidak usah repot-repot. Tapi terima kasih.”
“Ide Emier memberikan hadiah berupa mukena, sajadah dan sarung.” Ujar Sinta mengangsurkan hadiah yang mereka bawa.
“Terima kasih, anak manis.” Sahut Dylan sambil melempar senyum pada Emier. Menerima hadiah dari Sinta dan menyimpannya dalam kamarnya.
Emier menyukai Dylan yang baik dan ramah. Tersenyum kembali membalas senyum Dylan yang tulus.
“Kalian makan di sini ya? Aku akan memasak untuk kalian berdua.”
“Aku menelpon Dean dulu. Memberitahu dan meminta ijin.”
“Yeah. Teleponlah suamimu.”.
“Terima kasih.” Sinta menelpon Dean. Meminta ijin.
“Menginaplah disini. Kau tidak mungkin langsung kembali ke Aceh kan?”
“Kalau tadi langsung pulang. Bisa saja langsung kembali ke Aceh. Tapi kupikir lagi lebih baik besok pagi saja aku kembali. Aku ingin bertemu dengan Callista, Sapphire dan Keanu.”
“Aku senang kau dan Callista sudah akur.”
Sinta mengembangkan senyumnya sedangkan Callista tersenyum kikuk dan malu.
“Jangan berprasangka buruk pada ibumu. Tidak ada seorang ibu pun di dunia yang sengaja ingin meninggalkan anaknya. Mereka memiliki alasan. Kau belum bisa mengerti jika dijelaskan sekarang. Justru akan menambah kesalahpahaman.” Ujar ayahnya.
“Kita sudah berbaikan kan Cal?” Sahut ibunya mengembangkan senyumnya ke putri sulungnya. Callista menganggukkan kepalanya.
Dylan terpukau memandang senyum Sinta. Senyum yang sangat dirindukannya. Tapi cinta tidak harus memiliki. Pertunangannya mendekatkan mereka semua. Ketika semua bisa terjalin dengan baik. Maka hal itu lebih dari cukup. Yang lainnya, menjadi tidak penting lagi.
“Mama membawa cake dan ice cream. Korean choux buat Keanu.” Ujar Callista kepada ayahnya.
“Sapphire dan Keanu akan sangat menyukainya.” Sahut Dylan.
Selesai menaruh bahan makanan ke dalam kulkas. Dylan mulai menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak untuk mereka makan sore.
“Kau menginap disini kan, Sin?”
“Aku tanya Dean dulu ya? Aku bilang sama dia. Aku dan Emier akan menginap di hotel.”
“Bilang padanya kau akan tidur bersama Callista dan Sapphire. Keanu dan Emier bersamaku.”
“Baiklah. Supirku tidur dimana? Tadi kami menyeberang menggunakan kapal. Aku membawa mobil dan supir.”
“Supirmu bisa tidur di ruang tamu. Ada sofa yang bisa merangkap sebagai tempat tidur. Ajak saja supirmu makan bersama. Ajak masuk.”
Sinta menganggukkan kepalanya. Menelpon Dean kemudian menelpon supirnya mengajaknya masuk ke dalam apartement sambil memintanya membawa barang-barangnya dan Emier selain barang-barangnya sendiri.
Ruangan apartement dipenuhi foto-foto dirinya bersama Dylan dan anak-anak. Ketika mereka masih di Swiss.
Kenangan tersebut membawa Sinta ke masa lalu. Setelah Dylan menikah. Kenangan tersebut tentu akan terhapus. Tidak mungkin Dylan akan memasang foto-foto mereka semua. Kalau pun ada yang dipasang beberapa dan tidak semua memenuhi ruangan seperti saat ini.
Dylan memasak untuk mereka semua. Sinta mengobrol dengan Callista. Sembari membantu Dylan menyiapkan masakannya. Emier menemani Dylan dan ikut membantu.
Emier duduk di bangku peninsula. Memotong-motong buncis yang akan dimasak Dylan.
“Kau seperti pengawal ibumu.” Ujar Dylan tersenyum lebar pada Emier.
Emier menganggukkan kepalanya,”Baba selalu berpesan agar aku menjaga ibuku.”
“Kau anak yang baik.”
__ADS_1
Emier tersenyum pada Dylan.
“Kau akan jadi teman baik Keanu dan Syarif. Sesekali kita bisa main bola bersama. Kau suka sepak bola?” Tanya Dylan sambil memotong-motong dada ayam yang akan dimasaknya.
“Suka sekali. Apakah aku bisa bergabung dengan kalian semua?”
“Tentu bisa. Sesekali menginap lah disini. Menghabiskan liburan bersama saudara-saudaramu. Sehingga kalian bisa menjadi dekat satu sama lain.”
“Aku tanya Bunda dan Baba dulu.”
“Yeah.”
“Bun, liburan aku boleh menginap disini gak?” Tanya Emier.
“ Ijinkan Emier menginap disini sesekali. Agar bisa dekat dengan saudara-saudaranya. Menghabiskan liburan bersama.” Ujar Dylan.
“Yeah, ide yang bagus. Aku akan menyampaikannya pada ayahmu. Aku akan mengantarmu sambil menghabiskan waktu bersama Callista, Sapphire dan Keanu. Aku akan menyewa apartement di dekat sini. Bagaimana?” Ujar Sinta.
“Aku sedang mencari rumah. Setelah menikah. Kupikir apartement tidak akan cukup menampung kami semua.”
“Baiklah, aku akan mencari rumah di dekat tempat tinggal kalian nanti. Sehingga bisa nyaman kalau mau bolak balik Aceh-Malaysia. Mengantarkan Emier menghabiskan waktu bersama kalian semua. Sesekali gantian kalian menghabiskan waktu berlibur di rumah kami. Ada paviliun yang cukup untuk menampung kalian semua.”
“Baiklah. Nanti bisa kita atur agar bergantian menghabiskan waktu liburan.” Ujar Dylan.
“Yeah.” Sahut Sinta senang.
“Ma, temani aku berbelanja. Temanku akan berulang tahun dan aku memerlukan pakaian baru.”
“Baiklah. Kita pergi sekarang saja. Kita makan di luar saja, bagaimana?”
“Yeah.” Sahut Callista senang.
“Pa, aku pergi dengan mama berbelanja pakaian untuk pesta ulang tahun Arafah.”
“Kau tidak ingin menunggu adikmu datang? Mungkin dia juga ingin ikut bersama kalian. Kita makan bersama dulu, bagaimana? Ibumu kan menginap disini. Kalian memiliki banyak waktu.”
“Yeah, baiklah. Aku akan menunggu Sapphire datang. Memang sebaiknya kita makan bersama dulu. Perutku mulai lapar.”
“Hai Sinta!” Sapa Haliza ramah.
Sinta memeluk Haliza dengan hangat.
“Aku datang membawa hadiah pertunangan untuk kalian berdua.” Sahutnya tersenyum lebar.
“Terima kasih, Sin.”
“Sapphire les balet? Keanu dan Syarif eskul sepakbola?” Ujar Sinta.
“Yeah. Syarifah sendiri juga baru pulang dari les bahasa Jermannya.” Sahut Haliza.
“Kita makan dulu ya?” Ujar Dylan. Meletakkan ayam koloke, cah buncis bakso baby corn, tahu kecap, sapi lada hitam, sepinggan mie goreng dan sepiring telur dadar yang dipotong-potong. Nasi putih yang baru matang dimasak di rice cooker ukuran 1,8 liter.
Dylan, Sinta, Haliza, Callista, Syarifah dan Sapphire mengelilingi meja makan. Keanu, Syarif, Emier dan supir makan di Peninsula.
Mereka makan sambil mengobrol.
“Aku berencana mencari rumah di sebelah tempat tinggal kalian nanti. Kau tidak keberatan kan, Haliza?”Tanya Sinta
“Tentu tidak.” Jawab Haliza.
“Kau mencari rumah yang seperti apa? “ Tanya Dylan menyuap makanannya ke dalam mulutnya.
“Aku ingin sebuah kamar untukku dan Dean dilengkapi kamar mandi dalam. Kamar untuk Emier, Keanu, Callista dan Sapphire masing-masing satu. Dua kamar berbagi kamar mandi yang bisa terhubung dengan kedua kamar tersebut. Kitchen island, ruang makan, keluarga, ruang tamu. Sebuah kolam renang.”
“Ok, nanti kucarikan saja rumahnya. Kau design saja berdasarkan space rumahnya yang kau inginkan.”
“Ok.”
“Kau memilih rumah yang sesuai dengan keinginanmu atau bersebelahan dengan kami?”
__ADS_1
“Bagaimana menurut kalian semua, anak-anak?” Tanya Sinta.
“Aku senang dengan idemu, ma. Memiliki kamar sendiri, kitchen island dan kolam renang. Kupikir rumah yang luas akan menyenangkan bagi kita semua.” Ujar Callista.
“Aku tidak mampu membeli rumah yang luas seperti yang mamamu inginkan. Kemungkinan aku mencari rumah yang berisi tiga kamar dengan kamar mandi dalam. Untuk kalian semua, aku dan Haliza.”
“Yeah, aku juga ingin rumah yang luas. “Sahut Sapphire.
“Apakah nanti ada halaman untuk bermain bola dan basket?” Tanya Keanu pada ibunya.
“Tergantung luas tanah yang akan kita dapatkan nanti.” Ujar Sinta.
“Mungkin kita tidak perlu bersebelahan. Mencari rumah yang sedekat mungkin. Sehingga kau bisa tetap memiliki rumah seperti kau dan anak-anak inginkan.” Sahut Dylan.
“Yeah. Sepertinya memang tidak harus bersebelahan. Tetapi sedekat mungkin sehingga memudahkan jika kita ingin saling mengunjungi atau berkumpul.” Sinta menyetujui.
“Yeah.” Dylan menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.
“Aku ingin memiliki ruang makan yang cukup untuk kita semua. Kita semua bersepuluh. Aku akan membuat lima kursi di setiap sisi meja. Sehingga kita bisa makan bersama sambil mengobrol di meja makan. Bagaimana?” Sambung Sinta, “Jangan lupa kamar dan kamar mandi buat supir, tukang kebun dan pengurus rumah.”
“Kau buatkan saja dulu designnya. Nanti kucarikan rumah dan lahan yang cocok. Bagaimana?” Ujar Dylan.
“Ok.”
Haliza, Syarifah dan Syarif berpamitan pulang. Dylan memberikan hadiah pertunangan untuk Haliza dari Sinta.
“Mukena dan sajadah yang indah. Terima kasih.” Ujar Haliza.
“Aku mencari warna yang serasi untuk kalian berdua. Untuk kalian jika ingin sholat berjamaah berdua.” Sahut Sinta, “Emier yang memilihkan hadiahnya .”
“Benarkah?” Mata Haliza berbinar senang, “Terima kasih, anak tampan.”
Emier mengembangkan senyumnya. Berada di tengah keluarga barunya. Membuatnya bahagia dan tidak kesepian. Dia menyukai Haliza yang juga baik dan ramah seperti ayah sambungnya.
Sepeninggal Haliza, mereka bercengkerama di ruang keluarga. Menonton video mereka sekeluarga ketika mereka tinggal di Swiss dulu.
“Apakah kau jadi berbelanja baju,Cal?” Tanya Sinta.
“Kau mau ikut mama dan aku berbelanja gak?” Tanya Callista pada Sapphire.
“Aku masih kangen mama.” Sahutnya memeluk ibunya, “Kau mau berbelanja apa sih?”
“Arafah akan berulang tahun. Aku ingin membeli pakaian bersama mama.”
“Besok saja gimana ma? Besok kan Minggu. Apa mama harus kembali pagi-pagi?” Rajuk Sapphire.
“Tadinya mama mau kembali pagi-pagi. Senin mama kan harus bekerja.”
“Bagaimana kalau kita berbelanja dulu besok. Aceh kan tidak jauh.”
“Baiklah, besok aku menemani kalian berbelanja dulu baru kembali ke Aceh.”
Sapphire mencium pipi ibunya, “Terima kasih, ma. Kau tidak apa-apa kan Cal? Besok saja.”
“Yeah, tidak apa-apa. Aku juga masih kangen mama.”
Mereka meneruskan menonton video sambil bernostalgia.
Emier sendiri bermain bersama Dylan dan Keanu. Mereka bermain monopoli.
“Siapa yang mau ice cream dan cake?” Tawar Sinta sembari menuju dapur membuka kulkas. Membagikam cake ke dalam piring dan menuangkan ice cream menggunakan scope ke dalam mangkuk kecil.
__ADS_1