Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The Proposal


__ADS_3

Haliza menghempaskan tubuhnya ke sofa. Tubuhnya lelah. Pikirannya melayang.


Apakah aku sudah menyinggung Dylan tanpa sengaja? Mengintimidasinya? Dengan pernyataan cintaku? Dominasiku kepada anak-anaknya? Aku tidak memaksanya untuk membalas perasaanku. Aku tidak bermaksud merebut perhatian dan kasih sayang anak-anaknya. Membuatnya merasa terisolasi begini. Apa yang hendak ingin dia katakan sebenarnya? Jangan memaksakan keberadaanmu di sekitarku? Biarkan aku dengan kenangan istriku selamanya? Jangan berusaha menggantikan istriku? Jangan jauhkan anak-anakku dariku? Biarkan aku bersama anak-anakku tanpa kau mencampuri urusan kami semua?


Tanpa terasa Haliza tertidur. Di dalam mimpinya. Dylan mengucapkan kalimat-kalimat yang ada di dalam pikirannya. Dia berusaha menjelaskan semuanya kepada Dylan.


Suara handphonenya berbunyi. Haliza mengangkatnya.


“Kau dimana?” Suara Dylan di seberang handphone.


“Di apartement.”


“Kau tunggu di sana ya. Jangan kemana-mana. Kita otw ke sana.”


“Ok. “


Haliza membuka kulkas. Memeriksa lemari makan. Sepertinya Dylan belum sempat memasak apa pun. Atau sebaiknya mereka memesan makanan?


Melihat bahan-bahan makanan. Sayur mayur. Telur, daging giling, sosis, bakso, potongan dada ayam dan daging slice yang sudah dimarinasi dengan berbagai jenis saus. Ada juga yang tidak dimarinasi.


Lebih baik sambil menunggu, aku memasak makanan buat mereka semua.


Mengambil beras dari rice box. Mencuci bersih dan memasaknya menggunakan rice cooker.


Mengambil beberapa butir telur. Mengocoknya. Memasukkan potongan wortel yang sudah dipotong kotak-kotak dadu. Daun bawang yang diiris halus. Sosis yang dipotong-potong. Membuat dadar gulung. dipindahkan ke piring saji setelah matang sempurna. Diiris-iris sesuai selera.


Masakan berikutnya. Sop ayam bakso. Mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat sop ayam dari potongan dada ayam yang dipotong kotak-kotak dadu. Wortel, buncis dan kentang. Serta bakso yang dibelah dua melengkapi pernak pernik sop ayam tersebut. Tidak lupa menyiapkan bumbu sop, lada, bawang putih, bawang merah yang dihaluskan. Ditumis sebelum dimasukkan sayuran dan pernak perniknya.


Terakhir, Haliza memanggang daging slice yang sudah dimarinasi. Memilih tiga jenis marinasi, black paper, teriyaki dan yakiniku. Bau harum tercium kemana-mana. Pintu apartement terbuka. Dylan dan anak-anak sampai di apartement Dylan.


“Hmm, baunya harum sekali.” Seru Syarifah.


“Yeah! Perutku jadi semakin lapar.” Sambung Keanu.


“Kalian semua belum makan? Makan dulu. Nasi sudah matang. Sebentar lagi aku selesai memanggang daging.”


Mereka meletakkan belanjaan dan bawaan mereka di sofa dan karpet.


“Kalian darimana saja? Berbelanja?”


“Yeah! Ayahnya Callista mengajak kami berbelanja.”


“Terima kasih.” Sahutnya tulus sambil melempar senyum ke arah Dylan.


“It’s my pleasure. Ada yang bisa aku bantu?” Dylan menawarkan bantuan,” Masakanmu keliatannya enak sekali. Baunya kemana-mana.”


“Aku sudah selesai memasak. Terima kasih.”


“Aku akan memotong buah. Bagaimana?” Tawar Dylan.


“Terserah. Terima kasih ya?”


Dylan menganggukkan kepalanya. Membuka kulkas dan mengeluarkan buah-buahan dari kulkas.


Mengupas dan memotong apel yang diberi perasaan jeruk lemon sehingga tidak berubah menghitam. Mengupas pear dan memotong-motongnya. Anggur dibelah-belah. Melon dan semangka dipotong-potong. Buah naga dan mangga dipotong-potong dadu. Kemudian membuat adonan saus salad di mangkuk kaca terpisah. Memasukkan thousand island, youghurt, susu kental manis dan mayonaise Mayumi. Dikocok hingga merata. Menambahkan sedikit heavy cream ke dalam adonan saus. Kemudian menuangkannya di atas buah-buahan yang sudah dipotong-potong.


“Ayo! Kita makan dulu.”Ujar Dylan


Sebagian mereka duduk di meja makan. Sebagian di ruang keluarga.


Mereka makan sambil mengobrol. Suasana seketika menjadi riuh.


“Cantik itu relatif, photoshop itu alternatif. –Anonim.”


Sesekali terdengar gelak tawa karena lelucon yang dilemparkan salah satu dari mereka.

__ADS_1


“Kalian para gadis hanya memikirkan penampilan! Fokus kalian hanya menjadi cantik.” Sahut Keanu.


Dylan dan Haliza tersenyum simpul. Mendengar percakapan anak-anak mereka.


“Bukankah itu tuntutan para pria seperti kalian?” Ujar Syarifah tidak mau kalah, “Ya kan Cal?” Sahut Syarifah meminta dukungan dari Callista.


“Menurutmu lebih menarik mana Dania dan Ilona?” Tanya Keanu pada Syarif.


“Ilona tentu.”


“Yeah! Cool.”


“Ilona? Yang suka bermain bola bersama kalian?” Tanya Syarifah.


“Yeah!”


“Menurutku lebih menarik Dania. Manis dan cantik.” Sahut Syarifah diamini Callista.


“Apa kubilang? Kalian wanita hanya memperhatikan penampilan. Dania tidak bisa main bola. Cengeng dan sangat menyebalkan.” Ujar Keanu.


“Yeah!” Timpal Syarif.


“Itu karena kalian berdua masih kecil. Ya kan Cal?”


“Yeah! Pandangan kalian akan berubah sesuai dengan pertambahan umur kalian. Kalian akan seperti kerbau dicucuk hidungnya begitu melihat wanita yang bisa memukau perhatian kalian.”Ujar Callista.


“Nope!” Sahut Keanu yakin.


“Yeah!” Sahut Syarif.


“Bu, apakah menurutmu, ayah menikahi encik Hana karena sudah dewasa?” Tanya Syarifah pada ibunya.


Wajah Haliza mendadak mendung.


“Aku membeli hadiah untuk kalian semua.” Dylan mengalihkan pembicaraan. Haliza menatapnya dengan wajah berterima kasih.


“Mau kah kau membagikannya untuk kami semua?” Tanya Dylan kepada Haliza.


Haliza menganggukkan kepalanya. Dylan mengangsurkan sebuah tas belanja.


“Sudah ada nama-namanya. Kau tinggal membagikan sesuai nama-nama yang ada.”


Haliza mengeluarkan kotak-kotak kecil dan membagikannya sesuai dengan nama-nama yang ada.


Mereka membuka hadiah mereka satu per satu. Anak lelaki mendapatkan pin sedangkan anak perempuan mendapatkan liontin.


Haliza menyerahkan kotak berisi namanya dan Dylan terakhir.


“Kau tidak membuka kotak milikmu?” Tanya Dylan menerima angsuran kotak miliknya.


“Yeah, bu. Bukalah. Kami sangat ingin melihatnya.” Sahut Syarifah dan Syarif berbarengan.


“Nanti saja di rumah.”


“Aku juga ingin melihatnya sekarang kalau tante tidak keberatan.” Ujar Callista.


“Baiklah, akan kubuka sekarang.” Haliza perlahan membuka kotak miliknya. Ada sebuah kotak hitam berwarna beludru. Dia membuka kotak tersebut. Membulatkan matanya.


“Sepertinya kau salah kasih hadiah. Apakah tertukar ketika kau berbelanja?” Sahutnya pada Dylan.


“Benarkah? Coba kau lihat apa ada namanya?”


Haliza meneliti cincin yang sangat indah tersebut. Memang terdapat tulisan yang digrafir dengan sangat indah. Namanya?


“Mengapa tertulis namaku?” Tanyanya heran.

__ADS_1


“Karena cincin itu memang untukmu.” Ujar Dylan tertawa lebar.


“Tapi ini terlalu mahal. Untuk apa kau memberikan cincin semahal ini untukku?”


Anak-anak mendadak menghilang memasuki kamar Callista. Mereka kembali keluar membawa sebuah spanduk besar yang sudah mereka persiapkan sebelumnya.


Callista dibantu dengan Syarifah membentangkan spanduk tersebut.


Haliza membaca tulisan yang ada di dalam spanduk tersebut.


Will you marry us? ....


“Ada apa ini?” Sahutnya masih dengan perasaan terkejut.


“Just say yes or yes...” Sahut Dylan tertawa lebar.


“What?” Sahut Haliza tidak dapat menahan tawanya.


“Bu!” Sahut Syarifah memandang wajah ibunya yang tengah tertawa lepas.


“I am sorry! I didn’t mean to laugh or being rude. But how funny it is. Why you have to propouse if the answer must be yes?”


“Ok! Kau boleh mengatakan tidak. Selama memberikan kompensasi dari semua yang sudah kami semua keluarkan. Sepuluh kali lipat.”


Haliza kembali tergelak.


“Bu! Its suppose to be romantic. Not funny!” Tegur Syarifah.


“Yeah! I am sorry, darling!"


“Just relax, Syarifah. Let her prepeared for herself.” Sahut Dylan sambil tertawa.


“Ok, I will make it short!” Sahut Dylan mengambil kotak beludru di tangan Haliza. Mengeluarkan cincin dari dalam kotaknya. Meraih jemari Haliza dan memasangkannya ke  jari manisnya.


Dylan berlutut. Memandang wajah Haliza dan berkata, “Will you marry all of us?”


Senyum mengembang dari kedua bibirnya. Matanya mengaca. Menganggukkan  kepalanya sambil berkata lirih, “Yes!”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...


 


... ...

__ADS_1


__ADS_2