Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Kematian


__ADS_3

Pengacara yang disewa Sean menepati perkataannya. Dia melakukan segala cara agar dapat membebaskan kliennya dari semua tuduhan.


Menyewa orang untuk menghancurkan barang bukti. Menyogok hakim. Membuat argumen bahwa barang bukti yang diajukan Dylan adalah rekayasa dan konspirasi dengan pengadilan dan hakim.


Memutarbalikkan fakta dan memfitnah.


Pengacara Sean mengajukan banding dan merasa sangat yakin akan memenangkan kasus tersebut.


"Kau tidak usah khawatir! Kemenangan sudah di depan mata. Sinta dan pengacaranya tidak mampu berbuat apapun. Nama baiknya tidak akan mampu untuk direhabilitasi. Dia meninggal membawa nama buruk yang sudah hancur. Sinta akan hancur selamanya. Tidak ada bukti tersisa untuk mengajukan rehabilitasi jika ingin melakukan perlawanan yang akan kita lakukan.


Aku sudah menghancurkan semua bukti tanpa sisa. Menyogok hakim. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menikmati kehancuran mereka. Jika harimau mati meninggalkan belang maka manusia mati meninggalkan nama. Sinta meninggal membawa nama buruk yang akan disandangnya seumur hidup.


"Tidak salah aku menyewamu. Kau yang terbaik!"


"Aku hanya melakukan tugasku sebaik mungkin. Kau akan segera keluar dari sini dan menghirup udara bebas. Mendapatkan semua kekayaan juga perusahaanmu kembali."


"Selain succeed fee. Aku juga akan memberikanmu bonus." Janji Sean.


"Tenang saja!"


Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Sean merasa sangat berbahagia karena akan segera meninggalkan penjara.


Tempat yang membuatnya sangat tersiksa. Karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Makanannya juga sangat berbeda dengan yang biasa dia makan sehari-hari.


Sel yang dingin. Kamar mandi yang jauh dari bersih dan nyaman. Dia merindukan toilet dan bath-upnya. Semua kehidupan mewahnya.


Aku akan segera bebas dan keluar dari tempat terkutuk ini!


Sean sedang menikmati makanan yang dikirim pengacaranya.


Dia tidak tahan dengan makanan yang disajikan di penjara.


Sipir juga memberikan makanan yang dikirim oleh kerabatnya. Makanan tersebut keliatan sangat menggiurkan.


Potongan daging steak yang sangat besar dan empuk. Kuahnya yang kental dan berbau harum. Ditambah saus cream jamur yang menggugah selera.


Dengan tidak sabar. Dia memakan steaknya dengan nikmat. Steak tersebut tidak hanya nikmat tetapi memberikan perasaan euforia dan melayang.


Dia memakannya sampai hampir tidak tersisa. Telinganya seperti tidak bisa mendengarkan sekitarnya. Kesadarannya menurun drastis. Penglihatannya mengabur dan perlahan tapi pasti menjadi gelap.


Sebelum matanya menutup selamanya. Dia melihat kepanikan orang-orang di sekitarnya.


Sesosok wajah seram menyapanya. Memaksa ruhnya terlepas dari tubuhnya.


Kegaduhan terjadi. Sipir dipanggil dan kepala sipir diberikan laporan mengenai keadaan yang tiba-tiba gaduh di ruang makan.


Sean dilarikan ke rumah sakit. Diberikan pertolongan pertama tetapi nyawanya tidak daapt diselamatkan. Overdosis diagnosa dokter. 


Bram menghisap rokoknya dalam-dalam. Dia sangat merindukan Helena. 


Masih terbayang dalam ingatannya ketika Helena menelponnya mengajaknya untuk bertemu.


"Aku ingin kita mengakhiri pertemuan kita."

__ADS_1


"Tapi mengapa?"


"Aku mengandung adikmu. Benih ayahmu."


"Kau ingin mengatakan kau ibu sambungku?" Sahut Bram imengejek, "Tapi kau tidak pernah menikahi ayahku! Kau tidak akan pernah menjadi ibuku!"


"Aku mungkin tidak pernah menikah dengan ayahmu. Tetapi aku mengandung benihnya. Adikmu!"


"Dia bukan adikku! Jangan pernah mengatakan hal seperti itu. Dia lahir dari hubungan harammu dengan ayahku. Tidak pantas menjadi adikku. Kau harus menggugurkannya!"


"Kau kejam seperti ayahmu!"


"Like father like son." Sahutnya sambil tertawa mengejek.


"Aku memiliki bukti test dna. Aku akan menuntut anakku memiliki hak yang sama denganmu."


"Kau ingin menyakiti ibuku dan merampok kekayaannya? Kau wanita sundal!"


"Jaga ucapanmu!"


"Kau tidak menjaga prilakumu sedangkan aku harus menjaga ucapanku? Come on!"


"Aku tidak ingin anakku menderita. Dia berhak hidup layak sepertimu."


"Tapi dia bukan anak sah ayahku. Anak haram! Kau ingin mencuri harta keluargaku!"


"Aku hanya ingin meminta bagian anakku agar dia bisa hidup dengan baik dan layak."


Bram sangat marah. Dia meninggalkan Helena. Sampai kemudian terlintas ide di dalam kepalanya.


"Aku sepakat kita bertemu untuk terakhir kalinya!"


"Sukurlah! Terima kasih atas kerja samamu."


"Aku juga sepakat bahwa kau akan meminta bagian anakmu."


"Kau baik sekali!"


"Aku minta kau menulis surat untuk disampaikan kepada ibuku."


"Baiklah!"


"Aku akan mendiktekannya untukmu. Kau tulis dengan tanganmu sehingga ibuku akan lebih yakin."


"Kau yakin ibumu tidak apa-apa?"


"Aku akan berbicara kepadanya. Dia sangat menyayangiku. Itu urusanku. Kau tidak usah banyak berpikir."


"Baiklah! Apa yang harus kutulis?"


Aku tidak dapat membesarkan anak ini. Aku ingin menghentikan semuanya. Meminta bantuan agar anakku diperlakukan sebagaimana mestinya. Karena dia memiliki darah Brian.


Aku tidak mampu mengurusnya apalagi membesarkannya.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Kupikir isi suratnya bagus. Bisa digunakan sebagai permulaan untuk menjalin komunikasi dengan ibumu selanjutnya."


"Yeah, kupikir juga begitu."


"Aku tidak menyangka kau berpikiran terbuka."


"Aku punya satu permintaan."


"Apa itu?"


"Kau mengenal orang yang ada di foto ini?"


"Apa maksudmu? Tentu saja itu keponakan perempuanku yang lucu."


"Bagaimana kalau dia mengalami pelecehan seksual dan tewas?"


"Apa maksudmu?"


Bram tertawa sumbang.


"Kau yang memaksaku melakukan ini semua. Kalau kau ingin dia selamat. Naik ke atas kursi dan gantung dirimu sendiri."


"Kau?"


"Atau aku akan membunuhmu?" Bram mengeluarkan pisaunya yang sangat tajam.


Helena menurutinya. Ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Bunuh diri dengan selembar kertas berisi tulisan tangannya.


Bram tidak akan membiarkan Helena menyakiti atau mengganggu ibunya. Dia juga tidak akan membiarkan wanita itu memeras keluarganya. 


Bagaimana pun, dia adalah anak lelaki di dalam keluarga yang harus melindungi keluarganya.


Bram menatap foto di dalam genggaman tangannya. Seorang gadis kecil berumur sekitar lima tahun.


Wajahnya terlihat sangat cantik seperti tantenya, Helena. 


Aku akan menunggumu besar dan membalaskan dendamku padamu atas perbuatan tantemu pada keluargaku….


Wajahnya menyiratkan sorot kebencian yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.


Pada akhirnya, life is like boomerang. What you give is what you get….


Karma berlaku. Bram memutuskan bahwa anak perempuan yang tersenyum serta tertawa bahagia di dalam fotonya akan membayar semua perbuatan tantenya pada keluarganya.


Kadang hidup adalah pilihan. Tetapi kadang hidup juga tidak bisa memilih. Tetapi apapun itu. Apapun yang telah diputuskan akan memiliki sejumlah konsekuensi.


Wajah hidup kadang seperti topeng. Kadang seperti air yang jernih. Tetapi juga bisa seperti limbah. Atau seperti pelangi. Mungkin juga seperti gelap malam. Walaupun tidak semua gelap menakutkan. Bulan purnama menyinari. Membuat malam menjadi indah.


Di usianya yang menginjak dua puluh tahun. Dia telah mengetahui banyak noda kehidupan. Bram memilih hitam untuk menjalani hidupnya. Merah untuk membalaskan dendamnya.


Dia tidak akan membunuh gadis kecil itu. Hukuman yang terlalu ringan

__ADS_1


Menghancurkan hidup serta jiwanya. Menghilangkan tawanya dan mengubahnya menjadi duka nestapa. Dan  akan ada waktu dan saatnya dia membalaskan semua luka yang tidak berdarah tetapi sangat melekat di dalam jiwanya.


Gigi dibayar dengan gigi. Darah dengan darah. Semua ada waktunya untuk membayar semua luka tanpa sisa….


__ADS_2