
Mantan suaminya orang terpandang dan terkenal. Mereka memulai pernikahannya dari bawah.
Dari bukan siapa-siapa. Tidak memiliki apa-apa. Sampai memiliki segalanya.
Yang membuat nyonya Haliza sakit hati. Ketika mereka berada di puncak kejayaannya. Suaminya jatuh cinta lagi.
Pada seorang wanita muda. Cantik jelita juga seksi. Dia sendiri rajin merawat diri. Walaupun usianya memasuki usia matang tapi bukan berarti tidak ada yang tertarik padanya
Tapi dia memilih setia. Apalagi di dalam pikiran dan hatinya hanya ada suaminya.
Maghligai pernikahan mereka hancur berantakan karena sang suami tidak ingin melepas istri mudanya. Dia sendiri enggan dimadu.
Yang menyakitkan dari pengkhianatan suaminya adalah mereka saling jatuh cinta satu sama lain.
Dia sempat berharap wanita muda itu hanya mengincar uang suaminya saja. Dia rela membagi harta yang mereka miliki selama perempuan itu tidak mengganggu rumah tangganya.
Tetapi bukan uang yang diincarnya. Melainkan cinta dan kasih sayang suaminya. Ayahnya diambil orang lain. Membuat hidupnya, ibu serta saudara-saudaranya sengsara.
Luka yang dirasakannya membuatnya membalaskan dendamnya dengan merebut suami orang dan menghancurkan rumah tangga orang lain.
Petualangannya terhenti pada suaminya. Sifat kebapakan, lembut dan kasih sayang yang dirasakannya dengan suaminya. Membuatnya menggenggam suaminya demikian erat. Enggan melepaskan.
Gadis muda itu rela dimadu tetapi tentu saja dia menolak. Dia sangat terluka. Meminta cerai dan semua diurus dengan sebaik-baiknya dan tuntas.
"Mengapa kau mengincar suamiku? Kau masih sangat muda. Banyak pria tampan, muda, single dan juga kaya yang mencintai juga memujamu. Mengapa harus suamiku?"
Gadis muda itu terdiam. Wajahnya menyiratkan keteguhan hatinya. Suaminya yang berada di sebelahnya. Tidak berkata apa pun. Duduk diam melihat mereka berdua saling berhadapan.
"Kau menginginkan sejumlah uang kan? Gadis muda seusiamu menyukai pria kaya beristri karena uangnya bukan?"
__ADS_1
Gadis itu membuka suaranya, "Aku membalas dendam sakit hati ibuku karena ayahku direbut wanita lain. Tetapi dengan suamimu berbeda. Aku tidak berniat menghancurkan apalagi menjadikan pernikahan kalian sebagai sasaran balas dendamku. Aku jatuh cinta pada suamimu. Kelembutan, sifat kebapakannya dan kesabarannya. Aku tidak keberatan dimadu. Aku sadar, aku duri dalam daging dalam pernikahan kalian."
"Aku tidak mau dimadu! Aku dan suamiku merangkak dari bawah. Jika kau bertemu dengan suamiku dulu. Kau tidak akan mau!"
"Aku tahu cintaku pada suamimu sejati. Bukan karena hartanya. Aku menyukai karakter dan kepribadian suamimu. Aku menemukan sosok ayah, suami, saudara dan juga kekasih. Maafkan aku!"
"Apa gunanya minta maaf? Aku tidak butuh permintaan maafmu! Aku menginginkan suamiku kembali. Tinggalkan suamiku dan biarkan dia kembali kepada kami."
"Aku tidak bisa!"
Haliza emosi dan bermaksud menampar gadis muda di hadapannya. Tetapi suaminya menahan tangannya, "Jangan mengasarinya! Dia sudah berterus terang kepadamu. Tidak keberatan dimadu. Apakah hal itu tidak cukup bagimu?"
"Kau jangan keterlaluan! Aku tidak mau menerima ketidakadilan ini! Kita bersama dari tidak memiliki apa-apa. Hingga memiliki segalanya sampai istri muda? Inikah balasanmu untukku?" Tangis Haliza meledak.
"Maafkan aku sudah menyakiti perasaanmu. Tetapi kami saling jatuh cinta. Aku tidak bisa melepaskan kalian berdua."
"Berkompromilah! Dia mau mengalah denganmu. Mengapa kau tidak berlaku sama? Aku berjanji akan berbuat adil pada kalian berdua."
"Tidak! Aku minta cerai!"
Mereka sepakat hak asuh jatuh ke tangannya. Harta juga dibagi secara adil. Mereka sepakat tetap saling membantu dalam membesarkan anak-anak mereka. Cukup luka dan trauma menghantam mahligai pernikahan mereka berdua. Tetapi tidak anak-anak mereka yang tidak bersalah bahkan menjadi korban dari ego mereka berdua.
Secara materi, dia tidak kekurangan. Suaminya meninggalkan harta yang banyak dan juga usaha yang mereka rintis dibagi dua.
Tetapi sebagai seorang wanita. Tidak bisa menepis rasa sepi yang kerap mendera dirinya. Apalagi sebagai janda, banyak pria yang menggoda. Kecuali Dylan, ayah dari Callista, sahabat putrinya.
Dylan pria yang sangat berbeda dari pria kebanyakan. Hatinya semakin tertarik mengetahui bahwa dia setia menunggu istrinya kembali. Kabarnya istrinya menikah lagi tetapi Dylan tetap setia menanti istrinya kembali.
Dylan sendiri sangat acuh. Sibuk mengurusi ketiga anaknya dan usaha kedai makanannya.
__ADS_1
Tidak hanya dirinya yang jatuh cinta pada Dylan tetapi juga mereka yang berstatus gadis atau janda kerap menyukai Dylan.
Sikap acuh dan dingin Dylan membuat banyak wanita yang merasa penasaran dan berusaha menarik perhatiannya.
Cerita tentang kepergian istrinya yang tiba-tiba dan menikah lagi berhembus kencang.
Tetapi itu hanyalah omongan yang bersifat dugaan. Kabar burung. Karena jika dikonfirmasi kepada Dylan dan anak-anaknya. Mereka mengatakan bahwa istri dan ibu mereka membantu merawat ibu kandungnya. Cerita tersebut terlalu sulit untuk dipercaya. Sehingga berhembus kabar bahwa istri Dylan yang juga ibu dari ketiganya. Pergi melarikan diri dan menikah lagi dengan pria lain.
Haliza sendiri sangat kasihan melihat Callista. Jika Callista menginap dan bermain bersama Syarifah. Haliza kerap mengajak mereka jalan, makan dan mengobrol bersama. Menemaninya berbelanja.
Dari Callista, dia mendengar cerita tentang sosok ibunya dan bagaimana cinta dan kesetiaan ayahnya pada ibunya.
"Aku merasa iri mendengar ceritamu. Seandainya, ayah Syarifah seperti ayahmu. Keluarga kami masih utuh. Aku bersyukur ayahnya tidak mengambil Syarifah dan adiknya dariku. Aku bisa gila. Syarifah dan adiknya adalah milikku yang paling berharga."
"Sudahlah, bu! Jangan terus membicarakan keburukan ayah. Bagaimana pun, dia ayahku. Melihat kalian berdua bercerai membuatku terluka."
"Maafkan, ibu sayang! Ibu menyukai ayahnya Callista. Apakah kau keberatan jika ibumu jatuh cinta lagi? Biar adil, ibu juga boleh jatuh cinta lagi, dong! Dengan ayah Callista. Kalian kan bersahabat erat. Kalian bisa menjadi saudara sambung. Hubungan kalian berdua akan semakin dekat. Bagaimana?"
"Aku terserah ibu. Ayah Callista sangat baik dan perhatian. Aku juga menyukai Callista dan adik-adiknya."
"Bagaimana dengan kau, Cal?" Tanya nyonya Haliza.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin menjadi ibu sambungku dan Syarifah juga adiknya menjadi saudara sambungku. Tetapi ayahku sepertinya tidak bisa melupakan ibuku. Dan tidak berpikir untuk menikah lagi."
"Aku tidak memintanya melupakan ibumu. Jika ibumu kembali. Aku tidak keberatan ibumu tetap menjadi istri ayahmu. Dia tetap istri pertama ayahmu sedangkan aku yang kedua."
"Bu! Kau tidak mau ayah memadumu dengan istri barunya tetapi kau mau dimadu dengan ibunya Callista?"
"Anak bodoh! Ayahmu berlaku tidak setia pada ibu dan jatuh cinta lagi. Ibu tidak bisa menerima pengkhianatan ayahmu. Tapi kalau ayah Callista berbeda. Sangat setia pada ibunya Callista. Menunggunya bahkan tidak berpikir untuk menikah kembali. Kau akan beranjak dewasa. Kau akan memahami bagi wanita kesetiaan pria lebih dari rasa cinta itu sendiri."
__ADS_1