Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Scheme


__ADS_3

Sinta menyusun rencana. Hapsari dikembalikan kepada Bram. Diawasi dari jauh. Disadap juga disusupi kamera tersembunyi.


“Kau akan dikembalikan kepada Bram. Kami akan melakukan penyadapan serta memasang kamera tersembunyi.”


“Lakukan apa yang harus kau lakukan.” Ujar Hapsari memberikan persetujuannya.


“Aku juga sudah memiliki rencana. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Bram dengan Helena.”


“Kau sudah menemukan caranya?”


Sinta menganggukkan kepalanya, “kita akan mempersiapkan semuanya dengan baik.”


“Baiklah.” Ujar Hapsari,”apa rencanamu?”


Sinta membeberkan rencananya pada Hapsari.


“Kau harus mempersiapkannya dengan sangat baik.”


“Baiklah. Tidak terpikir hal-hal yang kau ungkapkan padaku. Harus kuakui, rencanamu sangat baik dan sempurna.”


“Kita lihat saja nanti. Sepertinya, kita akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Helena.”


Hapsari menganggukkan kepalanya,” yeah, kupikir, aku juga akan segera mengetahui apa yang sebenarnya menimpa tanteku.”


“Kau tenang saja. Kita jalankan semuanya dengan bertahap. Jangan terburu-buru. Aku sudah menyusun apa saja yang akan kita lakukan sehingga tidak ada yang terluput.”


Bram bergegas menghampiri Hapsari yang menelponnya.


“Kau kemana saja? Aku mencarimu kemana pun. Nihil.” Ujar Bram dengan nada cemas.


“Mereka membawaku pergi. Menyita gadgetku. Aku tidak bisa menghubungiku. Mereka mengembalikan gadgetku sebelum melepasku.”


“Siapa mereka?”


“Aku tidak tahu. Mungkin salah tangkap. Sehingga melepaskanku kembali.”


“Kau membuatku ketakutan. Aku mencarimu tetapi nihil.”


“Mereka mengatakan kau ingin menemuiku. Itu sebabnya aku mengikuti mereka.”


“Mungkin itu adalah orang yang meminta pihak hotel untuk memusnahkan cctv. Lain kali, jangan mudah percaya sama orang yang tidak kau kenal. Kau mengerti?”


Hapsari menganggukkan kepalanya.


Bram membawa Hapsari berlalu. Berniat meneruskan rencananya. Menyekap Hapsari kembali ke hotel.


“Kau jangan kemana-mana. Jangan mempercayai siapa pun. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”


“Baiklah.” Hapsari menganggukkan kepalanya.


Begitu Bram keluar meninggalkan hotel. Kamar yang mereka tempati disadap serta dipasang kamera tersembunyi.


Di tubuh, tas dan gadget Hapsari juga dipasang alat penyadap. Untuk berjaga-jaga jika Bram membawanya keluar dari hotel.


Mereka sudah merencanakannya dengan sangat baik.

__ADS_1


Seperti yang diduga Hapsari. Bram berusaha melarikannya keluar negeri.


Bram tidak menyadari bahwa gerak geriknya diawasi. Dia juga tidak mengetahui bahwa dia sedang berada di dalam perangkap.


Bram sudah memiliki rencana tersendiri terhadap Hapsari. Dia berniat membalaskan dendam untuk ayahnya.


Wajah Hapsari yang sangat mirip dengan tantenya membuatnya memiliki kesempatan untuk membalaskan semua dendamnya.


Bahkan seringkali dia tidak menyadari bahwa Helena sudah tiada. Karena Hapsari begitu menyerupainya.


Rencana berikutnya dijalankan. Pada suatu malam. Bram kembali kehilangan Hapsari. Terdapat sebuah surat memintanya datang ke suatu tempat jika ingin mendapatkan Hapsari kembali.


Tanpa pikir panjang. Bram segera pergi menuju tempat yang dimaksud. Dalam perjalanannya menyewa mobil sewaan. Bram melewati sebuah hutan.


Betapa terkejutnya karena melihat Helena menghadangnya. Bram membanting stir mobilnya.


“Helena!” Sahutnya terkejut melihat wanita yang sangat mirip dengan Helena dengan sosok yang mengerikan.


“Kau hantu Helena!” Serunya sambil menjerit ketakutan.


Jarak mereka cukup jauh. Helena juga terlihat melayang. Sambil berkata, “kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!”


Dengan panik Bram berkata lantang,”kau yang memenjarakan ayahku. Membuat ayahku mendekam di penjara. Kau juga mengandung anak haram ayahku!”


“Kau sengaja membuatku seperti terlihat bunuh diri!”


“Aku tidak memiliki pilihan lain. Enyahlah!” Bram menghirup sesuatu. Kepalanya pening dan jatuh pingsan.


Bram pingsan beberapa lama. Setelah siuman segera melanjutkan perjalanannya. Dia harus segera menemukan Hapsari.


Bram segera membebaskannya. Membawanya pergi dari gubuk tersebut.


Bram membawa Helena ke suatu tempat. Mereka menikah tanpa dihadiri seorang keluarga pun.


Setelah menikah, Bram membawanya pergi menuju suatu tempat yang terpencil.


“Mengapa kau membawaku kemari?” Tanya Hapsari dengan perasaan takut.


Bram tiba-tiba meminta Hapsari untuk mengganti pakaiannya. Membuang tas dan gadgetnya. Membawanya kembali ke dalam mobil dan mengganti mobil yang disewanya.


“Kau mau apa?” Ujar Hapsari ketakutan.


“Aku merasa ada yang tidak beres.”


“Apa maksudmu?”


“Entahlah! Tidak usah banyak omong!”


Tindakan Bram yang diluar dugaan membuat mereka yang mengawasi Hapsari dari jauh kehilangan jejak.


Bram melarikan mobilnya secepat mungkin. Menuju tempat yang sepi. Menyerupai hutan dengan jurang di sana sini.


“Kau ingin membawaku kemana?”


“Aku merasa hantu Helena sudah mengetahui keberadaan mu.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Entahlah! Apakah dia juga memberitahukan kepada seseorang yang mempercayai hantu tantemu?”


“Kau bicara apa?”


“Kurasa, orang yang membawamu pergi! Dia mengetahui sesuatu dari tantemu. Aku tidak ingin dia mendahuluiku.”


“Kau bicara apa?”


“Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk membalaskan dendam ayahku. Aku tidak ingin menundanya lagi. Aku merasa ada yang mengetahui mengenai niatku secara ghaib. Melalui tantemu!”


“Kau bicara apa?” Ujar Hapsari ketakutan.


Bram menarik tangan Hapsari. Membawanya masuk ke dalam hutan yang memiliki jurang di sana sini.


“Kau mau apa?” Ujar Hapsari dengan nada takut. Suaranya bergetar.


Hapsari memberanikan diri untuk mendorong Bram dan berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Bram.


Mereka berada hanya beberapa meter dari jurang. Bram tersungkur jatuh. Tidak menyangka Hapsari akan mendorongnya.


Hapsari berlari ketakutan. Bram mengejarnya. Tidak butuh waktu lama bagi Bram untuk dapat mengejar Hapsari yang nyaris kehabisan nafas.


Hapsari menjatuhkan diri sambil berusaha mencari bebatuan. Meraihnya dan berusaha melemparkannya ke arah Bram.


Peluh mengalir di sekujur tubuhnya. Batu yang dilempar Hapsari mengenai tubuh Bram. Tetapi tidak membuatnya terjatuh.


Bram terus mengejar Hapsari membuat Hapsari kehabisan akal. Bram berhasil menangkapnya dan mereka bergulat. Bram mencekiknya. Saat terakhir dia tidak dapat berpikir selain merobohkan dirinya. Oksigen seperti terhisap habis.


Bram yang ingin memastikan kematian Hapsari menyeretnya menuju jurang.


Sedikit demi sedikit kesadaran Hapsari kembali. Saat Bram berusaha menyeretnya menuju jurang. Menyeret kakinya. Tangannya meraba sepanjang jalan berusaha meraih sesuatu.


Nasib baik masih berpihak padanya. Dia berhasil meraih sebuah batu. Otaknya berpikir keras. Dia harus berhasil melemparkan batu tersebut ke kepala Bram. Membuatnya terjatuh dan pingsan sehingga bisa memudahkannya untuk melarikan diri.


Jurang semakin dekat. Hapsari tidak bisa berpikir terlalu lama. Mulai membidikkan ke arah kepala Bram.


Batu melayang begitu saja. Membuat Bram terjatuh. Hapsari bermaksud lari tetapi Bram berhasil menangkap kakinya. Mereka kembali bergulat.


Darah mengucur dari kepala Bram akibat lemparan batu yang dilayangkan Hapsari.


Hapsari mencakar wajah Bram. Mengigitnya sehingga pegangan tangannya terlepas. Mendorongnya membuat membuat Bram terlempar ke jurang tetapi tubuhnya tertahan di sebuah dahan pohon.


Tubuh Bram menggantung. Hapsari berusaha melarikan diri. Mencari jalan yang dilalui mobil. Mencari tumpangan. Meminta tolong agar bisa menghubungi kantor polisi.


Bram diselamatkan. Tubuhnya yang tergantung di dahan pohon di bawa naik ke atas. Tuntutan pidana menunggunya.


Dia terbukti melakukan pembunuhan berencana. Dan juga melakukan pembunuhan terhadap Helena lebih dari lima belas tahun yang lalu.


Sinta memeluk Hapsari. Meminta maaf karena nyaris membahayakan jiwanya.


“Tidak seharusnya kita menjebaknya. Kau hampir saja mati di tangannya!”


“Jika kita tidak menjebaknya. Kita tidak tahu apa yang diinginkannya. Dia pikir Tante Helena menghantuinya!”

__ADS_1


“Kau dan tantemu sangat mirip. Itu sebabnya aku memintamu menyamar menjadi tantemu...”


__ADS_2