Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The Changed


__ADS_3

Jika Dean bisa bernafas lega karena tidak ada kasus hukum yang menimpa dirinya.


Tidak demikian dengan Sinta. Dia harus menjalani proses hukumnya yang panjang. Lawan politik sekaligus bisnisnya bukanlah lawan yang ringan.


Sangat licik dan kejam. Berulang kali pengacaranya menguatkan dirinya.


"Kau tidak bisa mengasihani ular. Mereka akan mematukmu walaupun kau tidak bersalah. Mereka takut padamu dan kau yang harus membayar rasa takut mereka."


Sinta tak dapat menahan tangisannya. Lawannya mulai proaktif. Satu anak buah lawannya sudah terbunuh dan itu sudah merupakan tanda bagi mereka untuk menyerangnya lebih agresif.


"Aku tidak asal bunuh. Mereka menghancurkan dan menghilangkan barang bukti. Mereka juga membunuh saksi. Mereka tidak peduli dengan kompetensimu. Yang mereka pikirkan diri dan ambisi mereka sendiri. Berapa banyak orang bergantung dengan keputusanmu yang bisa mengatasi persoalan mereka dengan bijak dan proposional? Kau tau penggantimu? Baru sebentar saja menjabat. Lihat apa yang dia lakukan? Membuat kekacauan. Bukan tanpa alasan mengapa kau harus keluar dari sini dan melanjutkan pekerjaanmu."


"Apa kau tidak tahu? Mereka mengungkit masa laluku. Madam Juwita, berbicara di televisi. Menceritakan bagaimana aku di saat itu. Suamiku, berkata jujur bahwa dia pelanggan maniakku."


Salah satu yang sangat memberatkannya adalah transmigrasi yang terjadi padanya.


"Memang begitu cara mereka bekerja. Kau tidak terbukti melakukannya lagi. Lalu apa masalahmu? Kecuali kau masih melacur. Maka kau tidak bisa menghindar dari hukum kesusilaan dan agama."


"Aku merasa malu. Sebagian dari teman-teman narapidanaku menghina dan merendahkanku."


"Kau tidak usah takut kehilangan teman-teman seperti itu. Bersyukur kau tahu topeng mereka. Kecuali, masih relevan masa lalumu beda. Kalau  tidak ada perubahan padamu, maka wajar kalau diungkit untuk mengingatkanmu. Tapi kalau kau sudah berubah? Apa urusannya? Kita tidak bisa tau dosa atau kesalahan orang lain di masa lalu atau mungkin di masa sekarang atau depan. Setiap orang kalau dia manusia pasti punya kesalahan dan dosa. Tinggal apa tujuannya membuka dosa dan kesalahan itu? Apakah sebagai intropeksi, evaluasi atau menjatuhkan orang lain tanpa sebab yang hak seperti benci atau hal lain yang tidak ada dasarnya sama sekali."


"Menurutmu mengapa mereka ingin menjatuhkanku?"


"Ego, ambisi, benci juga iri. Mereka memiliki alasan untuk menghancurkanmu dari perspektive juga persepsi mereka. Mungkin merasa pertimbangan mereka lebih benar. Merasa lebih baik darimu. Merendahkanmu. Meremehkanmu. Itu faktanya. Tidak usah kau pikirkan teman yang berbalik membencimu karena mengetahui masa lalumu. Mereka bukan temanmu. Fokus pada mereka yang benar-benar menyayangi dan mendukungmu serta memang memahami kau seutuhnya."


Keesokan harinya ditemukan narapidana bunuh diri di dalam selnya.


Seisi lapas gempar. Kematian kedua di dalam lapas. Penghuni lapas ramai membicarakan peristiwa tersebut.


Sinta shock. Dean mengunjungi lapas lebih sering untuk menenangkan Sinta.


"Mereka tewas karena aku."


"Kau jangan bodoh! Mereka tewas karena ingin membunuhmu." Dean memeluk Sinta dan berusaha menenangkan Sinta yang menangis.


"Mengapa mereka ingin membunuhku? Apa salahku?"


"Kau ancaman buat mereka. Mereka takut padamu. Mereka berusaha menghancurkanmu. Jangan mengasihani mereka. Mereka tidak memiliki belas kasihan kepadamu sama sekali."


"Pengacaraku bilang ada lima orang dan sudah dua terbunuh. Apakah sisanya juga akan mengalami nasib yang sama?"


"Kalau mereka tidak menghentikan niat mereka membunuhmu maka mereka akan bernasib sama."


"Sejak awal, aku tidak ingin menjabat dan terjun ke politik. Aku tidak ingin terjadi hal-hal seperti ini."


"Ssttt…." Dean mengusap rambut Sinta. Berusaha menenangkannya, "Semua sudah ada takdir-takdirnya. Jalani semua sebaik mungkin. Kau harus mampu berkonsentrasi penuh pada kasusmu."


"Aku takut!"

__ADS_1


"Tidak usah takut. Aku dan pengacaramu akan menjagamu sebaik mungkin."


"Bagaimana kalau ada pembunuhan lagi?"


"Berhentilah mengasihani orang yang tidak memiliki hati. Mereka itu jahat. Sangat jahat. Jangan terlalu naive dan berbelas kasihan pada mereka. Jangan banyak berpikir."


"Aku hanya tidak mau ada korban."


"Semua juga tidak mau demikian tetapi mereka benar-benar jahat, kejam dan licik. Dengan hati dan sifat yang kau miliki. Kau tidak mungkin bisa mengatasi mereka. Fokus saja pada kasusmu. Jangan berpikir selain itu. Tetap fokus saja bekerja."


Sinta menganggukkan kepalanya. Dia menyadari ucapan suaminya benar.


Dia merasa begitu lemah dan tak berdaya. Dadanya berdesir melihat sikap Dean yang berusaha melindunginya sekuat tenaga.


Pada akhirnya, sekuat apapun wanita tetap membutuhkan perlindungan lelaki. Perasaan dan hati mereka yang lemah membuat mereka tidak mampu menghadapi sesuatu yang memang harus dihadapi dengan nalar, bukan hanya mengedepankan perasaan dan menghancurkan semua yang ada."


Dean mengusap lembut tangan Sinta. Sekujur tubuh Sinta seperti dialiri aliran listrik yang terasa hangat dan menentramkan.


Hati dan jiwanya tersentuh melihat ketulusan Dean. Ada yang berubah pada Dean. Perubahan yang menggetarkan Sinta.


Sepertinya mereka mulai berada di frekuensi yang sama. Kalau sebelumnya, Sinta tidak merasakan love language Dean. Seringkali merasa risih, karena merasa dijadikan sebagai objek seksual.


Saat ini, Sinta merasa Dean menyentuh hati dan jiwanya. Perlindungan serta sikap lembutnya membuatnya tersentuh.


Mengalirlah semua curhatan hati dan perasaan Sinta. Dean mendengarkan dengan sepenuh hati. Apa yang berasal dari hati akan sampai ke hati.


"Anjing mengonggong, khafilah berlalu."


"Sebagian teman-teman narapidanaku berbalik sikap seratus delapan puluh derajat."


"Jangan terlalu naive berteman. Sebaiknya, kau menjaga jarak tetapi tetap bersikap baik dan ramah. Tidak usah dibalas perlakuan mereka. Kalau kau membalasnya, maka kau sama saja seperti mereka."


"Aku sedih."


"Aku tau. Tapi kau juga harus melindungi dirimu sendiri. Pilihlah sahabat tetapi berteman dengan siapa saja."


"Aku tidak menyangka kau bijaksana dan dewasa."


"Lelaki itu kan pemimpin wanita."


"Hmm, iya juga ya…."


"Bagaimana perasaanmu?"


"Lebih baik. Tapi aku masih takut ada lagi yang terbunuh. Aku akan menuruti nasihatmu. Mengabaikan mereka yang tidak bersikap baik. Berusaha tidak terpengaruh atau terpancing."


"Mereka bersikap buruk. Itu karena sifat dan karakter yang ada di mereka sehingga tidak ada hubungannya denganmu. Kau tetap baik dan tidak terpengaruh dengan sikap dan prilaku mereka. Karena memang sifat dan karaktermu yang baik dan tidak sama dengan mereka."


"Aku harus bersabar dan tetap bersikap baik. Menjauh lebih baik daripada memaksakan diri jika aku kehilangan kesabaranku."

__ADS_1


Dean menggenggam tangan Sinta dan mengelusnya lembut.


Mengecup tangan Sinta dengan segenap perasaannya.


Jantung Sinta berdetak lebih cepat. 


Ada perbedaan tumbuhnya cinta antara wanita dan pria. Cinta wanita disentuh dengan sikap lembut, romantis dan setia seorang pria sedangkan cinta pria tumbuh karena rasa tertarik yang sangat kuat.


Ibarat piano. Jika pria menyukai piano karena keindahannya maka wanita menyukai piano karena nada merdu yang dihasilkannya.


Jika pria makhluk visual maka wanita makhluk perasaan. Jika pria mencintai dengan indera yang mereka punya maka wanita mencintai dengan hati yang mereka miliki.


Love is love….


Whatever, you feel it because…


 Of your sense….


Or your heart inside….


Or romance….


Or passionate….


Both of men and women….


Maybe they had difference


In many ways….


But they can be united with….


Common sense….


Love….


Faith….


Spouse….


Commitment….


Engagement….


Marriage….


Promise….


Forever more….

__ADS_1


__ADS_2