
Lima tahun sudah berlalu sejak Sinta meninggalkan Dylan dan ketiga buah hatinya.
Tidak sedetik pun dia melupakan ketiga buah hatinya. Selalu berharap bisa berkumpul kembali bersama dengan mereka seperti dulu.
Melalui detektif swasta yang disewanya. Dia melihat ketiga buah hatinya beranjak remaja dan dewasa. Melalui foto-foto dan video yang diberikan kepadanya.
Keanu sudah berusia delapan tahun. Sapphire menjelang dua belas tahun sedangkan si sulung Callista, menjelang enam belas tahun.
Hatinya merindukan ketiganya. Memohon pada Dean untuk mengijinkan ketiganya tinggal bersama mereka tetapi keinginannya ditolak mentah-mentah.
Jawaban Dean membuatnya sangat marah dan kesal.
"Kau tahu kedua anak gadismu. Sangat cantik. Aku tidak jamin bisa menjaga kehormatan mereka jika mereka tinggal bersama kita."
"Jangan berani kau merusak kedua anakku!"
"Kau sudah tahu keduanya menuruni parasmu dan Dylan. Aku hanya lelaki normal biasa." Sahut Dean terkekeh.
"Kau bajingan!"
"Mana ada kucing menolak ikan asin?"
Sinta menerjang Dean. Dean menangkap kedua tangannya.
"Aku ayah sambung yang baik. Mengatakan sejujurnya sebelum semuanya terlanjur."
"Kau memang sangat keterlaluan!"
"Kau ingin aku berlaku munafik dan sengaja memancing agar bisa menjamah anak-anak sambungku yang cantik jelita?"
"Kau benar-benar bajingan! Bagaimana dengan Keanu?"
"Kau ingin anak bungsumu menjadi sasaran kebencian dan kemarahanku? Membayar semua perbuatan ayahnya."
Sinta refleks ingin memukul Dean. Tangannya ditangkap dan diremas dengan sangat kuat.
"Aaww!!!"
"Kau tahu mengapa Dylan tidak mau menitipkan anak-anaknya pada kita? Aku sudah mengatakan terus terang padanya. Apa yang terjadi pada anak-anaknya jika dia memaksa menitipkan anak-anaknya pada kita."
"Kau sungguh kejam!"
"Siapa yang kejam? Lihat perbuatanmu pada Emier. Jika aku membalaskan perbuatan kalian berdua pada anak-anak kalian yang bukan anak kandungku. Hal itu masih masuk akal. Tapi Emier? Kau tidak bisa merasakan kekejamanmu sendiri!"
"Kau menyakiti hati dan perasaanku!"
Dean mendorong tubuh Sinta hingga menempel ke dinding. Menahan kedua tangannya di dinding. Air mata Sinta jatuh menuruni kedua pipinya. Membuang mukanya.
"Kau sangat suka playing victim! Kau dan Dylan yang tidak bisa dipercaya. Kalian berdua yang sudah menyakiti hatiku! Maling teriak maling! Jangan membuatku kehilangan kesabaran!"
"Aku sudah menjelaskan berulang kali. Aku dan Dylan tidak bermaksud mengkhianatimu!"
"Aku juga sudah berulang kali bilang. Aku tidak dapat memaafkan kalian berdua!"
Tangis Sinta semakin keras.
"Bisanya hanya menangis!" Ejek Dean.
"Kalau kau kuaniaya. Aku akan kena kasus hukum lagi. Penganiayaan. Perbuatan tidak menyenangkan."
"Memang kau bisa menganiayaku?" Ejek Dean lagi.
__ADS_1
Sinta meraih sapu dan mengacungkan gagangnya ke arah Dean.
"Ok! Turunkan! Kau benar. Pasal penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan."
Sinta kembali menangis dengan keras.
"Kau juga bisa kena UU gangguan kebisingan suara. Polusi suara." Sambung Dean.
Tangis Sinta semakin kencang.
"Pijit aku! Itu kan perbuatan yang menyenangkan. Bagaimana?" Ujar Dean.
Sebuah bantal kursi sofa melayang mengenai kepala Dean.
"Salahnya dimana?" Sahut Dean.
"Sudah bagus tidak kulempar batu atau sepatu. Menyenangkan bagimu tapi bagiku pegel-pegel. Ogah!"
"Benjol kepalaku kalau kau melempar benda keras ke kepalaku. Nanti wajahku jadi kurang ganteng!"
"Gak lucu! Aku bukan panti pijat!"
"Sudahlah! Jangan menangis terus. Polusi suara!"
Sinta berjalan menuju kamarnya dan melanjutkan tangisnya.
"Kau itu kepala daerah! Masak menangis seperti anak umur lima tahun!" Teriak Dean dari luar kamar.
Tangisan Sinta semakin kencang. Terdengar suara aneka barang dilempar ke dinding kamar.
"Emier saja tidak pernah bertingkah sepertimu!"
Emier berjalan mendekati ayahnya, "Bunda kenapa?"
"Kenapa?"
"Baba gak mau beliin es krim." Sahut Dean asal.
Emier mengetuk pintu kamar bundanya.
"Bunda!"Panggilnya.
"Keluar!" Teriak bundanya.
Emier membuka pintu kamar bundanya.
"Anak nakal! Kau tidak dengar perkataanku! Keluar!" Teriak Sinta marah.
"Bunda! Aku akan membelikan bunda ice cream. Bunda mau ice cream apa?"
"Kau bicara apa? Keluar!"
"Bunda jangan menangis!" Ujar Emier memandang bundanya dengan mata beningnya.
"Keluar kataku!"
Emier keluar kamar bundanya. Menutup pintunya. Berjalan menuju garasi.
"Kau mau kemana?" Tanya ayahnya.
"Beli ice cream buat bunda!"
__ADS_1
Dia mengambil sepedanya dan mengayuhnya ke minimarket terdekat.
Memasuki mini market. Berjalan menuju kotak freezer tempat penyimpanan ice cream. Mengambil setiap jenisnya satu buah. Mulai dari ukuran kecil sampai ukuran yang paling besar.
Di tengah terik matahari. Emier mendorong sepedanya yang dipenuhi dua kantong belanja memenuhi stang sepedanya. Peluh mengucur dari dahinya.
Ayahnya berteriak kaget melihat putranya berusaha mendorong sepedanya ke dalam garasi.
"Buat apa kau beli ice cream sebanyak itu?" Tanya ayahnya.
"Aku tidak tahu bunda mau ice cream yang mana. Kubeli saja semua jenis masing-masing satu."
Dean membantu membawakan kantong belanja yang memenuhi stang sepeda putra semata wayangnya. Matanya mengaca. Putranya tidak menaruh dendam dan sakit hati terhadap perlakuan Sinta padanya.
"Mengapa kau mempedulikan bunda? Biarkan saja bundamu menangis!"
"Aku tidak ingin melihat bunda bersedih dan menangis."
"Kau tidak marah. Bunda sering memarahimu?"
Emier menggelengkan kepalanya.
Dean membawa kantong belanja ke dalam kamar Sinta. Emier berjalan mendekati bundanya yang masih menangis.
"Bunda! Aku tidak tahu bunda suka ice cream yang mana. Bunda jangan sedih dan nangis." Hibur Emier.
"Buat apa kau beli ice cream sebanyak ini? Buang-buang uang! Kau jangan berlaku sombong dan mubazir! Bagaimana kau bisa mengatur uangmu kalau kau tidak memiliki perhitungan semacam ini?!" Sinta mengomeli dan memarahi Emier.
Emier menaruh semua ice cream yang dibelinya ke dalam freezer yang ada di kulkas yang terletak di dalam kamar bundanya.
"Anak nakal! Kau tidak mau mendengar omonganku sama sekali!"
"Aku sudah terlanjur membeli ice cream buat bunda.
Sinta mendatangi putranya dan mencubit tangan dan pantatnya.
"Anak nakal!"
Emier tidak menggaduh dan mengatakan sepatah kata pun. Bundanya kerap mencubitnya jika dia membuatnya marah. Walaupun dia kerap tidak mengerti apa kesalahannya.
"Maaf bunda!"
"Kau selalu minta maaf! Tapi selalu saja membuatku kesal dan marah. Keluar dari kamarku!"
"Aku akan keluar dari kamar bunda. Tapi bunda harus penuhi satu permintaanku."
"Apa itu? Anak nakal!" Sahut Sinta gemas.
"Aku tidak mau bunda menangis."
"Baik! Aku tidak akan menangis dan kau keluar dari kamarku!"
Emier berbalik menuju pintu kamar bundanya dan berjalan keluar kamar. Menutup pintu.
"Mengapa bundamu memarahimu?" Tanya ayahnya.
"Bunda tidak suka aku membeli banyak ice cream." Jawab Emier.
"Apakah bundamu mencubit atau memukulmu?"
Emier menggelengkan kepalanya. Berbohong. Dia tidak ingin ayahnya memarahi bundanya. Ayahnya tidak suka kalau bundanya memarahi, mencubit atau memukulnya.
__ADS_1
"Kau tidak bohong kan pada Baba?"
Emier menggelengkan kepalanya.