Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Magnificent


__ADS_3

Tubuh Hapsari bergetar. Mereka akan kemana? Semenjak usianya dua puluh satu tahun. Selalu merayakan ulang tahunnya di hotel.


Ternyata Bram mengajaknya mampir ke rumah makan. Mengisi perut mereka yang lapar karena sudah menjelang makan siang.


Bram, lelaki yang sering mengawasinya dari jauh, sejak kematian tantenya.


Hapsari sendiri tidak bisa mengendus apa motif dari Bram yang kerap bersikap manis dan baik kepadanya.


Bertahun-tahun Bram menjaga dan mengawasinya.


“Kau sangat mirip dengan tantemu.” Ujar Bram saat mereka mampir ke rumah makan sebelum Bram mengantar Hapsari pulang.


“Anda mengenal tanteku?”


“Dia temanku.”


“Pantas saja anda hampir sebaya dengan tanteku.”


Bram menggenggam tangan Hapsari erat. Membuat wajah Hapsari seperti udang tebus.


“Aku membuatmu malu ya?” Tanya Bram menarik tangannya. Walaupun wajah keduanya begitu mirip. Tetapi sifat keduanya berbeda jauh.


Helena adalah seorang wanita yang sangat berpengalaman dalam hal berhubungan seksual. Simpanan ayahnya, seorang politikus. Tidak hanya menjadi simpanan politikus tetapi juga pengusaha. Tepatnya, Helena diumpan kepada ayahnya untuk memuluskan bisnis pengusaha yang menjadikannya wanita simpanan.


Sedangkan Hapsari begitu lugu. Sangat berbeda dengan tantenya. Kesibukannya hanyalah bersekolah dan menjalani kegiatannya sebagai pelajar.


Kau sangat berbeda dengan tantemu. Jika kau bukan keponakannya dan aku tidak sedang membalaskan dendam keluargaku. Mungkin semuanya akan berbeda…


“Anda melamun?” Hapsari meletakkan sendok ke piring makannya setelah menyuapkan nasi dengan potongan daging rendang dan sayur ke mulutnya.


“Aku teringat pada tantemu.” Ujarnya jujur.


“Aku dan sepupuku, Brian juga sering teringat pada tante Helena. Saat dia masih ada. Senin sampai Jum’at kami tinggal di rumahnya. Jum’at malam kami berdua dijemput orang tua masing-masing. Senin sepulang sekolah, tante Helena akan kembali menjemput kami di sekolah. Membawa kami ke rumahnya.”


“Setelah tantemu meninggal?”


“Kami kembali tinggal dengan orang tua kamu masing-masing. Pergi sekolah sendiri dengan menggunakan angkutan umum.”


“Wajah kalian seperti pinang dibelah dua. Tetapi sifat dan karakter kalian berdua sangat berbeda. Seperti bumi dan langit.”


“Tante Helena tulang punggung keluarga. Jika itu yang kau maksudkan berbeda.”


“Yeah, itu salah satunya. Kau juga begitu lugu.”


Sedangkan tantemu sangat berpengalaman dan sangat pandai bermain cinta. Melayani dan memuaskan hasrat pasangan seksualnya di atas ranjang. Dia melayani aku, papaku dan rekanan papaku, seorang pengusaha.


Jika Helena dimiliki siapa saja sedangkan Hapsari sebaliknya. Sikapnya yang tertutup membuatnya memiliki lingkungan pergaulan yang sangat terbatas.


Tidak ada satu lelaki pun mendekatinya apalagi menjamahnya. Bram selalu menjaganya dan tidak segan menghardik setiap lelaki yang berusaha mendekatinya.


Seminggu yang lalu. Seorang anak lelaki sebaya dengan Hapsari tampak menggoda dan mengganggunya.


Dengan wajah galak, Bram mendorong pemuda tersebut ke dinding serta menarik krahnya.


“Kalau kau tidak ingin berhadapan dengan para centengku. Jangan berani coba untuk mengganggu  kekasihku.”


“Hapsari kekasih anda?”


“Begitulah…”


“Tapi usia kalian?”


Bram membogem mentah pria  ingusan tersebut.


“Mengapa dengan usia kami?”


Pemuda tersebut menyeka darah yang keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak tahu kalau Hapsari kekasih anda.”


“Sekarang kau sudah tahu dan segera tinggalkan tempat ini.” Bram mendorong kasar pemuda tersebut.


“Mengapa kau mengaku sebagai kekasihku?”


“Agar dia tidak mengganggumu lagi.”


“Terima kasih.” Ujar Hapsari.


Bram membelai rambut Hapsari dan menyelipkan rambutnya ke telinganya.


Bram menyerupai body guard bayangan. Kemana pun Hapsari pergi. Mengikuti.


“Aku adalah bayanganmu. Kau ingat itu.” Ujar Bram kepada Hapsari.


Hapsari menatap Bram dengan wajah lugunya.


“Jangan takut padaku. Ok?”


Hapsari terperanjat. Orang yang sering mengikuti juga melindunginya bisa membaca pikirannya.


Bram menjaga Hapsari seperti menjaga tanaman bunga mawar. Mengelilinginya dengan duri.


“Kau jangan sok cantik!” Wanita muda tersebut memepet Hapsari.


“Apa maksudmu?”


“Jangan ganjen!” Teriak wanita itu lagi.


“Aku tidak mengerti maksudmu.” Ujar Hapsari dengan pandangan wajah tidak mengerti.


“Lepaskan tanganmu darinya.” Ujar Bram pada seorang wanita sebaya Hapsari yang sedang mencengkram lengan gadis itu


“Jangan ikut campur urusanku!” Ujar gadis itu marah kepada Bram.


Plakk


“Kau siapa?”


“Aku kekasihnya!”


“Apa? Kau lebih cocok menjadi ayahnya!”


Bram memiting tangan wanita tersebut, “Jaga mulutmu dan jangan sok!”


Wanita tersebut meringis kesakitan.


“Berlutut dan minta maaf pada Hapsari.”


“Aku tidak mau!!!” Ujarnya keras kepala.


“Kau berani melawanku?”


Wanita muda tersebut meludahi Bram.


“Ciihh…”


Kontan Bram mendorong wanita tersebut ke tembok.


“Kau sungguh berani!” Bram membalikkan tubuh wanita tersebut dan menamparnya dengan sangat keras.


Plakk


“Aku tidak akan segan menganiayamu bahkan membunuhmu sampai kau berlutut meminta maaf di kaki Hapsari. Dan jangan pernah berpikir untuk mengganggunya lagi!”


“Jangan harap aku mau melakukan hal itu!” Seru wanita muda tersebut dengan keras kepala.

__ADS_1


Hapsari menjadi tidak tega melihat Cindy yang kerap mengganggu, mengintimidasi serta membullynya bahkan mempermalukannya.


“Sudahlah lepaskan dia.” Pintanya setengah memohon pada Bram.


“Kau tidak lihat apa yang dia lakukan padamu?”


“Aku sudah memaafkan dan tidak mempermasalahkannya.”


“Aku tidak bisa melepaskannya sebelum dia bersujud memohon maaf padamu dan berjanji tidak akan mengganggu dan menyentuhmu lagi atau kupatahkan lehernya.”


“Sudahlah lepaskan dia. Kau tidak melihatnya kesakitan?”


“Tidak, sebelum dia memohon maaf dan tidak mengulanginya lagi.” Bram menarik rambut wanita muda tersebut ke belakang.


“Awwwggghhh! Kau pengecut! Beraninya pada wanita?”


“Kau bukan wanita tapi setan betina!” Bram memuntir tangan wanita tersebut ke belakang.


“Aaaawwwww!!! Baiklah! Aku akan meminta maaf!”


“Dan berjanji tidak akan menganggu apalagi menyentuhnya!”


“Baiklah!”


Bram melepaskan wanita tersebut. Dengan wajah merah padam menahan malu. Berlutut di depan Hapsari.


“Sujud! Cium kakinya!”


Wajahnya semakin memanas, berlutut kemudian bersujud mencium kaki Hapsari. Berkata lirih, “Aku minta maaf.”


“Aku tidak mendengar apa pun.”


“Aku minta maaf!”


“Apakah kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi?”


Wanita tersebut menganggukkan kepalanya, “Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi!”


“Kali ini kau kubebaskan. Tapi jika kau mengulanginya lagi. Aku tidak akan segan menghabisimu!” Sahut Bram dengan wajah galak.


Wanita tersebut mengangguk dan membalikkan badannya berlalu.


“Kau menyakitinya. Dia perempuan.” Ujar Hapsari.


“Jangan membela orang yang mengganggu, menyakiti serta tidak menghormatimu.”


Hapsari memandang wajah Bram. Mereka saling bertatapan satu sama lain.


“Tidak semua orang bisa menghargai kebaikan dan kelembutan hatimu. Kebanyakan mereka akan merendahkan dan meremehkanmu. Menyakitimu karena menganggapmu lemah dan tak berharga.” Ujar Bram menatap mata Hapsari hingga menembus relung hatinya.


“Aku tidak peduli.” Sahut Hapsari.


“Aku peduli!” Sahut Bram membelai pipi Hapsari. Memasukkan anak rambut Hapsari yang terjuntai memanjang melewati pipinya. Menyelipkannya ke telinganya.


“Aku tidak akan membiarkan siapa pun berlaku seenaknya padamu. Siapa pun yang ingin mengganggu atau menyakitimu. Harus berhadapan denganku!” Bram menyentuh dagu Hapsari dan mengangkat wajahnya ke arahnya, “Kau dengar itu?”


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2