
Jantung Sinta berhenti berdetak sejenak. Suara yang sangat familiar. Dean.
"Kau Sinta kan?" Orang tersebut mengulang pertanyaannya.
Otaknya berpikir cepat.
"Maksud anda saya? Sinta siapa? Anda siapa?"
"Ah! Kupikir kau isteriku yang sudah meninggal. Tidak mungkin kau adalah dia. Dia sudah meninggal. Kalian berdua sangat mirip sekali." Air mata Dean meleleh dari kedua bola matanya.
"Anda menangis?"
"Aku sangat merindukannya. Anda mengingatkanku padanya. Kalian begitu mirip."
Hati Sinta terenyuh melihat kesedihan Dean. Rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya.
Mereka tanpa sengaja bertemu di sini.
Sinta menunggu Keanu selesai makan untuk menghindari kecurigaan Dean. Berusaha bersikap setenang mungkin.
Dean masih belum beranjak dari tempatnya.
"Bolehkah aku duduk disini? Memandangi wajahmu? Kau sangat mirip isteriku."
Wajah Sinta memerah, " Anda membuat saya sangat malu. Saya tidak mengenal anda sama sekali."
"Maafkan, saya. Tetapi anda benar-benar mengingatkan saya pada almarhumah isteri saya."
"Kau sudah selesai makan?" Sinta bertanya pada Keanu yang dijawab dengan anggukan.
Hati Sinta lega dan segera menggamit tangan Keanu. Mengajaknya keluar dari food court tersebut.
"Nama anda siapa? Bolehkah saya berkenalan dengan anda?"
Sinta bergegas mengajak Keanu berlalu dari tempat tersebut. Mengabaikan pertanyaan Dean.
Memanggil petugas keamanan. Meminta mereka mengamankan Dean.
"Dia mengganggu saya! Tolong tangkap dia!" Serunya pada petugas keamanan yang segera berlari mengejar dan menangkap Dean.
Sinta segera mencari Dylan dan anak-anaknya. Begitu petugas keamanan bergegas meringkus Dean. Menyampaikan dengan nada gugup dan ketakutan. Dia tidak mampu mengontrol dirinya lagi.
"Aku bertemu dengan Dean!" Sahut Sinta histeris.
"Apa kau bilang? Kita pergi dari sini." Dylan terlihat sangat panik. Mengajak anak-anak dan isterinya berlalu dari tempat itu.
Mereka kembali ke hotel. Check out dan langsung kembali ke rumah mereka.
__ADS_1
"Kita belum ke Hollywood. Kita juga belum menaiki semua wahana permainan." Protes Callista marah.
"Kita harus segera pergi dari sini dan kembali ke rumah." Bujuk Dylan. Liburan mereka seketika kacau balau.
"Kita baru tiba di sini. Aku tidak mau pulang!" Callista menaikkan nada suaranya satu oktaf.
"Callista! Jangan berulah. Kita harus segera pergi dari sini. Ada sesuatu yang urgen. Kepala mama mendadak pusing. Mama harus kembali ke Swiss. Berobat."
"Kau baik-baik saja, ma?" Tanya Callista menunjukkan wajah prihatin.
"Tidak, sayang. Aku tidak baik-baik saja!" Keringat dingin mengucur dari dahi Sinta. Dirinya begitu takut Dean menemukannya dan mengacaukan semuanya.
"Tenanglah! Tidak ada yang bisa memisahkan kita!" Dylan menggenggam tangan Sinta dengan erat. Memeluk isterinya menenangkannya.
Sinta menangis. Hatinya diliputi rasa takut. Bagaimana mungkin mereka bisa bertemu?
Perasaannya memang sudah tidak enak dan ragu mereka berlibur ke sini. Tempat ini ramai dan sering menjadi kunjungan atau liburan.
Telpon Dylan berdering. Dean.
"Jangan ribut dan membuat suara apa pun. Dean menelponku."
Sinta menganggukkan kepalanya. Mengajak anak-anak mereka menjauhi Dylan.
"Jangan berisik dan mengganggu papa menelpon. Ok?" Bisik Sinta kepada anak-anaknya.
"Kau dimana? Aku ingin menemuimu. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan."
"Aku sedang di luar kota. Kau sampaikan saja sekarang. Ada apa? Ada yang bisa kubantu?"
"Aku melihat seorang wanita. Sangat mirip dengan Sinta. Hal itu tidak mungkin kan? Kecuali ada kesalahan pada surat keterangan kematiannya."
"Apa maksudmu? Bertemu dengan seseorang seperti Sinta? Kesalahan di surat kematiannya? Apa maksudmu?"
"Ada kesalahan di surat kematiannya."
"Tidak mungkin semua sudah dilakukan dengan teliti. Kau jangan terlalu banyak berpikir. Banyak orang mirip di dunia ini. Bahkan jika mereka tidak memiliki hubungan darah. Bisa saja mereka tanpa sengaja mirip."
"Tetapi ini benar-benar mirip. Wajahnya. Gerak geriknya. Suaranya. Aku sangat mengenalinya dengan sangat baik. Tidak mungkin salah."
"Kematiannya sudah lama berlalu. Mengapa kau tidak mau melupakannya? Banyak wanita yang lebih baik darinya. Jangan menyiksa dirimu sendiri."
"Aku dan Sinta memiliki sesuatu yang sangat istimewa. Walaupun dia berubah begitu saja tetapi aku tidak pernah melupakan betapa istimewanya hubunganku dan dia. Aku melakukan kesalahan padanya. Memanfaatkannya untuk menebus warisanku. Mengkhianatinya. Tetapi dia selalu ada di hati dan pikiranku."
"Lupakan dia. Agar dia bisa tenang di alam baka. Kau hanya membebaninya. Aku memiliki kenalan wanita yang bisa kau pilih. Akan kucarikan yang paling mirip dengannya."
"Aku tidak menginginkan yang lain. Aku harus menemukan wanita itu. Aku tidak peduli dia Sinta atau bukan. Kau bantu aku untuk mencarinya."
__ADS_1
"Dimana kau bertemu dengan wanita itu?"
"Disneyland, Los Angeles. Amerika."
"Jauh sekali. Aku tidak dapat membantumu. Pekerjaanku sangat banyak."
"Aku akan membayarmu dobel. Jika kau bisa menemukannya dan membujuknya agar mau menjadi isteriku. Dia sudah memiliki seorang anak lelaki kecil tapi aku tidak peduli. Dia sendirian dengan anak lelaki kecilnya. Kemungkinan dia sudah bercerai atau meninggal atau diputuskan kekasihnya?"
"Dean, pekerjaanku sangat menumpuk. Aku benar-benar tidak dapat membantumu. Maafkan aku! Aku harus segera pergi!"
"Kapan kita bisa bertemu?"
"Nanti akan kukabarkan. Aku sangat sibuk. Ada kasus yang sedang kutangani dan membutuhkan perhatianku."
"Baiklah. Kabari aku kalau kau sudah bisa membuat janji bertemu denganku. Ini sangat penting!"
"Baiklah. Aku akan mengabarimu."
Mereka langsung kembali ke Swiss dengan penerbangan yang paling cepat membawa mereka kembali ke sana.
"Callista, sayang. Kita tidak dapat berlibur kemana pun selain tempat yang biasa kita kunjungi dan sudah kupilih." Dylan membujuk putrinya.
"Kalau mama sudah tidak pusing. Kita ke sini lagi."
"Tidak bisa, sayang. Di sini sangat tidak aman. Keanu hampir diculik." Dylan berbohong kepada putri sulungnya.
"Benarkah?"
"Kau tanya mamamu. Memanggil petugas keamanan untuk meringkusnya."
"Benarkah, ma?"
"Iya, sayang. Tempat ini sangat tidak aman untuk anak-anak. Patuhi papamu. Jangan melawan."
Callista menggangguk sambil cemberut, "Apa yang harus kukatakan pada teman-temanku?"
"Katakan bahwa adikmu hampir diculik dan kita tidak bisa berlibur ke sana lagi." Sahut ibunya tegas.
Sinta menatap suaminya. Air matanya kembali meleleh. Dylan menggenggam tangannya erat,"Tenanglah! Aku berjanji akan melindungimu dan anak-anak. Tidak ada satu pun yang bisa menghancurkan rumah tangga dan keluarga kecil kita." Mata Dylan memanas. Jantungnya berdetak cepat. Dia juga memiliki ketakutan yang sama. Hanya saja, dia tidak ingin membuat Sinta dan anak-anaknya menjadi resah dan gelisah.
Dirinya juga diliputi ketakutan yang sama. Bagaimana jika Dean mengetahui kematian palsu Sinta?
Sepanjang perjalanan mereka kembali ke Swiss. Sinta menangis hingga matanya menjadi bengkak.
"Oh, Dylan! Aku sangat takut! Bagaimana jika Dean mengetahui yang sebenarnya?"
"Tenanglah, sayang! Semua akan baik-baik saja. Kita sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Tidak mungkin Dean akan tega mengambilmu dari sisiku dan anak-anak. Rahasia kita masih aman. Dean tidak mengetahui apa pun tentang kematian palsumu. Kehidupan dan tempat tinggal kita sekeluarga. Dia tidak tahu apa pun selain kau dan dia tidak sengaja bertemu. Kau juga sudah mengatasinya dengan baik!" Dylan menggenggam tangan Sinta sangat erat. Mengusap-usapnya.Mencium nya dengan segenap jiwa dan hatinya.
__ADS_1