Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Lost


__ADS_3

Dylan tidak menyangka Haliza membatalkan pertunangan mereka di saat terakhir mereka akan melangkahkan kaki ke jenjang pernikahan.


Dirinya merasa begitu nelangsa. Terutama saat melihat kebahagiaan Dean dan Sinta mengumumkan kehamilannya.


Semua yang hadir tersentuh melihat reaksi Emier yang menangis bahagia menantikan calon adiknya.


Diam-diam Dylan mencuri pandang ke arah Haliza yang sedang mengucurkan air mata. Berulang kali menghapus air mata yang membanjiri kedua pipinya.


Haliza tak mampu menahan haru melihat tangisan Emier yang sangat menyentuh. Slide yang ditayangkan pada acara puncak benar-benar sangat menggugah perasaannya.


Dia tampak sangat keibuan dan lembut. Saat menangis seperti itu.


Dylan membatin di dalam hati. Semenjak pembatalan pernikahan mereka. Pikirannya kerap melayang memikirkan Haliza.


Aku tahu dia menyukai dan mencintaiku tetapi mengapa dia membatalkan pertunangan kami. Apakah dia takut aku menyakitinya? Karena belum mampu menepis bayangan Sinta dalam pikiranku?


Aku sedang berusaha menepis bayangan Sinta dalam hati dan jiwaku. Menggantikannya denganmu. Tetapi mengapa kau enggan memberikanku waktu. Bersabar menungguku. Aku pasti akan berlari kepadamu. Semua hanya masalah waktu.


Haliza menjaga jarak dengan Dylan. Memilih makanan di dekat lapangan basket. Semenjak pertunangan mereka berakhir. Dirinya dilanda ambigu.


Dia masih memperhatikan Dylan dan anak-anaknya tetapi bukan berarti ingin menjalin hubungan yang lebih dekat seperti dulu.


Cukup tahu diri. Tak ingin semua terulang lagi. Seperti mantan suaminya yang saat ini tampak semakin bahagia dengan istri mudanya.


Air matanya bercucuran saat melihat slide yang menyentuh hatinya. Sekaligus mengingat nasibnya sendiri. Dua kali dirinya mengalami nasib percintaan yang sama.


Aku tidak ingin Dylan berakhir seperti Ahkam. Aku tidak tahan melihat tatapan Ahkam yang seperti mengasihani dan seakan mengatakan semua karena kebodohanku sendiri.


Airmatanya menetes tanpa bisa dihentikan. Hingga dadanya terasa sesak.


Semakin sesak saat melihat Ahkam seperti mengasihaninya. Hana seperti biasa dengan semua sikap palsunya.


“Turut berduka cita akan pertunanganmu yang batal. Kami berharap yang terbaik untukmu.”


Haliza tidak menanggapi ucapan Hana.


“Cinta adalah perasaan. Tidak bisa dipaksa. Jika dipaksakan akan menjadikan tekanan. Berujung perpisahan.”Lanjut Hana.


Ahkam berusaha mengajak istrinya berlalu dari hadapan Haliza. Hana menepis tangan suaminya.


Haliza menatap wajah Hana dengan tajam. Tepat di manik matanya.


“Semua yang terjadi dalam hidupku adalah yang terbaik. Bertemu orang yang baik akan menimbulkan kesan sedangkan bertemu dengan orang jahat akan memberikan pelajaran.”


Wajah Hana merah padam.


“Jangan menyalahkan orang lain. Jika kau sendiri not loveable.” Tukas Hana ketus.


Suaminya memeluk bahu istrinya dengan lembut. Berusaha membujuknya berlalu dari hadapan Haliza.


“Memang kau tahu arti loveable? Sejak kapan pelakor loveable?” Ujar Haliza dengan ketus.

__ADS_1


Hana merangsek maju, “Kau....”


“Kalau kau memaksaku mengakui sebagai sosok loveable. Kau mimpi. Mungkin kau menjadi pujaan semua lelaki termasuk mantan suamiku yang brengsek!”


“Terima saja kekalahan mu. Tidak usah berlaku sombong!”


Seketika air mata Haliza mengering. Tidak sudi memperlihatkan kemalangannya di depan wanita yang sangat palsu yang berdiri di hadapannya.


“Aku tidak pernah merasa bersaing dalam memperebutkan sesuatu yang memang tidak penting dalam hidupku. Ahkam adalah kesalahan dan kebodohanku. Aku bersyukur kau memungutnya lebih cepat. Bagiku, hanya anak-anakku yang merupakan hal  yang berharga dalam hidupku. Bukan selainnya apalagi kalian berdua.”


Hana hendak membuka mulutnya tetapi Ahkam menarik tangannya dan memaksanya berlalu dari situ.


“Aku belum selesai dengannya. Aku harus memberikan pelajaran pada wanita jelek itu. Tidak ada satu pun pria yang bisa tahan dengannya. Dia harus tahu itu!” Ujar Hana dengan emosi.


“Mengapa kau suka meladeninya? Abaikan saja kan bisa? Aku tidak ingin kau dilukainya.”


“Selain buruk rupanya. Buruk adatnya. Kalau dia berani menyentuhku. Akan kumasukkan dia ke penjara!”


“Sudahlah! Tidak usah cari masalah. Kalau dia mendekam di penjara. Kasihan anak-anakku. Memang kau mau mengurus mereka semua?”


Hana terdiam. Wajahnya masih menyisakan kegusarannya.


Haliza berjalan menuju lapangan basket. Mencicipi makanan di sana. Yang lebih sesuai dengan seleranya.


Menuju stand pecel lele dan ayam. Memilih menu pecel ayam. Mengambil es durian. Semangkok bakso. Meletakkannya pada meja yang terletak memanjang di depan stand.


Air matanya kembali menetes. Bagi wanita putus cinta  adalah kehancuran. Sedangkan bagi lelaki adalah pengalaman.


“Boleh aku duduk di sini?”


Haliza mendongak dengan matanya yang sembab dan hidungnya yang merah.


“Ini tempat umum. Siapa pun bisa duduk di sini.” Jawabnya.


“Siapa tahu kau enggan berdekatan denganku.” Dylan menaruh makanan dan minuman yang diambilnya. Segelas es cincau dengan nasi kapau.


“Aku bukan bermaksud menjauh. Aku tidak ingin kau membahas apa yang sudah ku putuskan.”


“Aku hanya ingin menanyakan alasannya. Jika kau tidak keberatan.” Dylan menyuap makanannya dengan tangannya. Di dekat lapangan basket ada kran yang bisa digunakan untuk mencuci tangan. Fungsi kran tersebut untuk menyiram tanaman tetapi digunakan Dylan untuk mencuci tangan.


“Aku tidak ingin mengulangi kebodohanku.”


“Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Bisa saja kalian tidak ditakdirkan bersama selamanya. Mungkin memang harus menjalani hidup kalian masing-masing. Seperti aku dan Sinta. Tidak ditakdirkan untuk selamanya. Aku tidak melakukan kebodohan tetapi tetap saja harus berpisah.”


“Kau mencintai Sinta. Memujanya. Menyerahkan seluruh jiwa dan hatimu padanya. Aku akan mengulangi kebodohan yang sama. Akhir yang sama.”


“Cinta tidak harus memiliki. Seperti yang pernah kukatakan padamu. Cinta ada dua macam. Karena rasa dan terbiasa. Mungkin saat ini aku mencintai Sinta. Tapi dengan berlalunya waktu dan kau yang mengisi hari-hariku. Dia akan tergantikan begitu saja.”


“Lukaku belum sembuh. Traumaku masih membayangi. Aku tidak bisa mencerna apalagi mempercayai kata-katamu. Bagaimana jika kau tidak bisa melupakannya atau pernikahan yang kita jalani merupakan kesalahan?” Air mata Haliza kembali mengalir turun.


Dylan menyodorkan tissue yang terdapat di meja.

__ADS_1


“Jangan menangis. Aku tidak tahan melihatmu bersedih. Jika ide pernikahan kita membuatmu sedih. Abaikan Lah. Jalani saja semua apa adanya. Pada akhirnya jodoh sudah ada yang menentukan. Kita hanya bisa memasrahkan semua padaNya. Jika kau memang untukku. Pasti Dia akan memberikan jalanNya. Jika kau memang bukan milikku. Sekeras apa pun aku berusaha. Kau akan tetap berlalu dari kehidupanku.”


Haliza menghapus air matanya, “Terima kasih atas pengertianmu. Aku tidak ingin bersikap naive. Cinta tidak bisa dipaksakan. Dan akan menemukan jalannya.”


“Yeah. Friends?”


Haliza menganggukkan kepalanya sambil mengembangkan senyumnya.


“Thanks.” Ujar Haliza.


“Its my pleasure.”


Hana memandangi keduanya dari kejauhan. Pandangannya memandang dengan rasa benci pada Haliza. Kecemburuan memenuhi dadanya. Walaupun dia memenangkan Ahkam. Tetapi selamanya hidupnya tidak akan tenang. Haliza membayangi pernikahan mereka berdua.


Sebagai wanita, dia akan selalu merasa insecure.


“Berhentilah mengganggunya. Apa kau tidak kasihan melihatnya?”


“Kau membela wanita culas tersebut? Mulutnya berbisa. Hatiku sangat sakit mendengarnya.”


“Aku bukan membelanya. Aku ikut merasa bersalah telah memberikannya luka. Dia pernah sangat mencintaiku. Aku tidak bisa membalas cintanya. Mengapa kau tidak berbelas kasihan padanya?”


“Aku tidak ingin dia merebut mu kembali dariku. Atau membuat kita berpisah.”


“Kekhawatiranmu terlalu berlebihan.”


“Tidak. Jika itu menyangkut kita.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


... ...


__ADS_2