
Pengacara Sinta bekerja keras menuangkan kesaksian para saksi secara tertulis dan lisan juga merekamnya.
Semua itu dilakukan dengan ijin dari pengadilan. Sehingga menjadi bukti resmi dan berlaku sebagai fakta persidangan.
"Kalau kau tidak mau bersaksi maka aku akan mengejarmu sebagai tersangka." Ancam Dylan , pengacara Sinta.
"Bagaimana kau bisa menjebloskanku ke penjara?"
Dylan menyodorkan bukti rekening koran yang diberikan bank berdasarkan surat perintah pengadilan untuk melakukan pemeriksaan tersebut.
"Bagaimana kau menjelaskan ini?" Dylan menyodorkan bukti rekaman penyadapan yang juga dengan seijin pengadilan.
Di dalam rekaman itu jelas terdengar suaranya dan pemberi perintah.
"Mana uangku?"
"Aku sudah mentransfer dpnya."
"Tetapi belum lunas."
"Pekerjaanmu belum selesai. Apa kau tahu lima orang yang kuperintahkan. Semua terbunuh di dalam penjara?"
"Apa urusannya denganku? Tugasku hanya mengacaukan proyek-proyek yang ditangani perusahaan-perusahaan bu Sinta. Apakah kau….."
Dylan mematikan rekaman penyadapannya.
"Kupikir cukup. Kau ingin bersamaku atau otak yang ada dibalik semua ini?"
"Mereka akan membunuhku."
"Kau akan kuikutkan program perlindungan saksi."
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Kesaksian tertulis, rekaman dan di pengadilan."
"Apa yang kudapatkan?"
"Bebas dari hukuman."
"Baiklah."
"Bisa kita mulai sekarang untuk kesaksianmu. Kuminta jangan ada yang disembunyikan. Katakan semuanya dan jangan sampai ada yang terlewat."
"Bu Sinta memberikan sejumlah proyek pengadaan barang dan pembangunan infrastruktur yang sangat strategis kepada perusahaan-perusahaan milik mertuanya."
"Apakah kau tahu, semua itu untuk kepentingan umum?"
"Ya. Tapi namanya persaingan bisnis. Apalagi bu Sinta juga kerap menangani masalah dengan cara yang tidak biasa."
"Bijaksana. Bukan tidak biasa. Ralat kata-katamu."
"Ya, bijaksana. Tapi tidak semua orang bisa memahaminya. Itu masalahnya."
"Yang menjadi kepala daerah, beliau dan timnya. Bukan semua orang. Kau ingat itu!"
"Tetap saja. Tidak semua bisa mengerti pemikirannya."
"Apa yang kau lakukan?"
"Mengacaukan proyek-proyek itu. Memanipulasi barang. Menyusupkan para pekerja yang akan mengacaukan semua pekerjaan tersebut."
"Apa tujuannya?"
"Supaya semua proyek tersebut gagal. Sehingga bisa dialihkan kepada perusahaan kompetitor."
"Berapa orang yang terlibat dalam konspirasi ini?"
"Perlu kah kusebutkan satu per satu?"
"Kalau kau tidak ingin mendekam di penjara. Sebaiknya katakan semua, jangan sampai ada yang terlewat."
Detektif swasta mengirimkan informasi terupdate kepada Dylan dan juga Sinta.
"Aku merasa menemukan titik terang pada kasus Sinta."
Dylan menyampaikan perkembangan kasus Sinta pada Dean.
"Baguslah! Kau jangan banyak memberikan harapan pada Sinta. Aku khawatir dia akan menjadi kecewa." Dean menyesap kopinya, "Apalagi dia juga baru pulih."
"Aku mengatakan pada Sinta. Agar dia bersabar. Aku tidak memberikannya harapan muluk. Aku hanya mengatakan apa adanya saja."
"Berapa persen peluang kasusnya?"
__ADS_1
"Sepuluh persen."
"Apakah isteriku bisa lepas dari tuntutan hukum yang sedang menjeratnya?"
"Aku sedang berusaha membebaskan isterimu. Berusaha agar semua bukti dan saksi yang kudapatkan. Bisa menjadi bukti persidangan."
"Jika semua ini selesai. Aku tidak akan membiarkannya terjun ke politik."
"Kau banyak berubah."
"Bagaimana pun dia isteriku. Aku harus melindunginya."
"Bagaimana kalau orang tuamu tidak mau melepaskannya?"
"Setelah apa yang terjadi. Kupikir mereka akan mempertimbangkan semua kembali. Aku akan membela isteriku."
"Memang kau bisa melawan orang tuamu? Kalau bisa, Sinta tidak akan berakhir seperti ini."
"Mengapa kau seperti memiliki perhatian kepada isteriku?"
"Kau tidak usah cemburu! Isterimu, klienku. Aku merasa bersimpati terhadap apa yang menimpanya. Kupikir isterimu terlalu naive."
"Insting seorang suami. Aku tidak suka kalau kau tidak profesional."
"Aku tidak pernah menggoda klienku. Periksa saja track recordku. Aku selalu bekerja dengan profesional."
"Kuharap begitu. Kalau kau tidak mau merasakan bogem mentahku."
"Kau mengancamku?"
"Menurutmu?"
"Jangan lupa. Siapa yang melindungi isterimu dari incaran para pembunuh bayaran?"
"Maksudmu apa?"
"Jangan overthingking. Aku hanya menjalankan profesiku. Tidak lebih. Semua klienku mendapatkan pelayanan profesional dariku. Isterimu juga bukan seleraku."
"Baguslah!"
"Apa kau mau melihat temuan dari detektif swasta?"
"Boleh."
Dylan menunjukkan sejumlah foto.
"Mereka kompetitor perusahaan ayahmu."
"Mereka kenal dekat dengan para politikus tersebut?"
"Begitulah. Perusahaan ayahmu dan jabatan isterimu yang menjadi incaran mereka."
"Salah politikus ini bukannya salah satu dari pria, yang menjalin hubungan dengan wanita, yang menuduhku melakukan pelecehan seksual kepadanya?"
"Dia memang ayah bayi itu."
"Apa?"
"Memang sudah keluar hasil testnya?"
"Aku sudah memberikan pada isterimu."
"Dia ingin melimpahkan tanggunh jawabnya padaku. Menghancurkan karir isteriku dan perusahaan ayahku."
"Dia mengincar karir isterimu. Kompetitor perusahaan ayahmu berada di belakangnya."
"Dia ingin menjadi kepala daerah?"
"Begitulah!"
"Maksudmu, kompetitor perusahaan ayahku yang ingin menghancurkan perusahaan ayahku. Sedangkan politikus itu menginginkan jabatan isteriku."
"Yeah. Seperti itu."
"Apa rencanamu?"
"Aku akan membongkar konspirasi mereka."
"Bagaimana caranya?"
"Kau kenal wanita di dalam foto ini? Helena!"
Dean meneliti foto di hadapannya.
__ADS_1
"Ini wanita yang menuntutku kemarin."
"Dia kekasih gelap politikus tersebut."
"Simpanan?"
"Bukan."
"Isteri muda?"
"Bukan."
"Kekasih gelap?"
"Ya."
"Helena menjalin hubungan dengan politikus tersebut, pengusaha yang ingin menjatuhkan ayahmu dan mahasiswa yang merupakan anak dari politikus tersebut."
"Apa?"
"Bagaimana menurutmu?"
"Apakah mereka sengaja mengincarku?"
"Tidak. Helena tanpa sengaja mendatangimu."
"Darimana kau tahu?"
"Detektif swasta yang disewa isterimu mencari tahu tentang kejadian malam itu. Dia juga menanyai Helena langsung."
"Apa rencanamu?"
"Aku ingin dia menjadi saksi. Karena dia tahu banyak tentang affair pengusaha dan politikus tersebut. Aku skip mahasiswa, yang merupakan anak politikus tersebut. Tidak ada kaitannya dengan kasus ini."
"Kau sudah menanyainya?"
"Aku menawarinya program perlindungan saksi."
"Apakah dia mau bersaksi?"
"Kalau tidak ingin kubongkar perselingkuhannya dengan pengusaha, politikus dan mahasiswa itu?"
"Memang apa yang dia ketahui?"
"Pillow talks. Dia hampir mengetahui semuanya."
"Maksudmu, kesaksiannya bisa membebaskan isteriku sekaligus memulihkan usaha ayahku?"
"Begitulah! Bagaimana menurutmu?"
"Brilian!"
"Aku juga merencanakan penyadapan. Memancingnya agar membicarakan konspirasi itu. Penyadapan dengan ijin pengadilan."
"Wow!"
"Tidak usah memujiku!"
"Hmm…Kerjamu hebat."
"Isterimu tidak mungkin menyewaku. Kalau aku tidak hebat."
Dean tertawa, "Yeah, isteriku seorang perfeksionis dan sangat jeli dalam menilai potensi orang lain."
"Isterimu, wanita yang hebat. Kau beruntung memilikinya."
"Kau bilang isteriku bukan seleramu?"
"Memang bukan selera wanitaku. Tetapi aku mengaguminya. Totalitas, dedikasi dan keberaniannya."
"Bagaimana selera wanitamu?"
"Aku tipikal lelaki konvensional."
"Hmm…Kau tidak suka didominasi wanita?"
"Aku tidak suka super woman seperti isterimu. Lebih dominan dariku. Sebagai klien, no problem tapi kalau sebagai isteri atau kekasih, terus terang, isterimu bukan kriteriaku."
"Kupikir, aku bisa bernafas lega."
"Yeah!"
"Bagi seorang lelaki, isteri adalah harga diri. Kau harus mengerti itu."
__ADS_1
"Kau tidak usah khawatir. Isterimu bukan tipeku. Aku selalu bekerja secara profesional. Aku menganggap isterimu sebagai saudara perempuanku."
"Aku lega mendengarnya."