
Waktu cepat berlalu. Usia Callista menginjak tujuh tahun sedangkan Sapphire berusia tiga tahun dan sebentar lagi akan memasuki sekolah kindergartennya.
Jake adalah tetangga sekaligus anak lelaki yang usianya lebih muda setahun dari Callista dan mereka menjadi teman baik karena mereka juga bersekolah di kindergarten yang sama.
Semakin besar Sapphire, semakin sulit diatur. Membuat Callista sering bertengkar dengan Sapphire dan memilih bermain bersama Jake.
"Kau merusak bonekaku!"
"Mengapa kau hilangkan mainan masak-masakkanku?"
"Apa yang kau lakukan? Kau mengacak-acak jualanku!"
"Ma!"
"Ada apa sayang?" Ibunya tergopoh mendatangi putrinya dari dapur.
"Lihat apa yang dilakukan Sapphire! Mainan baruku dari papa!"
"Adikmu belum mengerti. Simpan saja mainanmu."
"Kau yang menyuruhnya meminjamkan dan sekarang dia merusaknya!" Callista menangisi mainannya yang rusak oleh Sapphire.
"Dia ingin meminjam mainanmu. Dia kan adikmu."
"Tapi dia merusaknya."
"Bermainlah di kamarmu sendiri."
"Aku bosan di kamar."
"Adikmu belum mengerti. Aku akan bilang sama papamu agar membelikan dua mainan yang sama. Bagaimana?"
Callista menganggukkan kepalanya.
"Aku ingin berkuda bersama James dan Jake."
"Baiklah!"
Callista dan Jake juga sangat senang bermain di pinggir sungai. Ada sebatang pohon yang sangat nyaman untuk dinaiki dan dijadikan tempat mereka mengobrol juga bermain.
Dylan membuat dua buah ayunan untuk keduanya. Mereka sangat senang berada di sana. Kerap membawa mainan mereka ke sana. Bermain dari sejak pulang sekolah sampai menjelang sore.
Jika weekend atau libur mereka bisa bermain seharian. Apalagi jika mereka tidak memiliki acara dengan orang tua mereka.
Ibu mereka bergantian membawakan mereka bekal. Dylan membelikan Callista gerobak dorong. Awalnya Callista tidak memahami maksud ayahnya.
"Untuk apa kita membeli gerobak dorong?" Tanya Callista.
"Kau dan Jake akan membutuhkannya. Membawa semua mainan dan juga keranjang makanan kalian."
Wajah Callista berbinar.
"Terima kasih, pa!" Callista memeluk dan mencium ayahnya.
"Thanks Mr. Dylan." Sahut Jake dengan wajah berbinar.
Weekend kali itu Dylan mengajak Jake untuk bergabung bersama mereka.
Menemani Sinta berbelanja. Mampir ke toko peralatan berkebun dan membeli sebuah gerobak kecil untuk Callista.
"Kupikir, aku juga memerlukan peralatan berkebun."Sahut isterinya.
"Bukannya peralatan berkebunmu sudah banyak dan lengkap?"
"Belum ada yang warna ini?"
"What?" Dylan mendelikkan matanya ke arah isterinya.
Sinta tertawa melihat air muka suaminya.
__ADS_1
"Ini bagus kan warnanya?"
"Bukan masalah bagus atau tidak. Tapi buat apa beli lagi kalau sama saja fungsinya?"
"Apa kau mau membelinya untuk hadiah ulang tahunku?"
"Udah gak surprise, dong!"
"Gak apa-apa. Yang penting aku suka hadiahnya."
"Ok, buat ulang tahunmu, ya?"
Sinta menganggukkan kepalanya senang.
Mereka mampir ke toko coklat. Callista dan Jake sangat suka berada di sana.
"Anak-anak di toko coklat mungkin seperti para wanita di toko emas." Sahut Sinta tertawa melihat antusiasme keduanya.
Callista dan Jake memilih aneka macam coklat.
Mereka berebut satu kaleng coklat. Tinggal satu-satunya.
"Aku yang melihatnya duluan!" Sahut Jake.
"Ayahku yang membayar semuanya!"
"Aku juga ada uang! Aku bayar sendiri pakai uangku!" Sahut Jake tidak mau kalah.
"Callista! Mengapa kau berkata seperti itu?" Tegur ibunya.
"Memang papa yang bayar kan?"
"Tapi kau tidak boleh seperti itu. Walaupun papa yang bayar tapi kau dan Jake punya hak yang sama."
"Aku mau coklat ini."
Tidak ada yang mau mengalah.
"Aku yang akan membelinya. Untuk bekal kalian bermain di pinggir sungai. Bagaimana?" Sahut Sinta menengahi.
Mereka berbaikan dan menyerahkan kaleng coklat tersebut kepada Sinta.
"Ma, aku lapar!" Rengek Callista. Jam memang menunjukkan jam makan siang.
"Kau mau makan apa? Kita cari restaurant halal ya?"
"Shish Kebab, Nasi Pilaf dan Kefta. Aku mau minum Sahlab."
"Apa itu?" Tanya Jake bingung.
"Nanti saja kau coba. Shish Kebab dan Kefta itu seperti sate. Sahlab itu susu."
"Sepertinya enak."
"Memang enak. Apalagi kalau dimakan pake nasi pilaf."
"Kapan kita makan? Aku sudah lapar."
Dylan tertawa mendengar percakapan keduanya, "Kita makan sekarang."
"Yes!" Seru keduanya berbarengan.
Mereka memilih meja didekat jendela menghadap ke jalan sehingga bisa melihat orang berlalu lalang. Juga lebih terang karena cahaya matahari masuk dari jendela yang membatasi restaurant dengan jalan.
"Kalau kau ingin membeli mainan untuk Callista belikan juga untuk Sapphire." Sinta membuka percakapan.
"Mereka kan bisa berbagi. Kau jangan memanjakan mereka." Tegur suaminya.
"Sapphire belum bisa berbagi dan sering merusak mainan Callista."
__ADS_1
"Dia kan masih kecil dan belum mengerti." Sambung suaminya.
"Justru karena dia belum mengerti. Belikan mereka mainan yang sama sehingga tidak saling mengganggu. Terutama Callista. Frustasi meminta adiknya agar bisa berbagi dengannya tetapi adiknya masih terlalu kecil. Tidak bisa mengerti perkataan Callista." Sinta meletakkan tasnya di kursi, "Berbagi ada waktunya. Callista dan Jake tidak kesulitan berbagi karena mereka sudah bisa saling mengerti satu sama lain."
"Baiklah!"
"Terima kasih, sayang…." Sinta menyunggingkan senyumnya yang paling manis. Dylan masih saja terpana melihat senyum isterinya.
Mereka sudah menikah delapan tahun tetapi semuanya masih terasa sama seperti mereka baru menikah. Apakah karena dipisahkan jarak atau memang perasaan yang dirasakan Dylan abadi?
"Mrs. Dylan, makanannya sangat enak. Bolehkah aku memesannya untuk keluargaku di rumah? Kami tidak pernah makan makanan seperti ini. Aku ingin orang tuaku sesekali mengajak kami makan makanan seperti ini."
"Tentu saja boleh. Akan kupesankan masing-masing menu satu porsi untuk kau bawa pulang ke rumah. Bagaimana?"
Jake tersenyum bahagia.
"Kami keluarga muslim sehingga tidak bisa memakan sembarang makanan terutama yang mengandung babi. Sehingga seringkali kami harus memilih restaurant halal." Terang Sinta.
"Yeah. Tapi ku rasa aku menyukainya."
"Kami senang kau menyukainya, Jake!" Sinta mengembangkan senyumnya.
Jake menganggukkan kepalanya.
Mereka pulang setelah mengantar Jake sampai rumahnya.
"Bye Jake! See you!" Teriak Callista.
"See you, Cal!"
Jake masuk ke rumahnya membawa bungkusan makanan yang dipesan ibunya Callista untuknya.
"Mom!"
"Yeah, honey!"
Jake masuk ke dalam rumah menemui ibunya.
"Ibunya Callista membelikan aku makanan. Aku ingin kita sesekali makan ini. Aku ingin mengajak Callista jalan-jalan bersama kita."
"Tapi Callista tidak pernah diijinkan jalan bersama kita."
"Karena kita tidak memilih restaurant halal ketika makan."
"Untuk apa kita memilih restaurant halal? Kita bukan muslim dan restaurant halal tidak banyak."
"Cobalah! Aku sangat menyukainya. Aku ingin sesekali kita makan ini ketika mengajak Callista jalan bersama kita."
"Orang tua Callista tidak akan mengijinkan."
"Mereka akan mengijinkan kalau kita mengatakan akan makan di restaurant halal. Percayalah padaku!"
"Baiklah, aku akan mencoba makanannya."
Jake menyerahkan bungkusan-bungkusan makanan pada ibunya.
Ibunya memindahkan ke piring dan mencicipinya.
"Not bad! Spicy but nice."
"Do you like it mom?"
"I still like swiss meal's honey."
"But do you like it? Can we asking Callista to join us sometimes?"
"Yeah, honey! We will ask her to join us and we will bring her to restaurant halal."
"Thanks, mom!"
__ADS_1