
Mencintai seorang wanita yang fragile. Membutuhkan seni tersendiri. Ibarat lukisan abstrak atau ekspresionis. Mesti dipahami dari perspektive yang melukis. Jika ingin bisa menikmati atau memahaminya.
Pernikahan yang kandas. Karir dan karakter yang hancur. Tentu tidak mudah jika ditambah harus menjalin hubungan serta hidup baru.
Sebagian orang akan menganggap memulai hidup baru adalah kebahagiaan. Sedangkan bagi Sinta memulai hidup baru adalah keharusan tidak hanya untuk bertahan hidup tetapi juga menjaga kewarasan serta kesehatan mentalnya.
"Aku tidak bisa memberikan apa pun padamu. Aku tidak berguna." Mata Sinta mengaca.
"Aku ingin memperisteri, merawat dan menjagamu. Bukan ingin memanfaatkan atau memperalatmu. Aku tidak membutuhkan apa pun darimu. Aku hanya ingin kau bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. Menghabiskan sisa hidupmu bersamaku. Melupakan masa lalumu."
"Aku merasa bersalah pada Dean. Selama kami menikah. Aku tidak mau melayaninya sama sekali."
Dylan menggamit tangan Sinta dan mengeluskannya di pipinya.
"Cinta tidak bisa dipaksakan. Mungkin, kau tidak mencintainya. Kau berusaha untuk bisa mencintainya. Tetapi cinta adalah perasaan. Tidak bisa dipaksakan selain diterima apa adanya."
"Apakah aku akan melakukan hal yang sama padamu? Bagaimana kalau yang salah aku? Mungkinkah aku seorang wanita yang frigid?"
"Jangan berpikir terlalu berat. Apalagi sampai membuatmu menjadi bingung. Cinta akan menemukan jalannya sendiri."
Sinta menatap wajah Dylan dengan bimbang. Di tengah kegamangan dan kehancuran hidupnya. Dylan menawarkan untuk memulai hidup baru.
"Apakah kau tidak merasa dimanfaatkan dibandingkan dicintai?"
"Kalau kau melihat bagaimana bunga dan lebah saling bersimbiosis mutualisme. Atau kau melihat bagaimana matahari menyinari bumi tanpa mendapatkan balasan apapun. Kau akan tahu bahwa segala sesuatu itu bukan hanya melihat pada manfaatnya saja tetapi kemanfaatannya. Jika menikahimu, kau bisa memulai hidup barumu dan membuat hidupmu menjadi baik dan positive. Mengapa kau harus menanyakan mengapa matahari mau menyinari bumi tanpa mendapatkan apapun dari bumi sebagai balasannya?"
"Aku hanya merasa semua tidak adil jika aku tidak membalas kebaikanmu."
__ADS_1
"Aku mencintaimu sehingga yang harus kau balas cintaku. Itu pun kalau memang kau bisa melakukannya tetapi jika tidak. Kita akan memikirkannya nanti. Bukan sekarang.Bagaimana? Kita tidak bisa memaksakan jodoh dan cinta. Kita hanya bisa berusaha."
"Kau sangat pengertian."
"Kadang hidup itu seperti puzzle. Kau harus menyusunnya dan menemukan potongan-potongan bagiannya. Jika potongannya hilang atau tidak ada. Mungkin itu waktunya kau menerima semua yang ada dengan apa adanya. Seperti kandasnya pernikahanmu. Hancurnya karir juga nama baikmu. Ibarat puzzle yang potongan-potongannya tidak bisa kau temukan selain kau berusaha menerimanya seperti apa adanya. Memulai puzzle yang baru bersamaku. Jika semua potongannya bisa ditemukan dan lengkap. Berarti kau memang ditakdirkan untukku. Karena belahan jiwa akan melengkapi belahan jiwanya yang lain. Tetapi jika hubungan kita juga akan berakhir sama. Mungkin kau bukan diciptakan untukku dan mantan suamimu. Kau harus mencari lagi sampai menemukan yang benar-benar cocok dan sesuai denganmu. Walaupun mungkin sangat melelahkan tetapi air mengalir tidak akan berhenti sampai menemukan muaranya. Demikian juga cinta."
Sinta berpikir bahwa dia menikahi seorang filsuf. Menikahi kebijaksanaan.
"Kupikir kau seorang filsuf."
"Setiap orang akan menjadi filsuf ketika dia memang mencintai kebenaran dan fitrah. Sebagaimana setiap orang akan menjadi penjahat atau kriminal saat mereka menyukai keburukan dan kejahatan itu sendiri. Kau adalah apa yang kau cintai atau sukai. Jika yang kau sukai cinta maka kau lah wajah cinta. Jika yang kau cintai adalah kebaikan maka kau lah pengejewantahan kebaikam itu sendiri. Jika kau sangat lekat pada kebencian maka tentu pancaranmu adalah kebencian. Jika kau sangat suka pada keburukan dan kejahatan maka kau lah kejahatan dan keburukan itu sendiri. Setiap orang memilih wajah dan jiwanya sendiri."
Untuk mengisi waktunya selain berkebun. Sinta juga berkuda. Melihat pepohonan dan bunga-bunga yang tumbuh liar. Mendengar suara air mengalir. Membuat pikirannya benar-benar fresh.
Melakukan semuanya sendiri membuatnya bisa berpikir dengan lebih baik. Mulai bisa menerima semua yang menimpa dirinya.
Ibarat sebuah cermin yang retak dan pecah. Dalam setiap retakan dan pecahannya masih bisa digunakan untuk bercermin. Mungkin bentuknya sudah tak utuh tetapi fungsinya sebagai cermin tidak berkurang sama sekali.
Tanaman dimulai dari bibit. Disemai. Disirami. Diberi pupuk. Begitu juga dengan cinta.
Cinta seperti tanaman jika tidak dirawat, disemai, disirami serta diberi pupuk. Tidak akan tumbuh dengan subur.
Cinta adalah kata kerja. Mencintai bukan berarti pasif apalagi apatis. Memahami. Menyayangi. Mengerti. Mempercayai.
Cinta bukan hanya sekedar mendapatkan. Jika hanya mendapatkan tetapi tidak bisa merawat maka tentu makna cinta adalah ego dan menguasai.
Dylan sering memberikan kejutan kecil. Apakah itu membawakan sebuket bunga. Atau memetik bunga dari kebun. Atau membawakan coklat atau kue.
__ADS_1
Menemaninya berkuda. Pegunungan Alpen tampak sangat indah dan dingin. Seperti lukisan pemandangan alam yang terbentang sangat luas.
"Kau masih terlihat bimbang?" Dylan memperlambat laju kudanya.
"Menurutmu, aku tidak harus bimbang menimbang semua kondisi yang menimpaku?"
"Kau merasa pernikahan kita tidak sah?"
Sinta menganggukkan kepalanya.
"Aku belum bercerai dengan Dean dan menikah lagi denganmu. Menurutmu bagaimana?"
"Kenyataannya kalian selama menjadi suami isteri tidak pernah melakukan hubungan intim. Aku juga sudah memberikan surat kematianmu pada Dean. Secara implisit menegaskan bahwa pernikahan kalian berakhir dengan adanya surat kematian tersebut. Secara analog surat kematian bisa disamakan dengan surat cerai."
"Tetapi aku memalsukan kematianku? Aku tidak benar-benar mati. Aku membohongi suamiku."
"Tidak ada orang yang bermaksud berbohong. Tetapi keadaannya benar-benar sangat sulit. Aku tidak bisa memulihkan nama baik dan karirmu. Kalau kau tetap bertahan. Kau akan sakit mental. Apa kau kuat menghadapi penilaian orang terhadapmu? Bisa kah kau mengatasi semua tekanan yang ada?"
"Tidak seharusnya kau overprotective terhadapku."
"Aku harus! Karena aku mempedulikan dan juga menyayangimu. Aku tidak ingin sesuatu yang sangat buruk menimpamu. Jika kau belum memahami keputusanku. Aku akan menunggumu sampai kau menerimanya."
"Aku bisa menerimanya secara logika tetapi perasaan, hukum dan agama?"
"Kadang kau harus memahami sesuatu sesuai dengan realitasnya bukan framing yang membuat keadaan tidak menjadi baik apalagi bisa diatasi melainkan sebaliknya. Memaksakan pemikiranmu. Kau menghancurkan dirimu sendiri. Kenyataannya, hubungan pernikahanmu dengan Dean memang sudah berakhir bahkan tidak pernah dimulai."
"Aku tahu kau benar secara logika tetapi mengertilah masalah persepsi dan perasaan."
__ADS_1
"Aku mengerti. Karena kau bilang aku seorang filsuf kan?"
Sinta tertawa,"Yeah, karena kau menyukai kebenaran dalam arti sebenarnya. Seperti yang kau katakan. Pernikahanku dengan Dean sudah berakhir dan mungkin memang tidak pernah dimulai sejak awal. Itu kenyataannya."