
Dean merasa kesulitan mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologisnya pada Sinta.
Mereka kerap bertengkar masalah hal ini.
"Apa maksudmu playing hard to get? Ayolah, kita bercinta. Aku sudah tidak tahan. Kau jangan menyiksaku."
"Kalau kau berani mendekat, akan kutinju!"
"Apa yang membuatmu berubah total? Aku memilihmu karena kau jago memuaskanku di ranjang. Aku lelaki, tidak bisa hidup tanpa ****."
Dean merangsek mendekati Sinta. Nafasnya memburu. Gairahnya sudah memuncak dan nyaris luber. Dia memajukan bibirnya dan merentangkan tangannya.
"Dug!"
Sinta meninjunya sekuat tenaga.
"Kau sudah bosan hidup? Kalau kau berani mendekat satu inchi saja. Akan kuhajar dan kubuat kau menyesal mendekatiku."
Dean tidak menghiraukan perkataan Sinta. Menubruknya dan merebahkannya di atas tempat tidur.
"Kau mau apa!"
Kedua tangan Sinta diletakkan di atas kepalanya. Dia merobek baju Sinta. Berahinya semakin memuncak melihat payudara Sinta yang bulat dan padat tertutup bra berwarna nude.
Sinta melawan. Dia melipat kakinya dan menendang sekuat tenaga ke arah kejantanan Dean yang sudah menegang keras.
"Aaawwwggghhhh!"
Jerit Dean dan seketika melepaskan tangannya dan menjauhkan tubuhnya dari tubuh Sinta.
Sinta segera menutup kedua dadanya dengan kedua tangannya. Menyambar mukena, memakainya dan menutup tubuhnya dengannya.
"Rasakan!"
Sinta masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam rumah. Mengambil air seember dan mengguyurkannya ke arah Dean.
"Rasakan! Siapa suruh mesum! Kalau kau berani macam-macam. Aku akan membuatmu menyesal!"
"Aku bukan mesum! Aku suamimuuu…."
Sinta teringat ilmu bela diri yang dia pelajari. Dia memasang kuda-kuda.
"Kau mau apa?" Dean bertanya dengan tubuh basah kuyup karena disiram air oleh Sinta.
"Kalau ada penjahat menyerang maka aku akan gunakan ilmu menangkis serangan, menendag dan memukul!"
"Aku kau anggap penjahat?" Keluh Dean, "Kau makan apa sih jadi berubah total? Menyesal aku mengambilmu dari madam Juwita! Seharusnya kupilih Sherly saja! Tapi kalau kau tidak kerasukan setan! Kau yang terbaik."
Dean bangkit dari posisinya yang terlentang dan basah kuyup.
Sinta waspada bergerak memasang kuda-kuda dan membuat gerakan menyerang dan menendang.
__ADS_1
"Ciaaattttt!!!" Teriak Sinta lantang dan Dean kembali terpental.
"Kalau begini caranya aku bisa bonyok!"
"Kalau kau berani macam-macam rasakan saja bogem mentahku!"
"Aku malas melawanmu karena kau wanita seandainya kau bukan wanita?"
"Mengapa kau tidak coba? Tidak usah banyak bicara!"
"Apa kata dunia? Seorang laki-laki menghajar wanita? Dimana muka mau ditaruh? Harga diri? Lelaki sejati tak akan memukul wanita."
Dean kembali bangkit. Sinta kembali waspada.
"Kau juga berhak melawan kalau aku menyerangmu. Kita equal!"
"Equal apanya? Kau itu wanita!"
Dean mengambil handuk dan mengeringkan tubuh juga wajahnya. Dia membuka pakaiannya.
"Kau mau apa?" Sinta serta merta menutup matanya.
Dean terkekeh.
"Baru begitu saja sudah keok!"
"Kau jangan macam-macam."
"Jangan mendekat kalau kau bosan hidup!"
"Kau mau lihat aku telanjang bulat?"
"Jangan kurang ajar! Kau tidak kapok kuhajar?"
Dean merangsek maju. Dia merasa sudah memegang karu truf Sinta. Tidak mungkin gadis itu membuka matanya kalau melihatnya saat ini.
Tiba-tiba dengan mata tertutup, Sinta menyundul perut Dean yang ramping dan berbentuk six pax dengan kepalanya dalam keadaan mata tertutup.
Dean jatuh dengan keadaan nyaris telanjang.
"Kau pikir aku bola? Kau sundul? Apa madam Juwita sengaja mengerjaiku karena aku tidak membayar penuh dan memaksanya memberikanku diskon besar-besaran?"
Dean tercenung memikirkan perubahan Sinta yang sangat drastis. Seratus delapan puluh derajat.
"Apakah madam Juwita meminta uang tambahan dengan cara seperti ini?"Dean tidak habis pikir.
"Pakai bajumu! Atau kalau kau mau ganti baju, di dalam kamar mandi kan bisa?!"
"Aku tidak terbiasa ganti baju di kamar mandi dan ini kamarku. Aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan. Terpenting. Aku adalah suamimu."
"Hentikan semua omong kosongmu. Keluar dari sini, selesai berpakaian."
__ADS_1
"Seandainya kau laki-laki sudah kubalas!"
"Tidak usah banyak omong! Lawan saja aku!"
"Baiklah! Kalau kau memaksa! Kalau kau kalah, kau harus mengikuti keinginanku."
"Kalau kau kalah. Kau harus ikuti keinginanku."
"Sepakat."
Dean mengganti pakaiannya.
"Sudah kau boleh buka mata! Aku sudah mengganti pakaianku. Aku tidak mau curang menyerangmu dalam keadaan menutup mata."
Mereka bersiap untuk saling menyerang.
"Kuperingatkan kau! Ini akan sangat sakit. Aku tidak akan mengalah padamu!"
"Baik! Silahkan."
Dean melayangkan tinjunya. Sinta menggeser bahu dan kepalanya menghindar dari serangan Dean.
Tubuh Dean terdorong maju. Kehilangan keseimbangan. Dengan gesit Sinta memutar tubuhnya.
Dean membalikkan tubuhnya dan Sinta sudah menyiapkan ancang-ancang menendang ke arah perut Dean.
Dug!
Dean tersungkur jatuh terpeleset dengan sisa air bekas siraman Sinta yang menggenangi lantai kamarnya.
"Bagaimana rasanya? Sangat sakit? Eh?"
"Hatiku masih ragu melawanmu. Bagaimana pun kau seorang wanita!"
"Hentikan omong kosongmu. Keluar dari kamar kalau tidak imgin kuhajar!"
Sinta melempar bantal, guling, selimut dan pakaian Dean.
"Kau tahu dimana tempatmu! Ganti pakaian di kamar mandi luar. Jangan sekali pun berpikir memasuki kamar ini kecuali kau bosan hidup dan ingin mati!"
"Aki tidur di luar lagi? Kau seperti penjajah. Belanda minta tanah. Ini kamarku! Harusnya kau yang tidur di luar bukan aku!"
"Jangan banyak bicara atau kau ingin kutendang keluar?"
"Aku keluar! Istri durhaka!"
"Keluar!"
Dean dengan wajah bersungut keluar, memungut bantal, guling, selimut dan pakaiannya.
Sinta membanting pintu kamar.
__ADS_1
Bam!