Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Get Together


__ADS_3

Kolam renang dipenuhi anak-anak, Dylan dan Haliza. Suara tawa canda memenuhi kolam.


Suara gemericik air memenuhi kolam. Sesekali suara teriakan ketika memasuki kolam.


“Yeeeeyyyy....”


“Hulaaaa....”


“Wait for meee....”


Byyuuurrrrr


Berenang membuat mereka menjadi cepat lapar. Pengurus rumah tangga menyediakan cemilan di pinggir kolam renang.


Diletakkan di meja bundar yang menyatu dengan payung besar di atasnya.


Aneka roti, donat, snack dan minuman di dalam cooler box. Satu box berisi minuman dingin dengan es memenuhi box tersebut sedangkan yang satu berisi minuman dengan suhu ruang.


Dylan dan Haliza yang paling duluan keluar kolam renang setelah satu jam lamanya berenang.


Mereka membilas tubuh mereka di kamar bilas yang terdapat dekat kolam berenang.


Duduk sambil melihat anak-anak berenang.


“I miss you.” Ujar Dylan tanpa tedeng aling-aling.


Haliza tertawa, “Really?”


“Do you miss me?”


Haliza menggelengkan kepalanya.


“You don’t lie to me. Don’t you?


“No, I don’t. I am not miss anyone. I enjoy my life with my kids.”


“Really?”


“Yeah. Aku terobsesi dengan kesetiaan. Ahkam membuatku trauma. Aku berlari padamu. Karena tidak ingin mengalami pengkhianatan lagi. Tapi selain setia. Apakah kita satu frekuensi atau ada sesuatu yang menghubungkan kita seperti perasaan cinta? Kau mencintai Sinta. Aku mencintai Ahkam sebelum dia mengkhianatiku.”


“Yeah. Cinta memang misteri. Aku merindukan saat-saat kau mengejar ku.”


Kontan Haliza tertawa, “Yeah, konyol ya?”


“Yeah. Tapi aku merasa tersanjung.”


“Bukannya kau sebal dan risih?”


“Awalnya. Siapa lelaki yang mau dikejar? Tidak ada. Kalau pun ada mungkin mereka terlalu pemalu untuk mengejar wanita. Tetap saja mereka tidak suka dikejar. Seandainya mereka bisa mengejar wanita yang mereka suka. Mereka pasti memilih untuk mengejar.”


“Yeah. Sudahlah tidak usah dibesar-besarkan membuatku malu.”


“Yeah.” Sahut Dylan mengambil sebuah sandwich berisi daging asap, telur, selada, timun dan tomat.” Menuangkan saus sambal dan mayonaise ke atasnya.


Haliza memilih roti manis isi sosis. Mengambil minuman jus buah kotak dingin. Rasa apel.


Dylan sendiri lebih memilih soft drink kaleng dingin. Mengunyah sandwich nya. Sambil memandangi anak-anak yang sedang asyik berenang. Mereka sedang bermain polo air.


“Sebelum aku bertemu Sinta. Aku seorang play boy. Gemar bergonta ganti pasangan.”


“Benarkah?”


“Yeah. Kau tahu bagaimana kehidupan single. Aku tidak berpikir sama sekali untuk menikah.”


“Apa yang membuatmu berubah?”


“Aku mengenal Sinta. Awalnya, aku hanya ingin melindunginya dari apa pun yang bisa mencelakainya.”


“Lalu?”


“Aku baru sadar bahwa dia wanita yang satu-satunya aku cintai.”


“Benarkah? Namun takdir memisahkan. So sad.”


“Setelah kami berpisah. Tidak berpikir untuk mencari penggantinya. Kupikir memang dia cinta sejatiku.”

__ADS_1


“Yeah.”


“Awalnya, aku merasa terganggu dengan sikapmu padaku.”


Haliza tergelak, “Kau terganggu sedangkan aku terobsesi. Aku merasa sangat frustasi ketika itu.”


“ Aku tidak suka dikejar wanita. Apalagi aku juga tidak pernah berpikir untuk mencari pengganti Sinta.”


“Yeah. Sinta nyaris sempurna sebagai seorang wanita. Keibuan, cerdas, lembut, cantik, setia. Ada lagi yang belum kusebut?”


“Yeah. She almost perfect as a woman.”


“Yeah.”


“Tapi aku mulai berpikir untuk mencari penggantinya. Melihat anak-anak menerimamu dengan baik.”


“Yeah. You are marriying me for your kids. Not yourself.”


“Tapi saat kau mengembalikan cincin. Aku mulai berpikir.”


“Berpikir apa?”


“I don’t know. Maybe something is missing here.”


“Like what?”


“Maybe Sinta is not my last love.”


“What?”


“I start thinking of you.”


“I don’t believe you.”


“Not for my kids but myself.”


“You are just feel sorry for me.”


“Nope! I know what I feel. I am a man. I feel something different for you.”


“Yeah. I like everything about you.”


“You are just trying to influence me.”


“No! I don’t care if you don’t feel the same.”


“Don’t make me confuse. I like your loyalty. I wish Ahkam having that. But it doesn’t mean that I love you.”


“I think, I don’t love Sinta anymore. But, I still adore and want to protect her. And its a different kind.”


“Come on! She is your ex. You can not doing nothing with her. Mostly, she have a husband.”


Dylan menatap wajah Haliza dalam.


“Time will tell.”


“Yeah, time will tell. There is something I want to say.”


“What is it?”


“I think I can not get over Ahkam. Although he betrayed me. But my feeling still the same. I know I was a fool. But, angry is different with you are stop loving someone.”


“Yeah! I can see that.”


“What do you mean?”


“The angered. Frustated. Desperated. You look like someone whom being hurt than stop loving.”


“Love can be so stupid.”


“Yeah.”


“Don’t jump to the conclusion  too quickly.  Maybe you just feeling rejected.”


“Time will tell. I don’t say that I don’t have any feeling for Sinta. I loved her. But now, I love you. My feeling has change. Since, I know you. And the more I getting to know you. I feel that my feeling deeper.”

__ADS_1


“Maybe I hurt your pride.”


“Yeah. I thought the same at first. But, I know what I feel.”


Haliza membuka toples snack. Mengambil kacang mete.


“I think everything is confusing us.”


“Yeah, I agree. Just live everything as it is.”


Sinta dan Dean bergabung ke kolam renang. Sinta duduk di samping Haliza sedangkan Dean disamping Dylan.


“You look mess up.” Sahut Dylan cemas.


“She less than six month pregnancy. What do you expect? ” Ujar Dean.


Sinta mengambil jus jeruk dingin dan meminumnya. Membuka toples berisi coklat berisi kacang almond  mix fruit.


“Dean, Dylan hanya bertanya. Kau tidak perlu seperti api yang disiram bensin.” Tegur Sinta pada suaminya.


“Aku tidak suka melihat orang yang sok perhatian pada istriku!” Ujarnya ketus.


“Jangan kekanak-kanakan. Siapa saja bisa menanyakan keadaanku.”


“Yeah!” Ujar Haliza, “Wajah Sinta terlihat pucat. Wajar saja kalau keliatan mengkhawatirkan.”


“Aku hamil muda. Tidak bisa menahan mual ku. Kerap memuntahkan makananku.”


“Wajar kalau kau kelihatan pucat.” Ujar Haliza prihatin.


Dylan memilih menutup mulutnya. Enggan membuat Dean kesal.


“Cobalah untuk makan sedikit-sedikit.” Saran Haliza.


“Yeah, akan kucoba.”


“Makan sesuatu yang lembut dan berkuah. Seperti bubur dan sop atau soto. Jus buah.Sop buah."


“Yeah, akan kucoba.”


“Kurangi memakan sesuatu yang asam. Memang bisa mengurangi rasa mual tapi juga bisa memancing asam lambung menjadi naik. Makan sesuatu yang manis sedikit demi sedikit.”


“Yeah. Make sense.” Ujar Sinta, “Akan kucoba.” Ujar Haliza.


“Setelah empat bulan kau akan membaik.”


“Yeah.” Ujar Sinta.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2