Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Syarifah's Birthday


__ADS_3

Ulang tahun Syarifah dilakukan dengan sangat berbeda tahun ini. 


"Tahun depan Syarifah akan berulang tahun ke tujuh belas tahun. Kemungkinan akan dirayakan dengan meriah. Tahun ini momen paling tepat untuk melangsungkan ulang tahun Syarifah secara privat. Semoga bisa menjadi kenang-kenangan." Ujar Haliza ketika mereka sedang sarapan bersama di depan tenda. Dekat bekas api unggun yang sudah padam.


"Ulang tahun Syarifah kali ini sangat seru." Ujar Callista disetujui yang lain.


"Sangat berbeda! Ide yang sangat bagus."


Bangun tidur setelah sholat subuh berjamaah. Mereka langsung hiking. 


Sesampainya mereka di tenda kembali. Mereka saling bantu menyiapkan sarapan pagi.


Callista membuat mie instant menggunakan kompor yang dibawa ayahnya.


Syarifah membuat telur dadar dengan menggunakan kompor yang dibawa ibunya.


Anak-anak lelaki mengupas buah dan memotong serta menyiapkannya di piring.


"Hati-hati mengupas buah." Seru Haliza, "Jangan sampai tangan kalian terpotong atau teriris."


Dylan sendiri mencari kayu bakar yang akan digunakan untuk api unggun.


Haliza sendiri memasak nasi goreng dengan irisan bawang merah dan putih yang dibawanya. Irisan bakso dan sosis.  Menggunakan kompor yang dibawa Azizah.


Azizah sendiri memotong-motong kue yang dibawakan ibunya untuk mereka semua. Sekotak kue bolu coklat.


Dia juga membantu Haliza memasak nasi dengan menggunakan panci untuk meliwet dan mengukus agar lebih matang dan tanak. Menggoreng nugget.


Tepat pukul delapan tiga puluh mereka semua bersiap untuk sarapan.


Mie instant, nugget, nasi goreng bakso dan sosis. Potongan buah semangka dan melon. Bolu coklat. Nasi putih di dalam panci kukusan.


"Sarapan paginya meriah sekali." Sahut Callista menyendok nasi goreng ke piring. Mengambil sepotong nugget dan mie instant buatannya sendiri.


"Terima kasih Callista. Buat semuanya yang sudah membantu."Ujar Haliza.


"Siapa yang membuat nasi goreng?" Tanya Dylan.


"Kenapa? Keasinan ya?" Tanya Haliza.


"Gak! Enak nasi gorengnya."


"Aku yang bikin dibantu anak-anak."


"Hmm, boleh juga."

__ADS_1


Wajah Haliza memerah.


"Aku memuji nasi gorengmu. Kau tidak salah paham kan?" Cetus Dylan terus terang. Dia tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya. Tidak ingin memberikan harapan apa pun pada Haliza. Apalagi konon, wanita sangat mudah baper dan salah tangkap.


Hidupnya sangat sempurna bersama anak-anaknya dan kenangannya bersama Sinta.


Mana ada pasangan yang bisa menerima pasangannya yang tidak bisa melupakan masa lalunya? Dia tidak bisa dan ingin melupakan masa lalunya. Sinta akan selalu ada di dalam hati dan ingatannya sampai kapan pun.


Dia tidak ingin foto-foto Sinta lenyap di dalam kamar dan rumah mereka. Dia dan anak-anaknya tidak bisa bebas membicarakan kenangan saat mereka masih bersama. Tidak ingin kebiasaan mereka sekeluarga memutar video-video lama dan melihat-lihat album foto kenangan mereka sekeluarga hilang.


Dia dan Sinta bukan sengaja berpisah. Tidak ada yang saling mengkhianati cinta yang mereka miliki satu sama lain. Terengut karena goresan takdir. Bukan keinginan mereka berdua.


Album foto, video dan kenangan. Hanya itu yang dimilikinya untuk mengenang Sinta. 


Melihatnya menduda. Hidup hanya bersama anak-anaknya. Membuat sebagian wanita tergerak ingin mendekatinya. Status lajang atau janda bahkan menikah tidak menghalangi mereka untuk mengejarnya.


Mereka kerap salah paham dengan sikap ramahnya. Membuatnya lebih berhati-hati dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis.


"Mengapa kau sangat dingin dengan lawan jenismu?" Tanya Haliza ketika mereka berdua tengah membereskan peralatan makan selesai makan siang.


Mereka membuat ayam panggang yang sangat lezat dimakan dengan nasi putih hangat.


Mereka juga memanggang ikan yang mereka tangkap sendiri menggunakan jaring. Ketika mereka bermain di pantai.


"Tapi istrimu saat ini tidak bisa bersama kalian. Mungkin tidak akan pernah kembali lagi. Aku tahu sakitnya perpisahan. Tetapi kita harus melanjutkan hidup kita. Apalagi jika kita merasa telah menemukan orang yang tepat."


"Tidak ada orang yang tepat dalam hidupku!" Tukas Dylan keras kepala.


"Tidak mungkin! Kau yang tidak mau membuka hatimu!" Balas Haliza.


"Apa urusannya denganmu?"


"Tidak ada! Aku hanya kasihan melihatmu dan anak-anakmu."


"Tidak perlu mengasihani kami! Kami baik-baik saja!"


"Oh iya? Aku tidak melihatnya begitu. Callista membutuhkan saat-saat bersama ibunya. Berbagi cerita. Meluangkan waktu bersama. Membagi seluruh emosinya."


"Aku bisa menjadi ayah sekaligus ibunya. Kau tidak usah khawatir. Terima kasih atas perhatianmu!"


"Apa alasanmu tidak ingin menikah lagi?" Tanya Haliza.


"Aku tidak ingin membuat masalah baru."


"Masalah apa?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa melupakan istriku. Semua flat kami dipenuhi kenangan tentangnya. Jika aku menikah lagi. Bisa jadi semua kenangan itu menjadi tidak ada. Kami juga tidak bisa bebas mengenangnya. Saat-saat kami bersama dan berbahagia."


"Kau hidup untuk masa lalu bukan saat ini atau masa depanmu."


"Semua masa dalam hidupku hanyalah mengenai istri dan anak-anakku."


Saat yang dinantikan tiba. Ayah Syarifah datang bersama istri mudanya, Hana. Yang terlihat semakin cantik dan muda.


Haliza membuang wajahnya. Berusaha menutupi kepedihan dan kesedihan hatinya. Pernikahannya hancur dan suaminya direbut wanita muda. Hampir sebaya anaknya. Tentu membuatnya terluka. Tidak satu pun wanita memimpikan prahara dalam rumah tangganya tapi dia harus berlapang dada. Mereka tidak mungkin lagi bersama. Hanya akan menebar luka. Lebih baik mereka menjaga hubungan baik demi anak-anak mereka.


Syarifah terlihat sangat bahagia di hari ulang tahunnya. Berada di antara keluarga dan sahabat-sahabat terdekatnya.


Ayahnya membawakannya sebuah kue ulang tahun yang sangat enak. Ibu sambungnya juga membelikannya aneka makanan dan juga minuman untuk mereka semua.


Haliza sendiri juga sudah menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Syarifah. Sesuatu yang sangat diidamkannya. Handphone merk terbaru.


"Oh, Bu! Terima kasih!"


Ayahnya mengangsurkan sebuah kotak kecil berisi kunci mobil.


"Yah! Terima kasih!" Sahut Syarifah dengan wajah berbinar. 


"Jangan mengemudikannya kalau belum bisa menyetir dan memiliki SIM."


"Tentu yah! Jangan khawatir." Sahut Syarifah mencium kedua pipi ayahnya dan memeluknya.


"Hana! Terima kasih buat makanan dan minumannya." Sahut Syarifah. Usia mereka hanya terpaut beberapa tahun. Hana lebih tua beberapa tahun daripada Syarifah. Mereka lebih mirip seperti adik dan kakak. Dibandingkan anak dan ibu sambung. Hana tidak keberatan Syarifah memanggil namanya tanpa embel-embel lain.


Hati Haliza menjadi pilu. Melihat kemesraan mantan suaminya dengan istri mudanya.


Niatnya sendiri mengejar cinta Dylan pupus. Mendengar pengakuan Dylan bahwa dirinya tidak bisa melupakan istrinya. Hampir tidak ada wanita yang bisa menggantikan istrinya. Tidak dianggap kehadirannya. Hanya menjadi bayang-bayang istrinya.


Tanpa terasa air matanya meleleh. Dia merasa sebagai wanita yang paling malang di dunia terutama untuk urusan cinta.


"Bu! Kau menangis?" Tanya Syarifah.


"Aku terharu sayang." Haliza berusaha menutupi kegundahan dan kesedihan hatinya.


Dylan menggenggam tangan Haliza. Memeluk bahunya mesra.


Haliza menatap wajah Dylan di antara nyala api unggun dengan perasaan berterima kasih. Haliza menyukai Dylan bukan karena pria yang paling tampan atau mapan. Tetapi karena kelembutan, sifat penyayang dan sensitifnya.


Haliza berbisik lembut di telinga Dylan, "Terima kasih atas sikap manismu. Kau menyelamatkan mukaku di depan mantan suamiku."


"Never mind. I understand."

__ADS_1


__ADS_2