
Mirna, ibunya Gwendoline, menatap pilu pada putrinya yang terbaring koma.
Enam belas jam operasi tidak berhasil mengembalikan kondisi putrinya seperti semula.
Dokter berkata dengan hati-hati kepada Mirna.
"Maafkan kami, sudah berusaha sekuat tenaga kami tetapi putri ibu koma. Kami terpaksa memasang ventilator dan biventricular pacemaker."
"Dok, jangan dihentikan dulu alat-alat bantunya. Saya paham, putri saya tidak memiliki harapan hidup bahkan mungkin sudah mati secara hukum maupun medis tapi saya belum siap menerimanya dan masih mengharapkan keajaiban. Saya akan mendaftarkan putri saya sebagai pasien donor organ. Saya akan tanda tangani inform consent, surat pernyataan tertulis."
"Baik,bu. Ibu urus surat-menyuratnya sehingga bisa mendapatkan bantuan dari BPJS. Bagaimana?"
"Baik, dok! Terima kasih. Hanya Tuhan yang dapat membalas kebaikan dokter."
"Saya pamit dulu ya, bu. Semoga putri ibu cepat sembuh."
"Terima kasih, dok!"
Sepeninggal dokter, Mirna kembali menangisi putrinya.
"Cepatlah bangun sayang! Ibu sangat merindukanmu. Tidak ada yang menemani dan membantu ibu. Ayahmu sudah tiada. Hanya kau milik ibu, satu-satunya." Mirna melap air matanya dengan menggunakan tissue.
"Sayang, jangan kau jemput dulu putri kita. Aku sendirian. Ya Allah, berikan kesembuhan pada putriku. Kembalikan keadaannya seperti sedia kala."
"Kau masih ingat ketika kau lahir? Ayahmu begitu gembira dan begitu pun aku. Kau lahir sangat mungil, 2,5 kg. Tubuhmu merah dan suara tangismu melengking. Kau hadiah terindah bagiku dan ayahmu."
Putriku permata hatiku
Selayang pandang membuatku
Tak jemu memandang
Darahku menetes mengalir melalui tubuh mungilmu
Kaulah penerus darah keturunan keluargaku
Tanpa kehadiranmu
Putuslah tali keturunanku
Kau karunia Ilahi
Hadiah semesta tertinggi
Tumpukan harta tiada nilai tanpa kehadiranmu
__ADS_1
Kelezatan hidup tiada arti tanpa kelahiranmu
Kau membuat seorang anak manusia merasa memiliki makna dan arti dalam kehidupannya
Aku bukan siapa-siapa tanpa kehadiranmu
Aku tak berarti tanpa kau menemani di sisiku
Wajah Mirna sangat sendu. Mendung menggelayut di raut wajahnya di awal empat puluh tahun.
Semenjak suaminya meninggal. Gwendoline, putri semata wayangnya koma. Dia hidup sebatang kara.
Para tetangga, sanak saudara dan handai tolan merasa pilu melihat keadaannya.
Mereka menawarinya untuk tinggal bersama mereka tetapi ditolaknya. Dia masih mampu menghidupi dirinya walaupun dengan sangat sederhana, hidup di rumah kontrakan.
Berdagang makanan kecil-kecilan di depan rumah kontrakan petaknya. Berjualan indomie, teh dan kopi serta jajanan anak-anak serta titipan kue para tetangganya.
Rumah kontrakan petaknya yang terletak di antara pabrik dan kantor membuat dagangannya laris manis.
Setiap hari selesai berdagang. Menyempatkan diri melihat keadaan putrinya. Mengajaknya mengobrol. Mencurahkan segala isi hati, kegundahan serta kesedihannya melihat keadaan putri semata wayangnya tersebut.
Wajah putrinya yang menuruni paras sang ayah sering membuatnya merasa rindu dengan almarhum suaminya.
Tuhan, Kau Maha Pengasih dan Penyayang….
Di tengah gundah gulana dan nestapa
Ku teringat akan kuasa-Mu
Rahma-Mu
Rahim-Mu
Kau menggariskan sesuatu
Tentu bukan tanpa makna
Tanpa maksud dan tujuan
Tanpa hikmah
Hamba yang papa
Tak mampu menangkap makna
__ADS_1
Goresan pena takdir-Mu
Kau gurat jiwa hamba
Dengan derita
Berbalur duka
Berselimut nestapa
Menguji kesabaran hamba
Memeriksa keikhlasan hamba
Akan ketetapan-Mu
Keputusan-Mu
Masihkah hamba berhusnudzon kepadamu ketika kau timpakan pada hamba ujian, cobaan, musibah, kesempitan dan semua hal yang tidak hamba sukai
Kau bersabda, sesungguhnya bisa saja kau menyukai sesuatu sedangkan hal itu buruk bagimu dan kau tidak menyukai sesuatu padahal hal itu baik bagimu
Janganlah kau bersedih terhadap apa yang luput darimu
Dan jangan terlalu bergembira terhadap apa yang kau peroleh
Dunia adalah hanyalah tipu daya dan senda gurau
Akhiratlah tempat kita kembali
Tidak ada yang lebih baik daripada kampung akhirat
Tempat dimana semua dosa dan kesalahan dihisab dengan teliti tanpa ada satu menusia pun bisa mengingkarinya
Karena semua anggota tubuh mereka akan bersaksi….
Semenjak, Gwendoline koma. Tidak ada yang membantunya di dapur sepulang sekolah atau liburan sekolah.
Gwendoline adalah anak yang sangat berbakti. Rajin belajar dan membantu ibunya.
Semenjak ayahnya meninggal. Semakin menyayangi ibunya. Karena mereka hanya berdua.
Sepulang sekolah, membantu berdagang. Selalu rajin belajar apakah sambil mengurusi dagangan atau sesudahnaya setelah selesai bekerja membantu ibunya berdagang.
Semenjak kecelakaan yang membuat Gwen koma. Mirna hidup seorang diri. Sebatang kara.
__ADS_1