
Siapa pun yang mengenal Emier akan mengatakan bahwa dia adalah anak yang sangat beruntung.
Terlahir dari keluarga terpandang dan kaya raya. Pewaris tunggal harta kekayaan kedua orang tuanya.
Yang tidak diketahui banyak orang adalah ibunya selalu berusaha menghindarinya dan kerap bersikap dingin.
Ayahnya tidak ingin memiliki anak lagi karena tidak ingin bernasib seperti dirinya. Diabaikan dan dibenci sang ibu yang notabene ibu kandungnya sendiri.
Dia tidak tahu sejak usia berapa mulai menyadari pertengkaran kedua orang tuanya yang melibatkan dirinya.
Ayahnya kerap membujuk ibunya agar mau memperhatikan dan menyayanginya.
"Aku benar-benar tidak percaya melihatmu seperti ini! Dia darah dagingmu sendiri. Mengapa kau mengabaikan dan bersikap acuh padanya?"
"Kau pikirkan sendiri bagaimana ketiga buah hatiku. Tanpa aku di sisi mereka." Ibunya mulai menangis.
"Aku tidak bisa mempercayaimu dan Dylan. Aku tidak ingin menanggung resiko lebih besar. Seandainya, kau menghilang lagi. Aku tidak akan dapat menemukanmu. Kau dan Dylan tidak bisa dipercaya sama sekali."
"Aku akan merawat Emier jika kau mengijinkan aku kembali pada Dylan."
"Aku tidak bisa. Jangan memaksaku!"
"Aku juga tidak bisa memberikan kasih sayangku sebagai ibu. Jika hati dan perasaanku kerap terluka dan sedih."
"Seandainya, kau dan Dylan tidak mengkhianatiku. Tentu semua tidak akan menjadi serumit ini. Aku menangisi kematian palsumu setiap hari. Menyesali apa yang sudah kulakukan padamu. Tanpa sedikit pun aku mencurigai kalian berdua sudah mengkhianati dan membohongiku."
"Aku dan Dylan tidak pernah berniat membohongi apalagi menipumu."
"Kau selalu membelanya!"
"Memang itu yang terjadi! Dia hanya memikirkan keselamatan, keamanan dan kenyamananku."
"Memang apa yang kulakukan padamu sampai saat ini?"
"Kau tidak bisa melindungiku saat di penjara ada orang-orang yang ingin membunuhku."
Dean terdiam, "Aku tidak mengerti tentang hal itu. Aku berusaha mengeluarkanmu dari penjara."
"Aku tidak bermaksud membandingkanmu dengannya. Dia juga tidak pernah berniat apalagi merencanakan untuk merebutku darimu. Keadaannya benar-benar sangat sulit."
"Aku tidak ingin membicarakan hal ini. Aku hanya ingin kau menjalankan kewajiban sebagai isteri dan ibu yang baik."
"Aku tidak bisa meneruskan semua ini. Kau tidak tahu bagaimana luka hati seorang ibu yang dipisahkan dari anak-anaknya."
"Kau membalaskannya pada Emier? Apa salahnya? Dia juga darah dagingmu."
"Aku tidak mau membahas ini. Aku harus pergi. Ada rapat yang mesti kuurus."
Dean, "Peluk dan ciumlah anakmu sebelum kau pergi meninggalkannya."
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa. Jangan paksa aku!"
Dean hanya terdiam. Tidak ada gunanya memaksa Sinta. Hanya menimbulkan ketegangan di antara mereka berdua.
"Baba!" Panggil Emier.
"Ya, sayang…."
"Mana bunda?"
"Baru saja pergi. Kenapa sayang?"
"Aku ingin memberikan ini untuk bunda."
"Apa itu?"
Emier menggambar seorang wanita mirip istrinya. Emier memiliki banyak kelebihan tetapi semua itu tidak membuat Sinta terkesan apalagi mengubah sikapnya.
"Kau yang menggambar ini?"Tanya Dean sambil mengusap rambut anaknya.
"Iya. Mirip gak sama bunda?"
"Mirip sekali sayang."
Yang membuat hati Dean semakin sedih dan terluka. Selain cerdas dan pintar. Emier juga sangat manis dan penurut. Serta tidak rewel.
Dean memeluk putranya dan mencium pucuk kepalanya, "Maafkan, Baba!" Bulir bening mengalir di kedua pipinya.
"Baba, mengapa menangis?" Tanya Emier menatap ayahnya dengan mata beningnya.
"Baba melakukan kesalahan. Dan kau yang harus menanggungnya."
Emier menghapus air mata ayahnya, "Baba, jangan menangis!"
Dean memeluk Emier semakin erat. Walaupun ibunya bersikap sangat dingin. Ayahnya bersikap sebaliknya. Sangat memperhatikan dan bersikap sangat hangat.
Ayahnya mengurusi dan menemaninya tidur. Membacakannya cerita sebelum tidur. Menyelimutinya ketika terlelap serta mematikan lampu kamarnya.
"Baba." Ujar Emier suatu kali ketika ayahnya menemaninya sebelum tidur.
"Aku ingin ditemani tidur oleh Bunda."
"Kau kan tahu Bundamu sangat sibuk." Dean mengusap dan memeluk putranya dengan mesra.
"Aku ingin bunda memeluk dan menciumku seperti Baba." Sahutnya polos.
"Baba dan bunda sama saja. Kalau bunda sibuk dan tidak bisa memeluk serta menciummu. Biarkan baba yang melakukannya untukmu. Kau tidak apa-apa kan, sayang?"
Emier menganggukkan kepalanya. Emier terbiasa tumbuh dengan ayah dan pengasuhnya. Tanpa belaian kasih sayang ibunya. Walaupun ibu kandungnya masih ada dan berada di sekitarnya.
__ADS_1
Pengasuhnya seringkali merasa iba. Tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak memahami apa yang terjadi pada kedua majikannya. Yang memiliki sikap sangat berbeda kepada buah hati mereka.
Emier melihat ibunya yang sedang sibuk menekuni pekerjaannya di meja kerjanya. Ibunya memiliki ruang kerja sendiri yang menyerupai tempat yang terpisah dari seluruh bagian rumah. Ruang mana yang paling sering didiami sang ibu.
Emier memberanikan diri masuk membawa kertas yang berisi gambar ibunya. Yang dibuatnya sendiri.
"Bunda…" Panggilnya.
"Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang sibuk? Mana babamu dan nannymu?"
"Baba kerja sedangkan nanny sedang menyiapkan makananku."
"Mau apa kau ke sini? Kau tidak lihat bunda banyak pekerjaan. Jangan ganggu bunda. Keluarlah dari kamar kerja bunda. Carilah nannymu!"
"Bunda! Aku mau menyerahkan ini."
"Apa itu?" Sahut Sinta acuh. Dia tidak ingin merasa terikat dengan Emier walaupun putra kandungnya sendiri. Dia masih memendam harapan untuk kembali kepada Dylan dan anak-anak mereka.
"Aku membuatnya buat bunda."
Sinta mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang dibacanya.
Emier berjalan mendekati bundanya. Menyerahkan kertas berisi gambar bundanya.
Jantung Sinta nyaris terhenti melihat gambar wajahnya yang dilukis begitu indah. Putranya belum berusia lima tahun tetapi sudah sangat pandai menggambar. Dia juga sudah bisa memainkan piano dengan baik. Menghafal al qur'an. Membaca dan menulis dengan lancar. Belum olah raga renang dan sepak bola yang sangat disukainya. Saat dia menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
"Kau yang membuatnya sendiri?"
Emier menganggukkan kepalanya, "Bagus gak bunda?"
"Bagus."
Pintu ruang kerja Sinta terbuka makin lebar. Nanny anaknya membawakan makanan untuk Emier.
"Jangan ganggu bunda. Ayo kita keluar."
Emier meletakkan kertas yang dibawanya ke atas meja kerja bundanya. Mengikuti pengasuhnya keluar dari ruang kerja bundanya.
Begitu pintu kerja tertutup. Air mata Sinta meleleh dari kedua pipinya. Melihat gambar yang dibuat putranya.
Maafkan aku. Kau akan memahami semua sikapku. Terutama pada saat aku meninggalkanmu. Kau tidak perlu merasa kehilanganku.
Emier memakan makanannya sambil bermain piano. Lagu Rivers Flow On You mengalun indah dari piano yang dimainkannya.
Sinta berhenti dari pekerjaannya. Menikmati gambar dan musik yang sedang dimainkan putra semata wayangnya.
Suaminya memfasilitasi semua minat bakat putranya serta sangat memperhatikan tumbuh kembangnya. Membuatnya menjadi seorang anak yang luar biasa dan istimewa. Walaupun tidak ada seorang pun yang tahu. Dibalik semua keistimewaannya. Dia tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang ibu sejak dia dilahirkan.
Hidupnya hanyalah ayah, pengasuh dan minat bakatnya. Ayahnya membuat hidupnya menjadi sempurna. Tidak merasakan kesepian atau kesedihan karena kekurangan yang dialaminya.
__ADS_1