Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Attached


__ADS_3

Selesai berenang. Anak-anak membilas diri mereka. Masuk ke dalam rumah. Bergabung dengan orang tua mereka.


Keempatnya sedang asyik mengobrol. Sesekali diselingi tawa.


“Kalian tidak jadi bertunangan karena belum siap?” Ujar Dean.


“Kau dengar sendiri kan sekarang.” Sahut Sinta.


“Aku sudah siap.” Ujar Dylan, “Haliza yang belum.”


“Hmm, benarkah?” Sahut Dean sambil menatap ke arah Dylan.


“Yeah. Aku dan anak-anak sudah memintanya untuk menikahi kamu semua.”


Dean tertawa mendengar perkataan Dylan.


“Mengapa kau menolak pertunangan itu?”


“Aku belum siap.”


“Tapi kenapa?”


“Kupikir aku belum bisa move on dari mantanku.”


“What?” Ujar Dean.


“Aku juga lebih menikmati hidup bersama anak-anakku. Lebih bebas.”


“Yeah! Kalau dia menikah denganku. Ada empat orang tambahan yang harus diurusnya.”


Mereka semua tertawa.


“Bagaimana kalau aku mengigau tentang mantanku”Tanya Haliza.


“Tinggal kusiram pakai air seember apa susahnya.” Jawab Dylan diikuti gelak tawa yang lain.


Anak-anak yang baru selesai berenang menuju meja makan. Mereka mengeliligi meja makan. Membuka piring masing-masing. Mengisinya dengan nasi dan lauk pauk yang ada di meja makan.  Mengobrol dan bercanda.


Sementara orang tua mereka mengobrol di ruang keluarga dengan televisi menyala di hadapan mereka.


“Ahkam sangat baik dan bertanggung jawab pada kami semua.” Ujar Haliza.


“Dia bukan baik padamu.” Ujar Dylan ketus.


Sinta memandang kaget ke arah Dylan.


Haliza tidak menyadari perubahan intonasi nada suara Dylan.


“Suamimu tidak mau melepaskanmu.” Sahut Dylan.


“Siapa bilang?” Ujar Haliza tidak mau kalah.


“Dia ingin kau menerima poligaminya. Dia ingin memiliki kalian berdua. Kay dan Hana.”


“Ahkam tidak setricky itu.”


“Oh ya? Dia bisa menduakanmu. Apa namanya kalau gak tricky.”


Sinta tertegun memandang Dylan. Bisa merasakan kecemburuan di dalam intonasi suara Dylan.


Selama mereka bersama. Dylan selalu melindungi, menyayangi dan mencintainya. Tapi tidak pernah mencemburuinya.


Dean memandang ke arah Sinta. Melihat perubahan wajah istrinya yang tidak disadari Dylan dan Haliza.


“Aku sangat marah saat mengetahui Ahkam menikah lagi. Sakit hati.”


“Kau tidak hanya sakit hati tapi juga patah hati.” Ujar Dylan.


“Aku tidak patah hati. Buktinya aku berlari padamu.”


“Kau bukan berlari padaku tapi menjadikanku pelarian.”  Koreksi Dylan kesal.

__ADS_1


“Mengapa kau jadi marah padaku?” Haliza tersadar dengan perubahan nada suara Dylan.


“Aku bukan marah. Jangan terlalu naif. Kau menjadikanku pelarian. Ahkam tidak ingin melepaskanmu dan Hana. Dia ingin memiliki kalian berdua. Kau tidak lihat bagaimana dia selalu berusaha menjaga hatimu dan melindungimu. Berkata terus terang bahwa dia tidak mau melepaskan kalian berdua. Kecemburuan Hana terhadapmu.”


“Hana itu memang serakah. Dia mau semuanya.”


“Hana bisa merasakan bahwa Ahkam masih sangat memperhatikanmu. Bahkan harta bagian Ahkam sebagian diberikan untuk anak-anak kalian. Dia tidak keberatan membagi dua hartanya bersamamu. Memberikanmu uang tambahan. Hadiah untuk anak-anakmu. Semua keperluan kalian. Selalu menjauhkan Hana darimu. Menjaga hati dan perasaanmu dari kebencian Hana padamu.”


“Kupikir kau berlebihan.”


“Aku tidak berlebihan. Kau yang terlalu naif.”


“Kalian bertengkar sudah seperti suami istri.” Dean tidak bisa menahan tawanya.


“Dia mem-php aku.”Keluh Dylan.


“Aku tidak bermaksud demikian.” Ada suara menyesal dalam nada Haliza.


“She likes me first but she lefts me first also.”


“I am not sure about everything.” Ujar Haliza.


“Did I say like? She run to me. Use me to cure her heart ache. But, still she lefts me first.”


“I am sorry. “ Sahut Haliza dengan pandangan menyesal.


“Nevermind. Maybe you right. Both of us need to make up our mind. We didn’t ready yet.”


“Thanks for your understanding.”


“I hava no choice.”


Jawabannya membuat Dean tertawa dan Sinta menyikut suaminya, “Be sensitive.”


Sinta merasa Dylan sudah mulai membuka hatinya untuk Haliza.


Merasa sedih karena Haliza akan menggantikan dirinya di hati Dylan. Tapi kemudian menyadari bahwa cepat atau lambat memang Dylan akan menghapusnya dari pikiran dan hatinya. Tidak hanya hidupnya saja.


Mereka sudah terpisah dan menjalani hidup masing-masing. Mungkin sudah saatnya dia juga belajar mencintai Ahkam dan menghapus Dylan dari pikiran dan hatinya.


Bisa jadi cinta sejati dan terakhir mereka berdua memang pasangan masa depan mereka masing-masing.


Tidak ada yang dapat menebak pasangan masa depan dan cinta terakhir mereka. Mereka hanya bisa menjalani apa yang bisa mereka jalani.


Tetapi ketika memang cinta yang mereka miliki tidak ditakdirkan selamanya. Mungkin saat itu mereka harus berlapang dada.


Cinta ada karena rasa. Tak semua rasa memiliki takdir untuk selalu bersama selamanya.


Setiap orang akan selalu berakhir dengan seseorang yang memang ditakdirkan untuk mereka selamanya.


What misses us will never be our destiny, what is our destiny will never miss us.


Every destiny will find its way.


Anak-anak selesai makan. Mereka langsung menuju kamar di lantai atas. Anak-anak perempuan berkumpul di kamar Callista. Sedangkan anak-anak lelaki termasuk Emier berkumpul di kamar Keanu.


“Kau akan memiliki adik.” Ujar Keanu pada Emier saat mereka berjalan menujur kamarnya.


“Yeah.”


“Senang sekali rasanya, aku juga ingin memiliki adik.”


“Aku kan adikmu.” Ujar Emier polos.


“Ayah kita tidak sama.”


“Tapi ibu kita sama.”


“Aku ingin ayah menikahi tante Haliza dan mereka memberikanku adik seperti yang kau dapatkan.”


“Kau ingin adik bayi?”

__ADS_1


“Yeah, mungkin seperti itu. Jika kau bayi mungkin aku tidak perlu menginginkan adik lagi.”


“Aku bisa menjadi bayi.”


“No way!” Sahut Keanu tergelak.


Semakin tergelak melihat tingkah konyol Emier.


“Oek...oek...oek...”


Dengan wajah dimonyongkan. Pipit dikerutkan ke atas.


“Kau tidak terlihat lucu dan menggemaskan. Melainkan konyol seperti badut.”


Menjelang sore, Haliza dan Dylan berpamitan pulang. Setelah mereka berempat bergantian makan siang dengan anak-anak.


“Kalian tidak menginap?” Tanya Dean.


“Lain kali.” Ujar Dylan.


“Aku tidak membawa persiapan menginap. Anak-anak saja.”


“Rumah kalian dekat. Atau bisa juga meminjam pakaianku dan Sinta.” Tawar Dean.


“No, thanks.” Sahut Haliza dan Dylan berbarengan.


“Apa rencana kalian?” Tanya Dean.


“Tidak ada.” Sahut Haliza, “Menonton televisi di rumah sambil menyiapkan cemilan. Mungkin diselingi membaca.”


“Aku akan mengajak wanita ini malam mingguan mumpung anak-anak berada di sini.”


“Yeah! Ide bagus!” Ujar Dean menyemangati.


“Buat apalagi kita menghabiskan waktu bersama? As a friend?”


“What ever. Yang jelas kau berhak membatalkan pertunangan kita. Aku berhak memperjuangkan hubungan kita. Bagaimana?”


Dean tergelak.Sinta memandang wajah Dylan. Penuh kesungguhan.


Separuh hatinya belum rela melepaskan Dylan. Hubungan mereka terlalu indah untuk dilupakan.


Tetapi memang takdir menggores penanya dengan begitu tajam.


Haliza menatap Dylan dengan tertawa.


“Kau begitu konyol. Aku tidak bisa memberikan kepastian apa pun. Apalagi jika yang kau katakan benar. Ahkam ingin memilikiku daj Hanna.”


“Bukannya kau tidak ingin dipoligami olehnya?”


“Itu dulu. Saat aku sakit hati dengan pengkhianatannya. Tapi saat ini semua rasa marah tersebut sudah menguap. Jika aku mau dipoligami denganmu. Mengapa aku tidak mau dipoligami oleh mantan suamiku, ayah anak-anakku. Rujuk lebih diutamakan untuk mantan suami.”


“Masa iddah kalian sudah lewat. Dia sudah tidak memiliki hak untuk diutamakan.”


“Tetap saja seperti yang kukatakan tadi. Aku mau dipoligamimu mengapa aku menolak dipoligami suamiku? Anak-anakku akan lebih berbahagia melihat kedua orang tuanya bersama. Daripada menikah dengan orang lain.”


“Dalam kasus kita. Anak-anakmu menyukaiku dan sebaliknya.”


“Kau dan Ahkam memiliki posisi yang kurang lebih sama.”


“Aku akan memperjuangkan peluang lima puluh persenku.” Sahut Dylan berkeras. Raut wajahnya menunjukkan keteguhan hatinya.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2