
Haliza tidak tahu kapan dia mulai merasa terobsesi dengan Dylan.
Sikap Dylan yang menyelamatkan wajahnya pada saat ulang tahun Syarifah. Membuat rasa sukanya semakin tumbuh subur.
Ahkam melihat keduanya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kalian berdua keliatan akrab. Kupikir ada Afiah dan ayahnya Syarifah menemani. Seandainya, kita tidak bercerai. Mungkin aku juga ikut menemani. Tetapi aku tidak ingin ada ketegangan dan kupikir kau juga lebih nyaman jika aku tidak ikut nimbrung bersamamu di sini."
"Yeah! Terima kasih atas pengertianmu."
"Kau minta cerai bukan karena memiliki hubungan khusus dengan yang lain kan?" Sahut Ahkam sambil melirik ke arah Dylan.
"Apa maksudmu? Kau yang memiliki hubungan dengan yang lain. Aku minta cerai karena tidak tahan kau duakan."
"Maafkan aku! Tapi kalian berdua tampak akrab. Aku tidak cemburu hanya saja kupikir kau sudah curi start sebelumnya." Ujar Ahkam.
"Playing victim. Jelas-jelas kau yang menduakanku dengan Hana. Aku yang sudah kau bohongi."Haliza menahan amarahnya, "Kau benar-benar keterlaluan!" Sahut Haliza marah.
"Kalian seperti sepasang suami istri yang sedang meluangkan waktu dengan anak-anak kalian!" Ejek Ahkam sinis.
"Buat apa kau mengurusiku? Kalau aku menemukan pria lain setelah bercerai denganmu. Sah saja. Kita sudah bukan suami istri lagi. Aku tidak harus dan mau meratapi pernikahan kita yang hancur. Kau yang tidak setia padaku. Aku juga berhak bahagia."
"Aku hanya ingin kau jujur. Bahwa kita sama-sama sudah menemukan yang lain. Yang lebih sesuai."
"Aku bukan pembohong sepertimu. Pernikahan kita sudah berakhir. Dylan seorang duda. Dia juga sangat setia pada istrinya. Sangat menyayangi anak-anaknya. Lalu apa masalahmu? Aku tidak pernah mengkhianati pernikahan kita. Kita memiliki privasi masing-masing setelah bercerai."
"Aku cuma berpikir, apakah kau menyembunyikan affairmu agar bisa menuntut harta gono gini." Tukas Ahkam tajam.
"Kau jangan mengukur baju di badan!" Tukas Haliza kesal,"Kau yang mengkhianati pernikahan kita. Harta gono gini memang harta kita bersama. Kau ingin aku menderita lahir batin dan kau mendapatkan semua? Istri muda dan semua harta?"
"Jangan salah paham! Aku hanya tidak ingin kau berbohong dan berlaku curang."
"Kau yang curang! Seharusnya kau tidak mendapatkan apa pun sesuai dengan yang kau katakan. Kalau sudah berkhianat. Tidak mendapatkan harta sepeser pun. Memang seharusnya begitu. Aku masih berbaik hati. Mau membaginya sama rata denganmu. Memberikanmu reward atas perbuatan curangmu kepadaku." Mata Haliza memanas.
"Mengapa kalian bertengkar?" Dylan menengahi, "Kalian sudah bercerai. Tidak boleh saling mencampuri privasi masing-masing. Membagi harta bersama sudah merupakan satu kewajiban. Karena kalian akan menempuh hidup sendiri-sendiri. Kalau pun tidak dibagi karena salah satu pihak berselingkuh selama hal itu disepakati. Tidak masalah."
__ADS_1
Ahkam terdiam, menarik nafasnya dan membuka suaranya," Aku tidak ingin membahas ini."
Sesungguhnya dia memang tidak ingin membahas hal ini. Dia hanya kecewa jika Haliza tidak mau dimadu karena jatuh cinta pada yang lain.
Walaupun dia sendiri mengkhianati maghligai pernikahan mereka. Sebagai lelaki, egonya terluka melihat mantan istrinya mencintai pria lain.
Memang dirinya jatuh cinta lagi. Dia tidak bisa memungkiri. Tetapi bukan berarti dia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Haliza.
Dia ingin memiliki keduanya untuk melengkapi hidupnya. Demi anak-anaknya.
Selama dia berlaku adil. Seharusnya, Haliza tidak mempermasalahkan. Tapi dia juga memahami. Sebagai wanita akan sangat tersakiti. Jika dipaksa menerima poligami tanpa keikhlasan dan kelapangan dada.
Gugatan cerai Haliza terpaksa dikabulkan. Karena tidak ingin mendapatkan polemik yang lebih besar. Kebencian yang bisa merusak silaturahim. Kezoliman karena bisa jadi dia tidak mampu berbuat adil. Walaupun dia menginginkannya. Tetapi hal itu sangat sulit dan berat.
Dia sendiri merasa lebih ringan bebannya hanya memiliki satu istri yang paling dia sukai. Memfokuskan pikiran, hati dan semuanya untuk Hana. Istri yang dipilihnya untuk menemaninya menjalani hidupnya.
Mereka tidak bisa bertahan sebagai suami istri. Tapi mungkin bisa menjadi saudara atau sahabat. Bukankah sesama muslim bersaudara? Sehingga untuk apa memupuk rasa benci dan permusuhan karena tali jodoh di antara mereka telah habis.
Ahkam menyadari bahwa Haliza memiliki kebebasan setelah mereka bercerai. Tidak seharusnya dia masih menyesali atau mencampuri kehidupan pribadi Haliza.
Walaupun Haliza tahu bahwa Dylan tidak memiliki niat apa pun dibalik sikap manisnya. Melakukannya karena tidak ingin Haliza terlihat sangat menyedihkan di hadapan Ahkam. Tetap saja, Haliza merasakan benih-benih cinta tumbuh di hatinya.
Cinta ini akan membuatku kecewa untuk kedua kalinya. Walaupun dengan alasan yang berbeda
Jika aku kehilangan cintaku yang pertama karena pengkhianatan. Justru yang kedua karena terlalu setia dengan pasangannya. Walaupun mereka sudah terpisah dan tidak mungkin bersama lagi.
Mungkin aku belum beruntung dalam cinta. Atau memang ditakdirkan untuk sendiri menjalani hidupku? Hanya bersama anak-anakku?
Melihat sikap Dylan yang acuh tetapi penuh perhatian membuat perasaan Haliza terombang ambing.
Perasaan tertariknya berubah menjadi obsesi. Melihat keseharian Dylan yang sangat berbeda dengan Ahkam.
Haliza termenung melihat isi flat Dylan yang dipenuhi foto-foto istrinya. Di dalam kamarnya sendiri sudah seperti museum berisi semua kenangan tentang istrinya.
Tidak hanya foto tetapi juga pakaian dan video-video berisi istri dan anak-anaknya.
__ADS_1
Dylan sedang sibuk di dapur membuat makanan untuk mereka semua.
Syarifah ingin mampir main ke rumah Callista. Haliza menggunakan momen tersebut untuk melihat keseharian Dylan dari dekat.
Dylan tidak berkata bohong. Ketika mengatakan kenangan tentang istrinya. Haliza merasa di flat tersebut sangat terasa aura istrinya.
Aku bisa memahami maksud Dylan tidak ada wanita yang bisa menerima hal ini. Tapi aku tidak keberatan sama sekali. Karena bagiku masa lalu tetap lah masa lalu. Selama Dylan menjaga kesetiaan dan komitmen semuanya tidak ada masalah.
Bagaimana aku mengatakan padanya? Aku sama sekali tidak keberatan dan merasa terintimidasi dengan seluruh kenangan tentang istrinya?
Bahkan jika istrinya kembali. Aku ikhlas dipoligami. Bagiku semua satu paket dalam mencintai Dylan….
Mungkin ini yang namanya obsesi. Hanya berpikir untuk memiliki. Menanggung semua konsekuensi dari obsesi tersebut.
Selamanya Dylan tidak akan sama dengan Ahkam.
Haliza keluar dari kamar Dylan. Menutup pintunya dan berjalan ke dapur. Mencium bau harum masakan.
"Kau masak apa?" Tanya Haliza.
"Anak-anak ingin nasi goreng sosis."
"Baunya sangat harum." Sahut Haliza mengendus hidungnya. Dylan tertawa melihatnya, "Kau juga mau?"
"Memangnya cukup kalau aku ikut makan?"
"Tenang saja. Ditambah sepuluh orang lagi juga masih bisa."
"Satu orang satu sendok makan?" Ujar Haliza sambil tertawa.
"Mana kenyang? Yang makan satu dan gantian cerita ke yang lain."
"Itu sih seratus orang juga masih bisa." Sahut Haliza sambil tertawa.
"Ya kan?" Dylan mengembangkan senyumnya. Haliza semakin terpukau melihat senyumnya yang manis. Menambah ketampanan wajahnya.
__ADS_1