Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The Cases


__ADS_3

Pagi itu matahari bersinar sangat cerah. Kebun bunga yang dibuat oleh seluruh narapidana bekerja sama dengan kepala sipir dan sipir mulai membuahkan hasil.


Ide berikutnya mereka membuat buku mengenai kebun yang mereka buat. 


Semacam buku  katalog bunga. Foto bunga, nama latin dan populernya serta buku mengenai ketrampilan merangkai bunga. Buku wirausaha mengenai memulai usaha florist.


Semua hasil yang mereka dapatkan mereka kelola bersama dan tidak hanya untuk kepentingan keluarga narapidana dan sipir tetapi juga bisa dipakai untuk kegiatan sosial lainnya.


Memberikan beasiswa bagi mereka yang berasal keluarga tidak mampu, biaya pengobatan dan melahirkan tentu bagi keluarga yang tidak mampu juga. 


Penjara tidak selalu bermakna buruk apalagi jika di dalamnya diisi dengan beragam kegiatan positif dan hubungan antar mereka layaknya seperti saudara dan sahabat.


Di dalam penjara mereka juga semakin khusyuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan. 


Ketika mereka sedang makan siang bersama. Seperti biasa mereka saling asyik mengobrol dan berbincang.


Tiba-tiba dikejutkan oleh seorang narapidana yang tiba-tiba tubuhnya mengejang dan bibirnya berubah hitam kebiruan.


Suasana seketika menjadi panik. Sipir bergerak cepat. Membawa orang tersebut dengan ambulance menuju rumah sakit tetapi tidak tertolong.


Kejadian itu menjadi buah bibir.


"Kupikir, dia terkena serangan jantung."


"Kupikir juga begitu. Lihat saja bibirnya biru menghitam."


"Semoga bisa tertolong."


Ketika tiba saatnya, Pengacara Sinta mengunjunginya. Sinta kembali menanyakan kasus suaminya.


"Yang memberatkan suamimu adalah spermanya terdapat di sprei."


"Bagaimana dengan hasil test dna dan jejak rahim yang kuminta?"


"Sedang diproses. Tekhnologinya tidak ada di sini sehingga memakan waktu yang lebih lama. Belum verifikasi ijinnya juga memakan waktu yang cukup lama karena diteliti dahulu apakah relevan atau tidak dengan kasus yang menimpa suamimu. Belum biayanya. Kedua mertuamu tidak keberatan ikut membayar biaya test itu karena mereka ingin mengetahui kebenarannya."


"Di dalam sel ada yang meninggal. Sepertinya kena serangan jantung."


Pengacaranya hanya diam. Tidak memberikan jawaban apapun.


"Apakah kau tahu tentang ini semua?"


"Dia bukan kena serangan jantung."


"Lalu apa?"


"Keracunan."


"Keracunan? Darimana kau tahu?"


"Ada lima narapidana yang ingin membunuhmu. Seluruhnya orang suruhan dari perusahaan kompetitor mertuamu."


"Astaga!"


"Kau tidak usah banyak berpikir, konsentrasi saja pada kasusmu. Kasus suamimu tinggal menunggu hasil test dna dan rekam jejak rahim yang kau minta."


"Hasil test dnanya?"


"Negatif."


"Jadi dia berbohong kalau dia mengandung anak suamiku?"


"Yang jelas, anak yang dikandungnya bukan milik suamimu. Hasil test jejak rahim yang akan menentukan apakah ada atau tidak kasus pelecehan seksual terhadap suamimu."


"Ya, kau benar. Tetapi aku lega hasil test dnanya negatif. Kalau positif, tidak ada gunanya test jejak rahim tersebut."

__ADS_1


"Ya."


"Bagaimana perkembangan kasusku?"


"Sedang diproses. Aku sudah minta penyidikan resmi dari pengadilan. Aku akan melakukan penyadapan dan juga penyelidikan dengan seijin pengadilan sehingga semua bukti bisa berlaku sebagai bukti persidangan."


"Aku setuju."


"Kau tenang saja. Begitu buktinya lengkap dan cukup. Aku akan langsung meminta naik banding."


"Aku percaya padamu."


"Aku juga sudah mempersiapkan pengawasan secara sosial. Kasusmu akan dikawal oleh media massa dan sosial. Tidak akan terjadi seperti kemarin lagi."


"Kemarin juga argumentasi hukum kita lemah. Kita belum memiliki cukup bukti untuk melawan."


"Iya, itu dia. Kalau kita merepressed lewat media sosial dan massa, justru kita akan terkena UU ITE karena dianggap menyebarkan hoax dan membuat kericuhan serta kesimpangsiuran. Lebih baik kita terima saja dulu apa adanya."


"Bukti apa yang sudah kau dapat?"


"Orang-orang yang sengaja dimasukkan ke dalam perusahaan mertuamu sudah kudapatkan. Tetapi aku belum memiliki cukup bukti untuk menyeret mereka ke pengadilan."


"Kalau bukti belum cukup. Lebih baik bersabar. Aku tidak ingin mereka menjadi waspada. Apalagi yang kau temukan?"


"Aliran dana dari perusahaan kompetitor mertuamu kepada mereka."


"Lalu?"


"Aku melakukan penyadapan atas ijin pengadilan untuk mereka yang bisa menjadi saksi dalam persidangan."


"Baiklah, aku percaya padamu."


Dean juga rutin mengunjungi Sinta.


"Kau tidak apa-apa 'kan di dalam penjara?"


"Disini, kita bisa mencoba bilik cinta."


Wajah Sinta merah padam dan Dean tergelak melihatnya.


"Lebih baik kau tidak usah menjengukku kalau hanya ingin meledekku."


"Aku bukan meledekmu. Aku mengajakmu mencoba rasanya bilik cinta."


"Tidak lucu!"


"Begitu saja marah!"


"Kau sangat menyebalkan!"


"Pengacaramu bilang, aku tinggal menunggu hasil rekam jejak rahim dari luar negeri."


"Yeah, disini belum ada tekhnologinya."


"Biayanya juga sangat mahal. Tapi ayahku, tidak masalah mengeluarkan uang untuk itu karena hasil test itu menunjukkan ada atau tidaknya pelecehan seksual yang dituduhkan penggugat."


"Spermamu tumpah di sprei. Itu yang memberatkanmu."


"Aku sudah bilang, aku mabuk berat dan tidak bisa mengingat apapun."


"Tidak ada hasil visum yang membuktikan kalian berhubungan intim. Dan hal itu sudah tidak bisa dilihat kalau melihat antara kejadian dengan waktu diajukannya gugatan. Tapi rekam jejak rahim itu tidak bisa dipungkiri karena itu akan meninggalkan semacam tanda dan baru bisa hilang dalam jangka waktu tiga bulan. Itu sebabnya aku meminta test itu."


"Wow! Kau akan membebaskanku dari tuduhan itu?"


"Bukan aku tapi hasil test itu akan menunjukkan fakta yang terjadi antara kau dengan wanita itu. Apakah kalian memang melakukan hubungan intim atau tidak."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kasusmu sendiri?"


"Pengacaraku mengajukan penyidikan dan penyadapan dengan seijin pengadilan sehingga semua temuan dan bukti yang mereka dapatkan akan langsung menjadi bukti persidangan."


"Kau akan mengajukan banding?"


"Begitu semua bukti lengkap. Tidak hanya itu, kami juga akan merepressed lewat media sosial dan massa. Untuk melakukan kontrol sosial terhadap persidangan."


"Apakah mereka mau bersaksi?"


"Kalau semua bukti terkumpul. Kalau mereka tidak ingin masuk penjara, mereka harus bersaksi. Dan mereka akan dimasukkan ke program perlindungan saksi."


"Aku membawakan kau ini."


"Apa itu?"


"Makanan kesukaanmu. Cokkat dan bunga."


"Kau merayuku agar mau diajak ke bilik cinta? Tidak! Terima kasih."


"Aku hanya bercanda mengenai bilik cinta. Aku tidak akan memaksamu. Aku berjanji."


"Hmm, baiklah! Mana makanan, coklat dan bunganya?"


"Kau suka?"


Sinta menganggukkan kepalanya.


Dean membukakan kotak makanan. Menyodorkan sendok dan garpu.


"Makanlah!"


Sinta memakan makanannya dan mengunyahnya perlahan.


"Bagaimana?"


"Sangat enak!"


"Aku senang kau menyukainya."


Sinta memakan coklatnya dan memandangi buket bunganya yang sangat indah.


Membaca kartu yang ada di buker bunga tersebut.


For my beautiful and smart wife


Thank you for your love and care


Although you always give a distance


But you will always be my soulmate


And I always give my love and care 


Only to you, my dearest wife


I will wait and patience


I promise


No force with love


No force with passionate


If you are for me

__ADS_1


There will be a way….


I will bet for sure….


__ADS_2