
Go car meluncur menuju Senggigi. Haliza terdiam. Hatinya demikian sedih. Dia tidak bermaksud membuat Ahkam gundah. Apalagi mengacaukan liburan keluarga mereka.
“Mengapa kau murung terus dari tadi? Males ngomong seperti orang sakit gigi?”
Dylan berusaha mencairkan suasana. Wajah Haliza diliputi mendung membuat hatinya tidak tega.
“Aku tidak seharusnya merusak suasana liburan kami dengan anak-anak. Tidak membuatnya gusar.”
Dylan menggamit tangan Haliza. Mengusapnya lembut. Berusaha memberikan rasa aman juga nyaman.
“Kalian sudah tidak menikah lagi. Tidak ada kewajiban bagimu untuk berlibur bersama dengan anak-anak kalian. Kau mau meluangkan waktu serta perhatianmu untuknya dan anak-anak kalian sudah merupakan kebaikan hati. Bukan kewajiban apalagi tanggung jawab.”
Mata Haliza memanas. Bening air mata mengalir di kedua belah pipinya. Dylan menghapus air mata Haliza dengan tangan yang satu lagi. Seraya menggenggam tangan Haliza. Meletakkannya di dadanya.
“Jangan menangis. Kebaikan hatimu bukan tanggung jawab apalagi kewajiban. Kau melakukannya untuk kebaikan serta kenyamanan anak-anak kalian berdua. Bukan sebagai suatu keharusan apalagi kewajiban.”
“Aku merasa sangat bersalah pada anak-anakku. Karena aku egois. Tidak mau mengalah dengan Ahkam yang sedang mengalami puber kedua. Mungkin Hana memang cinta sejatinya. Baru menemukannya setelah kami menikah serta memiliki dua buah hati. Aku tidak mempermasalahkan jika kau ingin mempoligamiku. Seharusnya aku melakukan hal yang sama dengannya."
“Sssttt…” Dylan melepaskan genggaman tangannya. Menghapus air mata Haliza serta membelai rambutnya, “aku tidak pernah berniat menduakan siapa pun. Tidak bisa. Dan tidak mau. Aku lebih baik memilih satu wanita yang kuanggap bisa berbagi kehidupan serta semua hal denganku.”
Haliza menghambur ke dalam pelukan Dylan. Dylan mengusap bahu Haliza memeluknya dengan erat juga hangat.
“Poligami itu halal dan mubah. Tidak dapat dipungkiri tetapi jika kau tidak bisa bahagia dipoligami. Itu bukan sesuatu yang salah. Definisi kebahagiaan setiap orang berbeda. Kau berhak dengan apa pun yang bisa membuatmu merasa nyaman dan bahagia. Apa pun yang kau pilih. Pastikan hal itu membuatmu nyaman serta bahagia.”
“Syarifah dan Syarif membutuhkan aku juga ayahnya.”
“Kalian berdua orang tua yang sangat baik. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apa pun. Perceraian kalian tidak mengubah kalian menjadi monster atau manusia yang egois.”
Sesampainya di Senggigi. Mereka berjalan menyusuri pantai. Saling berpegangan tangan dengan erat. Berbagi cerita keindahan masa lalu.
__ADS_1
“Aku harus menyembunyikan Sinta dan anak-anak kami dari Dean. Saat itu, kami merasa itu adalah yang terbaik yang bisa kami lakukan. Menghindari Sinta dari kasus hukum yang sangat tidak adil baginya. Karena kelicikan lawan politiknya yang menghilangkan semua bukti. Berusaha menjebloskannya untuk kesalahan yang tidak dilakukannya.”
“Kau seperti sangat melindungi juga mencintainya.”
“Yeah. Kupikir, aku memang sudah mulai mencintainya. Saat aku berusaha melindunginya dari sepak terjang lawan politiknya.”
“Kalian seperti keluarga yang sangat bahagia.”
“Yeah. Kehidupan seperti berhenti saat kami kehilangannya. Ketika Dean menemukannya. Merengutnya dari sisi kami. Keanu nyaris mati saat kehilangan ibunya begitu saja. Usianya sangat kecil saat itu.” Wajah Dylan mendadak diliputi mendung. Kesedihan menggelayut di raut wajahnya, “Calista mendadak menjadi dewasa. Dia membantuku mengurus semuanya. Menggantikan ibunya. Tentu saja sesuai kemampuannya.Sapphire merasa terobati dengan perhatian Calista kepadanya. Menggantikan posisi Sinta dalam hidupnya. Dia juga sangat telaten dan sabar pada Keanu.”
“Ah! Kasian sekali Calista. Aku sangat iba saat melihatnya. Terlihat tegar tetapi juga rapuh. Dia sangat dekat dengan Syarifah.”
“Yeah, dia sangat menyukai juga menyayangimu. Berharap kau bisa menggantikan ibunya.”
“Mungkin itu sebelum bertemu kembali dengan Sinta. Sebelum Sinta kembali pada kehidupan kalian."
“Mereka memang sudah mendapatkan Sinta kembali. Tapi mereka juga sadar bahwa Sinta sudah memiliki kehidupan sendiri. Di luar kami semua. Mereka tetap mengharapkan kau mau mengisi kekosongan yang ada. Melengkapi kami semua. Kau tidak dapat menggantikan posisi Sinta di hati mereka tetapi kau bisa melengkapi hidup mereka.”
“Jika dia mencintaimu. Dia tidak akan mengkhianatimu serta jatuh cinta lagi pada Hana. Jika kau jatuh cinta lagi untuk yang kedua kalinya. Maka pilih lah yang terakhir. Karena tidak akan ada yang kedua seandainya kau tidak jatuh cinta lagi.”
“Entahlah! Mungkin kau benar. Tapi dia menggunakan haknya berpoligami untuk melengkapi kebahagiaan kedua buah hati kami. Dia kehilangan momen-momen kebahagiaan kami sekeluarga. Menghabiskan waktu bersama di kamar tidur kami bersama kedua buah hati kami. Sengaja membuat tempat tidur yang sangat besar agar nyaman ditempati oleh kami berempat.”
“Jika kalian bercerai karena masing-masing berusaha mencari kebahagiaan mereka masing-masing. Selama kalian tetap memenuhi kewajiban kalian sebagai orang tua dengan baik. Maka itu bukanlah egois.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Jika kau menerima poligami maka itu bukan sesuatu yang salah. Selama kau menerima dengan hatimu. Tetapi jika kau harus mengorbankan kebahagiaan juga kenyamananmu. Maka kau menjadi tidak baik kepada dirimu sendiri. Katakan padaku apakah kau mencintaiku? Apakah kita memiliki kesempatan untuk bersama? Kau memiliki aku. Kau memiliki pilihan selain menerima poligami dari mantan suamimu.”
“Kau jangan membuatku menjadi bingung.”
__ADS_1
“Jangan memanipulasi dirimu sendiri. Jujurlah terhadap apa yang kau inginkan. Selama hal itu baik. Serta tidak ada sesuatu yang salah atau merugikan orang lain di dalamnya. Bukan kriminalitas."
“Apakah keutuhan keluarga bukan suatu kebahagiaan serta kenyamanan dalam hidup? Seandainya, Sinta tidak bersama Dean. Kau jatuh cinta lagi padaku. Apakah kau akan memilih atau berpoligami?”
“Aku akan memilih jika aku menyakiti kalian dengan poligami yang kutawarkan. Walaupun aku mencintai kalian berdua dengan porsi yang sama besarnya. Tetapi aku akan memilih jika salah satu dari kalian tidak berbahagia dengan tawaran yang kuberikan. Aku akan tetap mendukung kalian berdua. Tetap berusaha menjalankan tanggung jawabku sebaik mungkin."
“Jika aku dan Hana bisa menerima poligami Ahkam bagaimana?”
“Kalian tidak merasa tersakiti?”
“Tidak. Seandainya, kami berdua berusaha melakukan hal yang terbaik yang kami bisa untuk rumah tangga kami bersama Ahkam. Seluruh anak yang ada. Baik dalam pernikahanku dengan Ahkam atau Hana mereka semua sama. Mungkin seperti Emier dengan anak-anakmu.”
“Kalian benar-benar berbahagia dengan poligami tersebut. Serta saling menerima satu sama lain. Saling dukung layaknya saudara dan atau sahabat?”
“Mungkin lebih baik lagi. Tidak ada kebencian atau cemburu yang merusak. Kenyamanan untuk semua anggota keluarga karena dipenuhi hak serta kebutuhannya masing-masing dengan baik, adil juga bijaksana.Menimbulkan ketenangan hati bagi seluruh anggota keluarga tanpa terkecuali?”
Langkah kaki mereka mendadak berhenti. Debur ombak mengalun dengan lembut di telinga mereka. Saling berdansa dengan indahnya. Birunya laut berpadu dengan cantiknya langit biru yang bersih. Sebuah pemandangan yang tidak hanya menyentuh hati juga jiwa tetapi juga indera penglihatan yang seakan disodorkan dengan pemandangan yang hanya mampu mengucap asma Allah karena keagunganNya yang telah menciptakan rasa indah yang luar biasa.
Dylan menggamit kedua tangan Haliza. Mendekatkan kedua tubuh mereka saling merapat satu sama lain.
Jantung Haliza berdebar sangat kencang. Sesuatu mengaliri pembuluh darah serta menggetarkan kulit tubuhnya. Seperti halnya senar guitar yang dipetik dengan indah serta lembutnya.
Dylan mendekatkan wajahnya. Mencium bibir Haliza dengan mesra dan dalam. Membuat mata Haliza terbelalak. Tubuhnya bergetar. Memagut kemudian melepaskannya. Kemudian berkata dengan nada lirih. Rendah dan dalam.
“Bagaimana kau menjelaskan tentang ini?”
__ADS_1