
Ketakutan yang menyelimuti Sinta membuatnya sangat tegang. Dia sangat takut Dean menemukannya dan menghancurkan semuanya. Merusak segalanya.
Dylan tidak berhasil menenangkannya. Sinta semakin resah dan gelisah. Dirinya dilanda kepanikan juga diselimuti ketakutan. Dunia seakan runtuh menimpanya.
Tanpa pikir panjang Dylan berkata, "Mungkin ada baiknya Dean tahu.Siapa tahu dia mau menceraikanmu dan kita bisa hidup lebih terbuka juga normal."
"Jika dia mau menceraikanku. Bagaimana dengan kasus hukum yang menimpaku?"
"Tenanglah. Jangan terlalu banyak berpikir. Kau setuju kita memberitahukan Dean yang sebenarnya?"
"Tentu tidak! Aku tidak bisa memastikan apa yang akan dilakukan Dean jika dia mengetahui yang sebenarnya. Aku hanya ingin, kau berhati-hati. Aku sudah bilang jangan ke tempat yang ramai dan sering dikunjungi orang. Perasaanku sudah tidak enak tapi kau dan Callista memaksa."
"Mengapa kau jadi menyalahkan aku dan Callista? Kau lihat bagaimana Callista merasa senang dan kau juga sempat berpikir kita sudah memutuskan yang benar."
"Sebelum aku bertemu dengan Dean, aku memang merasa idemu bagus tapi setelahnya bertemu dengannya? Aku menyesalinya dan idemu itu tragedi! Dia memanfaatkanku untuk warisannya. Mengkhianatiku. Selalu berpikir negatif tentangku. Buatnya aku sebuah puzzle yang tidak bisa terpecahkan. Hubungan kami begitu sulit. Kau bisa memecahkan semua hal yang tidak bisa dia pecahkan. Aku tidak ingin dia membawa masalah lagi di dalam hidupku. Cukup dia menyakiti dan melukai hatiku." Air mata Sinta mengalir dengan deras, "Aku tidak tahu bagaimana dia menilai dan memperlakukanku. Tetapi aku tidak berbahagia bersamanya. Aku merasa tidak nyaman. Seperti diintai. Kau tahu rasanya jika kelinci bertemu harimau? Seperti itulah kira-kira aku merasakan hubunganku dengan Dean."
"Tenanglah! Jangan emosi seperti itu."
"Semua ini membuatku takut. Pernikahan kami tidak bisa berjalan dengan baik. Dia melukai dan menyakitiku. Aku melakukan hal yang sama atau lebih besar lagi tetapi bukan ku sengaja. Aku tidak bermaksud membalas dendam atau sakit hati. Semua terjadi begitu saja. Kau ada di sana. Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi."
"Iya. Aku tahu. Justru itu jangan panik. Kita sudah melalui berbagai hal bersama. Kita bisa melaluinya dengan baik. Aku yakin kita bisa mengatasinya. Jika kau tidak ingin aku memberitahukan semuanya pada Dean. Fine! Aku juga berpikir demikian. Kau dan Dean tidak sengaja bertemu. Hanya itu! Untuk apa diperpanjang dengan membocorkan semuanya?"
Sinta memeluk erat Dylan. Menangis di dalam dekapannya.
"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud bersikap menyebalkan. Aku sangat takut!" Sinta menangis keras di dalam pelukan suaminya.
Dylan mengusap punggung Sinta dengan lembut. Berusaha menenangkannya.
"Aku tahu! Aku juga tidak ingin dia mengacaukan semuanya. Kau milikku! Dia hanya bersikap posesif dan egois terhadapmu. Dia tidak bisa memahamimu apalagi memperlakukanmu sesuai yang kau inginkan. Aku berjanji tidak akan membiarkan dia mengacaukan hidupmu. Mengambilmu dari sisiku dan anak-anak." Air mata Dylan menetes. Menguatkan hati dan jiwanya. Mereka berdua pasti bisa melalui semuanya. Badai pasti berlalu.
Dia akan membujuk Dean agar memilih wanita lain sebagai pengganti Sinta. Membuatnya melupakan Sintanya. Selamanya.
Dean mungkin mengenal Sinta lebih dulu. Berusaha memilikinya walaupun semua sia-sia. Karena Sinta miliknya bukan siapa pun.
Dylan menyelami Sinta seperti mengenali jiwanya sendiri. Hati, jiwa juga cintanya bisa memahami, mengenali serta menyelaminya dengan baik.
__ADS_1
Mencintai dan melindunginya sepenuh jiwa dan hatinya. Tidak sekali pun berpikir hal yang akan membuat hubungan mereka menjadi dan semakin tegang.
Memilih Sinta dengan kesadarannya sendiri. Bukan atas paksaan atau pengaruh siapa pun. Tidak ada pikiran untuk memanfaatkan apalagi berpikir untuk mengkhianatinya.
Kesetiaan buat seorang lelaki adalah pilihan. Dia memilih setia bukan karena terpaksa tapi karena cinta yang memang dirasakannya dengan segenap hati dan jiwanya.
Sinta adalah separuh nafasnya. Separuh jiwanya. Hati dan jiwanya memilih Sinta sebagai wanita satu-satunya di dalam hidupnya. Tanpa jeda.
Keinginan untuk melindungi dan menjaganya muncul begitu saja. Begitu mengenalnya dan melalui berbagai hal bersamanya. Perasaannya abadi. Cinta sejati yang tidak bisa sembarang dimiliki setiap hati. Hanya hati yang memilih cinta dan setia. Rasa sejati bukan karena manipulasi apalagi karena ego sendiri.
Kesejatian itu sudah pasti dari Ilahi. Karena tidak akan mampu dirasakan apalagi dijalani jika bukan karena resonansi dan frekuensi yang sama.
Betapa banyak pasangan kandas pernikahan atau hubungannya karena negative vibes yang melingkari serta menaungi ikatan hati yang mereka bangun sendiri.
Bertekad sehidup semati. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengkhianati. Tetapi cinta sejati yang diwarnai benci. Gagal menjadi abadi. Bahkan bisa menyakiti diri. Karena cinta dan setia yang diingkari.
Jiwa yang tadinya saling mencinta berubah menjadi saling benci. Saling setia menjadi saling mengkhianati.
Mungkin itu bukan cinta. Tapi dikira cinta. Karena perasaan yang terasa sangat menggebu. Tak sabar untuk memiliki. Tetapi tidak mampu menjaga hati. Akhirnya cinta terkhianati. Tak berhasil menjadi cinta sejati apalagi yang diridhoi Ilahi.
Menjadi bernada sendu jika memetik lagu yang memiliki nada yang meyayat hati.
Betapa banyak hati yang patah. Karena tak mampu menyambung apalagi merekatkan cinta di dalam jiwa. Diukir di dalam hati. Tanpa dimanipulasi. Terasa sejati di hati. Dijaga dan dilindungi Ilahi.
Jodoh adalah misteri dan ghaib. Jika Dean penuh kecurigaan dan hal negatif terhadap Sinta. Dylan sebaliknya. Sejak pertama mereka bertemu. Tidak sedikit pun dia memandang Sinta sebagaimana Dean menilai Sinta, negative vibes dan resonansi. Juga tidak satu frekuensi sama sekali.
Cintanya berliku. Tidak grasa grusu. Melalui jalan yang terjal juga ombak yang pasang surut menghiasi.
Di awal mereka bertemu dan saling mengenal. Walaupun dia merasakan simpati, empati dan cinta. Saat itu tidak mungkin dia bisa mengungkapkan rasa.
Walaupun hati dan jiwanya selalu ingin melindungi. Sinta baginya seperti saudara perempuannya. Dia juga tidak pernah berkeinginan untuk merusak rumah tangga Sinta dan Dean.
Semua berbalik begitu cepat. Dia dihadapkan pada situasi yang harus membuatnya bergerak cepat.
Kegagalannya memulihkan nama baik Sinta serta kasus hukum yang gagal dimenangkannya karena disabotase pihak lawan.
__ADS_1
Membuatnya tidak bisa berpikir lain selain melarikan dan mengamankan Sinta dari keadaan yang menjeratnya tersebut.
Menikahinya bukan karena ambisi apalagi ego pribadi tapi murni melindungi. Tak mampu mengingkari cinta sejati yang melingkupi diri yang berasal dari Ilahi.
Dylan meyakini bahwa Sinta adalah belahan jiwa yang sudah ditetapkan untuknya.
Jika bagi sebagian orang makna cinta adalah menggapai dengan segala cara ….
Sebatas menuangkan rasa….
Untuk memuaskan dahaga….
Cinta menjadi tak bermakna….
Karena rasa menjadi berubah….
Setelah semua terlampiaskan dan terpuaskan karena cinta sebatas raga tak mampu menyentuh jiwa….
Menjadi sejati apalagi abadi selamanya….
Hati tak mampu lagi mendentingkan nada asmara….
Rindu yang tadinya ada sekarang entah dimana?
Cinta berubah menjadi lautan cemburu dan murka….
Benci mewarnai cinta….
Semua menjadi terasa menyiksa….
Membelenggu juga siksa….
Karena cinta sudah tak lagi mengejawantah di dalam jiwa….
Menitahkan cinta untuk cinta!
__ADS_1