
Usia Callista genap empat tahun sedangkan Sapphire menginjak satu tahun.
Semenjak kelahiran Sapphire. Sifat manja Callista berkurang. Dia sangat suka bermain bersama Sapphire. Tentu dengan diawasi ibunya.
Tidak pernah lagi merengek ketika ayahnya harus kembali ke Indonesia.
Dylan kerap menggoda putrinya.
"Benar kau tidak ingin ikut papa ke Indonesia?"
Callista menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang akan menjaga mama dan adek?" Jawabnya.
Dylan tertawa mendengar jawaban Callista, "Kau sudah besar sekarang. Sudah bisa menjaga mama dan adek."
"Sebentar lagi aku akan bersekolah."
"Ya, umurmu empat tahun dan kau akan segera masuk kindergarten."
"Yeah."
"Anak pintar!" Dylan mencium pipi putrinya.
Dylan dan Sinta tetap memprioritaskan Callista sehingga Callista tetap merasa nyaman dengan kelahiran adiknya dan tidak perlu merasa cemburu.
Berulang kali setelah kelahiran Sapphire, Callista menguji perhatian dan cinta kedua orang tuanya.
"Aku ingin dipeluk mama." Sahutnya cemburu melihat Sapphire yang baru lahir menyusu pada ibunya.
"Sehabis adik selesai menyusu ya?'
"Sekarang!"
"Baiklah, papa bikin susu dulu buat adik."
Callista menganggukkan kepalanya.
Dylan membuat susu untuk Sapphire. Mereka terpaksa mencampur ASI dengan formula. Agar tetap bisa memperhatikan Callista yang menunjukkan kecemburuannya semenjak adiknya lahir.
"Berikan Sapphire padaku." Pinta Dylan kepada Sinta yang sedang menyusui bayi mereka.
Sinta mengangsurkan bayi mereka padanya. Meraih Callista dan memeluk putrinya.
"Kau juga ingin menyusu seperti adek?" Sahut Sinta sambil menggelitiki putrinya. Callista tergelak kegelian.
"Kau tahu, kasian jika adek harus berhenti menyusu dan diganti susu formula."
"Kenapa kasihan?"
"Susu mama tidak sama dengan susu formula. Berbeda. Adek lebih sehat dan kuat badannya jika meminum susu mama."
"Tapi aku mau dipeluk mama."
"Boleh. Tapi kau bisa kan menunggu mama selesai menyusui?"
"Tapi aku mau dipeluk mama sekarang."
"Baiklah."
Mereka meminta pengertian Callista dengan perlahan dan tidak memaksa sampai Callista dengan sukarela mau mengalah untuk adeknya.
"Mama, aku mau peluk mama. Kalau mama sudah selesai menyusui adek."
"Anak manis! Terima kasih, sayang. Benar kah kau ingin menunggu adek selesai menyusu?" Sinta mengetes Callista. Menyakinkan jawaban Callista.
Callista menganggukkan kepalanya. Menunggu dengan sabar sampai ibunya selesai menyusui adiknya.
"Aku bangga padamu. Mau bersabar menunggu adikmu selesai menyusu." Sahut Sinta sambil mengecup putrinya.
Callista juga sangat senang membantu ibunya mengambilkan baju, celana dan popok Sapphire.
__ADS_1
Ikut memandikan adiknya. Menikmati semua aktifitas bersama ibu dan adiknya.
"Apakah kau ingin menyabuni adek?"
"Yeah!"
Sinta memegang Sapphire sementara Callista menyabuni Sapphire.
"Kau boleh membantuku mengeringkan Sapphire."
Callista menepuk-nepuk handuk ke tubuh adiknya yang sangat mungil.
Callista sangat suka mengobrol dengan adiknya. Berceloteh.
"Kalau kau sudah besar. Aku akan mengajakmu bermain boneka. Masak-masakkan."
"Kau mau baju yang mana? Ini atau ini?"
Tentu saja, Sapphire belum bisa mengerti dan memilih. Callista melanjutkan celotehannya.
"Sepertinya kau akan menyukai yang ini? Iya kan ma? Sapphire suka yang ini dibandingkan yang ini?"
"Dia suka semua pilihanmu. Kau kan kakaknya. Dia mempercayaimu. Yang mana menurutmu yang paling bagus untuk Sapphire kenakan?" Sahut ibunya.
"Yang ini."
"Baik. Akan ku pakai kan yang ini kepadanya."
Setiap pagi, Callista dan ibunya menjemur Sapphire di kebun. Bayi baru lahir harus cukup minum dan jemur sehingga bilirubinnya tidak tinggi. Normal.
Callista membawa kain untuk menjemur adiknya. Membantu menghamparkan kain tersebut.
"Terima kasih, sayang…."
Sinta meletakkan Sapphire membelakangi matahari. Memakaikan kacamata padanya.
"Aku juga mau pakai kacamata seperti adek."
Sinta memberikan kacamata satu lagi kepada Callista.
Callista mencium Sapphire. Tersenyum lebar. Mereka berdua mengenakan kacamata hitam.
Sinta juga memfoto mereka berdua tiduran sambil berjejer.
Callista ikut membuka bajunya seperti Sapphire.
"Mengapa kau buka bajumu?"
"Aku juga ingin berjemur!"
"Hmm, baiklah! Aku memiliki dua bayi yang harus dijemur."
Callista tertawa mendengar perkataan ibunya.
"Setelah dijemur, keduanya harus kususui."
"Aku tidak! Aku sudah besar, ma!"
"Oh ya! Aku lupa, satu bayi sudah besar."
"Tapi aku mau susu."
"Kau mau menyusu?"
"Susu! Bukan menyusu."
"Oh, susu! Susu hangat atau dingin?"
"Dingin."
"Baiklah."
__ADS_1
Selesai berjemur. Sinta menyusui Sapphire. Mengambilkan susu di kulkas untuk Callista dan meletakkan cookies di piring.
"Kau mau mandi bareng Sapphire?"
Callista menganggukkan kepalanya.
"Aku habiskan dulu susu dan cookiesku. Aku sangat lapar dan haus."
Sinta tertawa melihat polah putrinya. Kumis susu menghiasi wajahnya.
"Kau mau ikut aku berkebun bersama Shappire?"
"Tentu. Aku habiskan dulu susu dan cookiesku."
"Tidak usah terburu-buru. Kau mau kubikinkan sandwich?"
Callista menggelengkan kepalanya, "Aku ingin coklat dan biskuit.
Sinta membuka kulkas mengambil coklat dan membuka kabinet makanan tempat penyimpan cookies dan biskuit.
"Kau mau wafer juga?" Sahut Sinta sambil membuka rak tempat penyimpanan makanan ringan.
"Wafer dan keripik kentang."
"Baiklah."
Sinta menaruh biskuit, coklat, wafer dan keripik kentang ke dalam keranjang makanan. Menaruh sebotol jus jeruk ke dalam keranjang. Jus jeruk asli yang diperas menggunakan juicer. Dari kebun mereka sendiri.
Christina sesekali membantu membuat jus dan memasak. Sinta bisa melakukannya seperti halnya berkebun hanya saja jika dia merasa sedang kerepotan atau sedang mengerjakan yang lain atau sedang tidak mood. Apalagi Shappire dan Callista sangat membutuhkan perhatiannya. Dia juga harus menjaga kondisinya agar tidak terlalu lelah. Supaya emosinya tidak terganggu dan cepat tersulut. Dia akan sangat kesulitan mengurus Sapphire dan Callista kalau emosinya terganggu. Tidak bisa bersabar dan berpikir jernih.
Callista menghabiskan susu dan cookiesnya.
"Kita ke kebun sekarang?"
"Baiklah. Kau bisa membantuku membawa kain?"
Callista menganggukkan kepalanya.
Sinta menaruh Sapphire di dalam stoller. Menenteng keranjang berisi makanan dan minuman.
Callista membentangkan kain. Sinta menaruh keranjang berisi makanan dan minuman di atas kain.
Callista kembali ke rumah membawa peralatan berkebunnya.
"James sepertinya baru selesai menyiangi kebun kemaren. Kebun kita sangat bersih dan rapi." Sinta menyunggingkan senyumnya, "Kau mau membantuku menanam bunga?"
Mata Callista berbinar.
Dia mulai menggali tanah dan menanam tanaman bunga dan mengubur akar tanaman di dalam tanah.
Sinta merapikan pekerjaan Callista. Tanaman bisa ditanam dengan lebih rapi dan baik.
"Ma! Aku lapar dan haus!"
"Cuci tanganmu. Ada biskuit, wafer dan jus jeruk di keranjang."
Callista mencuci tangannya dan memakan snack serta meminum jus jeruknya.
"Kau mau makan siang di kebun atau di dalam rumah?"
"Rumah."
"Baiklah, ini baru jam sepuluh pagi. Dua jam lagi kita makan siang. Ok?"
"Ok!"
Sinta ikut mencuci tangannya karena Shappire menangis. Sepertinya kehausan. Sambil menemani Callista menyantap snack dan meminum jus jeruknya. Sinta menyusui Sapphire.
"Kau mau makan apa, sayang?"
"Nasi, sop dan ayam."
__ADS_1
"Baiklah. Setelah ini kita ke dalam. Mama akan memasak makan siang untukmu. Ok?"
Callista menganggukkan kepalanya.