
Dean membiarkan Hapsari tidur di kamar di sebelah Emier. Kamar tersebut didesign untuk anak perempuan.
Sinta sedang hamil anak kembar mereka. Lelaki dan perempuan. Kamar tersebut akan dipergunakan untuk anak perempuan mereka jika nanti memiliki kamar sendiri.
Ingatan Dean melayang pada Helena. Bagaimana pun, Helena sudah membantunya dan Sinta menjebloskan orang-orang yang ingin berniat jahat pada Sinta saat itu.
Bahkan Helena harus membayar dengan nyawanya sendiri. Saat orang-orang tersebut berusaha melawannya dan Sinta. Perlawanan mana berakhir dengan kematian palsu Sinta karena keadaan berbalik menjadi kacau balau serta tidak terkendali.
Dean menemukan hasil off the record Helena yang meragukan bahwa Helena bunuh diri. Tetapi hasil otopsi tersebut tidak dibuka .
Dean sengaja tidak membuat kasus tersebut menjadi jelas. Karena ingin mengancam serta menjauhkan Dylan dari Sinta.
Dia tidak memiliki jalan lain untuk mengusir Dylan dari hidup Sinta. Hubungan mereka yang membaik merupakan obat dari semua kekacauan yang ada.
Dengan membaiknya hubungan di antara mereka. ApalagiApalagi Dylan tampaknya menyukai Haliza. Apakah nama Dylan perlu dipulihkan? Karir hukumnya dikembalikan seperti semula? Atau semuanya memang sudah seharusnya berjalan seperti adanya. Semestinya?
Dean selalu berharap Dylan dapat menemukan kebahagiaannya lagi. Tetapi keberuntungan belum berpihak padanya.
Jika dulu dia harus berhadapan dengan Dean sekarang dia menghadapi Ahkam, mantan suami Haliza yang masih belum merelakan mantan istrinya menjadi milik orang lain.
Ahkam ingin mempertahankan keluarganya juga istri mudanya. Dia tidak ingin kehilangan apa pun. Sebagai lelaki, sangat menyadari haknya untuk berpoligami. Untuk apa kehilangan jika dia bisa mendapatkan semuanya?
Hapsari terbangun dari tidurnya. Matanya menatap berkeliling. Kamar yang indah.
Bangun dari tempat tidurnya. Berjalan keluar kamar.
“Kau sudah bangun?” Tanya Dean.
Hapsari menganggukkan kepalanya.
“Kau mau makan sesuatu? Minum?” Tanya Dean lagi.
Hapsari berjalan menuju meja makan. Perutnya memang lapar. Kerongkongannya terasa kering.
“Makan dan minumlah.” Dean menawarkan makanan serta minuman yang ada di meja makan.
Hapsari menganggukkan kepalanya. Duduk di meja makan. Meraih gelas yang berisi air putih. Menenggaknya sampai habis. Tenggorokannya terasa sangat segar. Dibasahi air yang terasa begitu menyejukkan di kerongkongannya.
“Makanlah…” Ujar Dean.
Hapsari membuka piring yang ada di hadapannya. Mengambil mangkuk berisi nasi. Menuangkannya ke piringnya. Mengambil rendang, udang balado, teri kacang, perkedel dan sayur lodeh Aceh.
Suasana hening. Hapsari menikmati makanannya. Perutnya terasa sangat nyaman diisi dengan nasi beserta aneka lauk pauk yang dihidangkan di meja makan.
Dean menunggu Hapsari menyelesaikan semua urusannya. Dirinya ingin memastikan keadaan Hapsari.
Sinta tidak mungkin menahan Bram terlalu lama. Apalagi dengan tuduhan palsu yang dilemparkan kepadanya. Untuk mengulur waktu sehingga mereka bisa mengorek keterangan dari Hapsari.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Dean pada Hapsari setelah menyelesaikan makan dan minumnya.
“Baik.”
“Aku ingin mengkonfirmasi sesuatu padamu. Apakah kau mengirimkan kode empat jari padaku saat kita bertemu tidak sengaja di hotel?”
Hapsari memandang Dean dengan wajah gamang.
“Kau bisa mempercayaiku.”
Hapsari terdiam sejenak kemudian membuka suaranya.
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”
“Ceritakan saja apa adanya. Aku akan berusaha mencerna serta memahami ceritamu.”
“Orang yang bersamaku di hotel bernama Bram.”
“Apakah dia saudaramu?” Tanya Dean.
Hapsari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Kekasihmu?”
Hapsari kembali menggelengkan kepalanya.
“Suamimu?”
Hapsari menggelengkan kepalanya.
“Lalu siapa dia?”
Hapsari terdiam.
“Kau bisa mengatakannya padaku.”
“Aku tidak tahu siapa dia.”
“Apa maksudmu tidak tahu siapa dia?”
“Aku mengenalnya saat usiaku lima tahun. Setelah kematian tanteku, Helena.”
“Aku mengenal tantemu, Helena.”
“Benarkah?”
Dean menganggukkan kepalanya.
“Kami berteman dengan sangat baik. Dia membantu istriku untuk menjebloskan orang yang berniat jahat pada istriku. Dan dia harus membayarnya dengan nyawanya.”
“Tante Helena dibunuh?”
“Kupikir begitu.”
“Kukira dia bunuh diri. Orang tuaku mengatakan demikian.”
“Pembunuhnya mengesankan demikian tetapi semua off the record.”
“Jika mengenal Tante Helena memang sepertinya tidak mungkin dia melakukan hal itu. Apalagi dia juga sedang mengandung. Apakah dia setega itu membunuh bayi yang ada di dalam kandungannya. Dia sangat menyayangiku dan Brian apalagi bayinya sendiri kan?”
“Siapa Brian?”
“Sepupuku.”
“Kalian keponakannya?”
Hapsari menganggukkan kepalanya.
“Tante Helena yang mengurus kami berdua. Bram ada setelah kematian Tante Helena.”
“Apa yang dia lakukan?”
“Mengawasiku dari jauh.”
“Menjagamu?”
“Semacam itu.”
“Dia tidak berlaku jahat kepadamu?”
“Aku tidak tahu.”
“Apa maksudmu tidak tahu?”
Hapsari menatap wajah Dean dengan bimbang.
“Jika maksudmu berlaku jahat dengan melakukan sesuatu yang kejam memang dia tidak melakukannya. Hanya saja dia ingin melarikanku keluar negeri.”
“Apa maksudmu melarikanku keluar negeri? Human traffiking?”
“Entahlah.”
__ADS_1
“Kau harus mengatakan sesuatu dengan jelas. Apakah dia melakukan kejahatan padamu?”
“Seperti yang kukatakan padamu. Dia akan membawaku keluar negeri. Kemungkinan kami akan menikah?”
“Apa maksudku?”
“Aku sendiri tidak tahu. Tetapi aku merasa tindak tanduknya mulai mencurigakan.”
“Apakah orang tuamu mengetahui mengenai hal ini?”
“Aku tidak ingin membuat mereka khawatir.”
“Apa maksudmu tidak ingin membuat mereka khawatir?”
Hapsari terdiam.
“Aku akan menghubungi istriku.”
Hapsari menganggukkan kepalanya.
Dean menghubungi Sinta. Menceritakan apa yang diceritakan Hapsari kepadanya.
“Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Entahlah! Gadis tersebut tampak bingung.”
“Sudah kubilang tidak seharusnya kau mencampuri urusan orang lain.”
“Dia memberikan isyarat empat jari.”
“Tapi semua tidak seperti yang kau bayangkan.”
“Tetap saja dia terlihat bingung. Orang tuanya tidak tahu apa pun tentang ini.”
“Apa maksudmu orang tuanya tidak mengetahui apa pun tentang ini?”
“Dia tidak ingin orang tuanya menjadi khawatir.”
Sinta memijat keningnya. Mengusap perutnya yang semakin membuncit.
“Kau membuatku nervous. Aku tidak bisa menahan pria tersebut terlalu lama. Dia tidak melakukan apa pun. Aku membuat tuduhan palsu untuk menjauhkannya dari gadis tersebut.”
“Yeah. Aku tahu.”
“Gadis itu masih sangat muda dan labil.”
“Aku ingin kita mencari tahu dan memastikan keadaannya sebelum kita melepaskan dan mengembalikannya pada pria tersebut atau keluarganya.”
Sinta terdiam. Berpikir keras.
“Yeah, sebaiknya memang kita mencari tahu kejelasannya. Sehingga kita tidak meraba-raba atau salah memutuskan.”
“Yeah. Terima kasih atas pengertianmu.”
“Aku akan membebaskan lelaki itu. Membuat skenario bahwa gadis tersebut menghilang. Bagaimana?”
“Menghilang? Seperti sulap?”
Sinta tertawa.
“Maksudku, gadis itu pergi saat dia diinterogasi polisi. Bagaimana? Tidak usah terlalu dramatis. Pergi dan menghilang. Kita akan menahannya bersama kita sampai kita mengetahui semuanya dengan jelas?”
“Baiklah. Aku mengerti. Aku akan mengatakan pada gadis itu agar tinggal bersama kita sementara waktu sampai semuanya jelas.”
“Yeah. Sebaiknya begitu.”
“Aku ingin dia menempati kamar di sebelah Emier. Bukan di paviliun. Kau tidak keberatan kan?”
“Tidak sama sekali. Memang sebaiknya dia tidak berada jauh dari kita. Mencegah hal-hal yang tidak diinginkan atau di luar dugaan.
__ADS_1