
Melihat kedekatan Haliza dan Dylan membuat Ahkam ditelan rasa cemburu.
Semenjak perceraian mereka memang dia sudah tidak memiliki hak apa pun untuk merasa cemburu pada Haliza.
Masalahnya dia enggan menceraikan Haliza seandainya Haliza tidak memaksanya dan dikuasai emosi.
Bagaimana pun Haliza adalah istri pertamanya yang menerimanya apa adanya. Selalu mendukungnya pada setiap keadaan. Perhatian dan baik hati.
Tetapi dia juga tidak bisa menepis daya tarik Hana. Menikah dalam keadaan tidak memiliki apa pun. Sangat berbeda saat memiliki segalanya.
Hana juga membalas perasaannya. Mereka saling jatuh cinta. Lebih tepatnya ada dua wanita yang mengisi hatinya.
Dia mencintai Haliza karena mereka sejak awal bersama. Susah senang bersama. Selain berhutang budi. Banyak momen yang mereka lalui sebagai keluarga.
Sedangkan Hana adalah cintanya sebagai seorang lelaki bak remaja belia. Tidak ada pertimbangan apa pun selain cinta.
Ahkam memandang ke arah Haliza yang sedang asyik mengobrol dengan Dylan. Mereka berdua membicarakan tentang rencana Sinta yang hendak membuat baby shower di rumahnya.
“Kupikir anak-anak sangat suka menghabiskan waktu di rumah Sinta.” Ujar Haliza.
“Rumah Sinta memang sangat nyaman. Mereka bisa berenang di sana. Sinta memperhatikan setiap detail kenyamanan anak-anak.”
“Yeah. Anak-anakmu sudah kembali nyaman dengan ibunya.”
“Yeah. Sinta sangat perhatian dan penyayang terhadap anak-anak.”
“Callista, Sapphire dan Keanu sangat menempel pada Sinta. Anak-anakku juga nyaman berada di rumahnya. Bermain dan menginap bersama anak-anakmu.”
“Yeah. Begitu lah Sinta. Kau tahu kan mengapa aku sangat menyayangi dan mencintainya.”
“Yeah. Dia sangat perhatian, penyayang dan nyaman.”
“Kau tidak cemburu kan?”
"Sedikit.”
Dylan tertawa melihat jawaban Haliza. Seseorang menubruknya dari belakang.
“Maaf!”
Dylan menoleh dan wajahnya tampak masam.
“Aku terburu-buru dan tidak sengaja.”
“Kau menumpahkan kopi panas pada pakaianku.”
“Maafkan aku. Kakiku tersandung.”
“Kulitku mengelupas dan melepuh.”
“Sudahlah, dia tidak sengaja.” Ujar Haliza.
“Kau membelanya?” Sahut Dylan dengan tatapan tidak suka.
“Aku bukan membelanya. Tapi dia sudah meminta maaf padamu.”
“Mana istrimu?” Tanya Dylan galak.
“Untuk apa kau menanyakan istriku?”
“Aku mencurigai motif mu.”
“Kau childish sekali.”
“Aku ingin tahu apakah kalau ada Hana. Tingkahmu seperti ini?”
“Dylan dia tidak sengaja. Sudahlah!” Haliza menarik tangan Dylan memintanya untuk berlalu.
“Kau percaya dia tidak sengaja?”
__ADS_1
“Dia bilang tidak sengaja.”
“Aku tidak percaya. Kau tidak lihat dia tidak bersama Hana. Apakah mereka pecah kongsi?”
“Kau jangan gila!”
“Aku mencurigainya. Aku tidak bisa mempercayainya.”
“Itu karena kau mencemburuinya secara berlebihan.”
Dylan menggenggam tangan Haliza erat. Menatap wajahnya. Berkata lirih, “Itu karena aku sangat mencintaimu.”
Wajah Haliza memerah menahan malu, “Dasar gombal!”
“Belah saja dadaku kalau tidak percaya.” Ujar Dylan dengan wajah dibuat memelas.
Haliza tertawa.
“Aku tidak percaya kau sekonyol ini.”
“Aku gak konyol. Its true and only the truth. Will you marry me? I can not stand to watch your cunning ex.”
Haliza kembali tertawa.
“Please, stop! Its not funny anymore!”
“I know I am doing stupid things. Didn’t realize my feeling for you. But mostly men usually like that.”
“Not mostly just you!” Ujar Haliza kembali tertawa.
“How about Ahkam?”
“He get his second pubertas. That’s all. And he want to have me and her.”
“I think I just want you in my life.”
“Really? Great.” Sahut Haliza santai, “Pulang yuk. Anak-anak udah pada keluar kelas. Syarif hari ini pergi dengan Ahkam.”
“Yeah. Mereka akan membeli papan selancar. Mereka ingin berselancar weekend ini. Berdua saja.”
“Really?”
“Yeah.”
“Callista ingin main ke rumah. Kau pulang bersama Keanu dan Sapphire.”
“Yeah, weekdays Sinta di Aceh. Baru ke sini weekend itu pun kalau tidak ada acara dengan Emier dan Dean.”
“Yeah. Anak-anakmu jika ada Sinta. Mereka memilih bersama ibunya. Besok mereka berencana ingin menginap di rumah Sinta. Kau mengijinkan mereka kan?”
“Yeah. Callista sangat menyukai kamarnya yang Sinta design untuknya. Mereka semua juga ingin berenang. Sinta mengijinkan untuk memakai rumahnya kapan saja yang mereka inginkan. Di rumahnya ada para pengurus rumah sehingga bisa mereka datang kapan saja yang mereka suka.”
“Yeah, mereka ingin berenang dan Callista merindukan kamarnya.”
“Yeah.”
Haliza pulang bersama Callista dan Syarifah. Azizah ikut bersama mereka.
“Kalian berkumpul bertiga?”
“Kami ingin mengerjakan tugas kelompok dan having girls talk.”
“Yeah, right.” Sahut Haliza tertawa.
Pikirannya melayang pada Dylan dan Ahkam. Jika awalnya dia merasa marah pada Ahkam dan kesal. Jatuh cinta lagi pada Hana. Merasa dipermainkan oleh Dylan karena melamarnya padahal hatinya masih terpaut pada Sinta.
Sekarang semuanya berbalik. Dia merasakan Ahkam belum sepenuhnya ingin melepaskannya. Masih berusaha memilikinya dengan Hana. Entah untuk anak-anak mereka atau kebahagiaan dan kenyamanannya sendiri.
Sedang Dylan sendiri menyatakan perasaan cinta padanya. Apakah dia bisa mempercayainya?
__ADS_1
Apakah bisa berbalik secepat itu? Dia meragukannya. Sedangkan dia sendiri. Siapakah sesungguhnya yang disukainya? Mungkinkah dia menyukai keduanya. Atau tidak menyukai keduanya? Atau salah satu dari mereka. Yang mana?
Saat ini dia tidak ingin memikirkan cinta. Karena hanya membuatnya bingung. Dia hanya ingin berkonsentrasi pada anak-anak dan usahanya.
Semua terlalu cepat untuknya dan juga Dylan. Waktu akan menjawab semuanya.
Sesampainya di rumah. Callista, Syarifah dan Azizah langsung menuju kamar Syarifah.
“Kau ingin ikut kami besok ke rumah ibuku?”
“Kau sudah berbaikan dengan ibumu?”
“Yeah. Dia membuatkan aku kamar dengan design yang sangat indah. Kau akan menyukai kamarku. Dia juga membuat kolam renang dan lapangan basket di rumahnya.”
“Wow! Cool!”
“Yeah. Kau mau ikut bersama kami?”
“Yeah. Offcourse.”
“Ikutlah bersama kami besok. Kita menginap di sana. Supir ibuku akan mengantarkan kita ke sekolah.”
“Ok! Cool!”
“Yeah.”
“Kau sudah tidak marah lagi pada ibumu?”
Callista menggelengkan kepalanya.
“Dia sangat baik dan perhatian seperti dulu. Tidak berubah sama sekali walaupun kami semua sempat membencinya kecuali ayahku. Dia selalu mencintai ibuku.”
“Dan ibuku.” Ujar Syarifah.
“Yeah, ibumu tapi ibumu tidak membalas perasaan cinta ayahku.”
“Ibuku bingung.”
“Benarkah? Tapi kenapa?”
“Aku mendengar mereka berbicara. Ibuku masih mencintai ayahku.”
“Yeah, ayahmu sangat baik dan royal. Selalu memperhatikan kalian semua.”
“Ayahku memang sangat perhatian. Jika bukan karena jatuh cinta lagi pada Encik Hana. Mereka masih bersama.”
“Yeah. Kau membenci Encikmu?”
“Awalnya. Tapi dia seperti kakak bagiku.”
“Yeah, usianya tidak berbeda jauh dengan kita semua. Dia seperti sangat mencintai ayahmu.”
“Ayahku juga. Mereka seperti sepasang remaja yang kasmaran.”
“Yeah. Aku bisa melihatnya. Ayahmu mencintai ibumu dan Encikmu.”
“Yeah.”
“Kau sendiri bagaimana?”
“Aku terserah pada ibu. Aku ingin yang terbaik buat ibu. Apa yang membuat ibu bahagia. Membuatku bahagia.”
“Yeah, right.”
__ADS_1