Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
The House


__ADS_3

Dylan mempersiapkan rumah sebelum memutuskan tanggal pernikahannya. Mencari lokasi. Memilih rumah dan mendesign serta merenovasinya.


“Kau tidak mencari alasan mengulur pernikahan kita kan?” Tanya Haliza.


“Astaga! Tentu tidak. Aku sudah memutuskan akan menikah denganmu. Untuk apa aku mengulur-ulur?”


“Mana aku tahu? Mungkin kau ingin berpikir ulang? Menyesal? Mungkin....”


“Berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Apartementku dan rumahmu  tidak cukup menampung kita semua. Memang kau mau kita hidup terpisah setelah menikah. Atau berjejal-jejalan?”


“Aku trauma dengan mantan suamiku. Kupikir kau akan berlaku sama. Aku tahu, aku tidak semenarik mantan istrimu. Aku juga bukan wanita yang pintar seperti mantan istrimu. Tidak cantik seperti Sinta dan Hana. Tidak sebelia Hana. Aku....”


Dylan meletakkan telunjuknya di bibir Haliza.


“Sssttt...Kau berbicara apa? Aku mencari teman hidup. Pendamping hidup. Aku menyukai kesederhanaan dan ketulusanmu. Kau menyayangi dan memperhatikan kami semua.”


“Justru karena itu aku kerap diremehkan dan direndahkan.”


“Yang penting kau tidak pernah merendahkan dan meremehkan orang lain. Sebagian orang tertipu dengan kelebihan yang mereka miliki. Buat apa kuat kalau kerap berlaku sombong dan aniaya. Jangan bandingkan dirimu dengan Hana. Jika mantan suamimu menyukai wanita semacam itu. Maka tidak semua pria sama. Aku menginginkan kenyamanan untuk keluargaku dan diriku sendiri. Aku bukan menginginkan wanita untuk diriku sendiri. Tetapi untuk semua anak-anakku.”


“Mantan suamiku hanya memanfaatkanku. Aku takut kau memanfaatkanku juga.”


“Bagaimana lagi aku bisa menyakinkanmu? Aku dan Sinta telah berakhir selamanya. Tidak ada jalan kembali dan bersama. Sama seperti mantan suamimu. Apakah kau dan aku akan terjebak masa lalu?”


“Entahlah! Mungkin kita harus berpikir lagi tentang semuanya.”


“Apa maksudmu? Kau sudah mengatakan iya.”


“Kupikir semuanya terlalu terburu-buru. Aku tidak ingin sakit hati lagi.”


“Aku sudah mencari rumah untuk kita sekeluarga. Sinta juga sudah menyetujui rumah dan lahan yang kucarikan untuknya. Sudah membuat design rumahnya. Mengapa kau merubah pikiranmu?”


“Kupikir semua terlalu terburu-buru. Aku seperti membuka diriku untuk terluka lagi. Aku tidak ingin mengalaminya kembali. Kupikir lebih baik kita seperti biasa. Kau dengan anak-anakmu. Aku dengan anak-anakku. Aku akan membantumu menjadi ibu mereka. Kita tidak harus menikah.” Haliza menghela nafasnya.

__ADS_1


“Ini cincinmu. Kukembalikan.” Haliza mencopot cincin yang melingkar di jari manisnya. Meletakkannya di meja peninsula tempat mereka berbicara sambil menikmati penganan dan kopi yang Dylan buatkan untuk mereka berdua.


“Aku sudah membeli rumah tersebut. Aku berharap kita semua mengisinya tanpa terkecuali. Aku memang tidak melamarmu dengan cinta dan aku tidak ingin membohongimu. Hatiku milik Sinta. Tapi aku juga ingin berbahagia tanpanya. Cinta tidak selalu memiliki. Dasar pernikahan adalah kesetiaan dan komitment bukan cinta. Kita membangun keluarga bukan hanya sekedar memuaskan hasrat. Melampiaskan rasa." Ujar Dylan.


“Kau dan anak-anakmu membutuhkan rumah tersebut. Dan jika kita semua berkumpul. Apartment tidak cukup menampung kita semua. Sejujurnya, aku sendiri tidak tahu apa itu cinta. Aku memaknai cinta dengan percaya. Aku memilih Ahkam karena aku percaya dia akan menyayangi dan melindungiku dan anak-anakku. Aku memilihmu juga dengan alasan yang sama. Aku baru menyadari bahwa yang bisa menyayangi dan melindungi adalah diri kita sendiri. Bukan selain kita.”


Dylan terdiam. Menyesap kopinya dan melanjutkan perkataannya, “ Kau menikmati hidup sendiri. Tanpa pasangan?”


“Kau sendiri sebenarnya seperti itu kan? Jika hanya saling bantu dan dukung. Untuk apa kita menikah? Bisa jadi kita justru akan saling menyakiti. Berbeda dengan saat ini. Kita memahami batas masing-masing. Seandainya aku dan Ahkam tidak pernah menikah. Maka dia tidak akan pernah bisa menyakitiku. Aku juga tidak akan merasa dimanfaatkan dan direndahkan seperti ini. Aku yang paling bertanggung jawab terhadap semua yang menimpa diriku.”


“Jangan terlalu keras pada dirimu.” Dylan mengenggam tangan Haliza. Haliza menepis halus.


“Cinta sejatimu adalah Sinta. Cinta sejati Ahkam adalah Hana. Cinta sejatiku adalah anak-anakku dan anak-anakmu.”


“Anak-anakku sangat berharap kau mau menjadi ibu mereka.”


“Aku akan ada selalu ada untuk mereka. Menjadi ibu tidak harus menikahi ayahnya bukan? Ibu sambung dan angkat apa bedanya? Justru pernikahan rentan berujung perceraian dan luka.”


“But you like me first. I never thought you will refuse me.”Ujar Dylan lirih.


“Aku bisa saja membohongimu mengatakan bahwa aku sudah melupakan Sinta. Aku tidak ingin melakukannya. Karena aku ingin hubungan kita dimulai dengan kejujuran. We will build something from nothing.” Ujar Dylan berusaha meyakinkan Haliza.


“Aku juga bisa saja membohongimu meyakinkanmu bahwa aku tidak meragukan hubungan kita. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Aku takut mengalami trauma yang sama. Luka yang sama. Menjadi semacam pola di dalam hidupku. Cinta tidak bisa dipaksakan kehadirannya. Tidak bisa dipaksakan kepergiannya. Cinta itu rasa. Kau bisa saja mengatakan asin pada makanan yang tidak kau taburi garam di dalamnya. Tapi cinta bukan kata melainkan rasa. Kau tidak perlu mengatakan nikmat pada makanan yang memang kau rasakan sendiri kelezatannya.”


“Aku memang tidak bisa merasakan apa pun padamu. Tapi aku percaya cinta tidak hanya masalah rasa tapi juga biasa. Cinta tidak selalu berbicara gelora rasa. Tapi cinta juga bisa sederhana. Nasi tidak memiliki rasa. Tidak juga lezat. Tapi siapa yang bisa hidup tanpa nasi?” Sambung Dylan.


“Cinta memiliki beragam perspektive. Masalah rasa dan biasa. Makanan lezat dan nasi. Semua harus dilihat konteksnya. Nasi bisa jadi sederhana dan dikonsumsi karena biasa. Tetapi jika kita berbicara diabetes dan komplikasi lainnya?"


“Komplikasi apa hidup kita? Justru pernikahan kita akan memperbaiki semuanya. Memberikan harapan pada semuanya. Membangun hubungan keluarga yang baru. Harapan baru."


“Aku dan Ahkam. Mungkin hanya aku. Pernah bermimpi seperti itu. Berharap seperti itu. Ahkam sejak semula sudah mengetahui bahwa baginya, rasa adalah rasa. Tidak akan menjadi terbiasa. I didn’t want going through again. Everything seem familiar for me.”


“What can I do to convince you?”Ujar Dylan putus asa.

__ADS_1


“Nothing. Time will tell. Faith will govern. Just let everything stay the way they are. Happiness when you try to give your best without strings attached. Not force things that will be hurt. Nor something you never can be promise or give.” Sahut Haliza.


“I just want to be simple. I didn’t expecting love in my life. I just expecting mate. To accompany and colour my life. No one can define or spell love properly. Sometimes you can not describe. But when you found someone that you are really can count. Maybe part of them define is as an opportunity to manipulate. But some of them see that  they  have a second chance to start their life with the right beginning.” Menutup pembicaraannya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


... ...


__ADS_2