
Langit hari itu sangat cerah. Awan putih berarak. Matahari bersembunyi dibalik awan. Mengurangi garang panasnya.
Cuaca yang cerah bertolak belakang dengan suasana hati Sinta. Dirinya kerap merindukan Dylan dan ketiga buah hatinya.
Keanu menjadi pikirannya. Begitu juga dengan kedua kakaknya. Bagaimana mereka menjalani hidup tanpanya? Apakah Dylan bisa mengatasi semuanya.
Bulir air mata bening turun membasahi pipinya. Dirinya didera rindu dan juga lara.
Dean berjalan ke arah isterinya. Membawakannya segelas susu hangat. Sepiring kue apem yang baru saja matang.
"Jangan terlalu banyak berpikir dan bersedih . Kau sedang hamil. Jaga kesehatanmu."
Sinta menatap Dean dengan wajah marah, "Kau mau aku bagaimana? Kau memisahkanku dari suami dan anak-anakku."
"Aku suamimu bukan dia! Dia mencurimu dariku. Tidak usah mengungkit yang sudah berlalu!"
"Kau benar-benar keterlaluan. Harusnya kau ceraikan aku. Bukannya membatalkan pernikahanku dengannya. Aku sudah mengatakan aku tidak mencintaimu. Mengapa kau masih memaksa?"
"Dia membuatmu berpaling dariku. Mempengaruhimu. Melarikanmu dariku."
"Aku tidak bahagia bersamamu. Mengertilah. Dia membebaskanku dari semua hal yang membelengguku."
"Aku tidak ingin membicarakan hal lain yang tidak relevan. Aku mengakui kesalahanku. Mengkhianatimu. Kuanggap semua impas. Kita tidak saling berhutang."
"Mengapa aku tidak boleh menghubungi mereka? Mendampingi mereka melalui masa-masa yang sangat sulit? Mengapa kau tidak membiarkanku bersama mereka?"
Dean menatap tajam dengan wajah penuh amarah, "Kau jangan keterlaluan! Kalau kau tidak ingin sesuatu menimpa mereka, bekerja sama lah. Semua gerak gerik dan percakapan selulermu disadap dan berada di bawah pengawasanku. Jika kau berani menghubungi mereka. Aku tidak menjamin keselamatan mereka semua."
"Kau kejam!" Sinta berteriak. Menangis histeris.
"Aku masih berbaik hati membiarkan kalian semua hidup. Tidak mengambil apa pun. Agar bedebah itu bisa mengurus tanggung jawabnya. Siapa yang menuai angin dalam hidupku. Maka dia yang akan menunai badainya."
Sinta kembali menangis. Hatinya begitu pilu. Terbayang wajah ketiga buah hatinya secara bergantian. Dylan sendiri. Bagaimanakah keadaannya? Nyaris gila dia memikirkan semuanya.
"Jaga kehamilanmu. Kau juga harus mempersiapkan dirimu. Ada rapat yang harus kau pimpin. Aku ingin melebarkan usaha keluargaku. Ada beberapa hal yang harus kau putuskan."
Sinta memandang Dean dengan wajah penuh kebencian,"Aku bukan boneka!"
"Lalu apa? Kau mau melawanku? Tidak cukup, yang kau dapatkan saat ini? Masih kurang?"
Plakkkk
Dean menampar wajah Sinta. Bekas merah tergambar di pipinya.
__ADS_1
"Pelacur tetaplah pelacur! Dasar wanita murahan! Berani kau menghancurkan rencanaku. Rasakan akibatnya!"
Dean uring-uringan melihat polah Sinta. Dia membenci sekaligus mencintainya. Dua perasaan yang membuatnya tersiksa.
Sinta sendiri sangat membenci Dean karena memisahkannya dari keluarga kecilnya.
"Begini caramu mencintai?" Sinta menatap tajam ke arah Dean. Kebencian jelas tergambar di wajahnya.
"Kau tidak memberikanku pilihan. Kalau kau mengungkit masa lalumu lagi. Jangan salahkan aku kalau harus mengingatkanmu."
Dean mengambil boorwater dan kapas. Menuangkannya ke wadah dan mengompreskannya ke pipi Sinta.
"Aku tidak ingin menyakitimu. Jangan selalu memancing amarahku!" Perasaan menyesal muncul begitu saja dari dalam hatinya. Dia tidak ingin menyakitinya tetapi Sinta tidak pernah memberikan pilihan kepadanya.
Sinta mengusap pipinya yang terasa perih dan memanas. Bersiap untuk menghadiri rapat. Membaca agenda rapatnya. Ringkasan yang dibuat sekretarisnya.
Memeriksa jadwalnya hari ini. Saat yang paling dinantikannya. Bertemu dengan psikiaternya sepulang bekerja.
Menghabiskan susu hangat dan kue apemnya. Menyeka air mata yang menetes begitu saja. Mengambil tissue menghapus air mata juga ingusnya. Mata, bibir dan hidungnya memerah.
Kebiasaan barunya yang lain. Meminum obatnya sebelum memulai pekerjaannya. Dia tidak akan bisa bertahan menjalani semua tanpa obat-obatan tersebut.
Menenggelamkan diri dalam pekerjaannya. Melingkari dan menandai hal-hal yang menjadi fokus perhatiannya. Semua yang akan dikonfirmasikannya pada mereka yang bertanggung jawab atau bidang pekerjaan dimaksud.
Hari-harinya bergulir begitu membosankan. Penuh tekanan. Menandantangani dokumen yang tidak ada habisnya. Menghadiri rapat yang sangat membosankan. Membaca ringkasan demi ringkasan.
Memakan makanan sehat demi janin yang sedang dikandungnya. Kehamilannya kali ini sangat berbeda dengan tiga kehamilan lainnya yang sangat membahagiakan.
Aku sangat membenci ayahmu. Kau lahir dari kebencian antara aku dan ayahmu. Kau satu-satunya alat untuk membalaskan dendam dan sakit hatiku pada ayahmu!
Hatinya begitu sakit mengingat perlakuan Dean kepadanya. Dean memperkosanya setiap kali mereka berhubungan intim. Sampai dia mengandung benihnya.
Kau bukan lahir dari rasa cinta melainkan benci.
Gadgetnya berdering. Dean. Sinta mengabaikannya.
Beberapa saat kemudian, Dea, sekretarisnya memasuki ruangannya. Berjalan mendekatinya. Mengangsurkan gadget miliknya kepadanya.
"Bapak mau bicara sama ibu. Menelpon ibu tapi hape ibu tidak diangkat."
"Kamu kan bisa bilang saya gak ada!" Bentak Sinta galak.
"Maaf bu, saya takut bapak marah dan dipecat kalau saya berbohong." Dea mengangsurkan gadgetnya dengan wajah takut. Membuat Sinta gemas melihatnya.
__ADS_1
Sinta menyambar gadget Dea dengan kasar. Mengibaskan tangannya. Menyuruh Dea keluar ruangannya.
"Ada apa sih kau menelpon aku?!" Tanya Sinta galak.
"Kau sudah memakan makanan dan vitaminmu belum? Awas kalau kau tidak jaga kesehatanmu!"
"Aku tidak nafsu makan! Kau selalu memaksakan kehendakmu padaku!"
"Aku tidak mau berdebat denganmu. Dea akan memberikan makanan dan vitaminmu. Kau harus menghabiskannya tanpa sisa atau kau akan dapatkan hukumannya nanti malam!"
"Kau benar-benar keterlaluan!"
"Kalau sampai kau berani membuang atau tidak menghabiskannya. Kau sudah tahu apa yang akan kulakukan padamu!"
Tubuh Sinta menggigil ketakutan. Berteriak memanggil Dea seperti kesetanan. Dea tergopoh-gopoh mengambil gadgetnya dari tangan Sinta yang susah payah menahan emosi dan amarahnya.
Dea membawakan nampan berisi nasi, semur daging, tumis tahu jamur, jus alpukat, air mineral dan vitamin.
Sinta menumpahkan seluruh kemarahannya pada psikiternya. Kebenciannya terhadap Dean. Kerinduannya pada Dylan dan ketiga buah hati mereka.
Sesi pertemuannya dengan psikiaternya. Bisa meluapkan semua emosi terpendamnya.
Kehamilannya memperburuk keadaannya. Keadaan hormon yang tidak stabil. Tekanan yang dihadapinya. Kondisi emosinya yang tidak stabil. Membuat semua seperti sulit dilalui.
Psikiaternya menyesuaikan sejumlah obat yang harus diminumnya dengan kondisi kehamilannya.
Kondisi emosionalnya sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Tetapi semua tetap harus berjalan seperti apa adanya.
Di tengah emosinya yang terkuras. Psikiaternya mengatakan sesuatu yang memicunya ingin keluar dari keadaannya.
"Memang kau tidak ingin melihat anak-anakmu dan mantan suamimu?"
"Tentu aku ingin. Tapi apa dayaku?"
"Kau harus sembuh. Sehingga kau bisa mengawasi mereka dari jauh. Bagaimana?"
Perkataan psikiaternya memacunya untuk sembuh. Mulai mencoba menjalani kesehariannya sebaik yang dia bisa. Berusaha melepaskan ketergantungannya terhadap obat-obat penenang dan tidur.
Mencoba menjalankan hidup yang lebih sehat dan menyegarkan.
Semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi dengan niat dan usaha-usaha yang sungguh-sungguh. Semua juga bukan tidak mungkin dilakukan.
Sakit hati dan dendamnya pada Dean tumbuh subur. Tapi dia juga tidak ingin semua menjadi tidak terkendali atau membuatnya kacau balau.
__ADS_1
Sweet revenge. Tunggu saja tanggal mainnya!