
Dean menatap dengan wajah penuh kebencian dan juga jijik.
"Kau adalah orang yang paling kupercaya!" Dean berteriak marah.
"Kau memaksanya untuk terus menjabat. Tidak ingin melepaskan atau membebaskannya. Aku harus bagaimana?"
"Kau ikut campur terlalu jauh!"
"Kau mengkhianatinya. Memanfaatkannya.Mengekploita-sinya. Aku tidak tahan melihatnya menderita. Aku sangat mencintainya."
"Dia isteriku! Kau mencintai milik orang lain!"
"Kau tidak bisa melindunginya. Dia berbahagia bersamaku. Aku bisa melindunginya dengan segenap jiwa ragaku. Jika kau mencintainya. Kau harus melepaskannya."
Dean kembali memukul Dylan yang baru saja siuman.
"Kau benar-benar tidak tahu malu dan membuatku sangat jijik!"
"Kami sudah memiliki keluarga. Lepaskan kami. Dia tidak pernah mencintaimu!"
Dean kembali melayangkan tinjunya. Dug!
"Bagaimana kau bisa melindunginya sekarang? Aku ingin kau mengundurkan diri dari karirmu sebagai pengacara. Ini bukti-bukti pendukung pemecatanmu sebagai pengacara. Kau memalsukan dokumen kematian. Membunuh. Menikahi isteri orang. Pernikahanmu akan dibatalkan karena tidak sah menikahi wanita yang masih berstatus isteri orang lain."
"Mengapa kau begitu kejam? Ceraikan dia. Biarkan dia hidup bersamaku dan anak-anak kami. Menyingkirlah dari kehidupannya."
Dean kalap, memukuli Dylan hingga pingsan.
Dylan resmi dipecat dari profesinya sebagai pengacara. Langkah selanjutnya memisahkan Sinta dari Dylan. Dean akan mengurus pembatalan pernikahan Dylan dan Sinta.
Mendatangi Sinta dan ketiga buah hatinya di Swiss. Sinta sangat terkejut melihat kedatangan Dean.
"Darimana kau tah.u kediamanku?"
"Aku tidak hanya mengetahui kediamanmu tapi juga konspirasimu dengan Dylan. Memalsukan surat keterangan kematianmu. Karir suamimu sudah tamat. Kita bernegosiasi untuk kepentingan anak-anakmu atau kau percayakan semuanya kepadaku?"
"Dimana suamiku? Kau apakan dia? Lepaskan dia. Jangan ganggu dia!"
"Aku tidak akan membiarkannya selamat apalagi melepasnya kecuali kau mau bersepakat denganku. Demi suami dan anak-anakmu!"
"Jangan ganggu suami dan anak-anakku!"
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku akan memaafkan semua yang kau lakukan. Asalkan kau mau kembali padaku."
"Lepaskan aku! Kumohon. Aku tidak mencintaimu! Aku ingin bersama suami dan anak-anakku!"
Dean mendatangi Sinta dengan marah. Mendekatkan wajahnya dan menciumnya dengan paksa. Sinta berusaha melawan tetapi sia-sia.
Dean melepaskan wajah Sinta dengan kasar, "Aku suamimu! Aku akan membatalkan pernikahanmu dengannya. Pernikahan kalian tidak sah. Kau masih isteriku dan menikah dengan orang lain?"
__ADS_1
"Maafkan semua kesalahanku. Ceraikan aku. Sehingga aku bisa bersama Dylan dan anak-anak kami berdua."
Mata Dean menatap nyalang. Matanya menyiratkan luka yang menganga. Wajahnya seperti singa yang berada di puncak angkaranya. Membuat hati Sinta menjadi ciut dan takut.
"Kau mau apa?" Sinta mundur bermaksud ingin melarikan diri.
"Kalau kau ingin lari. Terserah padamu. Tapi aku tidak menjamin keselamatan suami dan anak-anakmu."
Wajah Sinta memucat,"Apa yang kau inginkan?"
"Ada saatnya orang menabur. Ada saatnya mereka menuai. Kau menabur angin pada kehidupanku sekarang kau menuai badainya. Aku ingin kau tinggalkan suami dan anak-anakmu. Kembali padaku. Aku tidak akan mengganggu mereka."
"Biarkan anak-anakku bersamaku." Wajah Sinta memanas.
"Aku tidak menjamin keselamatan mereka. Kau ingin aku melampiaskan dendam dan sakit hatiku pada mereka? Kau tidak takut aku akan merusak anak-anak perempuanmu? Menyakiti anak lelakimu? Membalaskan semua dendam dan sakit hatiku?"
"Oh!" Sinta menutup mulutnya. Air matanya turun dengan deras. Menyesali semua perbuatannya. Melarikan diri dari Dean dengan cara menipu dan mengerjainya."
"Bertahun aku hidup dalam kenangan yang kau tinggalkan. Aku mengingatmu sebagai seorang isteri yang setia. Suci bersih."
"Maafkan aku! Keadaannya begitu sulit. Aku tidak mampu menanggung semua beban. Dylan hanya ingin membantuku membebaskan diri dari semua yang membelengguku."
"Termasuk aku?" Ejek Dean.
"Kau memaksaku untuk menjalani semuanya. Aku tidak bisa."
"Kau tidak mau bukan tidak bisa."
"Hanya Dylan yang memahamiku. Kumohon lepaskan kami!"
"Tanda tangani atau kau ingin mencelakai anak-anak dan suamimu?"
Air mata berjatuhan ketika Sinta menandangatangani surat tersebut.
"Kau berjanji tidak akan mengganggu mereka sedikit pun?"
"Semua tergantung kerja samamu."
"Apa rencanamu?"
"Membatalkan pernikahanmu. Dylan mengurus anak-anaknya sendiri. Menghancurkan karir profesionalnya tetapi aku tidak mengganggu semua miliknya. Agar dia dapat bertanggung jawab terhadap hidup anak-anaknya."
"Apa ada pilihan lain? Ambillah semua yang kami miliki dan menjauhlah dari kehidupan kami!"
Plakkk
Dean menampar wajah Sinta sampai menimbulkan bekas merah di pipinya.
"Kau sangat menguji kesabaranku! Aku tidak menginginkan harta kalian sepeser pun. Jangan menghinaku dan keluargaku. Aku hanya menginginkan milikku kembali. Kau jalani semua seperti sebelumnya."
"Apa maksudmu menjalani semua seperti sebelumnya?"
__ADS_1
"Melindungi perusahaan keluargaku. Aku akan membersihkan namamu. Menimpakan semuanya pada Dylan."
"Jangan kau lakukan itu!"
"Karir Dylan sudah hancur. Dia tidak akan bisa mengelak dari semua tuduhan. Kalau dia melawan. Akibat yang akan ditanggungnya semakin berat. Menimpa anak-anakmu karena ayah mereka akan dikenal dengan semua kejahatan yang dilakukannya."
"Dylan tidak jahat!"
"Kau bukan hukum! Kau tidak bisa menentukan apa pun! Bagimu dan anak-anakmu mungkin Dylan adalah malaikat pelindung. Tapi di mata hukum? Penjahat yang harus mempertanggungjawabkan semuanya. Bagaimana?"
"Apa yang harus kulakukan?" Airmatanya terus mengalir. Menganak sungai.
"Seperti yang sudah kukatakan. Batalkan pernikahanmu. Kembali padaku seolah tidak ada yang terjadi. Aku akan membersihkan namamu sehingga kau bisa menjalankan tugasmu melindungi perusahaan keluargaku. Kita akan membangun keluarga. Kau harus melahirkan pewaris tahta kerajaan bisnis keluargaku."
"Mengapa kau tidak mencari wanita lain yang bisa membantumu mencapai semua ambisimu dan jangan mengganggu kehidupanku yang baru?"
"Kau pikir mudah mencari penggantimu? Tidak semua orang bisa menjalankan multifungsi sepertimu."
Tangis Sinya meledak, "Kau mengeksploitasiku. Bukan mencintaiku."
"Take it or leave it!"
"Biarkan aku mengucapkan selamat tinggal pada anak-anakku."
"Tidak bisa. Jangan menjelaskan apa pun pada anak-anakmu. Mereka akan dijemput dan langsung dibawa ke Dylan. Biarkan Dylan yang mengurus mereka semua."
"Aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada mereka?"
"Kau ingin semuanya menjadi lebih sulit?"
Air mata Sinta bercucuran. Dia terpaksa menuruti semua keinginan Dean tanpa syarat demi keselamatan dan kesejahteraan Dylan dan anak-anaknya.
"Jangan coba-coba melarikan diri atau menghubungi suami dan anak-anakmu. Kau akan dijaga sangat ketat."
"Bagaimana kau akan menjelaskan pada kedua orang tuamu?"
"Dylan menculikmu. Dia merusak nama baikmu untuk kepentingan karir profesionalnya."
"Itu fitnah!" Tangis Sinta kembali pecah.
"Tidak usah memikirkan apa pun. Aku akan mengatasi semuanya. Kau hanya tinggal menurutinya dan jangan membuat masalah baru. Kalau kau ingin anak-anakmu dan Dylan dalam keadaan baik."
"Apakah aku bisa bertemu Dylan untuk terakhir kalinya?"
"Sayangnya tidak bisa! Kau jangan banyak menegoku setelah apa yang kau lakukan kepadaku. Jangan membuatku menjadi berubah pikiran. Membuat segalanya lebih buruk. Kau tidak ingin mimpi buruk terjadi pada keluargamu bukan?"
Tubuh Sinta menggigil. Membayangkan kekejaman Dean membalaskan dendam dan sakit hatinya.
Dean sangat mempercayainya dan Dylan sebelumnya. Mereka sudah mengkhianati serta merusak kepercayaannya. Dean masih memberikan kehidupan untuk Dylan dan anak-anak. Sudah merupakan suatu kebaikan. Sebaiknya aku berhati-hati. Jangan sampai menyinggung Dean dan menyakiti Dylan dan anak-anakku lebih jauh.
"Kau harus berjanji tidak mengganggu mereka jika aku menuruti keinginanmu."
__ADS_1
"Kapan aku mengingkari janjiku? Kau yang mengkhianati kepercayaanku."
"Baiklah…" Jawab Sinta lemah tak berdaya.