Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Angered


__ADS_3

Kandungannya semakin membesar. Sinta mengenyahkan pikiran untuk mengugurkan kandungannya. Apalagi setelah ancaman Dean kepadanya, Dylan dan anak-anaknya.


Jika rencananya berhasil mungkin dia akan membawa lari anaknya atau ditinggalkan bersama Dean.


Kau yang memintanya! Aku hanya menginginkan kebebasanku. Kehidupan lamaku kembali!


Dean tetap memperhatikan Sinta dan kandungannya. Tidak mempedulikan kebencian Sinta pada dirinya.


Dia memang sempat kecewa dan marah mengetahui Sinta berbohong dan ingin mengugurkan kandungannya.


Terpenting dia bisa membatalkan niat Sinta. Ancamannya membuahkan hasil. Sinta seperti lebih bisa menerima keadaannya.


Rutinitas pekerjaannya, melayaninya serta merawat kandungannya sudah menjadi ketetapan takdir yang harus dijalaninya. Tidak bisa dihindarinya.


Dean mengatur setiap kehidupan Sinta agar semua bisa berjalan dengan baik dan lancar. Antara pekerjaan Sinta, keluarga dan istirahat termasuk tidur.


"Kau memperlakukanku seperti anak kecil."


"Kau memang anak kecil." Sahut Dean santai.


"Kau senangnya cari gara-gara."


"Kau senang cari masalah."


"Aku benci kau!"


"Aku sudah tau! Jangan marah-marah terus. Aku tidak ingin anakku nanti suka marah-marah. Banyak yang bilang bahwa emosi, kebiasaan dan prilaku ibu selama hamil bisa mempengaruhi bayi di dalam kandungan."


"Aku tidak habis pikir mengapa kau tidak punya hati?"


"Haruskah kita membahas ini?"


"Berbicara denganmu seperti dengan tembok."


"Kau sudah tahu tapi tetap saja mau membicarakannya."


"Karena aku masih belum bisa mengerti."


"Tidak semua bisa dimengerti. Apakah ketika kau belajar di sekolah. Kau mengerti semua pelajaran?"


"Tentu saja tidak."


"Begitu juga dengan hidup."


"Kau tidak bisa mencari argumen untuk membenarkan perbuatanmu."


"Kalau kau dan Dylan boleh? Standart ganda!"


"Kau tidak paham keadaannya waktu itu."


"Bagaimana keadaannya?"


"Kau tahu bagaimana kekacauan perkembangan kasusku."


"Lalu?"


"Kau juga terus memaksaku untuk tetap menjabat. Melindungi perusahaan keluargamu."


"Lalu?"


"Kau hanya menjawab lalu tapi mengabaikan kondisiku saat itu."


"Sejujurnya, kondisimu saat ini lebih berat bukan?"


"Tentu saja! Kau memisahkan aku dari suami dan anak-anakku."


"Dylan bukan suamimu. Pernikahan kalian tidak sah. Statusmu adalah isteriku ketika kau menikahinya. Itu sebabnya aku bisa membatalkan pernikahanmu dengannya. Aku tidak mempermasalahkan yang lainnya saja sudah bagus."


"Apa maksudmu tidak mempermasalahkan yang lainnya? Aku memiliki kehidupan dengannya dan anak-anakku."


"Kehidupan apa? Dia menyembunyikanmu."


"Karena kekacauan yang menimpaku. Mengertilah, Dylan terpaksa memalsukan kematianku. Semua sudah dipikirkan matang-matang."

__ADS_1


"Aku tidak mau membahas ini lagi."


"Kau otoriter!"


"Apa yang bisa aku bahas denganmu? Seperti kaset rusak dan hanya membahas itu-itu aja."


"Mengapa kau tidak menceraikan aku sehingga pernikahanku dengan Dylan tidak perlu dibatalkan."


"Yang tidak sah pernikahan siapa?"


"Apa maksudmu?"


"Kau memalsukan surat keterangan kematianmu. Kau juga menikah saat statusmu masih isteriku. Apakah itu sah?"


"Tapi aku sudah memiliki anak dengan Dylan."


"Siapa yang membuat semuanya menjadi rumit. Seharusnya kalau kau memalsukan kematianmu. Untuk apa kau menikah dengannya? Apakah kau melarikan diri untuk menikahinya atau menyelamatkan diri dari kekacauan kasus hukummu?"


Sinta terdiam mendengar jawaban Dean.


"Kami berpikir bisa menyelesaikan semua masalah dengan cara memalsukan surat keterangan kematian. Melarikan diri dan memulai hidup baru."


"Hidup baru apa? Kau membuat semuanya menjadi kacau."


"Kau yang membuat rumit. Jika kau menceraikanku maka pernikahanku tidak perlu dibatalkan setidaknya aku bisa menikah ulang untuk menyempurnakan yang tidak sah. Jika kau menceraikanku, setelah masa iddahku selesai. Aku bisa menikah dengan siapa saja."


Dean memegang dagu Sinta. Mengangkat wajahnya. Menatapnya tajam,"Terlalu bertele-tele. Lebih baik dibatalkan. Masalah selesai!"


"Kau…."


"Kau harus menjalankan aktifitasmu. Jangan buang waktu dengan omong kosong semacam ini."


"Kau mengeksploitasiku!"


"Kau membohongi dan menipuku! Jangan lupa jadwal kontrolmu. Sebentar lagi kau melahirkan. Jadwal kontrolmu seminggu sekali."


"Gak usah sok perhatian!" Teriak Sinta kesal.


"Iyuh!"


Dean tergelak. 


"Aku minta tambahan vitamin untukmu."


"Vitamin apalagi?"


"Kau mau merusak organku atau bagaimana?"


Dean memegang wajah Sinta dan menatapnya tajam, " Aku tidak peduli mengenai organmu. Terpenting anakku."


"Karena kau hanya mementingkan anak ini. Aku punya tawaran untukmu."


"Tawaran apa?"


"Bagaimana setelah melahirkan. Kuserahkan dia padamu. Biarkan aku kembali pada Dylan dan anak-anakku."


"Ide yang bagus!"


Mata Sinta berbinar senang, " Kau ternyata tidak sekejam yang kuduga. Aku bisa mengerti kau hanya menginginkan keturunan. Baik, kita deal!"


"Kata siapa?"


"Barusan kau bilang?"


"Aku memang hanya membutuhkan anak ini. Tapi anakku membutuhkan ibunya, keluarga yang utuh. Support system yang sempurna."


"Ada opsi kedua. Biarkan dia memiliki ayah sambung dan sodara-sodara sambungnya."


"Seandainya kalian manusia-manusia yang bisa dipercaya tentu lain ceritanya!"


"Kau sangat pendendam! Kau hanya perlu percaya dan memberikan kesempatan!"


Dean mencengkram tangan Sinta dengan sangat kuat.

__ADS_1


"Aww!!! Lepaskan! Sakit!!!"


"Itu belum seberapa dengan apa yang kalian perbuat padaku! Aku seorang debil mempercayai mulut manis Dylan! Menganggapnya sebagai saudara dan orang yang paling kupercaya melebihi orang tua dan diriku sendiri. Sekarang kau tahu betapa bodohnya aku! Kau masih mengemis minta diberikan kesempatan? Kalian berdua ular berbisa. Yang akan mematuk setiap saat!"


Wajah Sinta meringis menahan sakit akibat cengkraman tangan Dean.


"Kalian berdua bukan manusia! Tidak bisa dipercaya!" Ujar Dean ketus.


Meledak tangis Sinta.


"Bisanya hanya menangis? Mana pertanggung jawabanmu?"


"Aku dan Dylan tidak bermaksud mengkhianatimu!"


Plakkk


Dean kehilangan kesabarannya.


"Kau yang memintanya! Aku tidak ingin bersikap kasar tapi kau selalu memancing kemarahanku!"


Plakkk


"Ini untuk surat keterangan kematian palsumu!"


Plakkk


"Ini untuk pengkhianatanmu menikah dengan Dylan."


Plakkk


"Ini untuk kebodohanku menangisi kuburan palsumu!"


Pipi Ratih merah dan nyaris biru. Memar.


"Kdrt! Aku berhak meminta cerai!"


"Kdrt kalau kau tidak punya salah. Kau penyebab kdrt!"


"Kumohon! Hilangkan dendam dan sakit hatimu!"


"Jika kau meminta sesuatu yang tidak mungkin. Maka aku juga bisa meminta hal yang sama!"


"Apa maksudmu?"


"Lenyapkan Dylan dan anak-anakmu."


"Aku tak bisa!"


"Kau punya jabatan, kekuasaan dan perlindungan dariku serta keluargaku!"


"Aku tidak bisa! Jangan paksa aku!!!"


"Jika kau tidak bisa! Maka hentikan omong kosong ini! Aku tidak bisa melenyapkan dendam dan sakit hatiku sampai kau melenyapkan penyebabnya."


Sinta berteriak histeris.


"Kau sangat kejam!" Teriak Sinta.


"Berteriak dan menangis sepuasmu. Setelah selesai. Bersiaplah dengan semua tanggung jawab dan pekerjaanmu hari ini. Kau harus mengatasi kompetitorku yang membuat ulah!"


"Kau memperalatku!"


"Gunakan otakmu untuk mengatasi masalahku! Aku tahu kau bisa mengatasinya!"


Dean meninggalkan Sinta sendiri yang sedang meratapi nasibnya.


"Aku bisa mengatasi masalahmu tapi tidak bisa mengatasi masalahku sendiri! Aaagghhhh!!!"


Selesai menguras seluruh emosi, kesedihan dan kemarahannya. Sinta bergegas bersiap menuju kantornya. Mengambil dokumen yang sudah dipersiapkannya. Dokumen kerja sama antara perusahaan Dylan dan kompetitornya beserta aturan detailnya.


Meraih kaca mata hitamnya. Mengenakan maskernya. Untuk menutupi bekas ledakan emosinya yang kehilangan kendali.


Bergegas menuju mobilnya. Melanjutkan aktifitasnya.

__ADS_1


__ADS_2