Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Absurd


__ADS_3

Pintu lift yang hampir menutup membuka kembali.


“Kau?” Tanya Haliza.


“Mengapa kau ada disini?”Tanya Ahkam dengan sinis.


“Bolehkah aku masuk?”


“Sebaiknya kau tunggu lift berikutnya.” Tukas Ahkam jutek.


“Lift ini masih kosong baru diisi empat orang. Lima denganku. Untuk apa aku menunggu lift berikutnya?”


Lelaki tersebut tetap memasuki lift dan memencet tombol pintu menutup. Memencet lantai dimana breakfast buffet berada.


Suasana mendadak hening. Raut wajah marah serta tidak nyaman tergambar jelas pada wajah Ahkam.


“Kau membuntuti kami?” Ujarnya dengan nada galak.


“Buat apa aku membuntuti kalian? Kurang kerjaan.”


“Lalu mengapa kau berada di sini?”


“Sepertinya siapa pun yang mampu membayar harga hotel di sini. Bisa menginap di sini.”


“Apa? Kau menginap di sini?”


“Kebetulan sekali!” Ceplos Haliza dengan lugunya.


“Yeah, kebetulan sekali.” Sahut Dylan sambil tersenyum.


“Kau menginap di kamar berapa?” Tanya Haliza.


“Untuk apa kau menanyakan kamarnya? Kita bertemu tidak sengaja. Tanpa sengaja satu hotel. Dan itu tidak berarti apa pun!” Ujar Ahkam ketus.


“306.”


“Aku 303. Astaga cuma selisih tiga kamar?”


Pintu lift terbuka. Mereka sudah sampai di lantai ruang makan yang menyediakan breakfast buffet.


“Agak aneh kalau kita tidak makan bersama.” Ujar Haliza, “seperti tidak saling mengenal.”


“Kau tenang saja. Bisa gak sih?” Ujar Ahkam.


Haliza berjalan meninggalkan Ahkam dan berusaha tidak memikirkan apa pun.


Menuju breakfast buffet. Mengambil makanan dan minuman. Meninggalkan Ahkam dengan anak-anak mereka.


Memilih meja yang agak tersembunyi. Di pojok. Sudut ruangan dengan pemandangan view terhampar indah di depannya.


“Bolehlah aku bergabung bersamamu?”


Haliza menoleh dan menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih.”


“Sama-sama.” Ujar Haliza sambil meminum minuman jus jeruk dinginnya.


“Kita bertemu lagi. Kebetulan.”


“Yeah.” Sahut Haliza acuh. Menggigit roti bakar yang sudah dioles butter dan selai buah. Mengunyahnya lamat-lamat sambil menikmati pemandangan di hadapannya.


“Mengapa kau duduk sendirian?”


“Gak apa-apa.”


“Gak bergabung dengan Ahkam dan anak-anakmu?”


“Aku dan Ahkam bersitegang.” Ujar Haliza.


“Tapi kenapa?”


“Karena kau.”


“Aku?” Dylan memandang wajah Haliza lekat.


“Kita tidak sengaja bertemu Dan semuanya menjadi kacau.”

__ADS_1


“Ahkam merasa terganggu?”


“Menurutmu bagaimana?” Haliza menggigit roti bakar selainya. Mengunyahnya perlahan.


Dylan menyuap bubur ayamnya. Meminum teh manis hangatnya.


“Mengapa tidak kau biarkan Ahkam bersama anak-anaknya?”


“Maksudmu?”


“Aku minta maaf jika sudah membuat kalian bersitegang. Mungkin sudah tidak nyaman bagimu untuk menghabiskan waktu bersamanya.”


“Yeah. Aku tidak tahan dengan sikap sinisnya. Passive agresivenya. Kemarahannya padaku.”


“Mungkin maksud kemarahannya ditujukan padaku. Bagaimana kalau kita jalan-jalan?”


Haliza nyaris tersedak, “apa?”


“Aku akan menyelamatkanmu dari keadaan yang membuatmu tidak nyaman dan serba salah.”


“Apakah Ahkam tidak akan marah jika aku jalan-jalan denganmu.”


“Kalian sudah bercerai. Kau bebas melakukan apa pun dan tidak ada kewajiban mematuhi apalagi mengikutinya. Apalagi jika kau tidak merasa nyaman.”


“Aku hanya ingin dia lebih mengertiku.”


“Jika dia benar-benar mengertimu. Kalian tidak akan bercerai. Dia tidak akan jatuh cinta lagi pada Hana.”


“Maksudmu, Hana lebih memahaminya dari padaku?”


“Setidaknya dia bisa lebih bebas memutuskan menurut kehendak dirinya sendiri dibandingkan denganmu.”


“Yeah, kau benar. Hana tidak keberatan dipoligami. Dia juga membebaskan Ahkam menghabiskan waktu bersamaku dan anak-anak kami. Tapi dia juga kerap mencemburuiku.”


“Itu karena dia sangat mencintai Ahkam. Kau jangan bodoh!”


Haliza tercenung mendengar perkataan Dylan.


“Mengapa cemburu identik dengan cinta? Bisa saja karena terlalu posesif?”


“Cinta itu adalah rasa. Sama saja ketika kau berkata mengapa cabe itu pedas? Apa ada cabe yang tidak pedas? Apa ada cinta tanpa rasa cemburu?”


“Mereka ada di rumah Sinta bersama Dean dan Emier. Aku merasa terasing. Seandainya, ada dirimu tentu suasana akan lebih nyaman. Aku merasa seperti pesakitan di antara mereka berdua.”


"Dean dan Sinta sangat baik, ramah dan hangat. Mereka tidak akan berlaku tidak nyaman padamu.”


“Mereka sangat baik. Hubungan kami sudah seperti saudara. Hanya saja aku merasa seperti duri dalam daging di tengah mereka semua.”


“Anak-anakmu sepertinya sudah memaafkan ibunya. Mereka juga merasa sangat nyaman dengan Sinta.”


“Yeah, bagi Sinta anak-anaknya adalah segalanya. Hubunganku dan Dean bisa disesuaikan. Dengan adanya Emier tentu tidak mungkin Sinta kembali lagi padaku. Aku juga tidak akan tega bersaing dengan anak semanis, setampan serta secerdas itu.”


“Yeah, Emier sangat memukau. Humble, ramah dan perhatian. Seperti kedua orang tuanya.”


“Aku dan Sinta sudah berakhir saat Dean mengambilnya kembali dari sisiku. Semua semakin tidak mungkin setelah mereka memiliki Emier. Buatku, Sinta adalah saudara perempuanku. Aku pernah mengatakannya pada Dean saat menjadi pengacaranya. Kupikir, memang seperti itu hubungan kami.”


“Mengapa perasaanmu cepat sekali berubah? Kau tidak bisa dipercaya.”


“Apa maksudmu tidak bisa dipercaya?”


“Kau yang mengatakan bahwa kau mencintainya dan tidak tahu apakah bisa melupakannya atau tidak.”


“Sinta adalah wanita yang sangat baik, menarik juga cerdas. Ibu serta istri yang nyaris sempurna. Kupikir, aku sangat mencintainya. Aku menyukai kesempurnaannya. Mungkin itu lebih tepatnya.”


“Aku tidak bisa mengerti maksudmu? Kupikir kau penasaran dengan sikapku yang berubah begitu saja.”


“Kau seperti anak-anak. Tidak punya pendirian yang teguh serta mudah berubah. Aku juga tidak tahu mengapa aku menyukaimu.”


“Karena kau merasa tertolak. Apa jangan-jangan kau memiliki kepribadian Narsistik?”


Kontan Dylan tertawa, nyaris meleleh airmatanya.


“Apakah aku manipulatif?” Tanya sembari menghabiskan tawanya.


“Sayangnya tidak.”


Dylan kembali tertawa, “suka berbohong?”

__ADS_1


“Justru kau terlalu jujur.”


Tawa Dylan pecah kembali.


“Seandainya kau menggombaliku. Aku tidak tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Mungkin aku tidak akan mengembalikan cincin pertunangan kita karena mengira kau menyukaiku.”


Dylan menggenggam tangan Haliza. Wajah Haliza bersemu merah. Menatap wajahnya sampai membuat Haliza menjadi jengah.


“Kau tahu setiap perubahan perasaanku bukan rekayasa apalagi tipu-tipu. Aku benar-benar tidak menyadari perasaan cintaku padamu karena kupikir aku masih menyukai Sinta.”


Sepasang mata dari kejauhan memandang keduanya dengan wajah gusar.


“Aku takut kau akan seperti Ahkam. Bagaimana jika kau mengkhianatiku atau berubah kembali?”


“Perasaanku bukan berubah seperti bunglon. Kau jangan salah paham. Kita bertemu saat kau terluka dengan pengkhianatan Ahkam. Dan menjadikan aku pelarianmu.”


“Aku menganggumimu. Kau tidak pernah lirak lirik dengan para wanita. Padahal jika kau mau, akan ada banyak wanita yang menyukaimu. Mau menjadi pacar atau istrimu. Tetapi kau tetap setia pada mantan istrimu. Memasang kacamata kuda. Kau seperti oase di tengah padang pasir. Di tengah trust issue yang aku alami. Kau adalah penawarnya. Harapan bahwa lelaki sejati yang memiliki cinta sejati bukanlah khayalan.”


“Yeah, kupikir Sinta cinta sejatiku sampai aku menyadari perasaanku.”


“Aku tidak ingin membicarakan hal ini.”


“Yeah, aku tahu. Semua ini membuatmu bingung.”


“Yeah.”


Syarifah mendatangi meja ibunya.


“Halo, om!” Sapanya ramah.


“Bergabunglah bersama kami.” Ajak Dylan ramah pada Syarifah.


“Om saja yang bergabung bersama kami. Ajak ibu agar mau bergabung.” Ajaknya pada Dylan.


“Kalian saja yang ke sini.”


“Bu, kau ikut kan bersama kami? Mengapa kau langsung pergi begitu saja? Kau marah pada ayah?”


“Aku ingin jalan-jalan sendiri. Kalian saja jalan-jalan bertiga. Moodku menjadi rusak.”


“Bu! Mengapa kau selalu begitu emosional?”


“Sudahlah! Aku tidak ingin membahas hal ini.”


“Kau tidak usah khawatir, anak manis. Aku akan menemani ibumu.”


“Om akan menemani ibu?”


“Yeah.”


“Baiklah.” Syarifah membalikkan tubuhnya. Berjalan ke arah ayah dan adiknya. Berbicara pada ayahnya kemudian mereka bertiga beranjak dari tempat duduk mereka. Kemudian berjalan keluar.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2