Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Chasing Mr. Cool


__ADS_3

Haliza tidak bisa menahan rasa hatinya. Pembawaan Dylan benar-benar menyihir dirinya.


Apalagi kekecewaannya terhadap Ahkam membuatnya terus membandingkan keduanya.


Dia juga kerap merasa panas melihat kemesraan Ahkam dan Hana. Aku juga harus memiliki pasangan. Kehidupan percintaanku harus lebih panas dan bahagia dari kedua keparat tersebut!


Menarik perhatian Dylan sangatlah sulit. Apalagi Dylan seperti tidak memiliki ruang di hati dan pikirannya selain untuk istrinya.


Tetapi Haliza tidak berputus asa. Tidak ada alasan untuk tidak mengejar Dylan. Anak mereka satu sekolah. Keduanya bersahabat erat. Mereka duda dan janda. Dylan adalah seorang lelaki yang sangat setia. Seandainya, dirinya bisa dicintai seperti Dylan mencintai istrinya. Maka dia adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi.


Melihat Hana juga seperti okb membuatnya semakin muak. Baju-baju bermerk mahal. Cincin berlian dan emas menghiasi tubuhnya. Jam tangan berlapis emas. 


Sebuah mobil sedan mentereng dengan seorang supir mengantarnya kemana saja. Selain memberikan ibu dan adik-adiknya sebuah rumah mewah bertingkat. Juga kendaraan baru dengan harga yang cukup fantastis. Kehidupannya berubah sangat drastis.


Kulitnya semakin mulus dan wajahnya juga semakin cantik. Menjalani sejumlah operasi plastik untuk mengubah bentuk bibir, hidung, mata, payudara serta mengubah bentuk rahangnya menjadi lebih halus.


Wajahnya yang semula berbentuk kotak menjadi oval. Make upnya flawless. 


Hidungnya yang tadinya pesek juga berubah menjadi mancung. Bibirnya yang agak terlalu tebal ditipiskan. Sehingga bentuknya menjadi lebih tipis tetapi tetap keliatan seksi. Matanya dibuat seperti mata kucing. *********** juga dibuat membusung, lebih tegak dan berisi. Kulitnya sendiri berubah menjadi seputih susu. Yang tadinya agak sawo matang seperti kebanyakan kulit wanita Indonesia.


Belum pakaiannya yang fashionable. Mantan suaminya memodalinya membuka butik dan salon untuk menyalurkan hobi berdandan dan fashionnya.


Semakin banyak lelaki yang tertarik dengan Hana setelah operasi plastik dengan penampilan elegan dan fashionablenya. Tetapi tetap saja Dylan tidak bergeming.


"Secantik apa sih istrimu sampai kau tidak bergeming terhadap Hana?"


"Tidak ada yang bisa menandinginya. Aku sangat mencintainya dengan segenap jiwa, raga dan hatiku. Mengapa kau sangat penasaran aku harus menyukai Hana? Aku tidak suka kecantikan yang tidak alami. Hasil suntikan sana sini. Operasi plastik."


"Benarkah?"


"Cantik itu kan relatif. Suamimu tidak setia. Itu menghancurkan harga diri dan rasa percaya dirimu."


"Apa yang membuat seorang lelaki setia?"


"Dirinya sendiri. Rasa cintanya yang sangat besar pada pasangannya."


"Apa yang kau rasakan pada istrimu?"


"Sayang, cinta, rindu dan rasa ingin melindungi."


"Suamiku sudah kehilangan semua rasa itu padaku?"


"Mungkin jika kau mengijinkan. Walaupun semua rasa itu hilang karena menyukai wanita lain. Rasa melindungi masih ada."


"Mengijinkan dia mendua?"


"Apalagi?"


"Apakah kau pernah menduakan istrimu?"


"Hubungan percintaan kami tidak mulus dan berliku. Menginginkan dia selalu ada bersama kami hampir tak mungkin."


"Tapi setidaknya perasaan kalian abadi."


"Mungkin itu salah satu hikmahnya."


"Mengapa kau tidak mencoba membuka hatimu untuk yang lain? Memang enak hidup sendiri?"

__ADS_1


"Sudah pasti tidak enak. Tapi aku tidak ingin menambah beban pikiran. Hidupku bersama anak-anakku dan fokus dengan kedai makananku sudah terasa sempurna."


"Syarifah akan berulang tahun." Haliza mulai menyusun strateginya.


"Lalu?" Dylan membuka tasnya mengeluarkan buku yang sengaja dibawanya untuk dibaca sambil menunggu anak-anaknya pulang sekolah.


"Aku ingin membuatnya secara privat."


"Maksudnya bagaimana?" 


"Aku ingin mengundang sahabat-sahabat dekat Syarifah aja."


"Nanti akan kusampaikan pada Callista."


"Aku memerlukan bantuanmu."


"Bantuan apa?"


"Tolong buat video dan album foto untuk ulang tahun Syarifah."


"Baiklah. Siapa saja yang diundang?"


"Bawa seluruh keluargamu. Callista dan adik-adiknya. Aku juga akan membawa Syarifah dan Syarif. Mengundang mantan suamiku dan istri mudanya. Azizah. Syarifah, Callista dan Azizah bersahabat karib. Akan kusuruh Azizah datang bersama ibu dan kakak juga adiknya."


"Baiklah."


Ibu Azizah, Afiah , adalah teman dekat Haliza. Mereka berteman semenjak anak mereka bersekolah dan bersahabat dekat. Mereka berbincang ketika bertemu di sekolah saat akan menjemput anak mereka.


"Datang ya, ke acara ulang tahun Syarifah. Ajak saja Azam dan Azahra."


"Kita main di pinggir pantai bagaimana?"


"Wah! Seru sekali. Kau mengundang satu kelas ke pantai?"


"Hanya Syarifah, Callista dan Azizah beserta keluarga masing-masing."


"Kau hanya mengundang sahabat-sahabat terdekat Syarifah?"


"Ada yang ingin kukatakan padamu. Tapi kau harus menyimpannya rapat-rapat."


"Apa sih? Kau bikin aku penasaran aja."


"Kau harus berjanji untuk menutup mulutmu rapat-rapat."


"Baiklah, aku berjanji."


"Kau juga harus membantuku."


"Bantu apa?"


"Give me your word."


"Ok. You have my word."


"Aku ingin mengejar ayahnya Callista."


"Apa? Aku tidak salah dengar? Kau baru selesai massa iddah."

__ADS_1


"So what?"


"Apa tidak terlalu cepat?"


"Kau tidak lihat mantan suamiku dan istri mudanya?"


"Kau ingin balas dendam?"


"Aku ingin membuktikan aku bisa hidup lebih bahagia tanpa bedebah tersebut. Dylan sejuta kali lebih baik. Lebih tampan. Setia harga mati. Kau tahu bagaimana Dylan. Kupikir kalau kau tidak memiliki suami. Kau juga akan menyukainya."


"Aku tahu Dylan memang bisa menyihir setiap wanita. Karakternya yang baik, setia, cuek, dingin, bikin penasaran dan tampan. Tapi kau baru saja bercerai. Apa tidak ada trauma atau luka?"


"Trauma sudah pasti tapi itu hanya akan terjadi lagi kalau aku memilih pria yang sama atau lebih brengsek dari mantan suamiku. Kau mau mendukungku atau tidak?"


"Syarifah dan Callista akan menjadi saudara jika kalian berdua menikah."


"Memang itu yang kuharapkan. Tapi mungkinkah dia menyukaiku? Melihatnya tidak bisa melepaskan diri dari bayangan istrinya?"


"Aku tidak tahu. Tapi aku akan berusaha untuk membantumu. Bagaimana?"


"Kau memang teman yang sangat baik. Kalau bukan Dylan. Aku tidak ingin menjalin hubungan lagi. Apalagi memikirkan menikah lagi. Aku tidak percaya dengan lelaki kecuali Dylan. Dia pengecualian."


"Baiklah, kau akan apa temamu untuk pesta privat Syarifah?"


"Bagaimana kalau kita membakar ikan dan mendirikan tenda?"


"Pesta ulang tahunnya?"


"Tahun depan, Syarifah genap tujuh belas tahun. Tidak cocok mengadakan pesta privat tahun depan."


"Lalu? Bagaimana rencanamu menyelenggarakan pesta privat Syarifah?"


"Kita akan menyalakan api unggun. Membakar ikan. Menyalakan lilin di kue ulang tahunnya, meniup lilin dan berdoa. Bagaimana?"


"Sepertinya pesta ulang tahun Syarifah akan sangat berkesan."


"Terima kasih!"


"Aku mendukungmu dengan Dylan. Aku menitipkan anak-anak pada kalian berdua."


"Apa maksudmu?"


"Aku dan suamiku tidak usah ikut. Aku memberikan lebih banyak waktu untuk kalian berdua untuk saling mengenal."


"Terus terang, aku pesimis dengan Dylan."


"Kau tidak pernah tahu jika kau tidak mencobanya. Kupikir kalian berdua memang cocok. Kau janda sedangkan dia duda. Anak-anak kalian bersahabat."


"Kupikir juga begitu. Tapi kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang terhadap kita bukan?"


"Kau bisa mengusahakannya dulu sebelum berkesimpulan dia menolakmu."


"Afiah, kau sahabat yang sangat baik."


"Kau juga. Semoga Allah menggantikan kesedihanmu dengan kebahagiaan. Menggantikan mantan suamimu dengan seseorang yang jauh lebih baik."


"Aamiin yaa robbal 'alaamiin."

__ADS_1


__ADS_2