Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Beban


__ADS_3

Dylan mengunjungi Sinta di penjara. Membawakannya mie goreng dan bakwan sayur dengan campuran udang.


"Kau beli dimana?"


"Aku bikin sendiri. Kau menyukainya?"


"Sangat enak. Udangnya besar dan banyak. Ini namanya bakwan udang dengan toping sayur."


Mereka berdua tertawa.


"Aku senang kau menyukai makanan yang kubawa."


"Masakanmu enak."


"Benarkah?"


"Isiannya juga banyak. Lihat mie goreng ini. Rasa sudah pasti juara. Kau pintar memberi bumbu. Tapi lihatlah, ati ampela, bakso, daging slice lada hitam dan udang? Sawi dan wortel?"


"Langgananku sangat istimewa. Jadi aku harus membuatnya super spesial."


Sinta tertawa mendengarnya.


"Kau sudah makan?"


"Melihatmu makan saja sudah kenyang."


"Jangan begitu nanti kau masuk angin!" Sinta memaksa menyuapkan makanannya pada Dylan.


"Aku sudah makan. Aku hanya menggodamu."


"Aku tidak ingin kau sakit atau masuk angin."


"Kau tenang saja. Yang sedang menghadapi masalah serius itu kau bukan aku!"


Sinta melanjutkan makannya.


"Aku bisa makan apa saja. Sedangkan kau, hanya makanan penjara. Makanan yang aku dan suamimu bawa."


Sinta menggulung mienya dengan garpu.


"Bagaimana perkembangan kasusku?"


"Helena membawa kabar baik. Dia menyadap Sean dan Brian."


"Apakah aku akan segera bebas?"

__ADS_1


"Begitu semua bukti lengkap. Kau akan bebas."


"Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih padamu." Mata Sinta mengaca.


"Jangan menangis." 


Dylan mengeluarkan sapu tangannya yang terlipat rapi,  bersih dan sangat harum.


Menghapus air mata Sinta dengan sapu tangannya.


"Kau tidak berhutang apapun. Semua sudah tugasku."


"But, it's too much…."


"No, it's not."


Sinta menjalani hari-harinya di penjara. Merenungi semua perjalanan hidupnya.


Tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengubahnya. Semua yang dia lakukan konsekuensi logis dari sebuah keputusan yang sudah diambil dan harus dijalani.


Popularitasnya sebagai kepala daerah hancur karena kasus hukum yang menimpanya tetapi sebagai artis dan politikus sebagian orang masih menantikan kiprahnya di dunia artis dan politik.


"Mereka merindukan event-event politikmu. Memangnya bisa mengadakannya dari balik penjara?"


"Apa maksudmu mengadakan event dari balik penjara?"


"Aku tidak ingin mengundang procons. Lawan politikku tidak akan diam melihat hal itu. Mereka akan melakukan sesuatu. Aku lelah dengan semua ini."


"Kau sepertinya sedang banyak pikiran. Nanti kita bicarakan lagi."


"Aku tidak ingin membicarakannya lagi. Aku ingin berhenti dari semuanya."


"Kasus hukummu sedang berjalan. Pengacaramu sedang berusaha membebaskanmu. Kau membutuhkan popularitasmu kembali. Mereka mau membayarmu untuk tampil karena mereka menyukaimu. Mengapa kau tidak bisa mengabaikan mereka yang selalu menilaimu negatif? Orang bisa membayar apa saja yang mereka inginkan selama mereka tidak dipaksa melakukannya. Tidak ada yang protes ketika mereka membayar konser mahal begitu juga dengan semua event-eventmu. Mereka yang menginginkannya bukan kau. Kau kenapa sih? Event bukan mencuri dan korupsi. Sama dengan pertunjukan komoditi bisnis lainnya. Kau juga akan diancam denda untuk membayar sanksi hukumanmu. Perusahaan mertuamu juga membutuhkan bantuan. Kau pikir kau tidak membutuhkan uang? Belum program-program politikmu? Semua orang yang bekerja denganmu. Proyek-proyek sosialmu. Semua hal tidak sesederhana yang kau pikirkan. Kalau ada yang tidak menyukaimu. Bukan berarti mereka bisa melakukan apa yang telah kau lakukan atau lebih baik."


Adam manager politiknya mencoba menguatkan dan menyakinkannya.


"Hanya karena sebagian orang tidak menyukaimu bukan berarti apa yang kau lakukan salah."


"Aku sedang menghadapi kasus hukum. Kau pikir apa yang ada di dalam pikiran mereka? Kau jangan memutuskan semua sendiri. Bicarakan dengan pengacaraku, Dylan dan juga Cindy, manager artisku. Jangan berbicara benar dan salah kepada orang yang sudah diputuskan bersalah oleh pengadilan. Dylan sedang mengajukan banding. Aku tidak tahu apa keputusan pengadilan. Apakah Dylan bisa membebaskanku atau menunggu kasasi dan peninjauan hukum kembali. Aku tidak tahu."


Sinta berkata dengan dada turun naik. Meluapkan semua emosinya.


"Aku tahu saat ini popularitasmu sedang tidak baik. Apalagi mereka yang memang tidak menyukaimu menggunakannya untuk menghancurkanmu."


"Kau sudah tahu mengapa masih memaksaku? Kau tahu? Apapun yang kulakukan mengintimidasi mereka."

__ADS_1


"Aku akan berbicara dengan Dylan dan Cindy. Sebaiknya kau beristirahat dan fokus dengan hukuman yang sedang kau jalani."


"Aku lelah. Aku hanya ingin berhenti dan keluar dari semuanya."


"Bertahanlah! Secara hukum mungkin kau dianggap bersalah. Tetapi secara kondisi? Tidak semua orang mau melakukan hal yang benar. Mungkin tidak ada ucapan terima kasih atau penghargaan apapun. Bahkan yang kau hadapi hukuman. Tapi fakta bahwa kau membuat semua berjalan lancar walaupun ada sebagian orang ingin menghancurkanmu demi ambisi pribadi mereka. Itu akan selalu menjadi hal yang tidak terbantahkan."


"Aku manusia biasa. Apapun yang kau katakan. Berdampak padaku. Aku mau psikiaterku. Hanya itu yang kubutuhkan. Aku tak mau diganggu. Siapapun bisa melakukannya. Tidak harus aku."


"Apa maksudmu siapapun bisa melakukannya? Kau pikir, orang bisa menggantikan karisma atau bakat orang lain? Bagaimana kau bisa menjelaskan pencapaian yang berbeda? Mereka ingin melihat dan membayarmu bukan yang lain!"


"Jangan mendesakku!"


Sinta menangis.


"Aku akan memanggil psikiatermu. Sepertinya, kau memang membutuhkannya."


"Aku membutuhkan psikiaterku."


Adam bergegas meninggalkan Sinta dan melaporkan kepala kepala penjara bahwa Sinta membutuhkan psikiaternya.


Menelpon Dylan membicarakan rencananya. Dia juga akan menelpon Cindy.


"Kau jangan mengganggunya!" Nada Dylan meninggi.


"Bukan mengganggunya. Kau tidak mengerti. Sebaiknya kita bertemu."


"Kondisinya sedang berat. Jangan membebaninya. Saat ini dia sedang fokus pada kasus hukumnya. Setelah itu rehabilitasi nama baiknya. Jangan menambah bebannya."


"Kau membicarakan dari sisi hukum kasus hukum yang menimpanya. Aku berbicara dari segi komoditas politik. Begitu rehabilitasinya dilakukan. Popularitasnya kembali. Mereka yang membencinya tidak bisa menahan komoditas politik dan karir keartisannya. Cindy mengatakan padaku sejumlah produser menawarkan peran antagonis sebagai narapidana."


"Aku tidak peduli! Aku tidak ingin dia mengalami tekanan. Kau tidak bisa membicarakan komoditas politik atau apapun pada orang yang sedang berada dalam tekanan berat. Kalian sama saja! Kalau tidak memanfaatkan, membencinya! Tidak bisakah kalian memperlakukannya sebagai seorang anak manusia yang membutuhkan ketulusan?"


"Apakah keadaannya separah itu?"


"Apa yang kau harapkan jika kau selalu berhadapan dengan hal beracun dalam hidupmu? Benci dan pemanfaatan?"


"Baiklah, aku akan menunggu konfirmasi darimu."


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun. Kasus hukum, rehabilitasi nama baiknya dan pengobatan psikiatrinya, saat ini yang jadi prioritasku."


"Baiklah. Aku akan menunda semua tawaran yang diajukan kepada manajemen kami. Kupikir aku akan menyampaikan hal yang sama pada Cindy."


"Tolong beritahu pada Cindy. Jangan mengganggu dia dulu. Kondisinya tidak sedang baik-baik saja. Psikiaternya mengatakan padaku. Dia berpotensi mengalami depresi berat. Ketika itu terjadi, dia tidak akan bisa berkomunikasi dengan siapapun. Terputus dari dunia luar. Tidak ada satupun yang bisa berkomunikasi dengannya karena dia akan berubah seperti batu."


"Separah itu?"

__ADS_1


"Separah itu. Kuminta kau jangan mengganggunya. Saat ini dia tidak bisa melakukan hal apapun yang bisa membebani dirinya. Bebannya terlalu berat. Penghancuran karakter yang ditujukan kepadanya mencapai ambang batas kewarasannya."


"Baiklah. Terima kasih atas penjelasanmu."


__ADS_2