
"Sebelum kau memberikan penilaian apa pun kepada dirimu sendiri. Secara tekhnis kau belum menjalankan kewajibanmu sebagai isteri. Baik di pernikahan sebelumnya atau yang sedang kau jalani saat ini."
Sinta tidak menceritakan transmigrasinya karena terlalu absurd. Siapa yang bisa percaya kisah transmigrasi tersebut?
Tapi transmigrasi tersebut yang membuatnya tidak bisa melayani Dean sebagai isteri.
Sedangkan pada pernikahannya dengan Dylan. Dia juga belum menjalankan kewajibannya sebagai isteri karena semua masih sangat membingungkan untuknya.
Apakah pernikahannya dengan Dean sudah berakhir? Kematian palsunya. Menikah kembali dengan Dylan. Penghancuran karir, nama dan karakternya. Sangat membingungkannya. Manakah hidup yang akan dijalaninya? Saat ini bersama Dylan atau kembali kepada Dean? Menjalani semua seperti apa adanya. Walaupun dia harus mengalami resiko sakit mental berat. Depresi bahkan bunuh diri? Jika memang semua terlalu berat untuk ditanggung dan dia telah mencapai batas toleransinya dalam menghadapi semuanya?
Siapa pun bisa berkata bahwa semua pasti bisa dilalui dengan baik. Tetapi secara kenyataan tidak semua bisa menanggung beban realitas yang begitu berat. Kenyataan yang akan berbicara apakah dia bisa menghadapinya atau tidak?
Sinta seperti memasuki labirin yang sangat berliku dan memusingkan. Berada di tengah pusaran labirin.
Tidak bisa melihat Dean yang berada di belakangnya atau Dylan yang berada di depannya.
Dia berada di tengah labirin yang sangat kacau dan ruwet. Gelap dan tak ada sinar cahaya bisa memasukinya. Karena matanya tidak bisa melihat apa pun. Menabrak ke sana sini. Tanpa bisa keluar dari pusaran labirin tersebut.
"Kau hanya berjalan di tempat jika kau tidak bisa memutuskan apa pun." Megan memulai sesi terapinya.
Matahari bersinar cerah. Awan terlihat sangat putih seperti kapas. Udara juga terasa sangat segar. Dingin dan segar.
Belum ada kemajuan yang berarti pada terapi Sinta. Megan tidak ingin mendesak Sinta. Tidak ada target yang harus dicapai. Satu-satunya target adalah Sinta bisa menerima kenyataan, berdamai dan melanjutkan hidupnya.
Mereka memutuskan menyusuri sungai. Berjalan-jalan. Membawa bekal. Berencana melakukan piknik. Membawa botol minum dan keranjang bekal juga kain yang akan mereka gunakan untuk alas.
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" Megan menggelar kain yang mereka bawa. Sinta meletakkan keranjang makanan yang berisi makanan dan buah.
"Baik. Aku merasa lebih baik." Sinta mengambil botol minuman dari tangan Meghan. Menuang ke dalam gelas yang dibawanya. Meminumnya.
Mengeluarkan kotak bekal. Berisi roti sandwich daging, keju slice dengan irisan tomat dan mentimun. Kue jahe. Serta potongan buah yang akan disiram dengan dressing salad yang sudah disiapkan.
"Bagaimana perasaanmu kepada Dean dan Dylan?"
"Aku menikah dengan Dylan saat perasaanku kepada Dean mulai tumbuh."
__ADS_1
"Baiklah. Aku bisa mengerti kebingunganmu. Selain kau harus meninggalkan kehidupan lamamu dan memulai dengan yang baru. Kau menikah dengan suamimu saat perasaanmu mulai bersemi kepada suamimu sebelumnya."
"Aku membicarakannya secara terbuka kepada Dylan dan dia memahaminya."
"Apakah kau masih merasa berpoliandri? Merasa pernikahanmu dengan Dylan tidak sah? Pernikahan kalian adalah perzinahan? Walaupun kalian belum melakukan hubungan intim sama sekali. Dylan tidak ingin menyentuhmu sebelum memastikan perasaanmu kepadanya. Jika kau sudah merasa yakin dan bisa menerima realitas yang ada. Baru kalian akan saling menjalankan hak dan kewajiban kalian berdua sebagai suami isteri. Itu yang dikatakan Dylan padaku."
"Dylan sangat baik, dewasa dan nyaman." Air mata Sinta meleleh,"Aku takut tidak bisa membalas perasaannya. Tapi dia menyakinkanku. Semua sudah ada yang mengatur. Jika memang aku dan Dylan ditakdirkan bersama. Kami akan berjodoh tapi kalau kita tidak ditakdirkan berjodoh maka kami akan berpisah."
"Dylan ingin kau bisa sembuh. Melanjutkan serta menjalani hidupmu dengan nyaman. Kau selalu menjadi prioritasnya."
"Apakah Dylan mencintaiku?"
"Tentu. Untuk apa dia menjadikan kau prioritasnya jika tidak mencintaimu?"
"Aku tidak tahu perasaanku sendiri. Apakah aku mencintainya? Bagaimana kalau aku hanya menginginkan perlindungannya saja?"
"Kupikir sebaiknya kita selesaikan satu-satu. Bagaimana kau memandang pernikahanmu dan Dean apakah masih berlangsung atau tidak?"
"Kematian palsu. Artinya aku masih hidup. Aku merasa pernikahanku dan Dean masih berlangsung."
"Saat ini, aku berpikir seperti itu."
"Menurutmu, mungkinkah kau meminta cerai kepada Dean? Kemudian menikahi Dylan?"
"Aku mengakui bahwa kematianku palsuku karena aku tidak mungkin mengajukan cerai seperti keadaan normal."
"Kupikir kau masih membutuhkan waktu untuk memahami hal ini. Kau terpaksa memalsukan kematianmu. Kau tidak memiliki alternatif lain untuk memutuskan kehidupanmu yang lama."
"Kupikir, aku memang harus memahami hal ini. Aku belum bisa memproses semuanya sekarang."
"Take your time."
"Apakah aku bisa sembuh?"
"Semua tergantung usahamu. Kalau kau memperlakukan dirimu terlalu keras. Kupikir kau tidak akan bisa keluar dari masalahmu."
__ADS_1
"Aku tidak tahu harus bagaimana? Aku merasa mengkhianati Dean. Memanfaatkan Dylan." Air mata Sinta kembali mengalir.
"Keluarkan semua emosi negatifmu. Pikiran juga persepsi negatifmu. Apa yang membuatmu meninggalkan Dean dan kehidupan lamamu?"
"Aku tidak kuat menghadapi tekanannya. Aku bisa gila."
"Apakah kau punya cara lain selain memalsukan kematianmu. Untuk memutuskanmu dari kehidupan lamamu?"
"Kupikir memang memalsukan kematian adalah yang terbaik. Aku tidak melihat jalan lain yang lebih baik."
"Baik. Kau pahami dulu hal ini baru kita mengurai masalahmu yang lain. Bagaimana?"
Sinta menganggukkan kepalanya. Mereka mengobrol ringan. Tidak membahas hal-hal yang membingungkan Sinta.
"Manusia memiliki perasaan. Hal itu kadang yang membuat mereka menjadi bingung dan ragu. Jika tidak melibatkan perasaan tentu semua akan lebih mudah dan praktis. Jangan terlalu banyak berpikir apalagi sampai memaksakan diri. Bebaskan dirimu. Kau tidak memiliki tekanan apapun. Jika kau tidak bisa melanjutkan pernikahanmu dengan Dylan. Dylan sudah siap menerima keputusanmu."
"Aku harus mencari tahu apa yang benar-benar aku inginkan? Bukan karena Dean atau Dylan?"
"Yeah. Kau bebas memutuskan apa yang paling sesuai dengan hati dan perasaanmu."
"Aku merasa lega. Setidaknya apa pun yang aku putuskan. Tanpa tekanan dan aku bebas memutuskan apa pun yang paling sesuai denganku."
"Yeah. Tenang saja. Tidak ada tekanan. Kau bebas memutuskan apa pun yang menurutmu bisa membuatmu bahagia dan nyaman."
"Aku akan mencari tahu. Aku juga yakin semua sudah ada yang mengatur. Ada takdir dan waktunya sendiri."
"Jika kau memilih Dean. Maka kau akan kembali padanya. Mengakui kematian palsumu. Jika dia memaafkanmu. Kalian bisa kembali bersama tetapi jika tidak kalian akan bercerai. Jika kau memilih Dylan. Memalsukan kematian adalah cara untuk memutuskan dirimu dari Dean dan semua masa lalumu."
"Iya. Aku akan memikirkan baik-baik."
Megan mengajak Sinta berpiknik dan mengobrol untuk menyegarkan pikirannya.
"Bebaskan pikiranmu. Ikuti apa kata hatimu. Kedamaian jika melakukan sesuatu yang sesuai dengan kata hati kita sendiri."
Sinta menganggukkan kepalanya, "Thanks Megan."
__ADS_1