Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Dissapointed


__ADS_3

Sinta menangis melihat Callista yang jatuh pingsan. Bolak balik memeluk dan menciumi Callista. Hatinya didera rindu.


Mengusap rambut putri sulungnya. Dirinya tidak menyangka sama sekali bahwa putrinya akan mendatanginya.


"Maafkan mama, sayang …" ucap Sinta lirih.


"Tante benar ibunya Callista?" Syarifah memberanikan diri membuka suaranya.


Sinta menganggukkan kepalanya.


"Kami melihat tante di tayangan televisi lokal. Callista bilang tante ibunya dan ingin bertemu dengan tante."


Sinta mengusap airmatanya yang terus menetes dan berjatuhan.


"Kalian sedang ke sini?" Tanya ibu Callista dengan suara sengau dan serak. Dia memutuskan membatalkan semua agendanya hari itu. Meminta asistennya menggantikannya.


Masih tidak percaya bertemu dengan putri yang sangat dirindukannya.


"Kami sedang berlibur. Ke Singapore. Iseng kami menyebrang ke sini."


"Menginaplah disini. Kalian tidak keberatan kan?"


"Kami terserah Callista saja, tante."


Syarifah dan Azizah diantar ke paviliun guest house. Sedangkan Callista dibawa ke dalam sebuah kamar yang luas. Bersebelahan dengan kamar milik Emier.


Kamar lengkap dengan kamar mandi dalam dan wardrobe. Kamar tersebut diperuntukkan untuk anak perempuan yang tidak pernah terwujud. Karena sikap Sinta yang dingin dan keras terhadap Emier membuat Dean membatalkan keinginannya memiliki anak lagi.


Kamar tersebut dibuat sudah sangat lama. Jauh sebelum Sinta mengalami kasus hukum.


Dean membuat dua buah kamar yang saling bersebelahan. Berharap mereka akan memiliki seorang anak lelaki dan perempuan.


Satu kamar dicat dengan warna baby blue dan yang lainnya baby pink.


Lengkap dengan wall paper, karpet, wardrobe, furniture dan perlengkapan lainnya.


"Kalian lebih baik berjalan-jalan sekitar sini. Nanti akan diantar dan ditemani supir sekaligus akan memandu serta menjaga kalian berdua."


"Kami ingin menemani Callista."


"Tidak usah, biar tante saja. Kalian pergi saja berjalan-jalan mumpung di sini."


"Tante yang jaga Callista?"


"Iya. Banyak yang mau tante bicarakan dengan Callista. Kalian mau kan berjalan-jalan. Memberikan kesempatan buat tante dan Callista?"


"Baik tante. Kami pergi dulu."


"Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik."


"Ya tante."


Callista tampak sangat shock. Sinta menatap sedih ke arah putrinya yang tengah terbaring di tempat tidur yang dihias sewarna  dengan warna wardrobenya broken white.


Kedua kamar tersebut memiliki warna wardrobe, tempat tidur, korden, meja belajar serta kursi yang sama. Broken white. 


"Mama sangat merindukanmu. Kau jangan salah paham pada mama." Sinta memeluk Callista dengan erat. Tanpa sadar tertidur sambil memeluk putrinya.


Syarifah dan Azizah di bawa ke paviliun guest house. Yang letaknya terpisah dari rumah utama.


Paviliun tersebut luas dan nyaman. Terdiri dari tiga kamar tamu. Masing-masing dengan kamar mandi dalam.  Teras, ruang tamu,  keluarga dan dapur. Sebuah kolam renang berbentuk persegi panjang.


Berbeda dengan kolam renang yang berada di rumah utama. Ukuran 10x10 meter persegi.


Ada satu buah kolam renang lagi di rumah utama. Lebih luas.  Ukurannya tiga kalinya.

__ADS_1


Dipinggiran kolam ditata tanaman sedemikian rupa. Kedua kolam renang tersebut memiliki dua kursi kayu bergaris untuk berjemur.


Hanya saja di kolam renang rumah utama dilengkapi gazebo, air pancuran buat membilas  tubuh, kolam kecil untuk mencuci kaki sebelum memasuki kolam renang dan sebuah kamar mandi dan kamar ganti pakaian.


Terdapat sebuah meja makan dari kayu memanjang lengkap dengan bangku kayu yang berjejer di kedua sisi dan kedua ujung meja. Dinaungi atap rumbai. Dilengkapi peralatan untuk barbekyu. Yang diletakkan tidak jauh dari meja makan.


Halaman yang mengelilingi rumah tersebut sangat indah. Rumput, pohon dan bunga-bunga ditata sedemikian asri dan indah. Sangat menyejukkan dipandang mata.


View yang melatarbelakangi keseluruhan rumah termasuk paviliun sangatlah indah.


"Sepertinya aku lebih betah berada disini dibandingkan hotel tempat kita menginap." Ujar Syarifah.


"Yeah, suasananya sangat hommy, nyaman, bersih dan indah."


"Kita berjalan-jalan atau membeli pakaian dulu? Semua pakaian kita ada di hotel. Peralatan mandi sangat lengkap disini. Kita membutuhkan pakaian."


"Yeah, sebaiknya kita membeli pakaian sepulang berjalan-jalan. Bagaimana?"


"Baiklah. Kita pergi sekarang?"


"Yeah!"


***


Callista siuman. Melihat ibunya tertidur memeluk dirinya. Membuat emosinya kembali naik.


Mendorong ibunya dengan kasar. Ibunya terbangun dari tidurnya. Terkejut melihat sikap kasar Callista.


"I hate you!" Teriak Callista.


"Sayang, dengarkan mama…."


"I won't! You are evil! Cruel!"


"Sayang, maafkan mama. Semua tidak seperti yang kau pikirkan!"


"Callista!"


"I hate you! I don't believe having mom like you!"


"Mama bisa menjelaskan, sayang!"


"No! You are lier! I hate you! Stay away!"


Tangis Sinta pecah. Dirinya terguncang. Kebencian jelas menyorot pada wajah dan pandangan mata Callista.


"Kau matrealistis! Kau meninggalkan kami semua. Agar bisa hidup mewah seperti ini? Mama tidak puas dengan kehidupan yang papa berikan di Swiss? Tidak mau hidup apa adanya di Malaysia? Berambisi menjadi gubernur? Mama manusia atau bukan?"


"Callista!"


"Binatang aja sayang sama anaknya, ma! Mungkin papa tidak bisa memberikan kehidupan seperti yang mama jalani saat ini. Tapi kita juga bukan kekurangan uang ma!"


"Callista! Semua tidak seperti yang kau pikirkan, sayang. Mama merindukan kalian semua."


"Bohong! I don't believe you! *****!"


Sinta tak dapat menahan tangisnya. Dia tidak menyalahkan kemarahan sekaligus kesedihan Callista.


"Sayang!" Sinta bermaksud memeluk Callista tetapi ditepis dan didorong lebih kasar.


"Hell no! Stay away from me! I hate you! You ain't my mom! You are devil!"


Callista ingin melarikan diri tetapi ditahan oleh para pengawal ibunya.


"Sayang! Jangan pergi. Nanti kau kesasar."

__ADS_1


"Aku tidak sudi berada disini."


"Sayang! Mengertilah. Aku tidak ingin terjadi apa pun padamu."


"Keluar!" Teriak Callista histeris.


"Mama akan keluar tapi kau jangan kemana-mana, ya?"


"Apa urusanmu! Aku bukan anakmu!"


Air mata semakin deras mengucur dari kedua pipinya.


Sinta keluar dari kamar yang ditempati Callista.


"Jaga anakku! Jangan sampai dia pergi tanpa pengawasan. Aku tidak ingin sesuatu apa pun menimpanya."


"Baik bu!"


Sinta berjalan menuju ruang keluarga. Menangis sepuasnya.


Menjelang sore. Emier pulang ke rumahnya setelah seharian bersekolah dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.


"Bun, kenapa?" Emier menghambur ke arah bundanya.


"Aku tidak apa-apa."


"Bunda menangis."


"Tidak apa-apa! Apa kau tidak mendengar apa yang kukatakan?"


"Ada siapa di sebelah kamarku? Kenapa ada yang menjaga?"


"Kakakmu."


"Benarkah?"


Emier menghambur berlari menuju kamar tidur di sebelah kamar tidurnya. Membuka pintunya.


Ada seorang penjaga berjaga di dalam kamar. Kakaknya tengah menangis. Matanya sembab.


"Kau siapa?" Tanya Callista ketus.


"Apakah kau kakakku?" Tanya Emier dengan mata bening dan wajah polosnya.


"Kau anak setan!" Teriak Callista ke arah Emier.


"Kenapa kakak marah padaku? Kita anak bunda."


"Aku bukan anaknya! Dia setan. Kau anak setan!"


"Kak!"


"Jangan mendekat! Aku membenci kalian semua!" Air mata Callista kembali meleleh di kedua belah pipinya.


Emier memutuskan keluar kamar. Berjalan menuju kamarnya. Hidupnya dipenuhi dengan kemarahan dan kebencian yang ditujukan bundanya kepadanya. Sekarang kakak perempuannya.


Menjelang malam Dean kembali ke rumah. Dirinya naik pitam melihat sikap kasar Callista.


"Keluarkan anak itu dari sini secepatnya!"


"Dia anakku!"


"Dia iblis! Kalimatnya sangat kasar!"


"Berempatilah!"

__ADS_1


"Ayahnya yang menyebabkan kekacauan ini. Apakah dia tahu apa yang dilakukan ayahnya?"


"Jangan libatkan dia! Kumohon!"


__ADS_2