Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Penjara


__ADS_3

Sinta tidak dapat menghindar dari tuntutan hukum yang menjeratnya. 


Pengadilan memutuskannya bersalah atas pelanggaran tindakan administrasi penyalahgunaan kekuasaan (power of abused).


Perbuatan yang dituduhkan kepadanya adalah conflict interest, melakukan pengadaan barang dan pembangunan infrastruktur  melalui perusahaan keluarga milik mertuanya dan merugikan negara memberikan aliran uang kepada perusahaan mertuanya tersebut.


Tindakan pelanggaran administrasi membuat Sinta dicopot dari jabatannya secara tidak hormat.


Untuk tindakan pidananya sendiri. Sinta dijerat oleh pasal 3 Tipikor yaitu tindakan merugikan negara dengan mengambil sejumlah uang dari kas negara untuk kepentingan perusahaan mertuanya. Hukuman yang dikenakan kepadanya dua puluh  tahun penjara dan ganti rugi sebanyak 1 triliun rupiah.


Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Transmigrasi ini sangat melelahkannya.


Gwendoline masuk ke dalam tubuh Sinta. Menjadi pelacur dan dikeluarkan oleh Dean, dinikahi untuk mengambil warisannya. 


Dia dapat merubah nasibnya. Seharusnya dinovel dieksploitasi secara seksual oleh Dean berubah menjadi artis dan menjelma menjadi seorang kepala daerah.


Sekarang menjadi narapidana korupsi karena pasang badan untuk menyelematkan perusahaan mertuanya tetapi semua tidak berjalan sesuai rencana.


Justru dia dan Dean menghadapi tuntutan hukum. Proses hukumnya sudah selesai karena tidak bisa menghindar dari bukti persidangan sedangkan Dean sendiri masih menghadapi proses penyidikan untuk dilanjutkan ke proses hukum.


Saat bertemu dengan pengacara. Sinta menanyakan posisi kasusnya.


"Tidak ada yang dapat kita lakukan saat ini. Kau harus mendekam di penjara."


"Baiklah. Aku terima. Bagaimana dengan kasus hukum suamiku?"


"Wanita itu mengklaim bahwa dia hamil anak suamimu."


"Aku minta test dna dan bukti rekam jejak rahimnya."


"Apa maksudmu bukti rekam jejak rahimnya?"


"Wanita memiliki massa iddah karena untuk menghapus bekas suami mereka dibutuhkan waktu selama tiga bulan. Aku rekam jejak rahimnya untuk membuktikan apakah benar bahwa suamiku berhubungan intim dengannya."


"Baiklah! Ada lagi?"


"Apakah meminta hasil visum sudah terlambat?"


"Kupikir begitu."


"Kalau begitu aku hanya meminta test dna dan bukti rekam jejak rahimnya."


"Baiklah."


Sinta mengikuti kegiatan di penjara dengan baik. Para narapidana yang mengenalnya sebagai artis kerap mengerubunginya.


"Ini bu Sinta ya? Yang artis itu?"


Sinta tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Nyanyi dong, bu…."


"Kita bikin pentas drama yuk, bu…."


Atas ijin kepala penjara mereka mengadakan kegiatan hiburan yang diikuti dengan penuh semangat oleh seluruh narapidana.

__ADS_1


Kegiatan Sinta di dalam penjara sangat padat. Mulai kegiatan rutin di rutan sampai kegiatan dengan sesama narapidana.


Bahkan sipir penjara kerap bergabung bersama mereka.


Mereka tidak hanya membicarakan karir keartisannya tetapi juga pekerjaan-pekerjaannya selaku kepala daerah.


Sinta dan teman-teman sesama narapidananya tergerak untuk membuat kebun bunga di dalam penjara mereka.


Ide salah seorang narapidana yang disetujui kepala sipir.


Salah seorang narapidana yang pandai merangkai bunga bahkan mengusulkan agar bunga yang mereka tanam dijadikan usaha florist dan hiasan bunga yang bisa digunakan untuk ucapan bela sungkawa, selamat, pajangan dan hiasan. 


Hasilnya mereka sumbangkan untuk kepentingan lapas, keluarga narapidana dan sipir  yang membutuhkan bantuan.


"Ide bu Ida ini bagus loh…" Sinta menyemangati.


"Banyak dosa dan kesalahan bu, ditebus dengan hal positif dan bermanfaat seperti ini."


"Perlu diapresiasi, bu…Karena gak semua loh, berpikir seperti itu."


"Kepala sipir juga menyetujuinya. Terima kasih ya bu, sudah membantu menjembatani antara kita dengan kepala sipir dan sipir."


"Kebetulan, kepala sipirnya orangnya memang humble, ramah dan openminded. Jadi tidak sulit menjembataninya."


"Iya, bu, saya prihatin dengan keluarga narapidana dan juga sipir. Kadang mereka itu jadi suka memeras keluarga narapidana karena mereka juga sering kepepet uang."


"Iya."


"Sedangkan gaji kan kadang gak bisa selalu menyesuaikan dengan keadaan mereka. Belum keluarga narapidana yang kehilangan orang yang bisa menafkahi keluarga mereka. Kadang mereka melakukan kejahatan sering karena masalah pemenuhan ekonomi. Makan, bayar tagihan sampai urusan sekolah, kesehatan. Ada juga sih yang hidup mewah tapi yang kita maksud mereka yang memang terpaksa melakukan kejahatan karena tekanan ekonomi dan sosial."


Walaupun begitu tetap saja ada yang tidak menyukainya terutama mereka yang terpengaruh dengan kasus hukum yang dihadapinya serta film-film yang dibintanginya dan membuat penonton emosi.


Sebagai pelakor, wanita nakal dan culas sejumlah peran antagonis lainnya. 


Pagi itu seperti biasa, Sinta pergi ke kebun bunga untuk melihat bunga-bunga yang ada.


Tugasnya mengecek apakah bunga sudah disiram, dibersihkan atau dirapikan.


Mengecek bibit, pupuk dan semua hal yang berkaitan dengan keperluan kebun bunga.


Membuat laporan mengenai apa saja yang perlu diperhatikan.


Seseorang mendorongnya dari belakang dan Sinta jatuh tersungkur.


Kepalanya dikarungi. Nafasnya sesak karena tertutup karung goni.


Salah seorang dari mereka berkata lirih.


"Eksekusi, di pojok sana. Jangan sampai ada yang melihat. Perintahnya jangan sampai selamat."


Sinta tidak mengenal satu pun suara yang didengarnya.


"Bagaimana kita membunuhnya?"


"Sumpal dulu mulutnya. Bisa habis kita kalau dia berteriak."

__ADS_1


Karung goni Sinta dibuka dan semuanya memakai topeng. Sinta tidak bisa mengenali salah seorang dari mereka.


Beberapa hari yang lalu, beberapa narapidana mencubit dan memukulnya karena marah dengan kasus hukum yang menimpanya sedangkan sisanya karena peran-peran antagonis yang dibawakannya.


Sepertinya kali ini, psycho yang membencinya entah karena kasus hukum atau peran antagonisnya tetapi mereka sampai berniat membunuhnya.


Ketika mereka berniat menebasnya, seseorang dengan suara melengking menjerit.


"Siapa kalian! Kalian mau apa!"


Kontan semuanya lari terbirit-birit.


"Tolong! Tolong!"


Para narapidana dan juga sipir berlarian ke arah suara.


Semenjak percobaan pembunuhan itu, Sinta dijaga ketat bahkan kepala sipir tidak segan mengancam akan menempak mati di tempat pelakunya.


Seluruh penjara digeladah untuk menemukan topeng dan senjata tajam yang digunakan untuk membunuh Sinta. Tetapi tidak ditemukan apapun.


Pengacara Sinta menemuinya di penjara.


"Ku dengar kau mengalami percobaan pembunuhan di dalam penjara?"


"Sepertinya penggemar psychoku yang sangat membenci peran antagonis dan juga kasus hukum yang menimpaku. Sesekali memang ada yang menyerangku karena hal-hal tersebut tetapi sampai ingin membunuhku baru kali ini."


"Aku akan memasukkan orang untuk menjagamu. Mereka akan menyamar sebagai narapidana. Mereka akan langsung membunuhnya jika menemukan pelakunya."


"Haruskah sampai seperti itu?"


"Kau kemarin beruntung ada salah seorang narapidana mengetahuinya dan langsung berteriak. Kau tidak akan seberuntung itu lain kali."


"Aku tidak ingin menarik perhatian."


"Kau sudah menarik perhatian." Pengacarnya menyodorkan koran ke arahnya.


"Baca sendiri!"


Koran tersebut meliput semua kegiatannya di balik penjara.


"Terserah kau saja!"


"Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik untukmu."


"Bagaimana kasus hukum suamiku?"


"Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Sedang diproses."


"Bagaimana keadaanmu di penjara?"


"Hampir tidak ada perubahan. Kegiatanku tetap padat. Mungkin lebih padat. Aku tidak tahu?"


Mereka membahas seputar kasus hukum Sinta dan suaminya. Menjajaki beberapa kemungkinan dan menyusun rencana juga strategi.


"Kupikir, kita lanjutkan lain kali. Ada klien yang harus kutemui."

__ADS_1


"Aku juga ditunggu oleh yang lainnya di dalam."


__ADS_2