
Kebencian Sinta kepada Dean tumbuh subur. Merasa diceraiberaikan dengan keluarga kecilnya. Dipisahkan dari Dylan, suaminya.
Dean tidak berubah sama sekali. Mengeksploitasinya. Merasa dimanfaatkan. Yang membuatnya semakin benci. Perasaan dimanfaatkan dan dieksploitasi. Baik secara intelektual maupun seksual.
Hari-harinya berubah kelabu dan menyedihkan. Setiap hari dia berada di bawah tekanan pekerjaan dan tugas melayani Dean. Dua pekerjaan yang sangat dibencinya.
Dia kerap merindukan kehidupannya di Swiss bersama Dylan dan ketiga buah hati mereka. Merindukan toko dan kebunnya. Semuanya. Setiap detik dan detail kehidupannya di Swiss adalah surga bagi mereka sekeluarga.
Kemarahannya tak terbendung ketika Dean menginginkannya untuk melayaninya. Setiap hari.
"Aku sedang hamil!"
"Hamil tidak jadi alasan kecuali kau menstuasi atau sakit. Aku juga berhati-hati menimbang kondisimu."
"Aku seharian lelah bekerja. Aku tidak mood melayanimu."
"Kau tidak akan pernah mood melayaniku. Kau beralasan lelah tapi setiap kali kau bekerja. Seperti kuda. Atur waktumu. Aku tidak ingin kau bekerja di rumah. Di rumah waktumu untukku dan beristirahat. Jam tujuh malam kau sudah di rumah. Aku tidak mau tahu urusan pekerjaanmu. Sebelum jam sepuluh malam kau sudah harus tidur. Aku tidak melihat masalah apa pun seandainya kau mengatur waktumu dengan baik."
"Kau sangat menyebalkan. Kau ingin mengatur semuanya. Aku tidak ingin kau atur-atur sesukamu."
"Kau harus mengatur waktumu antara pekerjaan dan melayaniku. Aku suamimu. Aku bukan tidak memiliki hati. Justru kau yang suka seenaknya sendiri."
"Aku tidak mencintaimu."
"Semua karena Dylan. Jika Dylan tidak merebutmu dariku. Semua tidak akan seperti sekarang."
"Aku membencimu!" Sahut Sinta setengah berteriak.
"Seharusnya, aku yang membencimu. Siapa yang melarikan diri? Menipu? Berbohong?"
"Kau tidak pernah mau mengerti."
"Aku tidak mau mengerti apa? Aku tidak memenjarakan Dylan. Agar dia bisa mengurus anak-anaknya. Aku melarangmu untuk berhubungan lagi dengan mereka semua. Agar kau bisa berkonsentrasi dengan kehidupanmu. Tidak main gila apalagi merencanakan lari dariku."
"Kau tidak takut aku menyiksa anakmu? Kau jangan keterlaluan!"
"Kau ibunya. Kau mau bersikap lebih kejam dari ibu tiri. Semua berpulang padamu."
"Kalau kau terus menyiksaku. Aku bisa membalaskannya pada anakmu."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku belum tahu tapi yang jelas jika kau terus mengeksploitasiku. Aku akan melampiaskannya pada anak ini. Banyak ibu yang menyiksa anaknya karena membalas perlakuan ayahnya kepada mereka."
Dean menatap wajah Sinta dengan pandangan tidak mengerti dan putus asa.
__ADS_1
"Aku tidak ingin mengasarimu tapi kau terus mendesakku. Hentikan semua omong kosong ini dan jangan memancing amarahku!"
"Aku hanya ingin kau menghentikan semuanya. Biarkan aku kembali pada Dylan dan anak-anakku. Anggap saja semua mimpi buruk yang tidak pernah terjadi."
"Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku tidak membunuhmu dan Dylan serta anak-anak kalian saja sudah bagus. Bertahun aku berduka di kuburan palsumu seperti orang bodoh. Menyesali apa yang sudah kulakukan padamu. Tapi aku sudah memperbaikinya. Jadi kau tidak punya alasan untuk terus menyalahkanku."
"Aku tidak menyalahkanmu. Semua sudah berlalu bagiku."
"Kau jangan mengada-ngada. Jalankan kewajibanmu sebagai isteri. Tidak ada pengkhianatan jika kau menjalani tugasmu dengan baik."
"Kau tidak boleh memaksaku. Ini marital rape."
"Aku suamimu. Marital rape jika aku memaksakan kondisimu. Kau jangan beretorika denganku. Kau tidak sedang sakit atau berhalangan melayaniku."
"Aku tidak mood."
"Setiap hari kau tidak mood. Kau membenciku. Tentu saja. tidak mood."
"Mengapa kau memaksa?"
"Aku bukan memaksa tetapi menuntut hakku."
"Setidaknya ijinkan aku bertemu dengan anak-anakku. Hanya itu yang kupinta."
"Aku tidak bisa! Bagaimana kau akan bersikap jika bertemu mereka semua? Mereka tidak akan mengijinkan kau bersamaku. Mereka juga akan membencimu. Kau tidak bisa tinggal bersama mereka sedangkan aku tidak bisa menerima mereka semua. Ayahnya menebar luka dan sakit hati padaku. Aku akan membalaskan semua perbuatan ayahnya tanpa sisa. Itu yang kau mau?"
Dean memeluknya erat. Mengusap kepala Sinta. Membimbingnya ke tempat tidur.
***
Hamil dalam kondisi sangat tertekan merupakan hal yang tidak mudah bagi Sinta.
Dia sangat membenci Dean tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menurutinya.
Tanpa sepengetahuan Dean, Sinta berusaha mengugurkan kandungannya. Tetapi belum berhasil. Air daun sirih yang diminumnya tidak membuahkan hasil. Menggunakan obat dia tidak berani. Khawatir cacat.
Berencana mendatangi dokter kandungan. Nekat untuk menyedotnya keluar.
Sinta membuat janji tanpa sepengetahuan Dean. Jantungnya berdegup kencang. Memastikan semua berjalan dengan lancar dan terpenting Dean tidak mengetahuinya.
Dia berencana menggugurkan kandungannya dan melarikan diri. Mungkin dia tidak bisa langsung kembali kepada Dylan dan anak-anaknya karena takut mereka disakiti Dean.
Dia ingin melarikan diri. Melakukan operasi plastik. Baru berusaha kembali kepada Dylan dan anak-anaknya tanpa harus takut diketahui oleh Dean. Perfect plan.
Dia menelpon asisten dan sekretaris Dean. Memastikan keberadaannya. Setelah semua aman. Dia mulai menjalankan rencananya.
__ADS_1
Sinta bergegas menuju dokter kandungan ilegal. Dia tidak ingin terlacak jejak pengguguran kandungannya diketahui siapa pun terutama Dean.
Berita bisa sangat cepat menyebar dan viral mempertimbangkan jabatannya saat ini yang merupakan sasaran empuk bagi siapa pun untuk menyebarkan hal semacam ini.
Sinta memasuki ruangan dokter dan betapa terkejutnya melihat Dean duduk di depan dokter kandungan ilegalnya.
"Mengapa kau disini?" Sahutnya terkejut.
"Buat apa kau bikin janji mengugurkan kandungan?"
"Bukan buat aku. Saudaranya Nita." Dia menggunakan Nita salah satu staffnya.
"Kenapa dia gak datang ke sini?"
"Mendadak dia tidak bisa datang." Wajah Sinta berubah sangat gugup. Peluh mengucur di sela-sela dahinya.
Dean menatapnya sangat tajam. Terlihat sangat sedih, kecewa dan marah.
"Kupikir kau ingin mengugurkan kandunganmu." Ujar Dean dengan penekanan nada.
"Untuk apa aku menggugurkan kandunganku?" Sinta bertanya pura-pura bodoh.
Dean menggebrak meja dokter membuat Sinta nyaris terlompat.
"Mana aku tahu!!!"
"Aku hanya membantu saudaranya Nita tapi ternyata dia berubah pikiran. Aku ke sini ingin memberitahukan mengenai pembatalan pengguguran kandungannya."
"Bagus!!!"
Sinta menundukkan wajahnya dalam-dalam. Hatinya benar-benar kecut dan takut.
"Kalau kau berani mengugurkan kandunganmu. Aku tidak segan menyiksamu dan membuatmu menyesal.
Tubuh Sinta menggigil dan membeku mendengar perkataan Dean.
"Kalau kau berani menggugurkan kandunganmu. Aku juga tidak akan segan mencelakai Dylan dan anak-anaknya." Sambung Dean lagi.
"Kau jangan gila! Mana mungkin aku melenyapkan anakku sendiri. Walaupun aku sangat membencinya!" Ujar Sinta berbohong.
"Kau jangan bermain-main denganku. Kalau kau tidak ingin melihat sisi gelapku. Jangan memancingnya keluar. Terimalah takdirmu! Kau dan Dylan sudah berakhir! Selamanya!"
Sinta merasa berhak mengugurkan anak di dalam kandungannya. Dia merasa mengalami marital rape. Anak korban perkosaan berhak digugurkan apalagi kalau sampai membuat sang ibu mengalami tekanan mental. Depresi.
Mungkin dia masih sanggup mengandung anak ini. Tapi dia tidak yakin bisa mencintainya. Mengingat kebenciannya pada Dean.
__ADS_1
My perfect plan, can it be done?