
Bahagia itu sederhana. Don’t jump into something that can make you suffer or having problem.
Menggunakan logika tidak sesulit jika menggunakan perasaan. Dengan cepat Haliza berubah menjadi wanita yang memiliki pendirian.
Hidupnya bersama kedua hatinya sempurna. Dia sendiri baru menyadari menikah sekian lama dengan Ahkam. Terbiasa melakukan apa pun sendiri. Pernikahan mereka menyerupai status.
Sangat berbeda dengan apa yang dijalin Ahkam dan Hana. Perlahan dia menghapus rasa iri dan bencinya pada mereka berdua.
Buat apa aku iri pada kebahagiaan orang lain? Aku memiliki kebahagiaanku sendiri. Kedua anakku dan usaha yang menjadi bagianku dari harta gono gini ku dengan Ahkam.
Tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan Ahkam. Dua buah hati yang merupakan harta berharga dan tidak dapat ditukar dengan apa pun.
Bagaimana pun Ahkam masih memikirkannya dengan anak-anaknya. Mau berbagi harta gono gini. Dan tidak menguasainya seorang diri. Selama mereka menikah. Dia juga sudah terbiasa menjalankan usaha. Sehingga perceraian mereka hampir tidak berdampak. Justru memberikan kebebasan baginya menguasai kedua anaknya seorang diri. Begitu juga dengan usaha dan harta yang bebas dia atur sendiri.
Bahkan rumah yang mereka tinggali diberikan Ahkam padanya dan anak-anak. Ahkam mengalah tinggal di apartement yang disewanya bersama Hana.
Belum hadiah yang dia berikan untuk Syarifah. Sebuah mobil. Syarif juga akan mendapatkannya jika usianya sudah bisa memiliki SIM mobil.
Ahkam juga mentransfer sejumlah uang setiap dia berulang tahun. Atau membutuhkan bantuan. Sehubungan dengan sekolah dan kebutuhan anak-anak mereka. Bahkan kebutuhannya sendiri.
Sepertinya dia berusaha membayar rasa bersalahnya. Akan luka yang dia torehkan padanya dan kedua buah hati mereka. Bentuk penyesalan dan permintaan maafnya akan ketidakmampuannya mencintainya sebagaimana dia mencintai Hana. Tetapi dia tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai ayah, suami dan juga mantan suami yang baik. Secara tanggung jawab.
Haliza tidak lagi menginginkan kehidupan romantis dalam hidupnya. Tidak juga berlomba dengan Ahkam masalah romansa. Karena dia tahu semua hanya ilusi. Cinta tidak bisa dipaksa. Ada banyak jenis cinta di dunia. Tidak hanya romansa. Cinta terhadap ibu dan anak adalah yang tertinggi dan termulia. Cinta kepada sesama manusia.
Haliza juga tidak ambil pusing dengan kebencian Hana terhadap dirinya. Cantik, muda dan seksi. Ahkam juga sangat mencintai dan memujanya. Tapi masih mencemburuinya?
Itulah manusia. Sudah mendapatkan cinta suaminya seluruhnya. Begitu juga dengan semua hartanya. Diberikan semuanya atas nama Hana. Berapa pun yang Hana minta tidak pernah mendapatkan keberatan dari Ahkam. Kurang apalagi?
Sifat pemurah Ahkam membuat setiap wanita merasa aman dan terlindung olehnya. Hal itu menjadi salah satu kelebihan Ahkam. Pemurah dan protektor.
Terhadap Dylan, Haliza juga mengambil sikap yang sama. Haliza tidak ingin menjalin hubungan romansa dengan siapa pun. Aku terlahir sebagai ibu dan bukan istri. Why bother?
Teleponnya berdering. Callista.
“Tante, aku boleh menginap di rumah Syarifah?”
“Silahkan saja. Kebetulan kami mau makan di luar. Kau berangkat saja sekarang. Ajak saja Sapphire dan Keanu sekalian.”
“Baiklah.”
“Menginap saja disini. Jadi kita bisa puas hang out.”
“Ok, tante.”
Dylan mengantar anak-anaknya ke rumah Haliza.
“Aku sendirian di rumah.”
“So what?”
“Kau tidak mengajakku bergabung?”
“Kau kan besok bekerja. Nanti kelelahan. Kami mau hangout sepuas-puasnya. Aku, Callista, Syarifah dan Sapphire ingin berbelanja. Kau akan merasa bosan.”
“Mengapa kau menghindari ku? Kau sendiri besok juga bekerja menjalankan usahamu. Sama seperti aku.”
__ADS_1
“We promise that we are friends. Keep your promise. Ok?”
“Kau ingin aku berpura-pura bilang. Aku sudah tidak mencintai Sinta?”
“Aku ingin kita tidak memaksakan kondisi. Kalau kau masih mencintai Sinta dan selalu mencintai Sinta. Fine! Jangan paksakan menjalin hubungan yang baru. Aku tidak ingin mengulangi kesalahanku. Apakah hal itu sangat sulit untuk dimengerti? Kau jangan salah paham. Aku sangat menghargai kejujuranmu. Dan karena kejujuranmu. Aku masih mau berteman denganmu. Is that clear?”
“Aku tidak ingin sendirian.”
“Kau tidak sendirian. Kau memiliki tiga anak.”
“Kau tahu maksudku.”
“Jika maksudmu pelampiasan nafsu. Bisa siapa saja. Mantan suamiku lebih realistis. Mencari yang benar-benar sesuai dengan keinginannya. Muda, seksi dan cantik. Apalagi?”
“Aku tidak mencintai wanita hanya karena nafsu. Aku tidak bisa melupakan Sinta bukan karena nafsu. She is very special too me. Kind, smart, gentle...She just fit and perfect for me.”
“Aku lelah beretorika. Aku tidak bisa memahami mu. Itu kenyataannya. Aku tidak minta kau mengerti aku. Tapi aku memintamu untuk menghormati ku.”
“Baiklah, aku pulang dulu. Have fun!”
“Thanks.”
“Aku malas masak kalau cuma sendiri.”
“Aku ada kari daging di kulkas. Kalau kau mau.”
“Tentu saja. Thanks.”
“Your welcome.”
“Kau membuat salad juga? Sepertinya enak.”
Haliza menuangkan salad ke dalam kotak tupperware yang lain.
“Pizza mu?”
“Kau mau? Syarif kemarin membelinya. Dan sisanya ditaruh ke kulkas.”
“Kalau kau tidak keberatan.”
“Baiklah.” Haliza menaruh pizza ke kotak Tupperware nya yang lain.
“Manisan buah.”
Haliza menuangkannya ke plastik.
“Ada lagi?” Tanyanya.
“Hum, tidak.” Dylan memandang Haliza dengan lekat.
“Kau membuatku risih.”
“Mengapa kau sangat cepat berubah dan tidak bisa ditebak?”
“Aku terburu-buru memutuskan. To be honest, aku iri dengan kebahagiaan Ahkam dan Hana. Aku ingin juga seperti itu. Tapi aku sadar tidak ada yang bisa diburu-buru apalagi dipaksa.”
__ADS_1
“Kau tahu? Kegagalan itu pengalaman. Pintu kesempurnaan kebahagiaan.”
Haliza mendorong Dylan menjauh.
“Jangan mengambil kesempatan dan kesempitan dari kondisi orang lain. Kau tahu hanya lelaki playboy yang sangat sekali suka gagal sampai menemukan cinta sejatinya. Bahkan jika dia tidak bisa menemukan cinta sejatinya. Dia selalu berbahagia dan mungkin mengharapkan kegagalan cinta selalu terjadi dalam hidupnya. Terutama saat dia sudah tidak tahan dengan hubungan tersebut.”
Dylan tertawa, “Smart ***....”
Callista, Syarifah dan Sapphire sedang mengobrol di kamar Syarifah. Sedangkan Keanu dan Syarif sedang bermain game online di kamar Syarif.
Seorang wanita seharusnya memang menjadi istri bagi suaminya dan ibu bagi anak-anaknya. Tapi mungkin ada wanita yang hanya bisa menjadi istri seperti Hana. Dan wanita yang hanya bisa menjadi ibu seperti dirinya.
Mungkin saran Ahkam untuk mempoligami aku dan Hana tidak salah. Tapi aku sakit hati diduakan dan tidak bisa menerimanya. Apalagi aku dan Hana saling cemburu dan benci. Tidak bisa saling menerima satu sama lain.
Bisa saling menerima saja sudah pasti akan timbul cemburu apalagi tidak bisa menerima. Kecemburuan dan kebenciannya sangat tidak sehat.
Bagi Hana, dirinya dan anak-anaknya menghalangi hubungan keduanya. Duri dalam daging dalam hubungan mereka berdua.
Hana nyaris diistimewakan tanpa terkecuali jika tidak ada dirinya dan anak-anak. Pusat perhatian Ahkam satu-satunya. Tetapi dia harus membaginya dengan dirinya dan anak-anaknya.
Ahkam mungkin sangat mengecewakan dalam hal cinta. Tapi tidak dalam hal tanggung jawab dan sikap. Dia menghindari pertengkaran dan perselisihan dengannya. Selalu berusaha memperhatikan kebutuhannya dan anak-anaknya secara tanggung jawab materi.
Jika dia menawarkan poligami hal itu hanya untuk mengurangi rasa bersalahnya. Bukan berarti dia bisa adil dalam membagi perhatian dan uangnya.
Perhatian dan cintanya akan lebih didominasi Hana sedangkan uangnya akan lebih didominasi nya dan anak-anaknya.
Hana sendiri kerap merasa iri dengan apa yang dimiliki Haliza. Apa yang diberikan Ahkam pada Haliza. Apa yang dia peroleh dari hasil usaha Haliza sendiri.
Membujuk Ahkam agar mau membelikannya sebuah rumah mewah dengan kolam renang didalamnya.
“Kita hanya berdua. Untuk apa rumah dengan kolam renang? Kau akan terganggu kalau nanti anak-anakku bermain di rumah kita. Atau bahkan ingin tinggal bersama kita. Aku tidak ingin menyinggung Haliza. Aku sudah banyak memberikan luka padanya. Belum nanti Haliza akan berpikir bahwa aku memanjakan mu secara berlebihan.
Apartement cukup buat kita berdua. Kau bisa berenang di kolam renang yang ada. Tempat gym. Jogging track. Kalau ingin membeli atau memesan makanan gampang. Akses kemana-mana juga dekat. Lokasinya strategis.
Hana terdiam. Dirinya panas melihat Haliza memiliki rumah sedangkan dirinya tidak. Ahkam juga hanya menyewa apartement untuk mereka berdua.
Semua property miliknya disewakan. Sebagian besar diatasnamakan kedua anaknya. Sedangkan yang untuk mereka berdua. Semua atas nama Hana. Semua disewakan. Uang sewanya sebagian diberikan pada Hana sedangkan sisanya dipegang Ahkam.
Usahanya juga sudah dibagi antara Hana dan kedua buah hatinya. Untuk dia dan Hana dibagi dua. Sisanya dia tabung dan investasikan untuk kedua buah hatinya.
Dia memberikan sebagian uangnya untuk anak-anaknya dan Haliza.
“Kau tidak kekurangan. Lebih dari cukup. Aku bukan bujangan ketika menikahi mu. Memiliki anak-anak dan sekarang mantan istri. Kau harus mengerti bagaimana pun aku menebus kesalahanku pada istri dan anak-anakku tidak akan terbayar. Walaupun aku memberikan semua milikku pada mereka. Luka itu tetap ada. Aku berusaha menjalin hubungan baik dengan mereka semua. Berdamai dengan kenyataan. Mereka akan selalu menjadi bagian hidupku. Hidup kita. Mengertilah.”
... ...
__ADS_1