Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Indignant


__ADS_3

Ahkam memandang Dylan dengan wajah kesal. Wajahnya merengut. Terdiam sejenak. Kemudian membuka mulutnya, “well, tidak ada yang mengajakmu.”


“Kita bertemu tidak sengaja di sini. Kita juga saling mengenal dengan baik. Apa salahnya?”


“Kau tidak menyimak perkataanku. Sebelum bercerai, kami biasa meluangkan waktu berlibur sekeluarga. Hanya kami berempat.”


“Aku menyimak perkataanmu. Hanya saja, kita tidak sengaja bertemu di sini. Apa salahnya kita berlibur bersama?”


“Sebaiknya kita pergi dari sini.” Ahkam mengajak Haliza dan kedua buah hatinya berlalu dari hadapan mereka.


“Yah, mengapa om Dylan tidak diajak?”


“Kita sedang liburan keluarga.”


“Tapi om Dylan sudah seperti keluarga sendiri. Ibu dan om Dylan nyaris menikah.”


Wajah Ahkam merah padam.


“Apalagi seperti itu. Seharusnya kalian menjaga perasaan ibu kalian. Bisa jadi ibu kalian tidak nyaman berada di dekat om Dylan. Sudahlah! Jangan membantahku. Kita bersiap-siap pergi.”


Ahkam menarik tangan Haliza. Dengan wajah tidak enak, Haliza memandang Dylan dengan perasaan bersalah.


 Mereka semua masuk ke dalam mobil yang disewa Ahkam.


“Hmm, Dylan. Mungkin kau bisa berjalan-jalan di sekitar sini sendirian.” Ujar Haliza dengan wajah tidak enak hati.


“Ya, anggap saja kita tidak saling mengenal satu sama lain.” Ujar Dylan sambil meringis.


“Kau jangan seperti itu!” Tegur Haliza yang benar-benar merasa tidak enak hati, “tidak bisa kah kita mengajaknya bersama kita?” Pintanya pada Ahkam.


“Ini liburan keluarga.”Tukas Ahkam.


“Kupikir anak-anak tidak akan keberatan. Mereka sudah mengenal Dylan dengan sangat baik.” Sambung Haliza.


“Sudahlah! Tidak apa-apa.” Sahut Dylan, “aku ingin menghabiskan waktu sendiri.”


“Benarkah?” Tanya Haliza lega, “kebetulan.”


“Yeah.”


“Baiklah. Kami pergi dulu!” Ujar Haliza.


“Yeah. See you when I see you!”


Mereka saling melambaikan tangan sambil tersenyum.


“Mengapa kau seperti itu padanya?” Tanya Haliza di dalam mobil, “kau sangat kasar. Setidaknya berbasa-basi.”


“Kau tidak usah terlalu berperasaan. Biasa saja menolaknya bergabung bersama kita. Kau lihat sendiri tadi dia bilang mau jalan-jalan sendiri.”


“Yeah. Menurutku kau tidak perlu bersikap terus terang begitu. Berbasa-basilah.”


“Sudahlah tidak usah dibahas. Tidak ada hal yang harus dipermasalahkan. Kita tidak sengaja bertemu. Bukan berarti kita harus berlibur bersama.”


“Tapi kita semua mengenalnya dengan baik. Kau terlalu kasar.” Gerutu Haliza.


“Kau tidak jadi menikah dengannya. Pasti ada rasa tidak nyaman bersamanya.”


“Kami sudah tidak membahas yang sudah berlalu. Kami sudah berteman baik.”

__ADS_1


“Apa maksudmu berteman baik?”


“Berteman baik. Seperti denganmu. Kita berteman baik. Seperti saudara.”


“Kita memiliki anak.”


“Callista dan Syarifah. Keanu dengan Syarif sangatlah dekat.”


“Menurutku sebaiknya kau jangan terlalu akrab dan dekat. Aku tidak ingin kau patah hati. Atau dia mengecewakanmu lagi. Jangan mudah percaya pada lelaki.”


“Yeah. Aku terlalu percaya padamu sehingga kau mengkhianatiku.”Tukas Haliza kesal.


“Maafkan aku. Yeah, kau bisa jadikan apa yang sudah terjadi pada kita sebagai pelajaran. Aku tidak pernah bermaksud menceraikanmu. Kau enggan menerima Hana sebagai madumu.”


“Melihat tingkahmu dengan Dylan,  tidak masuk akal. Apalagi aku dan Hana yang jelas-jelas sudah menghancurkan rumah tanggaku.”


“Maafkan aku. Apa yang membuatmu bahagia. Membuatku bahagia. It’s all up to you.”


“Its not up to me but you.”


“Yeah. I am sorry. I want you both. Not one of you.”


“You are such greedy.”


“Whatever. I don’t want to choose between you and Hana. It’s just like you have to choose between Syarifah and Syarif.”


“It’s not the same.”


“Yeah, it is. Both of you are suppose to be like sisters.”


“She take away you from me. I won’t forgive her. She always get jelouse of me. We will never come into peace. No one can be safe from the hatred. Just face it. You have to let go one of us.”


“I won’t let go one of you!” Ujar Ahkam keras kepala.


“Bu! Jangan marah.” Bujuk Syarifah.


“Bagaimana aku tidak marah. Kau tidak dengar apa yang ayahmu katakan?”


“Bu, encik Hana kan sudah jadi istri ayah. Kau sendiri yang bilang tidak masalah kalau dipoligami om Dylan atau ayah.”


“Ibumu bilang begitu?”


“Yeah. Ketika ibu tidak jadi menikah om Dylan.”


Wajah Ahkam berseri, “aku sangat senang kau mau mempertimbangkan ide tentang poligami tersebut.”


“Sejujurnya, saat ini aku dalam keadaan bingung. Aku hanya ingin memikirkan anak-anak. Tidak selainnya.”


“Jika kita membina rumah tangga kembali. Itu kan baik buat anak-anak.”


“Aku butuh tenang. Agar aku tahu apa yang aku inginkan. Serta yang tidak aku inginkan.”


“Kita sedang berlibur, bu. Jangan merusak suasana.” Pinta Syarif.


“Baiklah. Tidak seharusnnya, aku menanggapi ayah kalian dengan berlebihan. Kita berbicara yang lain saja.”


“Setuju!” Sahut Syarifah dan Syarif berbarengan.


“Kita mau kemana yah?” Tanya Syarif.

__ADS_1


“Sirkuit Mandalika.” Sahut Ahkam.


“Apakah kau tahu legenda Putri Mandalika?” Tanya Haliza.


“Tidak. Coba kau ceritakan seperti apa?”


“Putri Mandalika terkenal karena kecantikan, kelembutan serta kebaikan hatinya. Konon karena kecantikannya yang tersohor tersebut banyak pangeran melamarnya.”


“Lalu?”


“Sang Raja, ayahnya menyerahkan semua keputusan pada putrinya. Sang putri sendiri memutuskan untuk bersemedi mencari petunjuk memilih yang terbaik.”


“Kemudian?”


“Sang putri mengumpulkan semua pangeran di pantai Seger pada tanggal


20 bulan 10 penanggalan Sasak. Pada pagi buta sebelum Azan subuh berkumandang.


Kemudian putri Mandalika naik ke atas bukti mengumumkan bahwa dia menerima semua pinangan. Karena tidak ingin ada perpecahan dan keterbelahan. Sang putri tidak ingin kedamaian dan kententraman pulau terusik karena persaingan. Pengumuman tersebut membuat para peserta terheran-heran. Selanjutnya putri menjatuhkan diri laut dan hanyut ditelan ombak.”


“Dramatis.” Ujar Ahkam.


“Kupikir legenda tersebut menginspirasiku.”


“Apa maksudmu menginspirasimu?”


“Aku tidak memilih salah satu dari kalian.”


“Kau tidak memahami ceritamu sendiri.” Ujar Ahkam tertawa lebar, “ sang putri memilih semua pelamar.”


“Tapi setelah itu dia menceburkan ri ke laut dan menghilang. Sama saja…”


“Sama saja dengan kau mengghosting.” Pecah tawa Ahkam.


“Dewasalah. Lebih baik kita semua berteman dan bersaudara.”


“Kalau terjadi “incest” lebih berbahaya. Lebih baik kita menikah lagi. Bagaimana?”


“Kau meminta menikah seperti anak kecil meminta permen.”


“Semua tergantung kau. Jika kau setuju kita tinggal menikah lagi di KUA atau siri semua kan tergantung padamu.”


“Memang Hana tidak keberatan?”


“Kami pernah membahas hal ini. Dia sadar posisinya merebutku darimu. “


“Dia tidak keberatan tetapi selalu mencemburuiku.”


“Cemburu selama tidak berlebihan adalah sesuatu yang wajar.”


“Jika kau ingin menghabiskan waktu sesekali dengan anak-anak di kamar kita dulu. Kau bisa sesekali menginap bersama Hana serta menghabiskan waktu di kamar tersebut dengan anak-anak. Aku akan tidur di kamar Syarifah.”


“Tradisi kita menghabiskan waktu bersama di kamar itu berempat bukan dengan Hana atau siapa pun.”


 


 


 

__ADS_1


 


... ...


__ADS_2