Mawar Berhati Baja

Mawar Berhati Baja
Weekend


__ADS_3

Dylan menghabiskan malam minggu bersama Haliza dan anak-anaknya.


Callista dan Syarifah tampak sangat menikmati kebersamaan mereka. Karena mereka bersahabat baik.


Keduanya sangat menyukai dan berharap orang tua mereka menjadi ayah dan ibu sambung mereka.


Mereka mengobrol di kamar Callista.


"Pa, aku dan Syarifah ingin mengobrol di kamar."


"Baiklah. Kau tidak ingin menonton video mamamu?"


"Nanti saja. Aku kan sudah sering melihat video-video mama."


"Baiklah."


Mereka berpamitan menuju kamar Callista.


"Aku sangat senang berada di sini, Cal!"


"Yeah! Aku juga sangat senang kau datang ke sini."


"Kau tidak keberatan kan kalau orang tua kita menikah?"


"Tentu tidak. Aku sangat menyukai dan menyayangi ibumu."


"Aku juga sangat menyukai ayahmu. Kupikir ayahmu lebih baik dari ayahku. Kau beruntung memiliki ayah yang sangat perhatian."


"Yeah. Tapi sepertinya ayahku belum melupakan ibuku."


"Yeah! Ayahmu sangat mencintai ibumu."


"Ibumu sangat baik. Tidak keberatan ayahku menerima ibuku kembali kalau nanti menikah dengan ayahku."


"Ibuku sangat menyayangi kalian semua. Dia tidak ingin kalian bersedih atau kehilangan ibu kalian."


"Ibumu sangat baik dan tulus."


"Ayahku sudah menyakitinya dengan sangat dalam. Aku ingin melihatnya bahagia. Ibuku terlihat bahagia saat bersama ayahmu."


"Yeah! Aku bisa melihatnya. Aku berharap ayahku mau menerima ibumu sebagai pengganti ibuku."


"Kita doakan bersama-sama. Bagaimana?"


Mereka mengangguk dan melanjutkan obrolan mereka. Seputar sekolah, hobi mereka, film, buku, teman-teman dan gebetan mereka.

__ADS_1


Dylan menatap kesal ke arah Haliza. Acaranya bersama anak-anaknya berantakan. 


Haliza membuang mukanya. Berpura-pura tidak tahu.


"Kau benar-benar tidak memiliki acara dengan anak-anakmu?" Tukasnya tajam. Dylan tidak bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.


"Semenjak bercerai. Aku malas kemana-mana. Dunia seakan runtuh. Aku tidak memiliki siapa pun selain anak-anakku." Air mata menetes dari kedua mata Haliza membuat Dylan menjadi tidak tega.


"Jangan bersedih!" Dylan menyodorkan kotak tissue kepada Haliza.


"Aku sangat mencintainya. Mendedikasikan seluruh hidupku untuknya dan anak-anak kami. Kupikir hidupnya menjadi semakin sempurna dengan semua yang sudah kami raih. Ternyata kebahagiaannya tidak pernah bersamaku dan anak-anak. Wanita muda yang sangat cantik dan seksi menjadi dambaan hatinya."


"Jangan berlebihan. Suamimu mungkin jatuh cinta lagi. Tapi dia juga menyayangi kalian semua."


"Mengapa kau tidak menikah lagi setelah istrimu pergi meninggalkanmu?"


"Karena aku sangat mencintainya."


"Mengapa kau tidak jatuh cinta lagi? Tidak ada yang menghalangimu."


"Bagaimana mungkin aku jatuh cinta lagi. Sedangkan hati dan pikiranku selalu dipenuhi dengannya?"


"Suamiku tidak akan mungkin jatuh cinta lagi. Seandainya di dalam pikirannya cuma ada aku."


"Terimalah ketetapan takdir. Bersabarlah. Aku tahu hal itu tidak mudah untukmu. Hidup tanpa istriku di sisiku dan anak-anak juga merupakan hal yang sangat berat. Tapi tidak ada yang dapat kulakukan selain bersabar."


"Kalau semudah itu? Mengapa aku harus terjebak dalam kenangan bersamanya? Hatiku hanya mengenali istriku sebagai satu-satunya cinta dalam hidupku."


Haliza menatap wajah Dylan dengan bunga cinta. Dicintai oleh pria seperti Dylan. Akan membuat semua wanita terbang tinggi ke angkasa.


Dylan is to good to be true. Lelaki itu dasarnya makhluk mendua. Dylan sangat berbeda. Sangat setia pada cinta yang dirasakannya. Tetapi hal itu menjadi boomerang dan simalakama. Hatinya sulit menerima kehadiran wanita lain. Selain istrinya.


"Apa yang membuatmu sangat mencintainya?" Tanya Haliza.


"Aku menyukai seluruhnya. Semua yang ada pada istriku."


"Tetapi dia sudah pergi meninggalkanmu."


"Kupikir menasehati orang lebih mudah daripada menasehati diri sendiri. Aku perlu waktu. Mungkin seperti kau dengan perceraianmu."


"Mungkin jika aku tidak menemukan orang yang tepat. Aku butuh waktu seumur hidupku. Tapi setelah bertemu denganmu. Aku merasa setiap saat adalah waktu yang tepat."


Pesanan pizza, ice cream dan cake mereka tiba. Callista dan Syarifah langsung keluar kamar. Mengambil bagian mereka dan kembali ke kamar meneruskan obrolan mereka.


Anak-anak yang lain. Bermain ular tangga di depan televisi. Dylan dan Haliza sendiri meneruskan obrolan mereka. Video dibiarkan menyala. Tidak ada yang menontonnya.

__ADS_1


"Masak kau belum pernah bertemu dengan seseorang yang cocok di hati juga jiwamu selain istrimu? Kau terlalu menutup diri." Haliza mengambil potongan pizza di atas meja makan di hadapannya. Dylan yang duduk di sebelahnya mengambil puding buatan Haliza.


Puding coklat tersebut sangat lezat. Dengan siraman fla vanila yang tidak kalah lezatnya. Dylan mengakui kemampuan masak Haliza yang sangat baik. 


Tidak habis pikir. Suaminya menceraikan istri tidak hanya cantik tapi juga pintar memasak dan mengurus anak.


Dylan mengambil piring. Mengisinya dengan kentang tutup buatan Haliza yang juga tidak kalah enaknya. 


"Masakanmu sangat lezat." Puji Dylan.


Wajah Haliza memerah.


"Aku hanya memuji masakanmu. Wajahmu sudah seperti kepiting rebus."


"Aku senang kau menyukai masakanmu."


"Kau tidak perlu khawatir masalah jodoh. Kau istri dan ibu yang baik. Pintar memasak dan mengurus anak. Akan banyak pria yang menginginkanmu menjadi istrimu." Sahut Dylan memakan puding dan pastel tutupnya dengan lahap.


Wajah Haliza terlihat bersungut kesal, "Kau sangat tidak sensitif!"


"Jangan merajuk seperti anak kecil!"


"Aku tidak merajuk! Aku sangat marah padamu! Kau benar-benar tidak sensitif."


"Seandainya aku tidak bertemu istriku. Mungkin saja aku menyukaimu. Tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Kau jangan memaksaku."


"Istrimu sudah pergi. Mengapa kau terus menyiksa diri mengingatnya? Lanjutkan hidupmu. Kau tidak lihat betapa bahagianya anak-anak kita. Aku yakin kita juga bisa berbahagia. Asalkan kita juga membiarkan diri kita bahagia."


Wajah Dylan berubah murung. Gurat wajahnya menyiratkan duka yang sangat dalam.


Haliza merasa seperti seseorang yang sangat jahat. Merobek jantung seseorang dan membuatnya memancarkan darah yang sangat deras.


"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Ujar Haliza dengan nada menyesal," Aku ingin kau melanjutkan hidupmu. Aku ingin kau berbahagia dan tidak terpuruk dalam dukamu. Kau tidak harus memilihku. Walaupun itu berarti aku akan patah hati. Jiwaku akan terluka. Perasaanku tersayat dan teriris. Tapi cinta tidak hanya memiliki. Melihat orang yang mereka cinta bahagia. Membuat mereka bahagia."


"Perceraian mungkin merupakan sebuah kesakitan. Tetapi perpisahan yang tidak pernah diharapkan adalah sebuah kematian di dalam kehidupan." Ujar Dylan dengan mata mengaca.


Air mata Haliza menetes mendengar kalimat Dylan.


"Rasanya lebih buruk daripada kematian. Ada tetapi kau tidak dapat meraih atau menjangkaunya."


"Kau itu lelaki. Jangan seperti itu. Mudah bagimu mencari pengganti istrimu. Kau bisa mencari yang lebih cantik dan muda dari istri suamiku."


"Buat apa? Jika mencintai semudah itu. Tidak ada yang namanya kehilangan."


"Seandainya suamiku sepertimu. Pernikahan kami tidak akan hancur. Aku tidak akan menjadi janda. Anak-anakku juga tetap memiliki keluarga yang utuh. Aku tidak perlu sakit hati apalagi terintimidasi dengan berkurangnya kemudaan dan kecantikanku."

__ADS_1


"Cinta mencintai jiwa. Bukan hanya keindahan semata. Semua manusia menyukai keindahan. Sebagai tubuh. Tetapi tanpa jiwa? Tubuh tanpa ruh? Seperti apa jadinya?"


__ADS_2