
Dylan mulai memikirkan ulang semuanya. Memperbaiki keadaan dengan cara yang seharusnya. Mungkin bukan sesuai keinginan hatinya. Tapi untuk kebaikan semua.
Berpikir sambil memandangi foto-foto Sinta. Memutar video-video yang dibuatnya. Memandangi wajah anak-anaknya di video. Membandingkan dengan saat setelah Sinta meninggalkan mereka.
Ya Tuhan! Aku sudah menorehkan luka di atas luka. Hanya memikirkan diriku sendiri. Mengenang dan mengharapkan Sinta kembali ke sisiku. Tidak mempertimbangkan kenyataan dan keadaan anak-anakku sendiri.
Callista benar. Mereka membutuhkan sosok ibu yang bisa menggantikan Sinta. Pikirannya melayang pada Haliza. Bagaimana Haliza dengan tulus tetap mendampingi mereka walaupun tidak ada satu pun kata cinta terucap dari bibirnya. Harapan terpancar dari matanya.
Dia bisa memahami mengapa anak-anaknya menyukai wanita sederhana tersebut. Wanita itu mencintainya dan anak-anaknya dari dasar jiwanya. Mengabaikan hal-hal yang mungkin bisa melukai harga dirinya sebagai wanita.
Menyatakan perasaannya. Bukanlah hal mudah bagi seorang wanita. Selalu mendampinginya dan anak-anaknya. Merupakan bukti ketulusan yang tidak terbantahkan.
Mungkin mereka berdua memiliki pengalaman yang sama tentang cinta. Terpisah dengan orang yang mereka cintai. Berharap tidak pernah berpisah. Hidup selamanya membangun keluarga. Tetapi kenyataan berkata lain. Mereka harus berpisah dengan belahan jiwa mereka masing-masing. Alasannya mungkin berbeda. Tapi kepahitan kenyataannya tetap sama.
Trauma Haliza tentang pengkhianatan. Membuat Haliza memilih dirinya. Cinta bagi Haliza adalah setia. Sedangkan bagi dirinya cinta adalah ketulusan mendampingi dalam kebersamaan.
Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Tidak mempedulikan anak-anakku. Merasa bahwa aku bisa memenuhi figur ayah dan ibu seorang diri. Tetap saja mereka membutuhkan kasih sayang dan perhatian seorang ibu. Bahasa dan kenyamanan kasih sayang wanita yang menaungi mereka sekeluarga.
Cinta memang egois. Enggan melepaskan atau mengikhlaskan. Walaupun memang keadaannya memaksa harus seperti itu. Tapi perasaan seringkali tidak mau berkompromi.
Cinta masalah rasa. Masalah hati. Masalah resapan jiwa. Matanya memanas melihat foto-foto dan video Sinta.
Tidak ada yang salah dengan cinta yang dia rasakan. Kecuali kondisinya tidak seperti yang seharusnya. Dia tidak pernah menyesali apa yang sudah terjadi. Perih bukanlah sebuah konsekuensi yang diharapkan. Tetapi semua cinta akan berujung pada bahagia atau patah.
Kau bagaikan luka yang menganga
Mengisi relung jiwa
Pelangi cinta
Memendar aneka rasa
Semua sama
Terasa indah
Terlihat indah
Kau mengajarkan cinta
Sebuah rasa
Yang begitu indah
Selalu bertakhta
Di relung jiwa
Cinta tak hanya setia
Tanpa makna
Tapi pendaran rasa
Yang memaksa untuk setia
Cinta seperti makhota
Yang berada di atas kepala
Realita seperti telaga
__ADS_1
Obat dari semua dahaga
Sepahit kopi arabica
Menyesap rasa
Memaksa memaknai setia
Walaupun tanpa rasa
Bukankah telaga
Memang tawar rasanya?
Tetapi bukan berarti tak berguna
Justru semua dahaga
Hanya dapat ditawar telaga?
Semenjak memutuskan menikah dan memiliki anak. Hidupnya tidak hanya didominasi dirinya sendiri. Seharusnya dia menyadari hal itu.
Sangat egois jika dia hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Yang seolah tak berujung.
Anak-anaknya membutuhkannya dengan Haliza. Hal itu mulai disadarinya. Pernikahan tidak hanya membicarakan cinta. Tapi memang harus setia. Karena itu seperti tidak memberikan penghargaan yang seharusnya kepada pasangan jiwa yang akan menemani perjalanan kehidupan yang fana.
Pasangan jiwa tidak selalu berbicara cinta. Atau merasakan cinta. Tapi mengikat simpul ikatan dengan setia. Saling memahami dan melayani. Saling dukung serta meringankan. Agar mampu menawar semua racun kehidupan. Dahaga asih, afeksi, iba, belas kasih dan kurnia bagi semua anak-anaknya.
Baginya sendiri dahaga adalah kebersamaan dan juga berahi. Sebagai seorang lelaki. Perasaan dan logika yang berada di tempat yang berbeda. Memudahkannya untuk membedakan antara rasa dengan kebutuhan.
Mencintai tidak harus menyetubuhi. Menyetubuhi tidak selalu bermakna mencintai.
Rasa dan kebutuhan seperti halnya rahim dengan saluran urine. Serupa tapi tak sama. Mungkin itu merupakan anugrah. Berkah tersembunyi. Selama tidak menyakiti dan mengkhianati. Tentu tidak ada yang salah dengan naluri.
Dylan menyiapkan makan malam. Pikirannya sesekali melayang jauh. Memikirkan dan meyakinkan bahwa dirinya sudah membuat keputusan yang tepat bagi mereka semua.
Membalikkan ayam panggang yang sedang dipanggangnya. Tercium bau harum yang membuat perut semakin lapar. Dia sudah menata tempe dan tahu di piring. Menuang gado-gado yang dibelinya.
Sapphire mengendus-endus hidungnya. Membuat Dylan tidak dapat menahan tawanya.
“Berhentilah mengendus! Kau bukan kelinci sayang....”
“Perutku sangat lapar. Ayam panggangnya terlihat sangat lezat. Baunya harum sekali. Membuat perutku semakin keroncongan.”
Dylan memeluk Sapphire dengan hangat sembari tertawa lebar, “Aku senang kau menyukai masakanku.”
Sapphire mencium kedua pipinya,” Aku sangat menyukainya, pa!”
“Baiklah, aku akan memindahkannya ke piring. Sudah matang sempurna. Kita makan bersama ya?”
Sapphire menganggukkan kepalanya. Matanya berbinar bahagia.
Sapphire diapit Callista dan Keanu. Sedangkan Dylan sendiri duduk di sebelah Keanu.
Setelah menuang nasi dari mangkuk nasi. Masing-masing mengambil lauk dan gado-gado.
Dylan membuka suaranya, nadanya tenang dan dalam, “Bagaimana menurut kau dan Keanu tentang ibu Haliza?”
“Ibunya Syarifah?”Tanya Sapphire.
“Yeah.”
__ADS_1
“Sangat baik. Aku sangat menyukainya.”
“Kalau kau bagaimana Keanu?” Tanya ayahnya.
“Aku berharap dia ibuku.”
“Kau juga sangat menyukainya?”
“Sangat. Aku merasa dia menyayangiku seperti Syarif. Aku merasa sangat nyaman dengannya.”
“Bagaimana jika aku melamarnya untuk menjadi ibu kalian?”
“Benarkah, pa?” Sapphire mengerjapkan matanya.
Keanu mencubit tangannya sendiri,” Sakit! Ini bukan mimpi!”
“Tentu bukan!” Sahut Dylan tertawa renyah.
“Cal! Kau setuju kan kalau ibu Haliza menjadi mama kita?”
“Yeah! Sejujurnya, ide itu dariku.”
Sapphire memeluk kakaknya. Tersenyum bahagia, “Thanks, Cal!”
Keanu tersenyum tipis. Tapi wajahnya memendar aura kebahagiaan. Ibu, adalah sesuatu yang didambakannya. Lebih dari apa pun di dunia ini.
“Kalian harus membantuku “ Ujar Dylan.
“Membantu apa pa?”
“Menyiapkan surprise lamarannya. Bagaimana?”
“Yeah! You named it, pa!” Ketiganya nyaris menjawab serentak.
Hati Dylan begitu bahagia. Melihat pancaran sinar bahagia terpancar dari wajah ketiga anaknya.
Maafkan aku! Selama ini tidak mengenali yang kalian butuhkan. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Mereka membutuhkan seseorang yang mengasihi dan menyayangi mereka. Menggantikan ibu mereka yang tak mungkin kembali lagi ke tengah mereka.
Melihat kedekatan Haliza dengan semua anak-anaknya. Membuatnya terenyuh. Dia juga yakin, Sinta tidak akan keberatan. Sebaliknya, akan berbahagia untuk mereka semua.
Pernikahannya dengan Haliza akan membawa banyak kebaikan. Tidak hanya untuk anak-anaknya. Tetapi juga dirinya sendiri. Serta Sinta sendiri. Silaturahim di antara mereka semua akan terjalin lebih baik. Dean akan memaafkan semua yang sudah berlalu. Menjalin hubungan baru layaknya keluarga baru. Menyatukan dua keluarga dengan sempurna. Karena masing-masing mereka sudah mendapatkan kebahagiaannya.
__ADS_1